It'S Hurt

It'S Hurt
Memberi




.


.


.


Kakinya menelusuri bebatuan yang berjejer tak beraturan membentuk sebuah jalan setapak yang menuju kehalaman belakang kampus, tempat dimana pohon bunga sakura tumbuh.


Bunga sakura itu belum mekar sepenuhnya tapi dimatanya bunga-bunga itu tetap terlihat sangat indah. Tanpa sadar ia tersenyum, tersenyum dengan cantiknya.


Matanya terpejam sesaat untuk menikmati sapuan angin diwajahnya. Yah. Ia menyukai saat angin yang cukup kencang menghantam tubuhnya. Terasa seperti udara itu mengajaknya untuk pergi mengikuti kemana arah angin berhembus.


Jika saja angin kencang itu bisa membuatnya terbang melayang, mengudara, memindahkan tubuhnya kesuatu tempat yang sangat indah maka ia berharap hal itu dapat terjadi.


Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh konyol. Tidak mungkin pikirannya tadi menjadi kenyataan.


"Apa kau tidak kedinginan?" Jina langsung membuka matanya. Ia terkejut saat seseorang dengan tanpa sepengetahuannya menyampirkan jaket ketubuhnya.


"Kau?" Ucap Jina tak percaya. Kenapa dia harus mengikutinya kesini?


"Kau kabur begitu saja padahal kita belum sempat berkenalan. Bukankah perilakumu itu kurang sopan?" Ucap pria itu dengan nada agak kesal.


"Ma-maaf." Jina langsung menundukkan kepalanya. Sehun mengernyitkan alisnya. Bukankah saat dikelas tadi gadis itu sangatlah dingin tapi sekarang terlihat malu dan nada bicaranya juga sopan.


"Eh? Bu-bukan itu maksudku. Ka-kau tak perlu minta maaf." Sehun menggaruk tengkuknya. Sekarang malah ia yang bersalah akan ucapannya. Bukan seperti ini maksud dari perkataanya tadi.


Jina yang melihat kepanikan pria itu sedikit tersenyun tipis.


"Terima kasih untuk jaketnya tapi aku tak memerlukannya sekarang." Jinapun melepaskan jaket putih yang melekat sementara dibahunya lalu menyerahkannya ketangan pria itu.


"Kenapa?" Tanya Sehun sedikit kecewa.


"Karena aku ingin menikmati hembusan angin musim semi saat ini." Ucap Jina sambil tersenyum. Sehun terpaku. Senyum gadis itu membuatnya tak bisa mengerjapkan matanya. Senyum itu. Terlihat sangat cantik dimatanya.


"Dan maaf jika aku berkata kasar saat dikelas tadi." Ujar Jina lagi sambil menundukkan kepalanya sedikit untuk sekedar meminta maaf.


"Ak-aku juga minta maaf jika perkataanku dikelas tadi membuatmu tak suka." Ujar Sehun sedikit terbata.


"Haruskah kita melupakan kejadian tadi dan berkenalan dari awal?" Tanya Jina. Dengan semangat Sehunpun menganggukkan kepalanya.


"Oh Sehun kau bisa memanggilku Sehun atau pria tampan." Ujar Sehun terkekeh sambil menjulurkan tangannya dengan senang Jinapun meraih tangan pria itu.


"Kim Jina kau bisa memanggilku Jina." Ujar Jina. Well. Ia sangat senang akhirnya ia bisa mempunyai seorang teman.


"Jadi, sekarang kita temankan?" Tanya Sehun senang.


"Yah. Kau bisa menganggap begitu." Ujar Jina dengan nada tenangnya. Yes. Ini awal yang bagus untuk mengetahui lebih dalam tentang gadis itu karena ia begitu penasaran dengannya.


"Jina, kurasa kita terlalu lama meninggalkan kelas?" Tanya Sehun yang tersadar jika sudah setengah jam mereka belum kembali juga kekelas.


Jina menepuk dahinya. Astaga. Ia harus segera kembali.


"Kajja." Ajak Jina tanpa sadar mengenggam tangan pria itu seperti menyeretnya untuk segera kembali kekelas mereka.


Sehun tersenyum lebar saat tangan mungil nan lembut itu menggengang pergelangan tangan kanannya. Ia memegang dada kirinya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat bukan karena mereka yang tengah berlari menyusuri lorong Kampus tapi karena hal yang Sehun rasakan saat ini.


••⏳⏳••


"Kyu?" Tanya gadis itu sambil menatap heran pada pria disampingnya ini.


Kyuhyun tampak tak fokus dengannya. Pria itu terlihat terdiam sejak tadi. Bahkan tak sadar jika ia terus memanggil nama pria itu berulang kali.


"Kau kenapa?" Tanya Yoora khawatir.


"Aku tak apa." Jawab Kyuhyun dengan nada datarnya.


Yoora menghembuskan nafasnya. Sepertinya Kyuhyun sedang memikirkan sesuatu tapi pria itu enggan memberitahunya, jika saja Kyuhyun ingin berbagi masalah denganya setidaknya ia bisa sedikit membantu?


Dengan sedikit kecewa Yoorapun kembali melihat-lihat berbagai perhiasan mewah yang berjejer cantik di etalase toko itu.


"Apa kalung ini cocok untukku?" Tanya Yoora dengan senang sambil memperlihatkan kalung berlian itu. Lagi-lagi pria itu terus berkata, "kalung apapun yang kau pakai terlihat cantik karena kau yang memakainya." Meski sedikit kesal tapi tak dapat dipungkiri ia juga senang dengan pujian Kyuhyun dengan segera iapun meminta pelayan untuk membungkus kalung pilihannya.


Meski Kyuhyun sedikit menjengkelkan tapi setidaknya ia senang karena Kyuhyun mempunyai waktu untuk membelikan kalung baru untuknya.


"Apa setelah ini kau ingin makan?" Tanya Kyuhyun. Yoorapun tersenyum lebih lebar saat mendengar ajakan Kyuhyun barusan.


Tanpa sepengetahuan Yoora, pria itupun berbalik ketoko tersebut. Matanya menelusuri benda yang berkilauan itu dengan mata elangnya.


Dapat. Matanya tertuju kepada kalung bermata berlian berwarna merah tersebut. Warna yang terlihat kuat, elegan, dan cantik. Ia suka warnanya dengan segera ia meminta pelayan itu untuk membungkusnya.


••⏳⏳••


Jina terlihat serius dengan buku bacaanya. Matanya terus menelusuri deretan kalimat-kalimat yang bersejejer di lembar kertas putih itu.


"Ah. Aku kurang paham dengan materi ini, kuharap tugasku cepat selesai." Ujar Jina yang terdengar lelah sambil menepuk bahunya yang terasa kaku. Ini sudah sore dan ia juga belum pulang karena tugasnya yang harus dikumpulkan esok hari. Tak ada yang membantunya. Tak ada yang bisa ia ajak bicara untuk sekedar bertanya karena dirinya begitu pemalu untuk menujukkan wajahnya dihadapan orang lain tapi kenapa dengan Sehun terasa berbeda?


"Biar kubantu." Tawar pria itu yang tiba-tiba saja meraih lembaran kertas tugas ditangannya.


"Memangnya kau mengerti?" Ujar Jina tak percaya.


"Haha. Kau meremehkanku? Jika soal seperti ini tak perlu sehari mengerjakannya sejampun langsung jadi." Ujar Sehun dengan percaya diri. Jina masih tak percaya dengan ucapannya.


"Lihatlah. Dan aku yakin kau akan memujiku." Ujar Sehun lagi.


Jina membulatkan matanya. Pria itu benar. Pertanyaan yang terasa sulit untuknyapun bisa dengan mudah Sehun jawab. Wah. Pria itu sungguh ajaib. Dibalik sikapnya yang aneh ternyata dia cukup pintar.


"See? Dengan ini kau berhutang kepadaku." Ujar Sehun sambil menyerahkan lembaran jawab itu untuk Jina.


"Kenapa begitu?" Tanya Jina heran.


"Tentu saja kau harus membayar hasil karyaku." Ujar Sehun sambil memainkan alisnya naik turun.


"Yasudah jika tak mau, biar lembar jawabannya untukku." Ujar Sehun sambil mencoba meraih kembali hasil karyanya itu dengan cepat Jina menahan lengannya.


"Baiklah. Aku berhutang kepadamu." Ujar Jina menyetujuinya. Sehun tersenyum senang mendengarnya.


"Jadi, kau mau apa?" Tanya Jina. Pria itu tampak berpikir.


"Hmm. Untuk hal itu belum terpikir olehku tapi kau bisa mentraktirku makan." Jina mengangguk. Well. Jika hanya mentraktir makan ia bisa memberikannya.


"Baiklah." Merekapun berjabat tangan dan sepertinya Jina merasa cukup nyaman dengan pria itu.


••⏳⏳••


"Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya pria itu dengan tatapan mematikannya sambil duduk menyandar dimeja. Matanya menelusuri seseorang yang tampak menunduk dalam sejak tadi.


"Ak-aku harus menyelesaikan tugasku terlebih dahulu." Jawab Jina terdengar gugup, selanjutnya ia lebih memilih memandang kebawah daripada melihat mata tajam pria yang ada dihadapannya.


Ia terus saja memainkan kukunya pertanda jika ia sekarang merasa ketakutan.


"Lihat aku." Nada itu terdengar sangat pelan tapi sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Ia merinding.


"Kau mendengar eh?" Ujar suara itu lagi kini dengan nada agak keras dan mengejek.


Jina menatap oppanya dengan perasaan yang masih sama. Takut. Tentu saja ia ketakutan. Tanpa ia tau ternyata Kyuhyun sudah menatapnya seperti itu entah sejak kapan. Bahkan saat ia membuka pintu rumah mata elang itu sudah menatap dirinya begitu intens. Membuat Jina kaku dan sulit untuk melangkahkan kakinya.


Degup jantungnya bertambah cepat saat pria itu menghampirinya. Meski pelan, ia bisa mendengar langkah kaki itu dengan sangat jelas. Keringat dingin langsung menghampirinya.


Jina menggigit bibirnya pelan dan mulai memejamkan matanya dan mengeratkan kepalan tangannya.


Ia bisa merasakan hembusan nafas pria itu berada dilehernya dan hal itu semakin membuat dirinya memejamkan matanya lebih kuat.


Jina mengeryitkan alisnya, saat dirasa tubuh tegap itu telah menjauh dan ia merasa ada sesuatu yang melingkar dilehernya.


"Kau bisa membuangnya jika kau mau." Ujar pria itu datar dan tanpa sepatah katapun Kyuhyun langsung meninggalkannya begitu saja seorang diri.


Jina menatap tak percaya dengan kepergian pria itu.


'Ada apa dengannya?'


Jina memperhatikan kalung itu. Sungguh cantik. Berlian merah yang sangat indah. Jina menyukainya.


"Kenapa ia memberiku ini?" Jina terus mengeryitkan dahinya. Mencoba mencerna perlakuan pria itu.


Astaga. Benar. Ini hari ulang tahunnya. Ia sendiri saja tak ingat. Memang sejak dulu Kyuhyun selalu memberinya hadiah dihari ulang tahunnya tapi kenapa masih melakukan hal itu? Bukankah seharusnya dihentikan? Bukankah Kyuhyun sudah sangat membencinya?


"Pasti itu sudah menjadi kebiasaanya. Yah pasti seperti itu." Ucap Jina seperti memberi kepastian kepada hatinya yang tengah bingung.


Jina menggelengkan kepalanya. Sudah cukup ia memikirkan pertanyaan yang tak ada habisnya itu. Lebih baik ia merapihkan tugasnya.


TBC