
.
.
.
Pipinya terasa panas. Sial. Jina menampar dirinya dan sekarang ia mulai geram dengan perlakuan Jina barusan.
Kyuhyun masih menggenggam kedua pergelangan tangan gadis itu dengan kuat dan kini matanya menyala marah, dengan cepat ia menarik dagu gadis itu. Jina menatap pria itu dengan tajam.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?!" Seru Kyuhyun yang tak suka akan tatapan yang Jina berikan kepadanya.
Posisi mereka kini sangat dekat dan tubuh mereka hampir menempel. Posisi yang sangat tak menguntungkan bagi Jina karena pergerakannya sudah terkunci.
Brakk...
"Kyu, maaf aku..." Ucapan Yoora terputus saat melihat posisi Kyuhyun dan Jina seperti itu. Jarak tubuh Kyuhyun dan wajah mereka sangatlah dekat. Posisi itu membuat Yoora merasa tak nyaman saat melihatnya. Mereka seperti sepasang kekasih yang ingin berciuman!
"Maaf oppa aku harus pulang." Ujar Jina langsung saat melihat keterkejutan Yoora. Pasti gadis itu berpikir yang tidak-tidak saat melihat dirinya seperti ini. Dengan mudah Jina melepaskan cengkraman pria itu dan dengan cepat pergi menjauh dari mereka. Ia tak ingin melihat wajah oppanya itu untuk sementara waktu.
"Hmm, maaf tak mengetuk dulu. Aku hanya khawatir jika kau memarahi adikmu lagi." Ujar Yoora yang terdengar canggung. Kyuhyun menggeram sepertinya ia tak mendengar ucapan Yoora. Kyuhyun mengepalkan tangannya dengan erat saat Jina pergi begitu saja.
"Bisakah kau meninggalkanku sendiri?" Tanya Kyuhyun yang terdengar frustasi. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar lalu duduk dikursi mewahnya.
"Apa kau baik-baik saja? Aku merasa kau..." Ucapannya terpotong dan Yoora menundukkan kepalanya untuk pamit saat melihat wajah Kyuhyun yang terlihat sangat memohon agar dirinya mau mengerti. Well. Sepertinya Kyuhyun butuh waktu sendiri.
••⏳⏳••
Langkah kakinya semakin cepat. Ia benar-benar ingin pulang sekarang, ia sudah tak peduli dengan semua tatapan heran yang dilontarkan oleh para karyawan dikantor ini yang terpenting ia harus pergi dari gedung pencangkar langit ini secepatnya lalu pergi jauh dari Kyuhyun agar hatinya bisa tenang kembali.
Buk...
Jina menabrak tubuh tegap seseorang dan mengakibatkan dirinya hampir saja terjatuh, ini salahnya karena terlalu terburu-buru dan tak memperhatikan jalan.
"Terima kasih." Ucap Jina saat orang itu telah membantunya agar tak mendarat dilantai. Baru saja Jina ingin melepaskan rengkuhan orang itu tapi sepertinya pria itu enggan untuk membiarkan Jina pergi dari hadapannya.
"Ada apa lagi Oh Sehun?" Jina menghela nafasnya dengan jengah saat pria itu tak kunjung mau melepaskan dirinya. Demi apapun ia sangat tak ingin melihat dua makhluk yang ingin dia hindari itu. Jina tak bisa menebak mana diantara mereka yang sebenarnya benar-benar peduli ataupun tidak terhadapnya karena nyatanya mereka pandai menyembunyikan sifat aslinya dibalik topeng-topeng yang mereka kenakan.
"Kumohon dengarkan penjelasanku." Ujar pria itu dengan nada memohon dan tatapan yang sangat menyesal.
'Apakah aku harus mendengarkannya?'
"Baiklah." Ucapan singkat yang Jina berikan membuat Sehun terlonjak senang. Ini kesempatannya untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi.
"Sebaiknya kita berbicara di cafe seberang jalan sana." Ajak Sehun yang sepertinya tau dengan keinginan Jina untuk segera keluar dari kantor ini.
Merekapun berjalan dengan langkah terburu, lebih tepatnya langkah kaki Jina. Ia harus cepat bisa-bisa oppanya itu menyusulnya lagi.
••⏳⏳••
Cafe ini tak terlalu ramai, para pengunjung yang sebagaian besar pegawai kantoran telah kembali ke kantor mereka masing-masing hanya tinggal beberapa pembeli yang tetap berada disini yang kemungkinan akan bertambah ramai menjelang sore nanti.
"Kau ingin minum apa?" Tanya Sehun yang sedang sibuk melihat daftar menu yang diberikan pelayan tersebut.
"Terserah." Jina malas untuk berbicara panjang lebar terhadap pria didepannya ini. Ia sangat-sangat malas dan masih kesal terhadapnya.
"Baiklah, cofe latte dua ya." Ujar Sehun kepada pelayan yang sudah siap mencatat pesanannya. Sehun menghela nafasnya saat melihat wajah kesal Jina dan tatapan datar milik gadis itu.
"Terima kasih." Ucap Sehun saat pesanannya sudah datang, dengan cepat ia menyeruput minumannya sedangkan gadis itu hanya mengaduk-aduk minumannya dengan malas.
"Bisakah kau bicara langsung keintinya?" Tanya Jina yang mulai jengah. Ternyata Jina mengetahui jika dia ingin sedikit mengulur waktu untuk menjelaskan pembicaraan yang seharusnya.
"Aku.." Ujar Sehun terpotong, pria itu menghela nafasnya dalam mencoba berbicara dengan lancar.
"Jadi, bisakah aku pergi sekarang?" Ujar Jina yang tampak tak minat dengan lanjutan pembelaan diri Sehun. Jina lalu beranjak dari duduknya. Ia sungguh ingin pergi dari pria dihadapannya ini.
"Tunggu, kau ingin kemana?" Tanya pria itu dengan mencekal tangannya, dengan lembut Jina menyingkirkan tangan kokoh Sehun dan melanjutkan perjalanannya.
"Kau mau kemana? Aku tak bisa membiarkan kau pergi seperti ini. Penampilanmu sekarang sungguh kacau." Ujar pria itu yang tampak khawatir. Jina mengepalkan tangannya. Berusaha kuat agar tak menangis lagi.
"Bawa aku pergi dari sini." Ujar Jina dengan tatapan memohonnya. Pria itu membulatkan matanya. Apa ia tak salah dengar? Apa yang dipikirkan gadis itu?
"Aku akan memaafkanmu jika kau membawaku kesuatu tempat." Ujar Jina lagi yang kini terdengar pelan. Sepertinya gadis itu sedang menahan isakannya lagi. Pasti hatinya begitu sakit. Ini semua salahnya. Jika saja ia mengatakan yang sebenarnya dari awal pasti kejadian seperti ini tak pernah terjadi.
Sehun menganggukkan kepalanya. Dengan lembut ia membantu Jina berjalan, sangat takut jika tak dibantu tubuh gadis itu akan ambruk.
••⏳⏳••
Hentakan sepatu yang tak berhenti terdengar sejak tadi menggema diruangan yang bisa dibilang megah ini.
Pria itu terus menatap jam yang menggantung indah didinding kantornya. Sudah tiga jam gadis itu tak kembali kekantor. Apakah benar dia sudah pulang?
Dengan cepat ia mengenakan jas yang tersampir di bangkunya sejak tadi. Hatinya sungguh gelisah. Ia harus segera pulang untuk memastikan jika Jina telah pulang. Ia tak bisa berdiam diri jika seperti ini.
Baru saja Yoora akan memasuki ruangan Kyuhyun tapi tampaknya Kyuhyun sangat terburu-buru? Mau kemana dia?
"Kau mau kemana?" Tanya Yoora saat melihat Kyuhyun diambang pintu.
"Ada hal yang harus kuurus. Maaf tak bisa mengantarmu pulang kali ini." Kyuhyun menyelipkan rambut Yoora kebelakang dan tersenyum kepadanya. Yoora hanya bisa menghela nafasnya.
Tanpa menunggu jawaban Yoora, Kyuhyun sudah berlari keluar kantor dan menuju ke mobil sport putih mewahnya lalu melaju kencang untuk pulang kerumah dan ia sungguh tak peduli dengan hujan deras yang tiba-tiba turun seperti ini, yang terpenting ia pulang sekarang.
••⏳⏳••
"Kemana dia?" Tanya Kyuhyun yang tampak menyeramkan dimata semua pelayan rumah itu. Mereka berjejer rapih dan serentak menundukkan kepalanya kebawah. Sangat takut dengan tatapan tajam milik sang tuan muda.
"Apa kalian tuli?!" Lihat saja Kyuhyun sudah membentak mereka. Sontak mereka terlonjak kaget dan menatap wajah geram milik Kyuhyun.
Pandangan mata pria itu menyipit kearah pelayan yang selalui ia curigai. Pasti pelayan itu tau mengenai hal ini?
"Ma-maaf tuan tapi sungguh saya tak tau keberadaan nona Jina. Saya sudah menghubunginya beberapa kali tapi tak diangkat dan ternyata nona meninggalkan ponselnya dikamar." Ujar Hani berjalan kearah Kyuhyun dengan menunduk sedalam yang ia bisa dan menyerahkan ponsel itu ketangan Kyuhyun.
Cih. Ini ponsel baru yang ia berikan untuk Jina agar gadis itu mudah untuk dihubungi dan ia ingin memberikan ponsel ini karena ponsel lama Jina telah ia hancurkan.
"Cih. Tak berguna." Desis Kyuhyun dan melemparkan ponsel itu kedinding. Membuat ponsel keluaran terbaru itu hancur berkeping-keping sama persis seperti yang ia lakukan saat itu.
"Apa gunanya benda itu jika tak ia pakai?" Geram Kyuhyun.
Pria itu sungguh panik saat tak melihat dan tak tau dimana keberadaan Jina sekarang.
"Argghhhhh." Teriak Kyuhyun frustasi pasalnya ini sudah hampir malam, jam sudah menujukkan pujul 10.30 malam tapi gadis itu tak terlihat batang hidungnya ditambah hujan diluar sana semakin bertambah deras.
"Kalian cepat cari Jina! Pastikan kalian membawa Jina kehadapanku sekarang dan jangan pernah kembali jika tak menemukan Jina atau kalian akan tau sendiri akibatnya!" Perintah yang lumayan panjang dari Kyuhyun membuat para pelayan bergegas mencari sosok nona mudanya itu.
Sejak kehadiran Jina dikeluarga ini, membuat suasana dirumah megah ini seakan tak tenang, selalu saja ada hal yang diributkan dan pasti selalu terkait dengan gadis itu. Mereka selalu was-was jika menyangkut hal tentang nona mudanya.
Prangggg
Kyuhyun membanting guci langka dengan harga yang sungguh fantastis itu tanpa ragu sedikitpun. Ia sungguh kesal dan marah. Kemana gadis itu pergi? Apakah Jina kabur? Tidak. Tidak. Jina tak bisa kabur begitu saja. Gadis itu harus membayar semuanya!
"Jika kau pikir bisa pergi dengan cara seperti ini kau salah, karena nyatanya aku pasti akan menemukan keberadaanmu, dimanapun kau berada." Gumam Kyuhyun dengan muka memerahnya, urat diwajahnya terlihat menandakan jika ia sungguh sangat kesal sekarang.
Dengan langkah cepat, ia juga mulai bergegas mencari gadis itu. Ia akan mencari keseluruh pelosok kota ini bila perlu dan menambah tim pencari untuk menemukan gadis itu secepatnya.
Mobil sport putih dengan kecepatan diatas rata-rata itupun membelah jalanan Seoul dengan diringin oleh guyuran hujan yang tampak serasi berdampingan dengan langit pekat malam yang menambah kesan kelamnya.
TBC