
.
.
.
Suasana diluar jendela mobil terasa indah. Matahari pagi memunculkan senyumnya, untuk sekedar menyapa sang penghuni alam ini.
Berkas-berkas cahaya itu mengenai sudut matanya, saat mobil yang ia naiki semakin melaju dengan kencangnya.
Bagi gadis itu, semua yang ia lihat saat ini tidaklah indah tapi memuakkan.
Ia menghela nafasnya berat. Bahkan meski dunia diluar sana terasa menyeramkan dan menakutkan ia lebih memilihnya daripada terus berada dengan pria itu.
Kyuhyun tampak menghela nafasnya juga. Selama perjalanan tak ada satupun orang yang berniat memulai percakapan. Lagipula memang apa yang ingin mereka bicarakan?
Tentang Kyuhyun yang dengan paksa mengambil kesucian Jina? Kyuhyun tersenyum miring saat mengingat hal itu. Hal yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.
Kyuhyun merasa bangga karena merasa lebih bisa menjinakkan sikap perlawanan Jina. Tak apa jika Jina semakin membencinya. Justru ia semakin senang saat wanita itu bahkan tak bisa membalas semua perlakuannya. Ia merasa menang akan diri Jina.
Disisi lain, Jina lebih memilih bungkam. Matanya masih menelusuri pemandangan diluar sana tapi pikirannya jauh menerawang untuk memikirkan hal lain. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Hanya diri Jina yang tau.
••⌛••⌛••
Jina tersadar akan lamunannya. Saat Kyuhyun menyerukan agar dirinya cepat keluar dari dalam mobil.
Tubuh Jina bergetar. Saat dengan paksa Kyuhyun menarik tanganya. Sakit. Pergelangan tangannya masih terasa sakit saat pria itu mengeratkan genggamannya dipergelangan tangan saat Kyuhyun mengikatnya dengan tali.
Jina menggigit bibirnya kecil. Ia berusaha menahan ringisannya. Dengan tertatih ia menyeimbangi langkah pria yang tengah menariknya.
Para pelayan dengan antusias menjejerkan dirinya untuk menyapa sang majikan. Mereka membungkukan tubuhnya untuk memberi hormat.
Salah satu pelayan yang melihat sang tuan muda telah kembali bergetar ketakutan diujung barisan. Pelayan itu terus saja berdo'a dalam hati sambil terus *** roknya.
Langkah pasti Kyuhyun pun terhenti tepat didepannya. Mau tak mau pelayan itu pun mendonggakkan kepalanya untuk melihat sang majikan.
"Tu-tuan ak-" Ucapan pelayanan itu terputus saat dengan kejamnya pria itu menampar dirinya.
Plakkk...
Sekali lagi Kyuhyun menampar pelayan itu dengan keras. Membuat sang pelayan jatuh terduduk karena tamparan tersebut.
Jina dan semua yang melihatnya melebarkan matanya. Saat melihat aksi tak terduga sang tuan muda.
"Cih. Tak berguna." Ucap Kyuhyun marah. Kyuhyun melepaskan genggaman tangannya di lengan Jina dan menuju kearah pelayan yang sudah jatuh terduduk dilantai.
Pelayan itu sedikit mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.
"Akhh!" Pelayan itu meringis kesakitan saat tangan Kyuhyun menjambak rambutnya kasar. Jina membelakkan matanya. Pria itu gila!.
"Sudah kubilang bukan? Jaga dia dengan baik! Tapi kenapa kau bisa kehilangannya? Oh. Atau jangan-jangan kau yang membantunya kabur?" Ucap Kyuhyun marah. Pelayan itu masih menahan kesakitannya. Dengan penuh keberanian ia menjawab sang tuan mudanya itu.
"Maaf tuan tapi aku sudah menjaga nona dengan baik." Jawab pelayan itu dengan nada berani. Kyuhyun geram saat pelayan itu masih membela diri.
"Dengan baik? Kau pikir aku sebodoh itu? Cih. Jika aku punya bukti kalau kau yang membantunya kabur bukan tamparan dan jambakan yang kau dapat tapi detik ini juga aku akan langsung membunuhmu, mengerti?" Tekan Kyuhyun. Dengan pasti tangan itu semakin menjambak rambut itu dengan kuat.
"Berhenti oppa! Dia seorang wanita." Teriak Jina agar tangan kasar Kyuhyun segera menjauh. Jina menatap sedih kearah Hani. Pelayan yang sudah ia anggap teman baiknya.
Orang yang mau melakukan apapun yang Jina pinta. Orang yang selalu ada disaat dia sedih. Jina bersyukur karena hanya Hani saja yang tak menjauhinya karena ketakutan kepada sang tuan muda. Hanya dia pelayan yang mau dekat dengannya. Sebagai teman bukan hanya sekedar pekerjaan semata.
"Lepas kau bilang?" Kyuhyun pun melepasnya dengan kasar dan segera beralih kearah Jina.
"Ikut aku!" Seru Kyuhyun. Semua mata yang menatap hal itu tak ada yang berani menghentikan aksi sang tuan muda karena nyatanya mereka lebih memilih diam daripada merekalah yang kena amukannya.
Brakk...
Kyuhyu membuka pintu kamarnya dengan kasar. Jina terlempar begitu saja diatas ranjang. Pria itu masih berdiri dengan arogan dihadapannya.
"Sang malaikat."
"...."
"Kau pikir, dirimu adalah malaikat karena membantu pelayan tak tau diuntung itu?" Ujar Kyuhyun sinis.
Jina mendudukkan tubuhnya dikasur. Punggungnya terasa sakit saat tadi pria itu melemparkan dirinya begitu saja.
"Bukan itu oppa, aku yang salah. Hani tak salah. Aku yang memang merencanakan ini semua." Mendengar hal itu justru membuat Kyuhyun kembali geram. See? Jina sekarang benar-benar menyulut emosinya.
"Iya." Ucap Jina sengit dengan rasa takut yang menghampirinya. Cih. Lihatlah Jina ternyata masih bisa melawan.
"Oh. Tenang saja cherry aku tak akan menghukummu. Jika itu yang kau pikirkan." Ujar Kyuhyun. Jina berusaha mencerna ucapan pria itu.
"La-lalu?" Tanya Jina terbata.
"Dia yang akan kuhukum atas perbuatanmu. Tentu saja bukan hukuman seperti tadi tapi sesuatu yang akan langsung melenyapkannya." Smirk Kyuhyun. Jina menatap pria itu tak percaya.
Ingin sekali dirinya melawan tapi lagi lagi ujungnya hanya sebuah kepasrahan yang ia dapatkan.
Jina terisak kecil. Ia benci ini. Dirinya terlalu lemah. Jika ia melawan lebih jauh dapat dipastikan Hani akan terluka. Ia tak mau itu terjadi.
"Jangan oppa." Ujar Jina lemah. Mata yang tadi menatap Kyuhyun dengan berani kini telah hilang begitu saja.
"Haha. Apa kau memelas kepadaku?" Tawa Kyuhyun seakan mengejek dirinya yang terus saja berujung pada kekalahan.
"Sudahlah cherry, berhentilah menangis." Tanpa diduga Kyuhyun memeluk tubuh Jina. Merengkuh kedalam dekapan tangan kekarnya.
Jina yang sudah lelah hanya bisa terdiam dengan perlakuan Kyuhyun kepadanya. Ia sudah lelah. Benar-benar lelah.
Pria itu pasti tengah tersenyum senang didalam dekapannya. Jina yakin itu. Oppanya itu pasti senang saat memainkan dirinya.
"Kau jauh lebih cantik, jika kau tak melawan cherry. Jadi, bersikap manislah." Ujar Kyuhyun.
"Jika kau bisa memegang janjimu untuk tak menyakati Hani. Aku akan berusaha menurutimu oppa." Ujar Jina lemah. Kyuhyun melepaskan pelukannya. Perkataan Jina membuat Kyuhyun tersenyum lebar.
Pria itu memegang kedua pipinya dan menatap dalam mata sendu milik Jina.
"Tentu, jika kau juga tak mengingkari janjimu." Ujar Kyuhyun. Jina pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Kembali pria itu mengangkat ponselnya. Itu pasti kekasihnya. Batin Jina memastikan dari nada suara Kyuhyun yang terdengar lembut jauh berbeda saat berbicara dengannya pasti ada nada gertakan dan ancaman disela ucapannya.
Pria itu sepertinya sangat senang saat menjawab telpon itu. Jina membuang mukanya. Ia muak menyaksikan tawa bahagia pria itu. Entah apa yang dibicarakan olehnya.
"Aku? Aku sedang menjinakkan monster kecil dirumahku." Jina langsung menatap pria itu lagi. Kyuhyun memandangnya dengan sinis.
Monster? Jina menghela nafasnya dalam. Tentu saja dirinya adalah monster. Luka ini membuatnya seperti itu.
Perkataan Kyuhyun barusan sudah membuat dirinya sakit yang teramat dalam.
Tanpa ragu pria itu pun melangkah keluar kamar dengan masih menjawab seseorang disebrang sana.
"Yah, aku ini monster. Aku benar-benar seorang monster." Jina terisak saat mengingat perkataan Kyuhyun barusan. Kalimat itu terus saja terngiang di otaknya.
••⏳••⏳••
Dentingan garpu dan sendok menggema diruang makan ini. Hanya ada mereka bertiga karena nyatanya semua pelayan telah pulang kerumah mereka masing-masing.
Mereka datang saat sang majikan membutuhkannya saja. Hanya Hani yang Kyuhyun biarkan untuk tetap tinggal meski tak ia butuhkan karena Jina yang memintanya.
Hani masih takut untuk melihat sang tuan mudanya. Perlakuan kasar sang tuan muda masih teringat jelas diotaknya.
"Kau boleh pergi." Ujar Kyuhyun datar. Hani pun memundurkan langkahnya saat dirinya dirasa sudah tak diperlukan untuk menyiapkan makanan lagi.
Jina menatap tak rela akan kepergian Hani. Kyuhyun yang melihat itu hanya berdecak tak suka.
"Apa kau berpikir bisa ikut pergi dengannya?" Ujar pria itu tajam. Jina menundukkan kepalanya. Ternyata pria itu memperhatikannya!.
Tanpa berniat menjawab Jina memakan makanannya lagi.
Kyuhyun sudah tampak rapih dengan jas mahalnya. Jina tau pasti pria itu akan menemui kekasihnya.
Jina bersyukur setidaknya dirinya tak perlu melihat wajah Kyuhyun meski hanya beberap jam kedepan. Tapi baginya itu adalah waktu yang sangat ia harapkan.
"Kurasa aku tak perlu memberitaumu kemana dan dengan siapa aku akan pergi." Ujar Kyuhyun dan menengguk habis minumannya.
Kyuhyun menatap wajah Jina sekilas. Tanpa berlama-lama ia beranjak dari duduknya. Seorang supir pribadi sudah berdiri tegak didepan mobil sport mewahnya.
Dengan arogan Kyhyun mengambil kunci mobilnya saat sopir itu menyerahkan. Yah. Ia tak perlu supir karena ini adalah acara kencannya.
Jina menghela nafas lega saat deru mesin mobil terdengar mulai menjauh dari rumah ini.
Jina melanjutkan makannya kembali. Disela suapannya Jina meneteskan air mata. Dengan kasar Jina mengusap wajahnya. Mencoba untuk menghentikan aliran air yang terus saja mengalir membentuk sebuah sungai diwajah cantiknya.
TBC