
...Ketika seseorang mencintai namun tidak dihargai, suatu ketika akan pergi ketika sudah merasa lelah dan disitulah kita sadar bahwa dicintai lebih berharga dari pada mencintai...
Wendi berlari sembari menuruni anak tangga ketika melihat Andre kekasihnya itu sudah menunggunya dibawah. Wendi mengerutkan keningnya ketika melihat Andre menutupi wajahnya dengan jacket yang ia kenakan
"Andre, aku udah datang" ujar cewek itu namun Andre tetap menutup wajahnya, Wendi yang mulai gerampun memukul lengan kekasihnya itu
"Kamu kenapa sih, aku pengen liat muka kamu ndre"
"Serius kamu mau liat?" Ucap cowok itu yang dimana Wendi langsung mengangguk mantap kemudian cowok itu membuka jacket yang ia pakai, Wendi membelalakkan matanya ketika melihat rambut kekasihnya
Andre merubah gaya rambutnya, ia membuat gaya rambutnya kedepan dan sedikit membuat belahan ditengah, Andre mengibaskan rambutnya layaknya seorang idol kpop namun disisi lain Wendi mencoba menahan tawa namun tak bisa ia kendalikan dan yang terjadi adalah Wendi tertawa lepas melihat gaya rambut kekasihnya itu
"Kenapa kamu ketawa?" Wendi masih dalam keadaan tertawa tak kuasa melihat tingkah cowok itu
"Kamu ada masalah hidup apa?, Ngapain buat rambut begituan"
"Kamu sering nonton korea dan gaya rambutnya kayak gini makanya aku coba biar kamu gak nontonin mereka terus"
"Itu gak cocok buat kamu ndre, yang ada kamu jadi terlihat aneh"
"Kamu ngejek aku?"
"Udah ah. Kita pergi aja" Wendi yang tak ingin berdebat lagi langsung naik keatas motor dan langsung pergi melaju cepat
...******...
Gevan berjalan menuju kelasnya dengan kedua tangannya dimasukkan kedalam kantong celana, banyak anak perempuan yang terpesona melihat ketampanan cowok itu namun Gevan tidak memperdulikan pujian itu, ia hanya menganggap semuanya seperti angin berlalu
Saat berjalan menuju kelas, mata cowok itu tak sengaja bertemu dengan Gisel yang berdiri didepan kelasnya, sebenarnya Gisel menghubungi cowok itu pagi ini agar berangkat kesekolah bersama namun cowok itu tak membalas dan memutuskan untuk pergi sendiri kesekolah pagi ini
Gevan berjalan melewati cewek itu tanpa menghiraukan keberadaannya disana
"Van" sang empunya namapun berhenti namun tak menatap cewek itu
"Kamu, kenapa gak bales pesan dari aku?" Gevan hanya diam, ia merasa kecewa dengan gadis itu akibat kejadian yang ia lihat tadi malam
"Kamu, marah sama aku?" Gevan masih diam ditempat dengan posisi yang masih membelakangi gadis itu
"Van, jawab aku?" Mata cewek itu memerah melihat sifat Gevan yang berubah semenjak tadi malam yang tak membalas pesannya
"Jam istirahat aku tunggu di rooftop" setelah mengatakan itu Gevan langsung pergi menuju kelasnya meninggalkan Gisel yang sudah meneteskan air matanya disana, ia tak tau mengapa cowok itu berubah drastis hari ini
Gevan berjalan dengan perasaan kecewa dan sakit hati melihat cewek itu, ia tak tau harus apa sekarang, apa ia harus mengakhirinya sekarang? Namun disisi lain ia sangat menyayangi gadis itu
Sembari berfikir tiba tiba Wendi muncul didepan cowok itu melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar kearah cowok itu
"Hai" sapa gadis itu dengan penuh semangat, namun wajah yang disapanya hanya datar dan mendorong Wendi kesamping karna menghalangi pemandangannya
"Lo jahat banget sih" ucap Wendi sambil memukul lengan cowok itu
"Kita udah lama gak ngobrol bareng"
"Lo kangen sama gue?" Wendi membelalakkan matanya lebar mendengar perkataan cowok disampingnya itu
"Hah? Kangen?. Gue merinding dengar lo ngomong begitu" ucap gadis itu masih dengan ekspresi terkejutnya
"Van, gimana hubungan lo sama Gisel? Gue perhatiin lo berdua gak pernah bareng lagi"
"Kita bakal putus" Wendi menatap cowok itu dan kemudian menyipitkan matanya merasa tak percaya dengan ucapan cowok itu
"Jangan bercanda lo. Gak lucu tau gak" Gevan hanya memutar bola matanya malas melihat gadis itu, ia sebenarnya ingin sendiri namun mengapa cewek ini datang dan mengganggunya
"Pacar lo mana? Tumben lo gak dianter sampe kelas"
"Emang kenapa?" Gevan mulai emosi melihat gadis ini, bukannya dijawab ia malah kembali bertanya. Wendi yang melihat wajah kesal cowok itu tersenyum, ia memang sengaja membuat cowok itu kesal
"Van, lo nanti sibuk?" Gevan menaikkan satu alisnya mendengar pertanyaan itu
"Gue mau main kerumah lo pulang sekolah nanti" Gevan tiba tiba menghentikan langkah kakinya mendengar itu
"Boleh kan?"
"GAK"
"Kenapa? Guekan teman lo"
"Lo bukan teman gue. Gue gak pernah nganggap lo teman"
"Gue gak peduli, pokoknya gue mau kerumah lo" Gevan sangat terkejut melihat cewek itu tiba tiba ingin datang kerumahnya
"GAK!" Wendi langsung menggandeng lengan cowok itu erat sambil merengek disana, para siswa yang ada disanapun menatap keduanya heran
"Wen, lo kenapa sih. Lepas wen" ucap Gevan sambil berusaha melepas cekalan gadis itu
"Gak. Lo harus bawa gue kerumah lo"
"GUE GAK MAU!" Akhirnya Gevan berhasil melepaskan genggaman cewek itu lalu kemudian mendorong keras cewek itu kedalam kelasnya lalu dengan cepat Gevan pergi menjauh dari sana
Wendi yang didorongpun merasa kesal, sebenarnya tujuannya kerumah cowok itu adalah ingin mencari informasi terkait masalahnya dengan Andre, namun ia gagal untuk pergi kerumah cowok itu
Wendi berbalik badan dan ia melihat Rena yang sudah berdiri sambil menatapnya
"Lo ngapain megang tangan Gevan? Lo suka sama dia?" Wendi yang sudah bosan mendengar itu hanya mengerucutkan bibirnya kedepan
"Iya. Gue suka sama Gevan. Gue jatuh cinta sama dia. PUAS LO? ujar cewek itu dan langsung duduk ditempat duduknya
...******...
Rizal dan Rendi serentak tertawa ketika melihat gaya rambut sahabat mereka itu, mereka tak habis pikir dengan jalan pikiran Andre yang tiba tiba merubah gaya rambutnya
"Seneng banget lo berdua ngeledekin gue" ucap Andre sedikit kesal melihat kedua sahabatnya it
"Lo mimpi apa semalam? Bisa bisanya lo ngubah gaya rambut lo"
"Lo kayak bencong tau gak"
"Gue susah payah buat gaya rambut begini lo pada malah ngejek gue. Gue bangun jam lima pagi demi ini tau gak?"
"Lo sama idol itu beda ndre. Beda jauh"
"Setan lo. Gue santet lo nanti malam" Rizal hanya tertawa disana sementara Rendi hanya melihat pertengkaran antara keduanya
...*****...
Wendi berada diperpustakaan sensitive sekarang, ia masih sibuk memikirkan tentang permasalahan antara Andre dan juga Gevan. Ia masih belum menemukan titik terang antara keduanya, ia bahkan semakin bingung dengan informasi yang ia temukan
"Serius banget" Wendi menoleh kesumber suara dan tersenyum lebar melihat keberadaan Daniel disana
"Daniel" teriak cewek itu reflex hingga semua orang yang ada disana menatapnya dan cewek itu hanya tersenyum kaku
"Daniel, gue senang banget lo disini"
"Gue stres tiap ketemu sama lo" jawab Daniel lalu kemudian duduk didepan gadis itu
"Lo banyak tugas?"
"Gak. Gue masih mikirin masalah antara Andre sama Gevan" Daniel yang mendengar itu menghela nafasnya, ia pikir cewek itu tengah mengerjakan tugas sekolah namun ternyata ia salah
"Gue semalam dari rumah Andre dan dia cerita kalau nyokapnya kecelakaan enam bulan lalu dan Andre bilang kecelakaan itu dilakukan dengan sengaja dan orangnya udah dapat hukuman. Lo tau itu siapa?" Jelas Wendi panjang lebar kepada Daniel
"Wahh... lo semakin berkembang"
"Ck. Lo harus bantu gue dong Dan" Wendi mencoba membujuk cowok itu agar mau menceritakannya
"Gue malas" Wendi menatap tajam cowok itu disana
"Kenapa?, Lo mau paksa gue buat cerita?"
"Oke. Kalau lo gak mau gak papa. Gue bisa cari sendiri tanpa bantuan lo" cowok itu tersenyum sambil melipat kedua tangannya didada
"Lo repot banget sih cari tau masalah mereka, mending lo belajar hal yang lebih berguna"
"Ini berguna buat gue" Wendi mengeluarkan lidahnya membuat kesal cowok itu
"Terserah lo" kemudian Wendi tertawa melihat ekspresi cowok itu disana
"Lo ganteng kalau lo marah Dan"
"Diam lo"
...*******...
Gisel berlari menaiki anak tangga menuju rooftop sekolah mencari Gevan yang menyuruhnya kesana. Gisel sedikit kelelahan setelah sampai di rooftop lalu perlahan berjalan mendekati cowok itu
"Kamu terlambat dua menit"
"Maaf van, aku udah lari kok" kemudian Gisel berdiri disamping cowok itu
"Kamu mau ngomong apa?"
"Kamu bukannya mau ngomong sesuatu?" Gisel mengerutkan keningnya tak mengerti maksud cowok itu, mengapa ia berbalik bertanya sementara yang menyuruhnya datang kesini adalah dirinya pikirnya
"Kamu yang ngajak aku kesini van"
"Aku tau. Jadi kamu gak mau ngomong sesuatu?" Dengan ragu ragu cewek itu menggelengkan kepalanya
"Disaat aku ngomong aku mau kamu diam dan dengerin aku" tegas cowok itu langsung. Sebelum berbicara cowok itu menarik nafasnya panjang merasa tidak siap mengatakannya namun mau tidak mau ia harus melakukannya.
Gevan lalu berbalik dan menatap cewek itu dalam
"Aku bakal langsung ngomong keintinya" entah mengapa Gisel merasa sangat ketakutan sekarang
" Pertama, gue semalem datang kerumah lo" mendengar itu Gisel langsung membuka mulutnya terkejut mendengar itu
"Van, ka, kamu, nga..."
"Aku belum siap ngomong" Gisel langsung terdiam dan perasaannya kini tidak enak lagi
"Kamu bilang Papa kamu sakit, tapi ternyata enggak. Kamu bilang kalung itu pemberian Mama kamu, tapi ternyata enggak" mata Gisel memerah, tak tau lagi harus berkata apa sekarang
"Kamu tau apa lagi yang aku tau?" Cewek itu hanya diam disana sementara Gevan mencoba menahan semua rasa sakit yang ia rasakan sekarang
" Kamu, kamu bahkan punya pacar selain aku" sedetik kemudian air mata Gisel turun membasahi pipinya
"Aku liat sendiri didepan mata aku"
"Van"
" Apa yang aku bilang salah?. Jawab aku sel" cewek itu hanya menangis tak mampunya menjawabnya
"Kamu tau, aku sayang banget sama kamu sel tapi kenapa kamu kayak gini" cowok itu mencoba menahan rasa sakit didadanya
"Aku gak pernah maksa kamu buat terima aku sel, kamu yang datang dan terima aku buat jadi pacar kamu. Kamu tau, dengan cara kamu yang kayak gini, kamu buat aku menjadi orang jahat didepan banyak orang, kamu buat aku seolah olah ngerebut kamu dari Andre"
" Ternyata Kamu terima aku hanya untuk bantu biaya pengobatan ayah kamu" Gevan memejamkan matanya disana lalu kemudian menatap cewek itu, mendekatinya, menatap gadis itu dan menggenggam kedua tangannya lembut
"Aku sayang sama kamu sel"
"Van, maafin aku" ucap gadis itu sambil menangis disana
"Selama ini aku bertahan walaupun aku tau kamu gak pernah mencintai aku, tapi kali ini aku mulai capek sel" Gisel menggelengkan kepanya berharap cowok itu tidak mengatakan hal buruk sekarang
"Van, maafin aku"
"Mulai hari ini, aku bebasin kamu sel. Kamu sekarang bebas mau dekat atau berhubungan dengan siapapun tanpa harus terikat sama aku lagi"
"Van, kamu jangan ngelakuin itu" Gevan semakin mengeratkan grnggaman tangannya merasa bahwa ini adalah waktu terakhir bagi dirinya untuk menggenggam tangan cewek itu
"Makasih buat semuanya sel. Mulai hari ini, kita PUTUS" Gisel semakin tak kuasa menahan air matanya disana
"Van, gak van. Aku gak mau. Van, dengerin aku dulu van" Cewek itu mencoba menahan cowok itu agar mau mendengarkannya namun kali ini keputusan cowok itu tak bisa diubah, Gevan melepas cekalan cewek itu lalu pergi dari sana meninggalkan Gisel yang menangis disana
Van, jangan tinggalin aku" Gisel kemudian jatuh tersungkur dilantai sambil menangis melihat kepergian cowok itu, ia benar benar belum siap dengan ini semua, ia kini menyesal namun semua sudah terjadi, waktu tidak bisa diulang kembali
Gisel hanya bisa menangis disana, berharap ini semua hanya mimpi dan besok semua akan kembali seperti semula.....