
...Jangan terlalu berharap kepada manusia, karna manusia bisa berubah kapan saja...
...W...
Gevan kini tengah berada dimana dia pernah membawa Wendi ketempat dimana Gevan dan ibunya terakhir bertemu. Cowok itu sengaja membawa Wendi ketempat itu agar cewek bisa bisa sedikit menenangkan pikirannya
"Kenapa lo datang lagi?" Tanya cewek itu setelah sekian lama hening, namun Gevan masih sibuk dengan ponselnya
"Kenapa lo belum pulang?" Tanya cewek itu lagi namun masih sama, tidak ada jawaban dari mulut cowok itu
"Lo kenapa gak jawab pertanyaan gue?" Mendengar itu, Gevan langsung mematikan ponselnya dan menyimpannya kedalam kantong celananya
"Lo udah selesai nangis?" Wendi hanya diam disana dan menundukkan kepala
"Gue harus gimana van?" Gevan menarik nafas berat lalu beralih menatap cewek itu
"Tanya hati lo wen. Lo yang lebih tau apa yang terbaik buat lo, bukan gue" ucap Gevan menjelaskan
"Lo tau? Sebelumnya gue pernah jatuh cinta dengan seorang cowok tapi pada akhirnya dia pergi ninggalin gue" Wendi menarik nafasnya sejenak sebelum ia kembali melanjutkan ceritanya
"Dia ninggalin gue hanya karna masalah kecil. Gue sempat trauma dan berfikir kalau gue gak bakal jatuh cinta lagi. Tapi, Andre buat gue jatuh cinta. Dia berhasil buat gue bisa membuka hati lagi dengan yang namanya cinta" kembali, air mata cewek itu kembali turun mengingat rasa sakit yang ia rasakan
"Gue pikir, gue gak akan ngerasain hal yang sama seperti sebelumnya tapi nyatanya, dia nyakitin gue van" Gevan hanya diam disana mendengar keluh kesah cewek itu
"Gue harus apa sekarang van" Gevan menegakkan badan dan kembali menatap cewek itu
"Berhenti" Wendi terkejut mendengar jawaban itu
"Berhenti. Itu jalan terbaik buat lo"
...*******...
Andre duduk dikursi kayu panjang sendirian. Pikirannya kembali kepada Wendi kekasihnya itu, sebenarnya iamerindukan gadis itu, sangat. Namun entah kenapa, ketika ia bertemu dengan gadis itu, ia malah semakin marah seolah ada pembatas yang menghalangi dirinya untuk kembali seperti dulu dengannya. Hal itu membuat pikirannya benar benar kacau sekarang
"Andre" Sang empunya nama mendongakkan kepala ketika mendengar seseorang memanggilnya
"Lo ngapain disini sendirian?" Ucap Yeri sambil mendudukkan dirinya disamping cowok itu. Jelas terlihat dari raut wajah cowok itu bahwa ia sedang tidak baik baik saja
"Lo kenapa bisa ada disini?"
"Gue tadi gak sengaja liat lo disini jadi gue samperin lo" Yeri menatap cowok itu dan terkejut ketika melihat bahwa Andre masih mengenakan pakaian seragam sekolah
"Lo, belum pulang dari tadi?"
"Hm" jawab Andre singkat. Setelah itu, tidak ada percakapan diantara keduanya namun Yeri sesekali melihat kearah cowok itu
"Lo, berantam lagi sama Wendi?" Tanya Yeri mencoba memecahkan keheningan yang ada disana
"Gue liat akhir akhir ini, lo gak pernah bareng sama pacar lo lagi" Andre hanya diam disana
”Gue gak tau apa masalah lo sama Wendi, tapi gue cuman mau bilang kalau masalah dalam suatu hubungan itu wajar, jadi ya,,jalani aja”
“Tapi dia benar benar gak pernah mau dengerin apa kata gue, dia lebih mentingin Gevan dibanding dengan gue, dia bahkan rela bela belain Gevan buat dia gak keluar dari sekolah ini”Yeri yang mendengar itu hanya diam menatap cowok itu, terlihat jelas bahwa sebenarnya ia sangat mencintai Wendi namun mengapa cewek itu malah menyakitinya, pikirnya
“Gue benar benar capek” Yeri dengan perasaan ragu ragu memegang pundak cowok itu sambil menepuk nepuknya lembut
“Lo yang sabar ya, gue yakin kalau Wendi itu sebenarnya saying banget sama lo” Andre kemudian menegakkan badannya dan menatap cewek disampingnya itu lembut
“Lo sibuk malam ini?”
“Hah?”
“Temenin gue malam ini”
...******...
Gevan duduk diatas motornya dengan salah satu tangan memegang sebotol minuman dan satunya lagi sibuk memegangi ponsel yang ada ditangannya. Dirinya sedang menunggu Daniel sahabatnya itu disana karna mereka memang berencana untuk keluar malam itu
Gevan mendongakkan kepala melihat apakah Daniel sudah datang namun ternyata tidak ada tanda tanda kedatangan cowok itu. Gevan hendak meneguk minumannya namun tiba tiba ia melihat dua remaja yang sepertinya taka sing baginya. Ia kemudian memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas kedua remaja itu
“Andre” ucapnya ketika melihat Andre ada disana namun ia tidak sendiri melainkan bersama seorang perempuan yang sepertinya bukan Wendi
“Itukan Yeri?” Gevan sedikit terkejut melihat kedua remaja itu disana. Pandangan Gevan hanya focus menatap kearah kedua remaja yang tengah asik mengobrol disana, pasalnya ini adalah kedua kalinya Gevan melihat keduanya bersama
“WOI!” Gevan kemudian tersadar setelah Daniel memanggil sambil mendorongnya kuat hingga membuat cowok itu hampir terjatuh dari atas motornya
“Pelan pelan setan” ucap Gevan sambil menatap tajam kearah sahabatnya yang kini tersenum kearahnya
“Habisnya lo gak dengerin gue. Lagian lo liati apa sih,serius banget”
“Bukan urusan lo”
“Ya elahh….lo ngambekan banget sih. Lagi PMS lo!” Gevan hanya diam dan kembali meneguk minuman yang ada ditangannya tadi
“Kita cabut”
“Kita gak makan dulu?” Tanya Daniel yang sebenarnya sudah sangat lapar disana
“Gak”
“Tapi gue lapar van, gue belum makan” Ucap Daniel sambil memegangi perutnya
“Lo manja banget sih jadi cowok”
“Bukan masalah gue cowok van, yang namanya belum makan ya pasti laparlah” Gevan menatap malas kearah lawan bicaranya itu
“Kita makan dulu. Ayo”
“Oke, tap bukan disini”
“Kenapa?” Tanya Daniel bingung
“Lo gak usah banyak tanya. Ikut gue aja” Gevan kemudian langsung memakai helm dan melajukan motornya cepat yang mau tak mau Daniel harus mengikuti cowok itu walaupun sebenarnya ia kesal dengan sikap sahabatnya itu
...******...
Wendi membulatkan matanya lebar ketika melihat Andre datang kesekolah bersama perempuan lain yang tidak ia kenal. Pandangan cewek itu kosong melihat kejadian itu,hatinya sakit melihat itu dan kembali air mata itu turun dengan mudahnya mengalir membasahi pipi cewek itu
“Wen, kalian udah putus?” Tanya Rena yang juga ikut melihat kejadian itu bersamanya
“Itu siapa? Pacar baru Andre?” Wendi menelan air liurnya susah payah lalu menghapus jejak air matanya disana
“Itu cuman teman aja. Gue yakin” Rena menatap prihatin sahabatnya itu, ia tahu jelas bahwa Wendi sebenarnya sedih melihat Andre kini dengan Gadis lain
“Wen..”
“Gue mau ke toilet bentar” Wendi kemudian pergi dengan perasaan sedih dari sana. Cewek itu sampai dibelakang sekolah dan mulai menangis disana. Ia menangis meluapkan segala sakit hatinya, siapa gadis itu? Apa Andre menyukainya? Apa huungan diantara keduanya? pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan disana
...*******...
“Andre” Wendi mencoba untuk memberanikan dirinya berbicara dengan cowok yang selama ini ia rindukan itu
“Aku, aku mau ngomong sesuatu” Andre pun berbalik badan agar menghadap kearah cewek itu
“Ngomong apa?” Wendi mencoba untuk menatap cowok itu, jantungnya berdetak sangat cepat sekarang namun ia harus memberanikan diri untuk berbicara dengan cowok itu
“Ta,tadi pagi aku liat kamu datang kesekolah dengan cewek la,,”
“Kenapa? Kamu marah? Kamu cemburu?” sebelum cewek itu selesai berbicara, Andre langsung memotong percakapannya
“A,aku bukannya..-“
“Kamu gak berubah ya? Kamu ternyata masih tetap sama, tetap dengan pikiran pikiran negatif. Aku pikir kamu udah berubah tapi ternyata aku salah”
“Ndre, aku gak marah kok”
“Kalau kamu capek, kamu boleh pergi tinggalin aku” Mata cewek itu membulat sempurna, dirinya tak menyangka jika Andre kekasihnya itu mengatakan hal itu
“Aku gak pernah maksa kamu buat bertahan wen” cewek itu masih diam disana, bibirnya kelu dan hatinya kembali terluka dengan perkataan cowok itu
“Berhenti untuk terlihat menyedihkan didepan orang lain, karna orang akan berfikir kalau yang salah itu aku” Andre membuang nafasnya kasar disana lalu kembali menatap cewek yang masih diam berdiri mematung disana
“Kamu capek dengan hubungan kayak gini?” Tanya cowok itu sambil mendekatkan wajahnya dengan cewek itu
“Tinggalin aku kalau kamu capek” Air mata cewek itu kembali turun setelah mendengar perkataan Andre disana