
...Masalah yang terjadi tidak pernah melebihi batas kemampuan seseorang dan masalah itu datang karena kita kuat berada didalamnya...
...W...
...G...
evan tengah sibuk membersihkan luka diwajahnya akibat pertengkaran tadi pagi, ia berada di rooftop bersama dengan Daniel sahabatnya
"Lo kenapa selalu cari masalah sih?, Lo gak suka hidup lo damai tenang tanpa harus cari masalah?"
"Gue juga mau hidup gue tenang dan, tapi kenyataannya hidup gue berantakan"
"Lo kenapa?, Apa masalah yang buat lo ngelakuin itu?"
"Gue gak papa dan, lo tenang aja. Gue bisa urus masalah ini"
"Lo" Gevan menoleh kesamping ketika mendengar suara Daniel bergetar
"Kenapa hidup lo banyak masalah sih van" ucap Daniel menahan air matanya sedih melihat sahabatnya itu sedangkan Gevan yang melihat itu bukannya terharu ia malah memukul kepala cowok itu kuat
"Lebay banget lo pake acara nangis segala. Gue yang susah kenapa lo yang nangis"
"Gue kasihan sama lo setan" Gevan hanya tersenyum miring melihat sahabatnya itu.
"Gue gak butuh dikasihani"
"Gue kasihan karna lo teman gue van" Gevan hanya tersenyum tipis dengan ucapan cowok itu. Daniel, dia adalah sosok teman yang selalu ada menemaninya sejak dulu bahkan dia adalah orang yang bisa mengerti tentang dirinya itu sebabnya Gevan tidak pernah bisa marah kepada cowok itu
...******...
"Lo cuman ngasih pelajaran segitu sama Gevan?" Tanya Rizal kepada Andre tak terima ketika Andre hanya memberinya pelajaran ringan dan tidak sebanding dengan perbuatannya
"Lo liatkan kelakuannya dia?, Masa lo biarin dia gitu aja"
"Lo pikir gue bodoh zal. Gue bakal buat dia hancur"
"Caranya?"
"Gue udah punya rencana untuk itu" ucap Andre dengan senyum miring disana
"Lo gak capek?" Rendi akhirnya berbicara setelah muak dengan pertengkaran yang tak kunjung selesai
"Mending lo berdua urus hidup masing masing. Lo gak capek mikirin balas dendam terus?, Apa lo puas setelah lo hancurin hidupnya dia?. Ini masalah orang tua kalian dan itu udah berlalu, kenapa lo berdua jadi musuhan kayak gini?" Ucap Rendi karna ia benar benar sudah lelah dengan masalah antara Andre dan Gevan
"Lo nyuruh gue berhenti?" Tanya Andre sambil melangkah mendekati Rendi berada dan menatapnya tajam merasa tak suka mendengar perkataan cowok itu tadi
"Ini demi kebaikan lo ndre. Jangan buat masalah semakin besar. Lo berdua sama sama menjadi korban disini"
"Gue gak peduli. Dia tetap iblis dimata gue"
"Apa yang lo dapat setelah lo balas dendam?"
"Lo belain dia sekarang?" Rendi menarik nafasnya panjang, Andre benar benar sangat keras kepala
"Gue udah bilang kalau gue gak akan berhenti sampai gue puas!"
"Terserah lo ndre" ucap Rendi yang kemudian segera pergi dari sana Sementara Andre hanya bisa menatap kepergian cowok itu disana
...*******...
Gevan berdiri didepan pintu rumahnya . Ia ragu untuk masuk kedalam sana karna dia yakin Steven akan memarahinya karna tidak pulang semalaman. Namun ia memberanikan tangannya untuk membuka pintu dan benar saja Steven sudah duduk rapi diatas sofa.Dengan perasaan ragu, Gevan berjalan mendekati Steven
"Lo, belum tidur?" Tanya Gevan mencari basa basi. Bukannya menjawab Steven malah bangkit berdiri menatap tajam sang adik sambil memberikan ponsel kepadanya
Gevan mengambil ponsel itu perlahan dan langsung menekan tombol untuk memutar vidio yang ada disana dan langsung memperlihatkan Gevan bersama dengan cewek sexy ketika dia berada di bar kemarin. Gevan mematikan vidio itu lalu meremas ponsel itu kuat
"Lo bangga dengan kelakuan lo kayak gitu?" Ucap Steven menahan emosinya
"Lo puas setelah lo tidur dengan cewek murahan itu?" Kini Steven mulai emosi dan Gevan hanya bisa diam disana, ia tak berani berkutik karna memang ini adalah kesalahannya sendiri
"APA YANG ADA DIPIKIRAN LO VAN!" Steven benar benar marah dan kecewa dengan kelakuan adiknya itu, ia bahkan tak habis pikir mengapa Gevan bertindak seperti ini
"Gue gak pernah ngajarin lo kayak gini. Gue gak pernah marah ketika lo gak mau dengerin kata gue. Gue gak pernah marah ketika lo gak nganggap gue siapa siapa, tapi KENAPA LO NGELAKUIN INI VAN! " Steven benar benar marah, sangat marah sekarang. Pikirannya kacau, berantakan, dia kehabisan kata kata. Ingin rasanya Steven menghabisi adiknya itu namun ia tidak bisa melakukannya karna ia tak ingin Gevan adiknya itu terluka
"Lo mau bebas kan?, Lo gak mau dengerin gue?. Mulai sekarang gue bebasin lo, gue gak akan peduli dengan hidup lo lagi. Mulai sekarang semua terserah lo van. Gue capek" Steven menatap tajam cowok didepannya you
"Lo. Lo sama bajingannya kayak papa"
Steven berbalik badan hendak akan pergi dari sana, ia takut jika dirinya semakin emosi melihat kehadiran Gevan disana
"Gue semalam dari rumah sakit" Gevan yang sedari tadi diam kini memberanikan dirinya untuk berbicara. Steven yang mendengar itupun langsung membalikkan badannya kembali menatap adiknya itu
"Yang gue lihat disana sama dengan apa yang lo lihat waktu itu" Gevan menarik nafasnya panjang, ia ingin menangis namun Gevan tidak ingin melakukan itu sekarang
"Lo tau gimana perasaan gue melihat itu?, gue kecewa. Gue malu punya papa kayak dia!" Dada cowok itu sesak mengingat kejadian di rumah sakit malam itu. Kini ia merasa menyesal mengetahui semuanya, cowok itu semakin benci dengan sikap Wilson ayahnya itu
"Lo benar, gue emang bajingan. Tapi lo harus tau satu hal, gue bajingan karna papa juga orang yang bajingan!" Setelah berkata demikian, Gevan langsung pergi dari sana meninggalkan Steven yang hanya diam berdiri menatap kepergian adiknya itu
...*******...
Wendi terkejut ketika sebuah notifikasi pesan masuk, dengan segera cewek itu membuka pesan itu dan membacanya
^^^Gevan^^^
^^^Gue tunggu^^^
^^^Lo di rooftop^^^
Wendi menautkan alisnya ketika membaca pesan itu, ia bingung mengapa Gevan tiba tiba menunggunya disana, apa ada sesutu yang terjadi? Kemudian sekali lagi pesan masuk datang dari orang yang sama di ponsel cewek itu
^^^Gevan^^^
^^^Sekarang!!^^^
Wendi langsung bangkit berdiri dan berlari cepat menuju rooftop sesuai dengan permintaan cowok itu. Wendi berlari menaiki anak tangga dengan kaki mungilnya. Sesampainya disana cewek itu mengatur nafasnya sejenak lalu kemudian berjalan mendekati Gevan yang berdiri disana
Wendi berdiri tepat disamping cowok itu lalu menatap Gevan yang masih fokus melihat kedepan seolah tak menganggap kehadiraannya disana. Keadaan diantara keduanya hening dan canggung, Wendi hanya sesekali melirik kearah cowok disampingnya yang hanya diam saja. Sebenarnya apa tujuan Gevan memanggil dirinya disana jika hanya diam seperti ini
"Gue minta maaf" Keheningan kini terpecahkan ketika Gevan yang sedari tadi diam kini angkat bicara
"Gue benar benar minta maaf"
"Lo gak salah van"
"Gue salah dan gue minta maaf" ucap Gevan menekan disetiap kata yang diucapkan
"Kenapa lo hanya diam ketika Andre mukul lo"
"Gue diam karna gue tau gue yang salah"
"Lo gak ngelakuin apa apa van. Lo gak sadar karna lo emang lagi mabuk"
"Kalau gue diposisi Andre gue bakal ngelakuin hal yang sama wen. Lo gak perlu belain gue, gak ada alasan buat lo belain gue karna gue tetap salah" Wendi menatap sendu cowok disampingnya itu dan memicingkan matanya melihat banyaj luka yang masih basa diwajahnya akibat pukulan Andre semalam
"Lo udah baikan sama Andre?"
"Belum. Lo tenang aja, gue bisa urus itu. Bentar lagi pasti kita baikan kok" ucap Wendi sambil tersenyum walaupun sebenarnya dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya ia bisa membujuk Andre kembali
"Lo baik baik aja?" Gevan yang mendengar pertanyaan itu perlahan menatap Wendi
"Hm"
"Mulut lo bisa bohong van tapi mata lo enggak" cewek itu menatap Gevan yang hanya menundukkan kepala disana, Gevan terlihat kacau dan penampilannya berantakan
"Banyak orang yang nganggap lo gak baik tapi gue berbeda. Lo orang baik menurut gue" Gevan hanya diam mendengar disana
"Lo sebenarnya orang baik tapi keadaan memaksa lo buat jadi kayak gini" Wendi sebenarnya sedikit kesal melihat Gevan yang hanya diam dan bahkan tidak menatapnya
"Gue gak tau apa masalah lo van, gue gak tau apa yang buat lo kayak gini. Tapi lo harus tau, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, dan masalah ini ada karna lo kuat melewatinya. Wendi mendengus kesal ketika Gevan masih tetap diam membisu disana
"Gue boleh minta satu hal sama lo?" Gevan menatap cewek itu pertanda bahwa ia ingin tau permintaan apa yang diinginkan Wendi darinya
"Seberat apapun masalah lo, gue mau lo jangan berubah van. Tetap jadi Gevan yang gue kenal" Wendi menatap manik mata cowok itu dalam, ia tahu jika Gevan memiliki banyak masalah sekarang
"Berhenti menganggap gue orang baik wen, lo belum tau gue yang sebenarnya" Gevan menarik nafas panjang lalu membasahi bibirnya yang kering
"Mulai sekarang jauhi gue dan jangan pernah ganggu gue lagi. Anggap kalau kita gak pernah berteman" Wendi terkejut mendengar perkataan cowok itu, ia bingung mengapa tiba tiba Gevan berkata demikian kepadanya
"Ma, maksud lo?"
"Gue gak mau lo ikut campur dengan masalah ini dan gue gak mau lo sama Andre berantam karna gue. Gue capek wen, gue pengen hidup tenang dan gue gak mau berurusan sama Andre terus. Gue mau tenang" Gevan memang benar benar lelah dengan semua ini dan dia mau berhenti berurusan dengan Andre
"Tapi van, gue.."
"Please wen, gue benar benar capek sekarang" Wendi diam tak tahu harus mengatakan apa kepada cowok itu. Gevan kemudian berjalan mendekati cewek itu dan tangannya ia letakkan dibahu cewek itu
"Lo mau hubungan lo baikkan? Jauhin gue dan gue jamin Andre gak akan pernah marah sama lo lagi. Mulai sekarang lo harus percaya sama Andre dan dengerin apa yang dia bilang"
Gevan menatap cewek itu, sebenarnya ia tak ingin mengatakan hal ini namun ini adalah jalan satu satunya supaya dirinya tidak berurusan lagi dengan Andre walaupun sebenarnya ia tak yakin namun setidaknya Wendi tidak ikut campur dalam masalah ini