It'S Hurt

It'S Hurt
Punishment



...Jangan bertahan terlalu lama dalam masa lalu karna itu hanya akan membuatmu semakin JATUH...


Mina tengah sibuk mengerjakan soal yang ada dipapan tulis dengan keseriusan yang tinggi. Cewek itu kemudian melirik cowok yang juga sibuk mengerjakan tugas dengan fokus disana


“Lo pacaran sama Wendi?” Tanya Mina disana yang sudah berhenti melakukan kegiatannya


“Enggak”


“Enggak? Lo selalu ada buat dia, lo kemarin meluk dia didepan banyak siswa dan semalam lo ngajak dia dansa, lo masih bilang kalau itu bukan pacaran?” 


Tak ada jawaban dari Gevan membuat cewek itu kesal dan mulai membenarkan posisinya untuk lebih bicara serius


“Apa Wendi nolak lo?”


“Hm”


“Apa? Serius lo” Ucap cewek itu dengan reaksi terkejut


“Hm”


“Lo. lo beneran. Bentar bentar, jadi lo beneran ditolak sama Wendi?”


“Hm” 


“SERIUS!!”


“Hm” 


Bukannya sedih, Mina malah tertawa terbahak bahak disana hingga Gevan yang melihatnya terkejut merasa aneh dengan tingkah teman perempuannya itu


“Rasain lo. sekarang lo tau kan gimana rasanya ditolak? Itu yang selama ini lo lakuin sama perempuan. Banyak cewek yang lo tolak dan lo buang gitu aja setelah lo puas”


“Yahh, lo benar”


“Lagian Wendi mana mau sama cowok kayak lo. Cowok yang mencium semua perempuan disekolah ini. Berapa banyak cewek yang udah jadi korban lo”


“Banyak”


Ucap Gevan namun sebenarnya sedari tadi ia hanya sibuk mengerjakan tugas tanpa peduli dengan ocehan cewek yang menurutnya tidak penting itu


Gevan kemudian menghentikan pekerjaannya dan mulai menatap Mina yang duduk tepat disampingnya itu sambil tersenyum miring seolah ia ingin melakukan sesuatu disana


“Lo benar, gue udah mencium banyak perempuan disekolah ini tapi gue belum pernah ngelakuin itu sama lo” Perlahan cewek yang mendengar itu menoleh kesamping dan melihat Gevan yang sudah tersenyum penuh arti disana 


“Ma,,,maksud lo?”


Gevan kemudian langsung merangkul cewek itu hingga membuatnya terkejut disana dan mencoba melepas rangkulan Gevan dari sana


“Van, lo gila!”


“Sini, biar gue cium lo. MMMUUUUUU” Gevan memajukan bibirnya kedepan sementara Mina disana hanya bisa mencoba mendorong cowok itu menjauh darinya


"Van, lo gila"


“Kalian berdua ngapain?” Ucap Pak Wawan yang sudah berdiri didepan sambil menatap keduanya


Gevan yang sadarpun langsung melepaskan cewek itu dan kemudian tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal disana


“Ahmm, maaf Pak” Ucap Gevan disana dan kembali keposisinya semula


...********...


Gevan berjalan sambil sibuk memainkan ponselnya disana. Ia bingung karna sedari tadi Wendi tak menjawab pesan bahkan telepon darinya dan itu membuatnya sangat frustasi. Cowok itupun dengan segera mendatanginya kedalam kelas namun tetap nihil, dia tidak ada disana


“Ck, dia kemana sih” Gevan mendumel kesal disana


Gevan tiba tiba melihat Rena yang merupakan sahabat dekat cewek itu baru saja lewat dari depannya


“Re, lo tau Wendi kemana?” Bukannya menjawab, Rena malah mengabaikannya disana


Melihat dirinya tak dihiraukan, Gevan langsung menarik rambut cewek itu kuat hingga Rena berteriak kesakitan disana


“Lo kenapa sih!”


“Lo yang kenapa? Orang kalau nanya itu dijawab?”


“Emang lo manusia?”


“Jadi maksud lo gue apa?” Rena tak menjawab lagi dan mengelus elus kepalanya akibat kesakitan yang ia rasakan


“Wendi kemana?”


“Gue gak tau”


“Gak mungkin”


“Lo ngerti bahasa gak sih. Gue bilang gak tau” Ucap Rena sambil menekan nada bicaranya disetiap kata


“Lagian ya, lo ngapain sih ngejar ngejar Wendi. Lo pikir dia bakal suka sama lo, dia bakal jatuh cinta sama lo? Jangan mimpi, lo gak bakal pernah dapatin Wendi” Gevan yang mendengarnya tertawa sinis lalu menatap cewek itu


“Inilah alasan kenapa Daniel gak pernah suka sama lo” 


“HAH? Lo bilang apa?”


“Lo. tau ?”


“Daniel itu gak suka sama mulut cerewet kayak lo. yang kerjaan ngocehhh setiap hari” Rena hanya diam disana karna tak menyangka jika Gevan tau kalau dirinya mencintai sahabatnya itu sejak lama


“Lo mau tau tips dari gue supaya Daniel suka sama lo?”  Rena menatap cowok itu seolah memberi isyarat bahwa dirinya mau denan tawarannya itu


Gevan yang pahampun menurunkan badannya dan mendekatkan bibirnya ketelinga cewek itu


“Lo harus bis…”


“Rena” 


Sebelum selesai berbicara seseorang sudah memanggil nama cewek itu membuat keduanya serentak menoleh kebelakang tepat darimana sumber suara itu


“Kalian lagi ngapain?” Ucap Rendi sambil berjalan mendekati keduanya


“Ahm…Rendi” 


“Kamu mau kekantin?”


“KAMU??” Ucap Gevan terkejut mendengar kata “kamu” yang dilontarkan cowok bernama Rendi itu


“Kalian pacaran?” Tanya cowok itu masih dengan wajah terkejutnya


“Bukan urusan lo”


“Kalau iya emang kenapa?” Gevan yang mendengarnya tersenyum tak menyangka jika kedunya benar benar berpacaran sekarang


“Gak papa. Bagus” Gevan tersenyum sambil menatap Rena yang hanya menundukkan kepala


“Karna itu artinya Rena bisa berhenti buat ngejar ngejar Daniel, Iya kan?” Rena langsung menatap Gevan geram disana


“Gue pergi. Selamat buat cinta baru lo” Ucap cowok itu lalu segera pergi dari sana


“Kalian tadi bahas tentang apa?”


“Gak papa kok ren. Kita kantin yok” Ajak cewek itu untuk mengalihkan pembicaraan


Gevan berkeliling kesan kemari untuk mencari dimana keberadaan cewek itu namun tetaap saja tidak ada tanda tanda dimana Wendi berada. Cowok itu menjambak rambutnya akibat frustasi


Ia kemudian hendak akan pergi namun tiba tiba pandangannya melihat seorang perempuan yang duduk dikursi kayu membelakangi dirinya. Jika dilihat dari penampilannya itu ada Wendi cewek yang sedari tadi ia cari itu


Wendi duduk dengan pandangan kosong disana, pikirannya masih dengan kejadian semalam. Entah kenapa itu membuatnya semakin sadar untuk berhenti mengharapkan Andre kembali kepadanya


“Apa hobi lo sekarang melamun?” Seseorang berhasil membuatnya terkejut dari lamunannya


“Gue keliling sekolah buat nyariin lo dan ternyata lo disini” Wendi menoleh kesamping ketika melihat cowok itu baru saja duduk disampingnya dan benar saja Wendi melihat cowok itu berkeringat sekarang


“Lo masih mikirin kejadian semalam?” Wendi hanya diam karna memang tebakan cowok itu sangat benar dengan apa yang ia pikirkan


Melihat cewek itu hanya diam, Gevan pun menyerah dan memilih untuk ikut diam disana dan hanya menatap fokus kedepan


“Gue capek” Ucap cewek itu setelah sekian lama hening


“Tuhan itu gak adil” Gevan menatap cewek itu namun tetap diam memberi ruang untuk cewek itu bicara


“Kenapa cuman gue yang merasa sakit disini sementara dia bahagia dengan hidupnya” Mata cewek itu mulai berkaca kaca disana


“Lo tau apa yang sekarang gue harapkan? Gue sekarang gak berharap dia kembali tapi gue berharap dia merasakan hal yang sama seperti apa yang gue rasakan sekarang”


“Gue mau dia merasakan sakit yang sama seperti gue sekarang” Tak terasa air mata itupun kembali mengalir disana sebagai gambaran betapa hancurnya hati cewek itu sekarang


“Gue gak terima kalau cuman gue yang merasa sakit disini”  Gevan masih diam disana membiarkan cewek itu meluapkan semua isi hatinya disana


“Apa gue jahat kalau gue berfikir seperti ini?” Wendi menatap cowok yang masih diam disana dengan pandangan yang masih lurus kedepan


“Mungkin lo berfikir gue jahat sekarang, tapi gue benar benar pengen liat dia sakit hati seperti apa yang dia buat ke gue. Gue mau dia dapat balasan atas apa yang dia lakuin ke gue van” 


Wendi tak kuasa menahan tangisnya disana, Andre benar benar berhasil membuat hatinya benar benar hancur. Cowok itulah yang membuatnya kembali percaya dengan CINTA namun dia juga yang membuat hati cewek itu hancur berkeping keeping seperti sekarang ini


“Lo bakal puas kalau lo liat dia menderita?”  Ucap cowok itu setelah sekian lama diam disana


“Apa sakit hati lo bakal hilang kalau itu terjadi?” Gevan kemudian membenarkan posisinya untuk bisa sedikit menghadap kepada cewek itu


“Gue tau gimana kecewanya lo sekarang, gue paham gimana sakit hati yang lo alami sekarang tapi lo harus tau satu hal, sakit hati lo gak akan hilang ketika lo liat dia menderita” 


“Setidaknya dia harus dapat hukuman van”


“Lo gak ada hak untuk itu wen. Lo gak perlu sibuk mikirin hukuman buat dia karna itu bukan wewenang lo” Cewek itu diam disana


“Lo gak perlu nyalahin siapa siapa disini. Bukannya Tuhan gak adil wen tapi Tuhan tau kalau dia bukan yang terbaik buat lo. Lo gak bisa paksa orang lain untuk enggak nyakitin lo tapi harusnya lo sendiri yang harus jaga hati lo”


“Lo yang buat hidup lo kayak gini wen. Lo bertahan dirasa sakit yang lo buat sendiri. Please, lupain semua itu dan lo harus tetap jalani hidup lo” 


Gevan perlahan mengulurkan tangannya memegang bahu cewek itu seolah memberinya kekuatan untuk bangkit dan memulai hidupnya seperti biasa lagi


“Perjalanan hidup lo masih panjang wen, masih banyak hal lain yang harus lo pikirkan. Ini bukan akhir dari perjalan hidup lo” Wendi perlahan mendongakkan kepala menatap Gevan, cowok yang selalu ada bersamanya itu


Dari balik pagar sekolah terlihat ada segerombolan laki laki menatap tajam kearah kedua remaja yakni Wendi dan juga Gevan yang ada disana. Salah seorang diantaranya terlihat mengepalkan tangan kuat seperti ada rasa amarah dalam dirinya


“Gevan, kita bertemu kembali”