It'S Hurt

It'S Hurt
Concerned



...Karna seharusnya yang lebih kuat harus mengalah dengan yang lebih lemah...


...W...


Wendi manatap lurus kedepan, matanya tak berkedip ketika melihat Rendi dan Rena datang bersama kesekolah bahkan cowok itu mengantar Rena sampai kedepan kelasnya


"Lo berdua pacaran?"


"Enggak" jawab Rendi singkat


"Kenapa? Lo cemburu?"


"Cemburu?"


"Pastilah lo cemburu ngeliat kita yang gak pacaran kompak sedangkan lo yang pacaran selalu berantam"


"Seneng lo ngejek gue" Rena menjulurkan lidahnya kedepan mengejek sahabatnya yang sudah sangat kesal disana


"Gue masuk ke kelas ya ren. Makasih" Rendi kemudian tersenyum lebar kearah cewek itu


"Lo gak ikut masuk?" Tanya cewek itu ketika melihat Wendi yang masih berdiri disana


"Lo duluan" Rena kemudian langsung pergi masuk kedalam kelasnya. Wendi memicingkan matanyaenatap cowok yang kini berdiri didepannya itu


"Lo berdua pacaran?" Tanya Wendi sekali lagi mencoba memastikan kebenarannya


"Lo doain aja"


"Awalnya nolak ujung ujungnya dia mau, sok gak mau aja" gerutu Wendi mengingat Rena sahabatnya itu yang dulunya sempat menolak kehadiran Rendi


"Lo berantam sama Andre?"


"Kenapa?"


"Andre gak jemput lo kesekolah" Wendi hanya diam disana, ternyata hanya perkara Andre tak datang kesekolah dengan dirinya orang bisa tau jika mereka berantam


"Kenapa kalian berantam?"


"Karna gue yang nyuruh kakaknya Gevan untuk datang kesekolah" Rendi benar benar terkejut mendengarnya, ternyata dialah yang membuat rencana Andre gagal


"Lo gak tau?"


"Gue gak tau. Andre belum cerita sama gue" cewek diam, berfikir sejenak mengapa Rendi tak tahu alasan yang membuat mereka berantam


"Kenapa lo diam?"


"Gue pikir"


"Lo pikir gue yang ngasih tau Andre?" Wendi terdiam lalu kemudian menganggukkan kepalanya perlahan


"Wahh, lo pikir gue sejahat itu?"


"Gu, gue juga gak tau"


"Seandainya gue taupun, gue gak bakal ngasih tau Andre"


"Maaf"


"Jadi siapa yang ngasih tau Andre?"


"Gue juga gak tau ren" Rendi menatap cewek itu, terlihat jelas dari raut wajah cewek itu jika ia sedang tidak baik baik saja


"Jadi, Andre mutusin lo?"


"Belum. Tapi gue yakin dia pasti mutusin gue bentar lagi"


"Lo tenang aja. Gue pasti bantuin lo" Wendi perlahan menatap kearah cowok itu


"Emang lo bisa?"


"Lo tenang aja"


...******...


Wendi berjalan cepat hendak ingin menemui seseorang yang sedang  ia cari. Ia kemudian masuk kekelas itu dan mencari objek yang ia cari disana sampai ia akhirnya menemukannya


"Gue mau ngomong sama lo" Jinny tersenyum tipis disana, ia tahu apa maksud dari cewek itu mengajaknya bicara. Wendi kemudian memberi isyarat kepada cewek itu untuk mengikutinya. Setelah mereka pergi, Gevan sempat melihat kedua remaja itu berjalan bersamaan keluar dari dalam kelas itu


"Lo mau ngomong apa?" Wendi kemudian berbalik badan menatap lawan bicaranya itu


"Lo yang ngasih tau Andre kalau gue yang bantuin Gevan?"


"Iya. Emang kenapa?" Jinny menjawab dengan santai seolah tak merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya


"Lo senang? Lo puas liat gue sama Andre berantam?"


"Lah, kok lo nyalahin gue? Gue salah apa?"


"Lo masih tanya kesalahan lo apa?"


"Gue gak salah. Gue cuman bilang yang sebenarnya sama Andre, itu salah? Lo yang seharusnya sadar diri dengan kesalahan yang lo buat"


"Harusnya sesama cewek itu harus saling ngerti tapi ternyata gue salah"


"Kenapa gue harus ngertiin lo?" Jinny menatap penuh benci kepada cewek didepannya itu


"Gue gak pernah suka ketika lo pacaran sama Andre jadi kenapa gue harus berpihak sama lo?"


"Itu sebabnya lo ngelakuin ini? Lo mau gue sama Andre putus?"


"Benar sekali" Wendi tak habis pikir jika cewek itu sengaja melakukannya agar hubungannya dengan Andre cepat selesai


"Kalau gue jadi Andre, gue bakal MENYESAL PUNYA SAHABAT KAYAK LO" senyum diwajah Jinny yang tadinya lebar kini memudar ketika mendengar perkataan itu


"Apa lo sahabatnya Andre?" Tanya Wendi kepada cewek didepannya itu


"Gue gak yakin. Karna seorang sahabat tidak pernah merusak hubungan sahabatnya sendiri"


"Kenapa? Lo takut kehilangan Andre?"


"Lo punya rencana apa lagi buat rusak hubungan gue sama Andre?" Bukannya menjawab pertanyaan cewek itu, Wendi malah kembali bertanya kepada cewek itu


"Silahkan. Kalau lo mau merusak hubungan gue sama Andre. Gue gak takut" Jinny semakin menatap tajam cewek itu hingga matanya memerah


" Apa lo gak ada kerjaan selain merusak hubungan orang? Mendingan lo urus diri lo sendiri aja, karna kayak nya gue masih jauh lebih baik dari lo" Wendi kemudian melangkah kakinya pergi dari sana sementara itu Jinny menggeram kesal mendengar perkataan cewek itu


"Lo bakal tau akibatnya wen"


Wendi berjalan dengan rasa campur aduk, dirinya masih terkejut melihat kelakuan Jinny yang ternyata membenci dirinya. Wendi menatap kedepan dan melihat Andre kekasihnya itu ada disana


"Andre" teriaknya lalu kemudian mendapati cowok itu


"Ndre, kamu mau kemana?"


"Bukan urusan kamu"  Andre hendak pergi namun tangannya dicekal cewek itu


"Kamu kenapa gak jemput aku ndre"


"Aku udah janji sama Jinny" Wendi yang mendengar itu sebenarnya marah namun ia harus bisa menahannya


"Nanti malam kamu sibuk? Kita udah lama gak jalan bareng lagi"


"Aku ada janji sama Jinny nanti malam"


"Ohw" Andre kemudian menatap cewek itu


"Kamu cemburu?"


"Ah, gak gak. Enggak kok. Hmm, kalau gitu kita nanti pulang bareng ya"


"Aku bareng Jinny" Wendi terdiam, ia i gin marah namun jika dirinya marah Andre tidak akan membelanya yang ada malah Andre akan semakin marah padanya


"Kenapa?"


"Gak, gak papa kok ndre. Aku bisa pulang naik angkot aja" ucap Wendi sambil tersenyum terpaksa disana


"Yaudah, gue cabut"


"Ehm, bye bye" Wendi memaksakan dirinya untuk tetap tersenyum didepan cowok itu agar Andre kekasihnya itu tidak marah


...******...


Gevan fokus mencatat rumus demi rumus yang ada dipapan tulis. Dirinya memang termasuk siswa terpintar dan bukan hanya itu, ia juga memiliki wajah yang sangat tampan sehingga membuat dirinya poluler disana


"Van, yang datang kemarin itu kakak lo?" Tanya Mina yang merupakan teman satu meja cowok itu


"Hm" jawab Gevan namun ia tetap fokus dengan pekerjaannya


"Kakak lo ganteng, jauh dari pada lo. Kenapa lo gak bilang bilang kalau lo punya kakak laki laki?"


"Lo gak perlu tau"


"Kenapa? Siapa tau gue bisa jadi kakak ipar lo"


"Lo bukan tipenya dia?"


"Lo ngerendahin gue?"


"MINA"  cewek itu terkejut ketika dirinya dipanggil oleh seorang guru Fisika yang ada disana


"I, iya Bu"


"Belum Bu"


"Jadi kenapa kamu ribut?"


"Maaf bu" jawab cewek itu lalu kemudian mendengus kesal


"Van, lo suka sama Wendi?"  Bukannya diam, cewek itu semakin membicarakan hal aneh


"Maksud lo?"


"Lo tau, Wendi khawatir banget sama lo. Dia bahkan mutar keliling sekolah buat nyariin lo" Gevan yang tadinya sibuk mencatat kini menghentikan pekerjaannya itu


"Jadi gue yang suka maksud lo?"


"Bisa jadi. Lo berdua juga dekat akhir akhir ini"


"Kita cuman teman"


"Atau mungkin Wendi yang suka sama lo"


"Terserah lo" Cowok itu kembali fokus dengan buku catatannya


"Lo gak penasaran, kenapa Wendi selalu khawatir sama lo?" Cowok itu tak menjawab dan tetap sibuk mencatat


"Dia suka sama lo van"


"Dia udah punya pacar"


"Punya pacar itu bukan jaminan untuk tidak mencintai orang lain" cowok itu berfikir sejenak, mencoba mencerna perkatasn cewek itu. Selama ini ia tak pernah penasaran tentang kenapa Wendi selalu menolongnya dan bukan pacarnya


"Gue yakin, Wendi suka sama lo"


"Gue, sukanya sama lo" dengan cepat Mina memukul punggung cowok itu kuat membuat beberapa siswa menoleh kearah mereka


"Gue serius setan" tak lama kemudian sebuah penghapus mendarat dikepala cewek itu membuatnya sedikit meringis kesakitan


"Aw.."


"Kamu dari tadi gak bisa diam. Mau saya keluarkan?"


"Ma, maaf bu" jawab Mina sambil mengelus elus kepalanya yang dilempar dengan penghapus tadi.


...******...


Andre, Rendi dan Rizal serta bebetapa siswa lainnya kini bermain bola voli dilapangan sekolah ditengah teriknya matahari. Ada beberapa siswa perempuan disana sebagai penonton atau bahkan hanya untuk mencari perhatian dari para lelaki yang ada disana


Andre memukul bola kuat membuat tim lawannya gagal mengambilnya hingga akhirnya bola masuk dan menghasilkan poin di tim Andre. Cowok itu bersorak kegirangan ketika timnya menang dan permainan pun selesai. Andre berjalan keluar lapangan diikuti kedua sahabatnya dari belakang untuk duduk dan beriatirahat


"Wah, lo emang hebat ndre kalau masalah bola" Andre tersenyum lalu meneguk minumannya


"SAYANG!" Teriak Rizal membuat Rendi dan juga Andre terkejut disana. Rizam  melambaikan tangannya kearah salah satu cewek yang juga teraenyum kearahnya


"Gue cabut duluan bro" Rizal kemudian pergi menemui cewek itu


"Pacarnya Rizal?"


"Gue juga gak tau. Tiap hari wajah pacarnya berubah" Andre tersenyum tipis disana sudah paham bagaimana karakter sahabatnya itu


"Lo berantam sama Wendi?" Andre menoleh kesamping ketika mendengar pertanyaan itu


"Wendi yang nyuruh Steven buat datang kesekolah"


"Jadi lo marah?"


"Gue pastinya marah. Gue gak habis pikir, kenapa dia bisa bela belain Gevan seperti itu"


"Lo bakal putusin Wendi" Andre diam sejenak disana sebelum menjawab


"Itu berat buat gue. Lo tau kan, gue sayang banget sama Wendi"


"Kalau lo sayang, sampai kapan lo cuekin dia kayak gini terus?"


"Putusin Wendi kalau lo cuekin dia terus daripada lo nyakitin perasaannya"


"Gue cuek karna gue marah ren, gue kecewa karna dia lebih belain Gevan dibanding gue?"


"Gue tau, tapi sampai kapan lo cuekin dia terus. Wendi pasti kepikiran sama lo terus"


"Sampai meadaan hati gue membaik" Rendi menarik nafasnya, Andre benar benar egois dan ia tahu itu sedari dulu


"Lo me dingan baikan sama Wendi. Kasihan, dia selalu mikirin cara buat lo mau maafin dia"


"Biarin aja ren"


"Gue bukannya mau ikut campur hubungan lo cuman, gue kasihan liat Wendi" Andrwme hanya diam disana dan fokus menatap pemandanangan yang ada didepannya


"Cowok itu lebih kuat dari cewek, itu sebabnya cewek itu harusnya dijaga bukan disakiti" Andre perlahan menoleh kesamping menatap cowok itu


"Gue harap lo ngerti maksud gue"


...******...


Gevan memainkan alat musik gitar dengan merdu, kini dirinya memang berada diruang musik sendirian. Sebenarnya ia tidak terlalu mahir dalam bermain gitar namun entah kenapa, cowok itu sangat tertarik dengan yang namanya gitar


"Hai" tiba tiba seorang cewek muncur dari luar pintu dan menyapanya dengan suara nyaring


"Lagi main gitar?" Wendi langsung duduk disamping cowok itu dan dengan santainya mengambil gitar yang ada ditangan cowok itu tadi


"Ajarin gue dong, gue juga pengen"


"Lo ngapain kesini?"


"Kenapa? Gak boleh? Lo pikir ruang musik ini punya lo seorang? Gue bisa datang sesuka hati disini" Wendi kemudian mencoba memainkan jarinya di senar gitar yang ada di pangkuannya sekarang


"Ini kunci C kan" tanya Wendi menunjukkan letak jarinya


"Ck, turunin jari telunjuk lo"


"Kemana?"


"Kebawah" Wendi mencoba menurunkan posisi telunjuknya kebawah namun ia kewalahan melakukannya


"Gimana sih caranya?" Wendi masih berusaha memperbaiki posisi jarinya namun tetap gagal, Gevan yang melihat itu akhirnya turun tangan membantu cewek itu bermain gitar


"Lo buatnya kesini" ucap Gevan sambil memperbaiki posisi jari telunjuk cewek itu


"Waw, makasih"


"Coba lo ulang lagi"


"Ulang apa"


"Ulang buat kunci C yang baru gue ajarin" cewek itu mencoba mengulang kunci yang tadi namun ia sudah lupa tentang dimana letaknya


"Aduh, tadi gimana ya, kok gue lupa"


"Ck, pindahin jari telunjuk lo"


"Kemana"


"Kebawah"


"Gimana caranya, kok gak bisa?"


"Bisa"


"Gak bisa van, jari gue gak nyampek"


"Bisa wen"


"Gimana caranya" Gevan mendengus kesal melihat cewek itu, dengan cepat ia mengambil gitar itu dari tangan cewek itu


"Kalau gak ada bakat main gitar gak usah dipaksa wen" Wendi mengerucutkan bibirnya kesal disana. Tiba tiba ia mendengar suara Andre yang semakin mendekat kearah mereka


"Andre"


"Emang kenapa"


"Kita gak boleh ketahuan disini"


"Gue gak peduli" ucap Gevan namun Wendi tak terima, ia langsung bangkit berdiri, memindahkan gitar itu dan menarik tangan cowok itu untuk berdiri


"Gue gak mau Andre makin marah sama gue"


"Bukan urusan gue" Wendi menatap kearah pintu dan mendengar suara Andre sudah sangat dekat. Tanpa basa basi lagi, cewek itu mendorong kebelang hingga mereka masuk ke sela sela dinding yang ada disana


"Gue cuman pengen ambil gitar aja kok"ucap Rendi yang sudah berada didalam ruang musik bersama Rizal


Andre mencari gitar yang hendak akan diambil dan disisi lain Wendi semakin mendekatkan dirinya kearah cowok itu berusaha agar mereka tak terlihat. Gevan memejamkan matanya, dirinya sudah tidak bsa bergerak karna memang punggungnya sudah bersandar di dinding, ia hanya bisa diam ketika Wendi semakin mendekat kearahnya


"Nah, ini dia. Akhirnya ketemu juga" Andre kemudian mengambil gitar itu lalu segera pergi dari sana. Wendi menghembuskan nafasnya lega ketika melihat Andre sudah keluar dari ruangan itu


"Untung aja, kita gak ketahuan" ucap Wendi lega dan perlahan menatap kedepan, matanya membelalak lebar ketika melihat dirinya kini sejajar dengan Gevan, Wendi bahkan bisa merasakan hembusan nafas cowok itu


Wendi menatap cowok didepannya yang juga menatap kearahnya. Kini keduanya saling tatap satu dengan yang lain


"Lo, suka sama gue"