It'S Hurt

It'S Hurt
Masa Lalu



Gisel kini tengah duduk disebuah kursi panjang, sepertinya ia sedang menunggu seseorang


"Maaf kelamaan nunggu" ucap seorang cowok tinggi, berbadan kekar dengan tinggi semampai sambil menyodorkan minuman kepada Gisel


" Makasih" cowok itu kemudian duduk disamping cewek itu


"Aku kangen sama kamu" ucap cowok yang diketahui bernama Alan itu lembut, ia merupakan kekasih dari cewek yang bernama Gisel itu, mereka sudah berhubungan selama delapan bulan


"Aku juga kangen sama kamu " kemudian cowok itu merangkul kekasihnya itu lembut, meluapkan segala rasa rindunya kepada gadisnya itu


"Maaf yah, aku gak bisa selalu ada disisi kamu"


"Kapan kamu balik ke Jerman lagi?"


"Dua minggu lagi" jawab cowok itu sembari mengelus elus rambut kekasihnya itu lembut


"Kamu jangan nakal disana, jangan selingkuh" Alan tertawa kecil mendengar perkataan Gisel


"Cewek yang aku cintai itu cuman kamu sel, gak ada yang lain"


"Tunggu aku sampai lulus dan sukses dari Jerman sel"


"Iya lan, aku janji bakal nungguin kamu disini"


"Makasih sayang"


*****


"Andre, kamu ngapain sih tiap datang kesini, segan diliati orang terus" ucap Wendi yang sedikit kesal melihat cowok itu


"Kenapa segan?, Emang aku ngelakuin hal aneh sama kamu, gak kan"


"Ck, tapi tetap aja ndre"


"Ssitt, gak usah dengerin apa kata orang"


"Terserah" jawab cewek itu singkat tak mau berdebat lama dengan Andre


"Kamu yakin gak mau kemana mana?"


"Aku mau disini aja ndre, lagi malas keluar" Andre hanya menganggukkan kepala disana , setelah itu tidak ada percakapan diantara mereka, keduanya hanya menatap langit malam yang terlihat sedikit mendung


"Wen" panggil Andre mencoba memecahkan keheningan diantara mereka, Wendi kemudian melihat kearah cowok itu


"Kamu beneran sayang kan sama aku?" Wendi diam sejenak memikirkan jawaban apa yang cocok untuk pertanyaan yang ia sendiri pun tidak tau jawaban pasti


"Kenapa kamu terima aku kalau kamu sendiri gak percaya?" Terlihat jelas raut wajah kecewa dari wajah cowok itu


"Kamu belum mau cerita juga tentang mantan kamu?" Wendi menundukkan kepala dan tak berniat menjawab


"Kalau kamu belum siap gak papa, aku tunggu kamu sampe mau cerita"


"Aku bakal cerita" cewek itu terlihat memejamkan matanya sembari menarik nafasnya panjang


"Kenapa kalian putus?" Tanya Andre yang sudah sangat penasaran


"Hanya karna masalah kecil" Andre mengerutkan keningnya bingung maksud cewek itue


"Jadi waktu itu....." Flashback


"Nad, gue pergi keluar bentar yah" ucap Wendi kepada sahabat dekatnya yang bernama Nadia itu


"Mau kemana?, Tugas kita masih banyak loh wen"


"Iya nad, gue tau. Bentar kok, tunggu disini yah" Wendi kemudian bergegas cepat pergi dari sana meninggalkan Nadia disana. Tiba tiba dering notifikasi ponsel membuat cewek itu terkejut lalu melihat ponsel yang berdering yang ternyata bukan miliknya melainkan milik Wendi, awalnya ia mengabaikannya namun pada akhirnya ia mengambil ponsel itu dan membukanya


Kevin 😍😍


Sayang......


Lagi sibuk?


Nadia yang melihat itu awalnya tak berniat membalas namun tiba tiba ia ada niat jahat untuk merusak hubungan antara Kevin dan sahabatnya Wendi


"Gue gak selamanya teman wen" ucap Nadia sinis, pasalnya ia sebenarnya benci kepada Wendi karna semenjak Wendi berlacaran, Nadia sering diabaikan oleh cewek itu hingga akhirnya, Nadia mulai tak suka melihatnya


^^^Wendi^^^


^^^Jangan ganggu^^^


^^^Aku lagi.!^^^


Kevin 😍😍


Maksud kamu?


^^^Wendi^^^


^^^Aku gak butuh^^^


^^^Kamu lagi!!^^^


^^^NGERTI!!^^^


Kevin 😍😍


Kamu kenapa wen?


Ada yang salah?


Kemudian terlihat panggilan masuk dari cowok itu namun Nadia menolaknya terus menerus, sebenarnya ia tak tega melakukan hal ini namun ia benar benar tak mau jika karna cowok itu Wendi selalu mengabaikannya


Kevin😍😍


Kenapa gak


Diangkat?


^^^Wendi^^^


^^^KITA PUTUS!!^^^


Kevin 😍😍


Kamu kenapa wen?


Aku salah apa?


Aku kesana.


Nadia hendak ingin membalas namun terdengar suara Wendi dari luar yang sudah datang, dengan cepat ia menghapus chattingan itu dan mengembalikan ponsel itu ketempat semula


"Lama ya?, Maaf yah. Ini buat lo" Wendi memberinya sebuah minuman dan makanan yang sengaja ia beli


"Makasih" kemudian keduanya melahap makanan itu bersamaan sambil bercengkrama riang


"Wendi" terdengar suara keras memanggil dari luar pintu membuat kedua remaja itu terkejut


"Biar gue yang buka" Wendi berdiri sementara Nadia sudah ketakutan disana, ia takut apa yang akan terjadi setelah ini


"Kevin" Wendi terkejut melihat Kevin kekasihnya itu tiba tiba ada disana


"Bangsat" plak, cowok itu menampar pipi cewek itu akibat emosinya yang sudah meluap, Wendi benar benar sangat terkejut melihat reaksi pacarnya itu


"Kamu kenapa tampar aku?, KENAPA!!" cewek itu kini sudah mengeluarkan air matanya akibat tamparan cowok itu


"Kamu tanya kenapa?, Kamu yang kenapa wen"


"Aku gak ngerti maksud kamu vin" Kevin merogoh sakunya dan mengambil ponselnya disana


"Kamu baca" Wendi mendekatkan wajahnya untuk melihat ponsel itu dan betapa terkejutnya ia melihat semua isi percakalan yang ada disana


"Vin, ka.. kamu salah paham. Itu bukan aku vin"


"Jadi ini siapa?"


"Itu pasti Nadia vin, dia pasti yang.."


"Vin, please, dengerin aku. Kamu jangan emosi dulu. Aku gak ada niat buat mempermainkan hubungan ini vin, kamu. Kamu salah paham" cewek itu mencoba menjelaskan yang sebenarnya namun nihil, Kevin sudah sempat terbawa emosi hingga tidak terkontrol lagi


"Apa papa kamu juga penipu kayak kamu?" Wendi terkejut batin mendengar pertanyaan itu


"Maksud kamu?. Jangan libatkan masalah ini dengan keluarga aku, ini masalah kita berdua"


"Diam lo murahan. Gue benci bahkan jijik sama lo" air mata cewek itu semakin turun deras membasahi kedua pipinya, ia tak penyangka Kevin akan sekasar ini padanya


"Vin"


"Bangsat lo. Gue nyesel kenal sama manusia kayak lo. Mulai hari ini JANGAN GANGGU GUE" Wendi diam namun air matanya tak henti hentinya turun


"KITA PUTUS" Kevin pergi dari sana setelah mengatakan hal itu sedangkan Wendi kini menjatuhkan dirinya ke tanah dan menangis sepuasnya disana


Wendi kembali meneteskan air matanya mengingat masa lalunya itu, Andre sendiri terkejut mendengar fakta pahit yang kekasihnya alami dimasa lalu


"Bahkan sampai sekarang, rasa sakit itu masih ada"


"Maaf wen, aku.."


"Itu alasan aku takut sama kamu yang cepat emosian ndre" Andre menarik nafas dan membasahi bibirnya yang kering


"Aku yang bakal buang rasa sakit itu wen, aku janji. Aku gak bakalan nyakitin kamu" kemudian Andre mendekatkan dirinya dan memeluk cewek itu lembut memberi ketenangan kepada cewek itu


"Aku janji wen"


*****


"Andre, kamu kamu tau kan ini jam berapa?, Kita bisa terlambat" Wendi begitu kesal melihat cowok itu karna memang tidak biasanya Andre datang terlambat untuk menjemputnya


"Tenang wen, kita gak bakalan terlambat. Ayo naik" Wendi dengan cepat memakai helmnya lalu kemudian naik keatas motor


"Pegangan yang kuat wen" ucap cowok itu sembari menuntuk tangan Wendi untuk melingkar di pinggangnya kemudian motor mereka melaju cepat


*****


Gevan berjalan sambil memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celananya, seperti biasa, para kaum hawa akan terkagum kagum melihat ketampanan pria itu


"Gevann....." Cowok itu hanya menautkan alisnya ketika ia melihat siapa orang yang memanggilnya itu


"Happy Anniversary" Gisel memeluk cowok itu kegirangan sementara cowok itu masih memasang wajah bingung disana


"Jangan bilang kamu lupa" Gisel memicingkan matanya ketika ia bertanya kepada Gevan kekasihnya itu


"Ck. Ini hari jadian kita yang satu tahun van, kenapa lupa sih?"


"Emang itu penting?" Tanya cowok itu dengan tampang tak berdosa


"Penting banget van" Gisel mengerucutkan bibirnya kedepan sembari melipat kedua tangannya kedepan


"Anniversary itu gak penting buat aku, yang penting itu hati"


"Terserah kamu" melihat itu, Gevan memegang tangan cewek itu lembut


"Yaudah, kalau gitu aku bakalan traktir kamu satu hari ini. Terserah kamu mau apa aja"


"Serius?" Gevan tersenyum lebar dan mengelus kepala cewek itu lembut


"Nanti malam aku jemput"


"Jangan"


"Kenapa?"


"Itu, apa namanya. Aku harus jagain papa yang sakit, mama lembur soalnya"


"Sakit?. Kamu gak ngasih tau aku kalau papa kamu sakit"


"Iyah van, maaf. Semalam tiba tiba penyakit papa kambuh lagi" Gevan masih diam menatap Gisel disana


"Kamu gak percaya?"


"Aku percaya kok"


"Kalau aku ada waktu, aku pasti hubungi kamu"


"Gak papa. Kamu jagain papa kamu aja dulu"


"Makasih van" Gevan tersenyum namun sebenarnya ia merasa ada kejanggalan dengan alasan cewek itu, yang mana biasanya, ia akan selalu bilang jika papanya sakit kenapa kali ini berbeda??


*****


Motor Andre tiba tiba mati sebelum mereka sampai disekolah membuat kedua remaja itu terpaksa harus turun dari atas motor


"Motornya rusak?"


"Hm"jawab Andre sambil sibuk memeriksa dimana kerusakan motornya


"Jadi gimana?, Angkot gak akan ada lagi jam segini" Gevan kemudian melihat jam tangan yang melingkar ditangannya menunjukkan sekitar sepuluh menit lagi gerbang sekolah akan ditutup


"Kamu udah makan?" pertanyaan itu membuat Wendi sesikit bingung, entah apa maksud dan tujuan ia menanyakan itu saat situasi seperti ini


"U.. udah" Andre kemudian langsung menggenggam tangan cewek itu kuat


"Berarti kamu kuat untuk lari kan?"


"Hah???"


"Kita lari sekarang"


"Ng.. ngank, ndre kamu jangan gila"


"Go" Andre menarik tangan cewek itu untuk mengikuti langkahnya, awalnya cewek itu merasa risih namun kemudian ia kini merasa nyaman, ia menarik sudut bibirnya dan tertawa lepas


Mereka akhirnya sampai disekolah sebelum bel berbunyi, Wendi berjalan sempoyongan menuju kelasnya akibat lelah berlari tadi


"Wendi ku sayang" teriak Rena ketika melihat orang yang ia tunggu sedari tadi kini sudah datang


"Lo kenapa keringat banget?" Wendi tak menjawab dan menepis cewek itu dari depannya karna menghalangi langkahnya


"Kenapa wen?. Lo dikejar maling?"


"Lo gak mau liat gue mati kan?"


"Iya, trus?"


"Jadi lo diam dulu, gue bisa mati dengar lo ngomong terus" Rena sempat kesal kemudian ia kembali ketempat duduknya dan diam disana


*****


Seorang guru Fisika tengah menjelaskan pelajarannya dipapan tulis namun ada banyak siswa yang tampaknya sudah muak dengan rumus demi rumus yang berserakan dipapan tulis namun tidak dengan Gevan, cowok itu dengan fokus mendengar dan mencatat hal hal yang menurutnya penting


"Van, lo gak capek hidup?" Bisik Mina yang merupakan teman satu meja cowok itu


"Gue capek banget, umur gue sekarang delapan belas tahun dan umur gue mati nanti misalnya enam puluh tahun lima hari, bayangin gue menderita didunia ini berapa lama lagi. Lama kan?"


"Kalau lo mau mati, mati aja" jawab Gevan simple lalu kembali fokus dengan rumus di papan tulis


"Masalahnya gue belum mau mati" Gevan langsung menatap Mina tajam, ia kesal sudah menyimak perkataan cewek yang menurutnya tidak penting out


"Kenapa lo liatin gue?"


"Lo bodoh atau gila?"


"Bukan keduanya" ingin rasanya Gevan menjitak kepala cewek itu namun tiba tiba seorang siswa datang mengetuk pintu kelasnya


"Permisi pak, saya mau manggil Gevan"


"Kenapa Gevannya?"


"Dipanggil kekantor dewan guru pak"


"Gevan, kamu dipanggil" sang empunya nama kemudian berdiri dan berjalan menuju kantor dewan guru. Entah mengapa, ia merasa sangat gugup sekarang padahal biasanya ia tak pernah segugup sekarang ini jika dipanggil. Gevan sampai didepan pintu dan membukanya, ia membulatkan matanya sempurna akibat terkejut melihat orang yang kini datang menghadap wali kelasnya sekarang


"Papa"