It'S Hurt

It'S Hurt
Sakit




.


.


.


Langkah tegas itu kembali mengisi ruangan sang direktur utama sekaligus CEO perusahaan ini. Dengan menghela nafas panjang ia mendudukan dirinya di bangku kekuasaan tersebut.


Matanya menyala saat melihat dokumen yang beberapa hari lalu ia terima. Sebuah fakta sungguh mengejutkan hatinya. Sungguh ia tak menduga hal ini. Kini pikirannya berkecamuk. Ia mengusap kasar wajahnya.


'Kenapa seperti ini?'


Ia meminum air putih yang sudah tersedia di mejanya. Tangannya sedikit *** gelas itu. Matanya masih menatap kosong kearah depan. Pikirannya sekarang tak begitu fokus.


Suara deritan pintu, langsung membuat lamunannya buyar. Ia menatap sosok itu dengan raut penyesalan.


Gadis cantik anggun itu tampak kusut. Wajahnya sangat terlihat jelas jika ia sehabis menangis. Matanya terlihat sembab.


"Kenapa?" Lirih gadis itu dan terdiam beberapa meter dari jarak Kyuhyun berada, sepertinya langkah gadis itu enggan untuk berada dekat dengan Kyuhyun.


Pria itu masih dengan keterdiamannya dan menyimak dengan apa yang akan gadis itu pertanyakan.


"Kenapa kau melakukan ini Kyu?" Tanya Yoora yang terdengar rasa kemarahan dinadanya.


"Kenapa kau tak pernah bilang jika Jina bukan adik kandungmu?" Tanyanya lagi sambil memegang dadanya yang terasa sesak.


"Hah. Seharusnya aku tau jika dia bukan adikmu, seharusnya aku sadar sejak awal." Ujarnya lagi seperti berdialog sendiri karena nyatanya pria itu tak berusaha menggubris ucapannya.


"Tapi tetap saja ini sungguh gila, kau mengumumkan hal yang sangat menyakiti hatiku kau tau itu?" Ujarnya lagi. Ia tertawa miris saat pria itu hanya diam sambil menatapnya dengan tak berekspresi. Wajah itu sungguh sukit ditebak. Sebenarnya apa yang kau pikirkan Cho Kyuhyun!


"Bisakah kau menjawabku?" Ujar Yoora yang masih setia berdiri dihadapannya. Pria itu kemudian menarik nafas panjang dan mulai bicara meski ia tak beranjak dari duduknya.


"Aku harus menikah dengannya karena orangtuaku mewariskan harta untuk dia dan aku sangat tak ingin gadis itu memilikinya." Ujar Kyuhyun yang terasa berat mengatakannya. Huh? Jadi ini semua karena harta? Haruskah Yoora merasa sedikit lega?


"Tapi apapun alasanmu, kau tetap menyakiti hatiku." Ujarnya lagi. Bagaimana ia tak sakit hati saat pria itu dengan sepihak mengatakan jika mereka tak bisa meneruskan pertunangan ini hingga kejenjang pernikahan?


"Aku tau, maaf." Yoora tersenyum miris saat mendengarnya. Maaf? Apa dengan kata maaf semua kejadian kemarin bisa diubah?


"Hah. Seharusnya aku tau jalan pikiranmu Kyu. Kau memang lelaki yang tak bisa ditebak dan si pria keras kepala yang mirisnya aku telah jatuh cinta padamu." Yoora menghela nafasnya lagi sebelum memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan ini.


"...."


"Kuberi kau pilihan. Kau memilihku dan melepaskannya atau kau pilih dia dan melepaskanku sekarang juga." Ujar Yoora penuh penekanan.


"Aku tak akan memilih. Aku tak bisa melepaskannya dan membiarkanmu pergi begitu saja." See? Pria itu sungguh tak punya hati! Bagaimana mungkin ia tak bisa memilih? Apakah itu terlalu sulit untuknya. Kenapa Kyuhyun tak bisa melepaskan Jina dan dirinya? Bukahkah Kyuhyun seakan mempermainkannya?


Selama ini ia terus menyakini jika Kyuhyun mencintainya. Dengan semua perlakuan Kyuhyun terhadapnya. Tapi sejak dulu ia terus berpikir apa pria itu menjadikan dirinya sebagai kekasih karena ia telah menyelamatkan nyawa pria itu?


Ia terus menyakini jika Kyuhyun tulus mencintainya tapi sekarang seakan kepercayaan itu sedikit memudar. Apa Kyuhyun hanya membalas jasanya saja?


Yoora hanya bisa berdecak dan pergi dengan cepat. Langkah itu semakin pasti saat meninggalkan ruangan tersebut.


Prangg...


Gelas yang telah ia genggam sejak tadi ia banting begitu saja, seakan meluapkan semua emosinya sejak tadi.


••⏳⏳••


Alunan musik mengiringi acara resmi tersebut. Kedua pasangan itu tampak tersenyum. Tersenyum palsu menyambut setiap uluran tangan dan semua do'a yang para tamu tunjukkan untuk mereka.


Mulutnya terasa kaku jika harus seharian tersenyum seperti ini. Jina menghela nafas leganya saat sudah bisa beristirahat.


Gadis itu tampak cantik dengan gaun putih panjang yang tampak selaras dengan kulit pucat mulusnya. Sedang pria tampan disebelah gadis itu saat dilihat malam ini sangat nyata jika disebut sebagai patung yunani hidup karena pria itu luar biasa tampan dengan tuxedo putih yang melekat pas ditubuh atletisnya itu.


Jina sedikit memegang gaunnya keatas saat sang photographer menyuruh kedua mempelai itu berjalan sedikit dari singgasana mereka. Malam ini kedua pasangan itu bak ratu dan raja. Para tamu sangat antusias untuk melihat acara yang mempelai itu tunjukkan untuk mereka.


Jina sedikit gugup saat sang photographer memberi intruksi agar lebih dekat suaminya.


Nafas Jina tercekat saat Kyuhyun melakukan hal ini. Beda dari yang Kyuhyun tunjukkan pria itu hanya tersenyum seperlunya dan setelahnya hanya menunjukkan wajah dinginnya kembali.


Tanpa sadar wajah Jina memanas saat Kyuhyun mencium bibir ranumnya tanpa ragu dihadapan semua orang. Ini gila! Bagaimana mungkin Kyuhyun seperti ini?


Ia tak tau apa yang ia rasakan saat ini, tapi dekapan dan hal yang Kyuhyun lakukan saat ini membuat kinerja jantungnya tak beraturan ditambah kepalanya terasa pening. Sepertinya ia harus makan setelah ini, bisa-bisanya ia jatuh sakit.


••⏳⏳••


Setelah acara dilakukan sepertinya Kyuhyun enggan berbicara dengannya ataupun melontarkan kata-kata yang menyakiti dirinya.


Jina bernafas lega saat ia bisa kembali tidur di kamarnya tanpa harus tidur sekamar dengan pria itu.


Ia sudah kembali mengenakan kaos biasanya dan melepaskan gaun pengantin yang begitu menyesakkan dan membuatnya tak nyaman sejak tadi.


Jina melangkah kedepan dan berdiri menyender lalu menopang dagunya dibalkon kamarnya. Pernikahan ini sungguh konyol bukan? Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah Kyuhyun akan memaafkannya jika ia menuruti permintaan Kyuhyun?


Ingin sekali ia mengakhiri hidupnya tapi ia tak sebodoh itu. Ia masih memiliki kewarasannya. Ia tak ingin mati sia-sia. Bagaimana nanti jika ia memutuskan bunuh diri dan saat bertemu kedua orangtuanya disurga mereka pasti akan sangat kecewa kepadanya?


Tapi jika hidup pun kehidupannya selalu monoton seperti ini. Hidupnya terasa terkekang. Ia bagaikan boneka yang bisa Kyuhyun mainkan sesuka hatinya.


Jika saja ia gadis yang lemah, pasti sudah sejak dulu ia memilih mati ketimbang menjalani kehidupannya ini. Jina menggeleng saat memikirkan hal itu. Tidak. Ia masih muda dan ia yakin ia masih memiliki masa depan cerah. Cerah? Hah benar. Mungkin tak secerah yang ia kira karena pria itu telah merenggut kehormatannya dan kini karena sebuah surat wasiat ia harus menikah dengan Kyuhyun. Jina yakin jika Kyuhyun akan segera mengakhiri pernikahan konyol ini. Pasti Kyuhyun akan mencari cara agar mereka tak berada disituasi secanggung ini.


Kyuhyun pasti akan menceraikannya karena pria itu mencintai Yoora bukan? Pernikahan ini hanyalah alasan Kyuhyun untuk mengambil hartanya dan menjaga hartanya. Pernikahan ini hanya sebuah keterpaksaan semata dan tak ada unsur cinta didalamnya. Cinta? Haruskah ia memikirkan kata itu? Entahlah.


Jina mengeryitkan alisnya saat melihat sosok yang sedang ia pikirkan menatap kosong kearah depan. Kamarnya dengan Kyuhyun sangatlah dekat. Bersebelahan. Dari lantai dua ini ia bisa dengan jelas melihat sosok dingin itu. Dengan pagar pembatas yang cukup luas memisahkan setiap balkon kamar dirumah megah ini.


Tampaknya Kyuhyun belum menyadari jika ia sudah berada disini sejak tadi. Jina terus memandang kearah pria itu dengan tatapan bingung. Ada apa dengan wajah itu? Kenapa terlihat begitu menyedihkan?


Jina menatap tak percaya saat pria terus menepuk dadanya. Rasanya Kyuhyun tengah merasakan kesakitan. Cairan bening dari sudut mata pria itu pun terlihat jelas olehnya karena sang rembulan seperti memberikan penerangan alami agar dirinya bisa melihat Kyuhyun dengan begitu jelas.


'Sebenarnya apa yang kau pikirkan oppa? Kenapa kau terlihat begitu rapuh?'


Ini pertama kalinya Jina melihat Kyuhyun yang sangat berbeda dari yang ia kenal selama ini, lebih tepatnya saat kecelakaan pesawat pribadi yang dialami oleh kedua orang tua Kyuhyun. Kyuhyun benar. Kenapa hanya dirinya yang selamat? Kenapa ia tak ikut menyusul menjadi bintang langit diatas sana?


Jina lagi-lagi tersenyum miris saat mengingatnya. Inilah alasannya ia masih tetap berada dipria itu. Meski ia berusaha kabur dari Kyuhyun tapi hatinya terus mengatakan jika ia salah karena melepas tanggung jawabnya untuk mendapatkan permintaan maaf Kyuhyun.


'Kuharap suatu saat kau akan memaafkanku, dengan begitu akan akan merasa tenang jika terjadi sesuatu terhadapku.'


Tatapan Jina seolah kosong. Ia melihat wajah Kyhyun tapi pikirannya pergi entah kemana.


Sampai sebuah suara yang cukup keras membuyarkan lamunannya. Astaga! Pria itu terjatuh!


Dengan cepat Jina berlari keluar kamar menuju kekamar Kyuhyun. Kenapa ia merasa sangat khawatir seperti ini? Ada apa dengan pria itu?


Dibukanya langsung pintu kamar oppanya itu. Jina membelalakan matanya saat melihat wajah Kyuhyun yang terlihat pucat pasi.


Ia terus menepuk pipi Kyuhyun tapi pria itu tak meresponnya. Dengan segera Jina membawa tubuh Kyuhyun menuju kasur meski berat ia terus memapah tubuh Kyuhyun yang setengah sadar itu.


"Oppa." Ujar Jina mencoba membangunkan Kyuhyun. Berhasil tapi pria itu tampak memegang perutnya dan terlihat sangat kesakitan. Jina panik. Ia harus bagaimana?


Hani. Ia harus menelpon Hani. Dengan segera ia mencoba merogoh jaket Kyuhyun untuk meminjam ponsel pria itu karena ia sendiri tak memiliki ponsel sejak kejadian itu.


Dengan segera Jina menghubungi Hani yang sudah ada didaftar kontak Kyuhyun. Jina berujar sangat panik dan menyuruh Hani untuk memanggil dokter pribadi keluarga ini segera.


Jina menatap gusar kearah pria itu.


"Apa perutmu terasa sakit? Apa kau tak makan sejak tadi oppa?" Ujar Jina sambil menggenggam tangan pria itu tampaknya Kyuhyun tak meresponnya lagi karena setelahnya pria itu kehilangan kesadarannya kembali.


Bibir Kyuhyun tampak pucat sangat kontras dengan warna kulitnya saat ini. Jina merutuki dokter yang dipanggil Hani belum juga tiba.


"Oppa, kau harus sembuh." Ujar Jina sambil menggigit bibirnya. Ia benar-benar sangat khawatir dengan Kyuhyun. Bagaimana mungkin Kyuhyun yang ia kenal selalu sehat tiba-tiba pingsan seperti ini? Apakah pria itu terlalu memaksakan untuk bekerja?


"Oppa, kumohon sadarlah." Ujar Jina yang tampak gelisah dan berpikir jika Kyuhyun tak kunjung membuka kedua matanya.


TBC