
...Berhentilah mengharapkan yang tidak akan pernah kembali...
...Karna itu hanya akan membuatmu semakin TERLUKA...
“Kamu kenapa selalu buat Mama khawatir ndre” Ucap Mia kepada putranya Andre yang kini sudah ada dirumah sakit
“Ma, berantam itu hal yang wajar untuk kaum pria”
“Tapi gak gini juga ndre” Andre hanya tersenyum melihat ibunya disana
Tiba tiba Yena muncul membuka pintu ruangan itu membuat keduanya serentak menoleh kearahnya
“Yena udah datang. Mama tinggal kalian dulu ya” Ucap Mia disana lalu pergi keluar meninggalkan ruangan itu
Yena kemudian duduk dikursi yang sudah disediakan disana sambal menatap prihatin cowok itu
“Kamu kenapa sih bohongin aku ndre”
“Maaf yen. Aku cumin gak mau kamu ikut campur dengan masalah ini”
“Tapi setidaknya kamu bilang ke aku ndre”
“Maaf ya. Aku udah buat kamu khawatir” Ucap cowok itu sambil mengelus lembut rambut kekasihnya itu disana
...********...
Gevan masih duduk diam diatas ranjangnya sambil menatap surat panggilan yang kini ada ditangannya.
Wilson ayahnya itu baru saja pulang kerja sehingga dirinya belum melihat wajah Gevan yang sekarang sedang banyak luka akibat perkelahian tadi disekolah
Gevan yang tak mau berlama lama itupun langsung bangkit berdiri dan turun ke ruang tamu untuk menemui ayahnya yang sekarang beristirahat di kursi sova.
Wilson membuka matanya ketika melihat Gevan melempar sebuah kertas keatas meja
“Apa ini?”
“Surat panggilan” Jawab Gevan dengan santainya disana
“Kamu dapat panggilan lagi?” Wilson kemudian mengambil kertas itu lalu membacanya dan disaat itulah emosi Wilson memuncak
“Kamu berantam lagi?” Gevan masih diam
“Kamu sebenarnya kenapa? Sebenarnya mau kamu apa Gevan!”
“Pindahkan aku ke luar negri”
“Apa? Luar negri? Kamu pikir segampang itu”
“Itu jalan satu satunya supaya Papa gak capek dapat surat panggilan terus”
“Sampai kapan kamu bersikap egois kayak gini? Kamu selalu bertindak sesuka hati, kamu gak pernah mikirin Papa yang kamu lakukan hanyalah keinginan kamu sendiri”
“Emang Papa pernah mikirin aku? Aku kayak gini karna Papa”
“Kamu selalu nyalahin Papa. Kamu bahkan gak pernah menghargai Papa, kerja keras Papa bahkan kamu gak pernah mau dengerin Papa”
“Aku gak mau dengerin apapun dari Papa. Pokoknya Gevan mau pindah”
“Kamu sendiri yang urus perpindahan kamu. Papa capek ngurusin orang kayak kamu”
“Papa mau liat aku dipenjara?” Gevan menatap Wilson ayahnya itu dengan tatapan yang penuh kebencian
“Pindahkan aku ke luar negri kalua tidak, Papa bakal liat aku dipenjara”
Dirumah sakit masih terlihat Yena dan juga Andre asyik mengobrol. Keduanya terlihat bahagia, senyum cowok itu bahkan terlihat cerah disana. Itulah yang bisa dilihat Wendi dari balik kaca pintu ruangan itu
Wendi memang sengaja datang malam ini kerumah sakit untuk melihat keadaan Andre ditambah juga dirinya memang ingin membicarakan hal penting kepada cowok itu
Andre dan juga Yena menatap kearah pintu ketika melihat pintu rungan itu terbuka yang memperlihatkan Wendi disana
“Gu,Gue mau ngomong sesuatu sama lo” Ucap cewek itu menatap Andre
Andre yang mengertipun langsung memberi isyarat kepada Yena untuk keluar dari dalam ruangan itu
“Lo mau ngomong apa?”
“Gue. Gue gak mau Gevan dikeluarkan dari sekolah” Andre sedikit terkejut mendengarnya namun sebisa mungkin ia sembunyikan
“Maksud lo?”
“Gue yakin, Gevan bakal dikeluarkan dari sekolah setelah kejadian tadi. Jadi gue minta tolong sama lo buat bantuin Gevan supaya dia gak dikeluarkan dari sekolah”
“Lo masih belain dia? Lo liat sendirikan, dia hamper bunuh gue wen dan lo masih mau belain dia?”
“Gue yakin ini bukan kesalahan Gevan sendiri. Gue emang gak tau masalah lo berdua ndre tapi gue yakin, Gevan ngelakuin ini semua pasti ada alasannya dan gue yakin, bukan hanya Gevan yang salah disini tapi juga lo” Andre masih diam merengungi perkataan cewek itu
“please ndre, gue butuh bantuan lo”
“Gue tetap gak akan mau wen jadi lebih baik lo pulang”
“Ndre”
“Wen, ini masalah antara gue dan Gevan jadi lo gak perlu ikut campur”
“Gue tetap gak akan mau!”.
...********...
Pagi ini Gevan Kembali menghadap wali kelasnya karna dirinya tak mendatangkan orang tuanya kesekolah sesuai dengan surat panggilan yang ia terima
“Orang tua kamu aja gak peduli dengan hidup kamu” Gevan hanya diam disana
“Lihatkan, bahkan saat kamu akan dikeluarkan dari sekolah orang tua kamu gak mau datang” Pak Wawan menarik nafasnya kasar sambil melipat kedua tangan didepan dadanya
“Jadi gimana? Kamu dikeluarkan begitu saja?”
“Pagi pak” Tiba tia Andre muncul dan masuk kedalam ruangan itu
Gevan bingung mengapa cowok itu tiba tiba datang disana
“Ngapain kamu?” Tanya Pak Wawan kepada Andre yang kini berdiri tepat disamping dimana Gevan juga berdiri
“Pak, tolong jangan keluarkan dia dari sekolah ini” Bukan hanya Pak Wawan yang terkejut, Gevan sendiripun ikut terkejut disana
“Kamu jangan main main ya”
“Saya serius Pak. Ini bukan hanya kesalahan Gevan tapi juga saya Pak” Andre menatap Gevan yang juga menatapnya
“Tolong jangan keluarkan dia Pak. Saya janji, mulai sekarang gak aka nada lagi pertengkaran”
“Kali ini sudah tidak ada ampun lagi, dia harus dikeluarkan dari sekolah ini”
“Pak tolong Pak, kali iniii aja Pak” Pak Wawan diam sejenak menatap kedua remaja itu secara bergantian
“Kamu bisa jamin itu? Kalian selalu berjanji tapi pada akhirnya kalian selalu berantam dan membuat masalah disekolah ini”
“Saya janji Pak dan saya bisa pastikan itu”
Keduanya kemudian keluar dari dalam ruangan itu secara bersamaan. Gevan berjalan didepan dan Andre berada tepat dibelakangnya
“Apalagi rencana lo sekarang” Gevan berbalik badan menatap Andre
“Lo masih mau bunuh gue?”
“Van”
Lagi dan lagi Gevan Kembali membalikkan badannya ketika dirinya dipanggil oleh lawan bicaranya itu
“Ayo berhenti” Gevan menaikkan satu alisnya tak mengerti maksud dari perkataan cowok itu
“Lo gak capek? Gue sendiri merasa capek van dengan masalah ini”
“Kita bertengkar kayak gini juga gak akan merubah yang udah terjadi, yang ada malah semakin membuat masalah besar. Gue ngomong kayak gini bukan berarti gue lupa dengan perbuatan bokap lo, tapi gue benar benar capek van dan gue mau berhenti sekarang”
Andre kemudian berjalan mendekati Gevan yang masih diam membisu disana
“Apa lo gak capek? Gue benar benar mau berhenti van. Masih banyak hal lain yang perlu kita lakukan. Keluarga lo berantakan keluarga gue juga. Bokap gue bahkan mau minta cerai karna masalah ini”
“Kita disini hanya korban van. Korban dari kelakuan kotor orang tua kita. Hukuman? Kita udah sama sama merasakan hukuman itu dan gue yakin lo juga tau itu. Yang bis akita lakukan sekarang hanya memperbaiki semua dari awal lagi. Gue tau gue gak akan bisa maafin kelakuan bokap lo,nyokap lo dan juga lo begitupun sebaliknya, tapi kita kayak gini juga gak ada gunanya van”
“Kalau lo masih mau bunuh gue, silahkan. Gue bakal diam karna gue benar benar capek”
Kemudian Andre berjalan mendahului Gevan yang masih diam disana merenungi setiap perkataan cowok itu yang menurutnya ada benarnya itu
Bukan hanya Andre, Gevan sendiripun sebenarnya lelah dengan semua ini namun terkadang dendam dan sakit hati yang ada dalam dirinya jauh lebih besar sehingga bisa membutakan pikirannya
...********...
Gevan menoleh kesamping ketika melihat seseorang menyodorkan minuman dingin kepadanya
“Buat lo” Ucap Wendi sambil tersenyum manis kearah cowok itu
“Makasih” Gevan kemudian membuka tutup botol itu lalu meneguknya disana
“Biasanya lo yang selalu ngasih gue minuman kayak gitu”
“Kenapa lo datang kesini?”
“Gue mau ngobatin luka lo” Wendi kemudian membuka kotak P3K yang sengaja ia bawa dari ruang UKS
“Gue baik baik aja”
“Ck. Lo pikir gue gak tau?. Gue yakin kalua lo gak bakal obati luka lo”
Gevan kemudian meletakkan botol minuman itu dan mulai membuka kancing bajunya membuat Wendi terkejut dan dengan cepat menghentikan pergerakan cowok itu disana
“Van. Lo mau ngapain?”
“Lo mau obtain luka gue kan?”
“Iya, tapi kenapa lo malah buka baju?”
“Lo tenang aja, gue pake baju dalaman” Mendengar itu Wendi langsung melepas tangannya dari sana dan Gevan Kembali membuka kancing bajunya
Wendi benar benar terkejut ketika ia melihat ada luka sayatan dilengannya yang masih basah dan mengeluarkan darah
“Ini Andre yang buat?”
“Iya, ini kelakuan mantan kesayangan lo itu” Taka da respon dari cewek itu dan kini ia mulai fokus mengobati luka cowok itu
Gevan sesekali menatap wajah gadis yang kini hanya fokus kepada lukanya itu. Sesekali ia tersenyum namun juga kadang ada rasa sakit didalam hatinya.
Kenapa tidak?, cewek itu bahkan tak pernah melihat perjuangan cowok itu bahkan Wendi hanya mencintai laki laki yang bahkan sudah menyakitinya
...*******...
Wendi berjalan mencari dimana keberadaan sahabatnya Rena. Sedari tadi ia tak melihat cewek itu disekolah. Tatapan cewek itu tiba tiba berhenti kepada kedua remaja yakni Andre dan kekasih Yena sedang bercanda ria disana
Wendi menatap keduanya dari kejauhan. Hanya itulah yang bisa ia lakukan sekarang yaitu menatap Andre dari kejauhan, meski sakit namun setidaknya ia bisa sedikit mengobati rasa rindunya terhadap cowok itu
“Jangan dipandang terlalu lama nanti bisa terluka” Wendi tersadar ketika seseorang tiba tiba muncul dari belakangnya
“Lo dari mana aja sih re, gue nyariin lo dari tadi”
“Ngapain lo nyariin gue?”
“Gue kangen sama lo” Rena hanya tertawa disana melihat mimik wajah sahabatnya itu
“Lo masih sayang sama Andre”
“Gue gak bisa secepat itu lupain dia re”
“Tapi mau sampai kapan lo kayak gini wen, lo bakal capek sendiri kalau lo terus kayak gini”
“Gue pasti lupain dia re tapi mungkin gak sekarang”
“Iya iya. Terserah lo” Rena yang tak mau ributpun langsung mengalah pasrah saja disana
“Kita kantin yok, gue yang bayar”
“Gue ma..”
“Ayoo”
Rena langsung menarik paksa sahabatnya itu dari sana. Rena sebenarnya sengaja mengajaknya pergi dari sana karna ia tak teg ajika melihat sahabatnya itu selalu merasakan sakit didalam hatinya
...********...
Wendi sekarang tengah duduk sendirian diruang auditorium. Ruangan itu gelap namun masih terlihat cahaya dari celah celah yang ada diruangan itu
Dirinya memang sengaja datang ketempat itu sekedar untuk menenangkan dirinya. Entah mengapa, ia merasa sangat susah untuk melupakan Andre cowok itu meski dirinya sudah disakiti namun rasa sayang yang ia miliki masih tetap kepada Andre
Setiap orang pasti menganggapnya bodoh tapi itu adalah fakta dan Wendi tak bisa pungkiri itu. Beribu cara ia lakukan untuk melupakan Andre namun gagal, yang ada hatinya malah semakin hancur dan rapuh
Disaat sedang menghayal disitu pula ia terkejut ketika seseorang menempelkan minuman dingin disalah satu pipinya
“Lo suka menghayal ya?” Wendi kemudian menerima minuman yang cowok itu berikan padanya
“Ganti rugi buat minuman lo tadi pagi” Ucap cowok itu sambil kemudian duduk tepat disamping cewek itu namun Wendi hanya diam dan masih menatap minuman itu disana
“Lo ngapain disini sendirian?” Wendi masih diam disana dengan tatapan kosongnya
“Lo, kenapa? Ada masalah?” Tanya cowok itu yang sadar ketika melihat raut wajah suram dari cewek itu
“Kenapa gue gak bisa lupain dia van” Ucapnya dengan suara yang gemetar membuat Gevan yang mendengarnya diam membeku, ia tahu maksud dari perkataan cewek itu
“Kenapa gue merasa kalau Tuhan itu gak adil. Kenapa cuman gue yang merasa tersakiti disini, gue salah apa sebenarnya. Dia Bahagia dengan perempuan lain sementara gue? Gue disini seperti orang bodoh yang masih berharap kalau dia bakal balik lagi ke gue”
Cewek itu tak kuasa menahan tangisnya, ia benar benar ingin menangis dan meluapkan semua yang dirasakannya sekarang. Gevan disana hanya bisa diam, dirinya pun sebenarnya merasa sakit mendengar setiap perkataan cewek itu disana
“Berhenti untuk ngejar gue van karna sampai saat inipun gue masih sayang sama Andre”
“Gue gak akan berhenti sampai hati gue sendiri yang nyuruh gue untuk berhenti” Wendi perlahan menatap cowok itu
“Gue gak mau lo berharap lebih”
“Gue gak pernah berharap lebih sama lo wen, gue gak pernah larang lo buat dekat dengan perempuan lain tapi tolong, lupain Andre orang yang udah buat lo kayak gini”
“Gue gak bisa van”
“Kalau gitu jangan paksa gue berhenti” Gevan menarik nafasnya Panjang lalu membasahi bibirnya yang kering itu
“Karna gue gak akan berhenti sebelum lo berhenti berharap sama Andre”