It'S Hurt

It'S Hurt
Gue atau Lo yang MENYESAL



Wendi kini tengah berdiri didepan cermin menatap dirinya disana, ia merapikan rambut dan sedikit memberi warna dibibirnya kemudian cewek itu tersenyum ketika ia merasa bahwa semuanya sudah siap, Wendi kemudian menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 19.03 namun Andre kekasihnya itu belum datang menjemputnya, namun tak lama kemudian terdengar suara klakson yang Wendi tahu pasti bahwa itu adalah Andre, cewek itu dengan cepat berlari menuruni anak tangga dan mendapati Andre yang sudah duduk diatas motornya


"Ketahuan banget lagi nungguin aku"


"Hah,,, ehm gak juga" cowok itu hanya tersenyum melihat ekspresi kekasihnya itu


"Ayo naik" Wendi kemudian naik keatas motor cowok itu dan tangannya hanya memegang sedikit jacket yang dipakai Andre, cowok itu tersenyum lalu kemudian tangannya menuntun tangan cewek untuk melingkarkan tangan dipinggangnya


"Pegangan itu kayak gini , biar kamu gak jatuh" cewek itu hanya tersenyum malu disana kemudian motor cowok itu melaju cepat meningalkan arena itu


"Kamu mau kemana"


"Apa?, Aku gak dengar" cewek itu bertanya dengan suara kuat karna memang mereka sedang berada diatas motor


"Kamu mau kemana sayang" Andre sedikit berteriak supaya Wendi mendengar perkataannya


"Aku mau ketempat waktu kamu ngajak aku kencan pertama kali"


Andre yang mendengar itu langsung paham dan kemudian mempercepat laju motornya, setelah sekitar dua puluh menit akhirnya mereka sampai ditempat dimana Andre pertama kali mengajak cewek itu berkencan


"Ayo" cowok itu menggenggam tangan cewek itu lembut dan mengajaknya berjalan disekitar taman itu


"Kamu suka disini?"


"Aku suka banget, pertama kali kamu ngajak aku kesini, aku suka"


"Kita duduk disana ya" cewek itu hanya menganggukkan kepala ketika kekasihnya itu mengajaknya duduk disana, kemudian cowok itu membuka jacket nya dan memakaikannya kepada cewek itu


"Makasih" cowok itu hanya tersenyum dan setelah itu tidak ada percakapan antara keduanya


"Wen" panggil cowok itu memecahkan keheningan


" Kamu, sayang kan sama aku?"


"Hm"


"Aku gak tau kamu punya masa lalu apa sama mantan kamu, yang aku mau sekarang adalah kamu percaya sama aku" cewek itu menatap Andre dalam, sebenarnya ia masih belum percaya sepenuhnya kepada cowok itu


"Aku sayang sama kamu dan aku mau serius sama kamu wen"


"Jangan sakiti aku ndre" ucap cewek itu dengan suara pelan


"Aku gak bakal nyakitin kamu wen" Wendi hanya diam menatap lurus kedepan disana, ia takut jika suatu saat nanti cowok itu menyakitinya


"Kamu percaya sama aku"


*****


Wendi bersama dengan Andre kini sudah sampai disekolah, mereka tampak tengah asik mengobrol sambil berjalan menuju kelasnya


"Andreee" keduanya menoleh mendengar teriakan itu


"Good morning" sapa Jinny sambil melambaikan kedua tangannya


"Ngapain lo" tanya Andre to the point


"Sombong banget lo, mentang mentang sekarang lo punya pacar"


"Mau ngapain?"


"Hai Wendi" sapa Jinny dengan ramah kepada cewek yang berdiri disamping Andre dan cewek itu hanya tersenyum manis


"Gue nanya woi" Andre menarik kuping Jinny kuat hingga membuatnya meringis kesakitan


"Maaf ndre, gue mesti sapa pacar lo juga.  Gue mau nunjukin sesuatu sama lo"


"Nunjukin apa?" Tanya cowok itu bingung kemudian Jinny langsung saja memegang tangan cowok itu kuat dan menariknya untuk mengikutinya


"Lo mau bawa gue kemana?"


"Ikut aja. Gue pinjem pacar lo bentar wen" teriak Jinny kuat agar terdengar oleh Wendi sementara itu Wendi hanya tersenyum namun sebenarnya hatinya sedikit cemburu melihat kedekatan antara keduanya namun ia tidak boleh berfikir aneh karna memang mereka teman dekat


Wendi berjalan menuju kelasnya dan kemudian duduk dikursi dimana dia duduk


"Kenapa lo?"  Tanya Rena ketika melihat wajah Wendi yang tampaknya buram


"Gue gak papa"


"Lo udah siap tugas?" Mendengar itu Wendi langsung menatap temannya itu terkejut dan mencoba mengingat apakah mereka memiliki tugas atau tidak


"Jangan bilang lo gak siap" Wendi masih diam dan pikirannya masih ia coba untuk mengingat ingat tugas yang dimaksud Rena


"Tugas apa re"


"Lo lupa?, Kita punya tugas Ekonomi, lo gak ingat?"


"Astagah re, gue lupa" dengan cepat Wendi membuka tasnya dan mengambil buku bersiap untuk mengerjakan tugas itu


"Re, bagi gue tugas lo, please kasihani gue" Rena kemudian memberikan tugasnya kepada Wendi yang dengan cepat dibuka oleh temannya itu


"Sibuk lo pacaran sampe tugas lupa"


"Aduh re, gue bukannya lupa tapi gak ingat"


"Sama aja bego" ucap Rena yang sudah kesal melihat temannya itu


"Emang lo gak bego?"


"Balikin tugas gue" ucap Rena sambil tangannya mengambil buku itu dari cewek itu


"Re, lo tega banget, sepuluh menit lagi kelas mulai re"


"Bodo amat" Wendi dengan cepat menarik buku itu dari tangan Rena dan langsung menulisnya dengan cepat


"Wendi" teriak Rena kuat namun Wendi hanya tertawa melihat temannya itu disana


*****


"Oke ,kita akan mulai rapat kita" dia adalah Jeno yang merupakan ketua basket disekolah itu


"Kita bentar lagi akan ada pertandingan basket, jadi gue ngumpulin kalian mau ngasih tahu kalau kita akan mengadakan latihan mulai hari ini. Setuju?" Dengan serentak semua orang yang ada diruangan itu mengatakan setuju


"Gimana dengan Bima?, Kakinya masih sakitkan?, Kita gak cari penggantinya?" Ucap salah seorang cowok yang berada disana


"Kita udah cukup, jadi menurut gue gak perlu cari pengganti Bima lagi" ucap Rendi menyarankan pendapatnya


"Tim kita gak bakal cukup ren, kita harus cari pengganti Bima ditambah lagi Bima juga salah satu anggota andalan basket"


"Kita pilih siapa?, Kita ambil dari junior kita?"


"Kita gak akan ambil dari junior. Gue bakal ajak Gevan untuk gabung" perkataan Jeno itu membuat Andre langsung berdiri merasa tak suka dengan saran ketua basket itu


"Gue gak setuju!" Jawab Andre dengan tegas, ia benar benar muak dengan nama itu


"Kenapa harus dia?, Lo tau sendirikan dia udah mengundurkan diri dari tim basket, kenapa lo masih ngajak dia?"


"Kita punya banyak anggota basket kenapa harus dia, yang bahkan bukan anggota basket lagi?" Rendi yang sedari tadi diam kini ikut angkat bicara ketika melihat sahabatnya itu sudah mulai marah


"Gue tau ndre lo sama Gevan itu musuhan tapi jangan bawa masalah lo berdua disini"


"Gue tetap gak setuju!" Andre masih tetap dalam pendirian, ia benar benar dibuat marah sekarang


"Oke, gak usah berdebat. Gue disini ketua basket jadi gue berhak milih, kita pungut berdasarkan voting, siapa yang setuju sama gue kalau Gevan bakal gantiin Bima dalam pertandingan kali ini?" Semua anggota yang ada disana mengangkat tangan setuju jika Gevan ikut bertanding dengan mereka namun tidak dengan Rendi, Rizal dan Andre


"Oke, hanya kalian bertiga yang gak setuju berarti Gevan bakal gabung dengan tim kita. Cukup sekian rapat kali ini, jangan lupa pulang sekolah kita latihan" ucap Jeno kemudian pergi dari sana dan disusul dengan anggota yang lain


"Lo terlalu berlebihan ndre" Andre menaikkan satu alisnya ketika ia mendengar perkataan Rizal yang menurutnya membingungkan itu


"Maksud lo?"


"Yang Jeno bilang itu bener, jangan bawa masalah lo sama Gevan itu disemua hal"


"Kenapa?, Lo mau belain dia?"


"Ck, lo keras kepala banget sih. Makanya jangan kebanyakan makan nasi lo" Rizal kini menggaruk garuk kepala akibat kesal melihat Andre


"Jadi dia makan apa anjir" ucap Rendi sambil menjitak kepala Rizal


"Gak usah makan, mati aja biar semua beres"


"Diam lo setan" Andre kini mulai darah tinggi melihat Rizal sementara cowok itu hanya terkekeh melihat mimik wajah temannya itu


*****


Gisel kini sedang berada diperpustakaan yang tampaknya sibuk mengerjakan soal, tiba tiba seseorang menyodorkan sebotol minuman dingin kepadanya


"Belajar juga butuh cairan" ucap Gevan yang kemudian duduk didepan cewek itu


"Makasih" Gisel kemudian menutup bukunya lalu mengambil menuman itu dan meneguknya


"Banyak tugas?"


"Gak kok" Gevan mengambil ponsel dalam kantong celana yang ia pakai, melihat beberapa notifikasi yang ada disana


"Van, kamu masuk tim basket lagi?"


"Hm"


"Kamu mau cari masalah  lagi?" Pertanyaan itu langsung membuat Gevan terkejut, ia langsung mematikan ponselnya dan menatap kekasihnya itu


"Apa aku sejahat itu dimata kamu?"


"Aku cuman gak mau kamu berantam terus van, kamu jangan cari masalah terus"


"Kamu tenang aja, aku gabung tim basket itu buat gantiin Bima aja kok" jelas Gevan mencoba meyakinkan cewek itu bahwa sebenarnya ia tak berniat mencari masalah dengan orang yang ia maksud


*****


Andre berlari menuju ruang ganti pakaian untuk mengganti pakaiannya karna hari ini ia harus latihan basket


"Lo dari mana aja?, Kita tungguin lo gak muncul muncul"


"Gue pamit sama Wendi bentar tadi"


"Yaudah, kita tunggu lo diluar" kemudian Rizal dan Rendi pergi keluar dari sana


Andre kemudian masuk keruang ganti mengganti pakaiannya, tak butuh waktu lama ia kemudian keluar dari ruang ganti dan melihat Gevan duduk sambil mengganti sepatunya


"Lo punya rencana apa lagi sekarang?" Tanya Andre langsung kepada objek yang didepannya itu, namun tak ada sahutan dari lawan bicaranya


"Lo gak capek cari masalah terus sama gue?" Masih tetap sama tak ada sahutan dari Gevan, ia malah sibuk mengganti sepatunya


"Gak bosan lo kalah terus dari gue"


"Gue gak bakal berhenti sampai lo mati" ucap Gevan terdengar seperti asal bunyi tanpa melihat wajah lawan bicaranya


"Itu yang lo mau?"


"Gue bakal buat lo ngerasain gimana rasanya kehilangan orang yang lo sayang didepan mata lo sendiri" Andre yang mendengar itu tertawa sinis


"Lo masih nyalahin gue atas kematian nyokap lo?, Itu udah takdir nyolap lo untuk mati hari itu juga, kenapa lo gak salahin diri lo sendiri yang datang terlambat selamatin nyokap lo?" Kini Gevan mulai emosi mendengar perkataan cowok itu namun sebisa mungkin ia tahan, karna sebenarnya ia tak ingin ribut dengan cowok itu


"Gue sadar, ternyata yang pepatah bilang itu benar, buah jatuh tak jauh dari pohonnya" Andre mengerutkan keningnya tak mengerti apa maksud perkataan cowok itu, Gevan kemudian berdiri dan mendekati Andre


"Lo sama aja kayak pelacur yang ada dirumah lo, sama sama berhati iblis" dengan cepat Andre menarik kerah baju cowok itu dan menariknya kuat


"JAGA MULUT LO!!, jangan pernah lo ngehina nyokap gue sembarangan" Gevan melepas paksa tangan cowok itu dari kerah bajunya kemudian semakin memdekatkan dirinya dan menatap Andre seolah merendahkannya


"Kalau Tuhan belum menghukum lo, gue yang bakal menghukum lo duluan, gue gak peduli apa karma yang akan gue terima nantinya" Gevan akhirnya pergi dari sana setelah mengatakan itu sedangkan Andre hanya menatap nyalang Gevan yang kini sudah mulai jauh darinya


"Oke, oke, semuanya berkumpul" teriak Jeno kuat mengumpulkan anggotanya


"Andre lo jadi leader tim satu dan gue leader tim dua, Gevan lo masuk tim gue" Gevan yang mendengar itupun langsung bergabung bersama Jeno masuk ke timnya


Latihan pun kini sedang berlangsung, mereka sibuk mendrible bola dan saling mengoper satu dengan yang lain


"Ren, lempar ke gue" teriak Andre agar didengar oleh Rendi, namun sebelum Rendi melempar bolanya sudah diambil lebih duly oleh Gevan. Kini Gevan tengah berlari sambil mendrible bola mendekati ring bola basket , ia melompat namun bola itu kembali didapatkan oleh Andre dan membawanya dengan cepat, Andre sibuk mendrible bola sedangkan Gevan mencoba mengambil bola itu dari Andre namun tak bisa didapat olehnya, Andre yang sudah mulai dekat dengan ring basket tiba tiba teringat akan perkataan Gevan diruang ganti tadi membuatnya berhenti mendrible bola itu


"Woi ndre, kenapa lo berhenti?" Teriak Rizal keras namun tiba tiba Andre melempar bola itu kesembarang arah dan mulai mendekati Gevan dan meninju wajahnya kuat hingga ia terjatuh, Gevan yang tidak terima pun langsung berdiri dan memukul wajah Andre, kini wajah keduanya dipenuhi bercak darah


Semua orang yang melihat itu terkejut dan mencoba menghentikan pertengkaran antara keduanya


"Woi, berhenti. Lo pada udah gila?"


"Ndre, sadar lo"


"Woi, bantuin gue pisahin mereka" dengan susah payah akhirnya pertengkaran itu berhasil dihentikan, nafas mereka berdua kini sudah tak beraturan lagi


"Lepasin gue" ucap Andre dengan pelan namun menusuk


"LEPAS!!" Akhirnya kedua temannya itu melepas tangan Andre yang tadinya mereka Penang


"Gue bakal buat lo menyesal milih gue sebagai lawan lo" Andre kemudian pergi dari sana dengan emosi yang sudah tidak bisa ia kendalikan lagi, Rendi yang melihat kepergiannya mencoba mengejar sahabatnya itu


"Ndre" Andre berhenti ketika memdengar seseorang memanggilnya


"Lo gak bisa tahan emosi lo?"


"Sebelum dia mati gue gak bakal bisa"


"Lo emang gila ndre"


"Lo mau nyalahin gue?, Lo belain Lucifer itu?"


"Gue bukan belain siapa siapa, tapi dengan cara lo yang selalu nyerang dia duluan, orang berfikir kalau yang salah itu lo"


"Mendingan lo diam aja, ini urusan gue sama dia" Andre akhirnya melangkahkan kakinya pergi dari sana, sementara Rendi hanya menarik nafasnya panjang melihat tingkah sahabatnya itu, inilah hal yang paling ia benci dari Andre, dia begitu keras kepala, Rendi hanya tak ingin Andre terluka suatu saat nanti


"Lo yang bakal nyesal ndre, cari musuh kayak dia"