It'S Hurt

It'S Hurt
What's Wrong?



Wendi bersama dengan kekasihnya Andre sampai disekolah, Wendi turun dari atas motor dan sedikit memperbaiki rambutnya yang berantakan, mata Wendi tiba tiba bertemu dengan Gevan yang sepertinya baru sampai juga disekolah bersama Gisel, ia langsung menundukkan kepalanya malu mengingat kejadian semalam, Gevan yang melihat itu dari kejauhan hanya memasang wajah datarnya


"Ayo sel" Gevan menggenggam tangan kekasihnya lembut dan mengantarnya menuju ruang the kelasnya


"Wen, kamu liat kenapa?"


"Ah, gak papa kok. Ayo"  Wendi mengajak cowok itu untuk segera pergi dari sana sebelum ia berfikir yang aneh aneh


"Makasih" ucap Gisel lembut sambil tersenyum manis kepada kekasihnya it


"Selamat belajar" ucap Gevan lembut lalu kemudian pergi disana


"Van" Gevan berbalik mendengar cewek itu memanggil namanya


"Maaf yah, aku belum bisa jalan bareng sama kamu. Keadaan Papa belum membaik"


"Gak papa sel, kesehatan Papa kamu yang paling penting" cewek itu tersenyum lebar mendengar jawaban yang keluar dari mulut cowok itu


"Makasih van" cewek kemudian pergi memasuki ruangan kelasnya begitu juga dengan Gevan yang mini sedang berjalan menuju kelasnya


Wendi berjalan hendak ingin menuju toilet, ia berjalan dengan cepat karna memang situasinya sangat mendesak, namun ia menghentikan langkahnya ketika melihat Gevan yang berjalan berlawanan arah dengannya, Wendi langsung memutar balikkan badannya hingga membelakangi cowok itu, ia mempercepat langkahnya seolah merasa bahwa cowok itu mengejarnya, ia semakin mempercepat langkahnya, berjalan cepat, cepat dan cepat dan tiba tiba


"Aaaaaaaaa.......!!!" Wendi dengan spontan berteriak sekuat mungkin membuat semua siswa yang ada disana menatapnya terkejut akibat seseorang menahan kerah baju cewek itu dari belakang


"Lo, lo mau apa lagi?, Mau buat gue malu didepan semua orang?, Lo belum puas!!" Wendi asal mengoceh disana tanpa berbalik melihat siapa objek yang memegang kerah bajunya itu


"Lo mau liat apa lagi?, Lo udah liat semua, lo belum puas?". Mendengar itu semua orang yang ada disana semakin terkejut menatap Wendi disana


"Lo mau apa hah?, Gue pastiin lo mati ditangan gue. Gue bakal BUNUH LO!? Wendi kemudian berbalik kebelakang dan terkejut batin ketika melihat bahwa yang memegang kerah bajunya adalah Rena sahabatnya, Wendi hanya bisa membuka mulutnya lebar setelah mengetahui itu, kemudian cewek itu melihat kebelakang yang menunjukkan Gevan  berdiri mematung disana sedikit terkejut mendengar perkataan yang baru saja ia dengar


"Lo mau bunuh gue wen?"  Rena bertanya serius kepada Wendi, namun Wendi hanya menundukkan kepalanya malu lalu menarik paksa tangan Rena untuk segera pergi dari sana


"Aw, sakit wen"


"Lo ngapain mu muncul tiba tiba dari belakang?"


"Lah, emang kenapa?, Salah kalau gue muncul dari belakang?"


"Diam lo"  jawab Wendi yang sudah kesal kepada temannya itu. Rena menatap Wendi dan kemudian tersenyum lebar


"Yang lo maksud tadi siapa?" Hati Wendi tak tenang mendengar pertanyaan out


"Hm, gak ada."


"Bohong lo. Dia liat apa emang?, Lo tadi bilangg dia udah liat semuanya, maksud kamu Andre?"


"Mendingan lo diam re" Rena memicingkan matanya melihat reaksi cewek it


"Lo, ngelakuin apa semalam?" Wendi membelalakkan matanya terkejut mendengar perkataan Rena, ia kemudian memukul kepala sahabatnya itu sesikit Kerala


"Lo jangan mikir yang aneh aneh re, gue santet habis lo. Lo pikir gue cewek begituan?" Rena hanya tertawa melihat reaksi temannya itu, sebenarnya ia hanya mencoba membuat Wendi kesal saja


"Ketawa lo"


"Idihhh.... emosian banget lo wen"Wendi kemudian melangkahkan kakinya pergi dari sana


"Eh, wen, tungguin" Rena berlari kecil mengejar cewek out


"Lo bukannya mau ketoilet wen"


"Gak jadi. Udah masuk kedalam"


"Emang bisa masuk?"


"Bisa kalau gak ada jalan keluar" Rena hanya tertawa melihat temannya itu


*****


Wendi berjalan melewati banyak ruang kelas karna dirinya tadi dipanggil kekantor untuk mengantarkan absen, ia berhenti ketika lewat tepat didepan ruang musik, ia mengintip dari jendela kaca melihat siapa yang ada didalam namun sepertinya ia tak mengenal orang yang ada didalam, namun matanya tiba tiba melihat Daniel yang duduk sambil tangannya sibuk memainkan gitar yang ada di pangkuannya, Wendi tersenyum lalu masuk keruang musik itu


"Mau kemana neng?" Tanya seorang laki laki yang ada disana namun Wendi hanya tersenyumm kaku kepada cowok out


"Woi, itu ceweknya Andre. Berani lo?"sahut salah seorang yang juga berada disana


"Ellahh... Andre doang. Setan aja tunduk sama gue"


"Entar di hajar nangis"Wendi kemudian tak menghiraukan kedua cowok yang menurutnya tak penting itu


"Hai Daniel" Cowok yang disapa itu hanya tersenyum hangat lalu menyuruh cewek itu untuk duduk disampingnya


"Kenapa datang kesini?"


"Tadi cuman lewat aja dan tiba tiba gue liat lo disini. Kebetulan juga jam pelajaran gue lagi kosong" jelas Wendi secara jujur


"Hmmm... lo bisa main gitar?"


"Hm. Gue bisa tapi gue bukan ahlinya" jawab Daniel sambil tangannya sibuk dengan gitarnya


"Lo mau gak ngajarin gue?" Daniel sontak menatap cewek itu lalu tersenyum akibat terkejut mendengarnya


"Lo serius?"


"Gue serius Daniel"


"Kenapa lo gak belajar sama pacar lo aja"


"Dia selalu sibuk"


"Kalau gue ditonjok sama Andre gimana?"


"Gue tonjok dia balik" Daniel tertawa puas mendengar perkataan cewek yang menurutnya lucu


"Emang lo berani?"


"Ihh, lo tenang aja, gue tanggung jawab. Cepat ajarin gue" Daniel kemudian memberi gitar itu kepada Wendi namun tiba tiba Gevan sudah muncul dan berjalan kearah mereka


"Dari mana lo?"


"Oh iya, lo belajar sama Gevan aja wen, dia udah ahlinya main gitar"


Wendi terkejut melihat Gevan yang sudah ada duduk didepannya, dengan cepat Wendi memberikan gitar itu kepada Daniel lalu pergi dari sana


"Mau kemana wen?"


"Ada kelas" lalu ia berlari keluar pergi dari sana, ia kesal mengapa cowok itu selalu muncul dimana mana pikirnya


"Katanya tadi gak ada kelas" ucap Daniel ketika melihat kepergian cewek itu


"Lo kenapa sama dia?" Tanya Daniel kepada Gevan yang juga sibuk dengan gitarnya


"Pertanyaan lo gak ada hubungannya sama gue"


"Dia pergi setelah lo datang van"


"Bukan urusan gue" jawab Gevan singkat tak mau berdebat panjang dengan cowok itu


Sementara disisi lain Wendi menarik nafasnya panjang setelah lelah berjalan cepat dari ruang musik ke taman sekolah


"Kenapa sih, dia ada dimana mana?, Dia buntutin gue?, Dia mata matain gue?" Gerutu Wendi kesal, ia merasa hari ini hari yang begitu buruk baginya


"Wendi" cewek itu menoleh ke sumber suara dan tersenyum melihat Andre yang sudah berada disana


"Kamu dari mana aja?, Aku cariin dari tadi ternyata disini"


"Aku tadi dari kantor bentar ndre" cowok itu hanya mengangguk anggukkan kepalanya disana


"Kamu aneh satu hari ini, ada yang kamu sembunyiin?"


"Ah, ehh itu, anu, gakk ada kok ndre" Cowok itu memicingkan matanya merasa ada yang aneh dengan kekasihnya itu


"Kantin yok" ajak Andre kemudian memecahkan suasana tegang diantara mereka


"Aku malas ndre"


"Aku yang traktir" namun cewek itu masih memasang raut wajah cemberut, ia benar benar sangat malas melangkahkan kaki pergi kesana


"Ayo" karna paksaan cowok itu akhirnya ia mau pergi kekantin walau sebenarnya ia tak ingin pergi kesana


******


Bel pulang sekolah yang paling ditunggu tunggu akhirnya berbunyi, semua siswa bergegas untuk pulang kerumah mereka masing masing


"Wendi mana?" Tanya Andre kepada Rena yang masih berada diruangan kelas sambil sibuk mencatat


"Katanya dia di parkiran, dia tadi buru buru pergi keluar"


"Oh. Yaudah, gue duluan re" Andre segera pergi hendak ingin menemui Wendi diparkiran


"Udah lama nunggu?"Wendi tersadar dari lamunannya lalu berdiri


"Gak kok"


"Kenapa langsung kesini?"


"Salah ya?"


"Gak sih, tumben aja. Yaudah, kita pulang sekarang" Andre kemudian pergi mengantar cewek itu pulang kerumahnya


Tak butuh waktu lama, kini mereka sudah sampai didepan rumah cewek itu


"Makasih ndre"


"Gue cabut" cowok itu kemudian pergi meninggalkan Wendi, mengapa ia merasa ada yang aneh dengan cowok itu?, Tak biasanya cowok itu cuek seperti ini padanya, apa cowok itu mengetahui sesuatu?


******


Gevan terpaksa menghentikan motornya ketika sebuah motor yang ia ketahui adalah motor milik Andre menghalangi jalannya, Gevan turun dan membuka helmnya


"Mau ngapain?" Tanya Gevan yang sebenarnya ia sudah tau maksud kedatangan Andre


"Lo ngelakuin apa sama Wendi?" Tepat sasaran seperti yang dipirkan Gevan bahwa cowok itu tau jika ia berada bersama dengan Wendi semalam


"Gue gak ngelakuin apa apa?"Andre tertawa sinis mendengar jawaban dari lawan bicaranya itu


"Gak ngelakuin apa apa?, Lo bahkan bisa masuk kedalam kamarnya Wendi"


"Mendingan lo tanya pacar lo dulu sebelum lo marah sama gue" jawab Gevan santai sedangkan Andre kini emosinya sudah meluap luap namun ia mencoba menahannya


"Gue peringatin sama lo, jangan deketin Wendi lagi. Gue punya batas kesabaran tersendiri buat lo"


"Emang lo pernah sabar?" Andre mengepalkan tangannya kuat dan melangkah mendekat ketempat dimana Gevan berdiri


" Kalau kesabaran gue habis, itu tandanya nyawa lo juga habis" Andre menekan disetiap kata


"Lakuin sekarang" Andre tertawa seolah ia mengejek perkataan lawan bicaranya itu


"Tenang, gue masih kasih kesempatan buat lo bertobat" Gevan menatap cowok itu bingung tak mengerti maksudnya


"Tapi bukan berarti gue biarin lo lolos, gue bakal tetap bunuh lo sebagai ganti rugi karna nyokap lo pernah hampir bunuh nyokap gue" Gevan masih diam, ia sebenarnya ingin sekali memenggal kepala Andre sekarang namun sebisa mungkin ia harus menahan emosinya


"Lo sama nyokap lo gak ada bedanya. Sama sama gak punya hati" Andre masih diam disana, matanya begitu tajam menatap Gevan


"Gue pikir lo bakal balas budi ke gue karna gue selamatin nyokap lo, ternyata gue salah total. Lo malah diam ketika lo tau nyokap gue bakal mati" mata Gevan kini berkaca kaca ketika mengingat kejadian itu


"Itu takdir hidup lo van, lo harus terima kalau nyokap lo udah mati. Berhenti nyalahin gue, salahin diri lo sendiri van"


"Lo gak merasa bersalah?"


"Gue gak pernah merasa bersalah sedikit pun. Karna lo dan keluarga lo pantas terima itu semua" Gevan mengepalkan tangannya kuat dan menatap cowok didepannya itu penuh amarah


"Lo harusnya ikut dineraka sama nyokap lo"Andre kemudian pergi dari sana, sementara itu air mata Gevan kini turun membasahi pipinya mengingat kejadian enam bulan lalu dimana ibunya pergi untuk selama lamanya dari sisinya.


Dari kejauhan terlihat Wendi yang berdiri terkejut mendengar fakta yang baru saja ia dengar, ia sengaja mengikuti Andre karna curiga jika cowok itu akan menemui Gevan dan ternyata dugaannya benar, ia bahkan mendengar semuanya dengan jelas, namun itu belum cukup untuk membuatnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi antara keduanya dimasa lalu, ada banyak pertanyaan yang timbul dibenaknya sekarang