
...Rasa sakit terbesar adalah ketika kita sudah berada dititik KECEWA...
...W...
...Rena bersama dengan sahabatnya Wendi sedang duduk bersama didepan kelasnya. Disana terlihat Wendi tengah sibuk menonton idol kesukaannya...
"Re, liat deh. Mereka ganteng banget. Apalagi ini. Liat deh" Wendi dengan bersemangat menunjukkan idol kesukaannya itu namun Rena tampak mengabaikannya
"Liat dong re. Ganteng banget tau"
"Orang yang didepan mata gue jauh lebih menarik dibanding idol lo itu" sontak Wendi langsung mengalihkan pandangannya kedepan dan berdecak kesal melihat orang yang Rena maksud
"Daniel lagi. Gak bosan lo nungguin dia terus?, Lo bahkan udah pernah ditolak"
"Gue gak peduli, gue tetap masih berharap sama dia"
"Semenjak lo menginjakkan kaki disekolah ini, lo cuman suka sama Daniel. Udah hampir tiga tahun dan lo masih nungguin dia?"
"Di drama kan gitu wen, awalnya ditolak lalu kemudian bersatu"
"Hidup itu gak seindah di drama re. Udah deh, lo gak capek berharap dengan orang yang bahkan gak pernah ngelirik lo" Rena hanya diam, ia bahkan tidak mau dipengaruhi perkataan sahabatnya itu bahkan ia masih bertahan dengan pendiriannya
"Wen, lo agak dekat jugakan sama Daniel?"
"Enggak"
"Ck, yang penting lo lebih dekat dibanding gue"
"Jadi?" Rena mendekatkan dirinya sambil tersenyum kearah cewek itu
"Lo bantuin gue buat dekat sama dia"
"Ogah" jawab Wendi langsung menolak permintaan sahabatnya yang menurutnya terlalu berlebihan itu
"Gue gak mau! "
"Wen" Rena tidak menyerah, ia masih berusaha membujuk cewek itu disana
"Gak"
"Wen"
"Gak"
"Wen" Rena tetap merengek membujuk sahabatnya itu disana namun jawaban yang ia terima tetap sama
...******...
Rendi yang melihat Rena duduk sendirian didepan kelasnya langsung mendekatinya dan duduk disamping cewek itu
"Ngapain?"
"Ah, lo ternyata. Gue lagi duduk aja" setelah itu tidak ada percakapan lagi diantara keduanya namun Rendi sesekali menatap kearah cewek itu sepertinya Rendi ingin mengatakan sesuatu namun ia ragu untuk mengatakannya
"Wendi tadi bilang kalau lo pengen ke bioskop" Rendi memberanikan dirinya untuk mencoba memecahkan keheningan diantara mereka
"Dia ngasih tau ke lo?"
"Bukan. Gue tadi cerita kalau gue nanti malam mau ke bioskop trus dia juga bilang kalau lo juga mau kesana. Jadi, kebetulan kita sama sama mau nonton, lo mau bareng sama gue?" Rena berfikir sejenak tentang tawaran cowok itu
"Boleh. Gue tunggu lo nanti malam" Rendi tanpa sadar menarik sudut bibirnya tersenyum mendengar jawaban cewek itu
..."Oke. Kirim alamat rumah lo, gue pasti datang jemput lo"...
...******...
Rendi duduk diatas motornya sambil menunggu Rena keluar dari dalam rumahnya. Tak lama kemudian pintu terbuka dan memperlihatkan Rena yang sudah rapi dengan baju berwarna putih dibalut dengan cardigan ditambah dengan rok pendek berwarna cream
"Ayo" ajak cowok itu namun Rena masih diam ditempat sambil mengerucutkan bibirnya kedepan
"Lo bawa motor ya?, Gue pake rok pendek" Rendi menatap cewek didepannya itu yang memang benar menggunakan rok pendek
"Gue ganti baju aja deh. Tunggu bentar yah" Rena hendak ingin pergi namun cowok itu menahan pergerakannya
"Gak perlu. Kelamaan re" Rendi kemudian membuka jacket yang ia kenakan lalu memberikannya kepada cewek itu
"Pakai ini" Rena mengambil jacket itu sambil tersenyum
"Makasih" Rena naik keatas motor kemudian pergi melaju cepat meninggalkan tempat itu
******
Gevan menatap Steven yang duduk diruang tamu dari tangga, sejak kemarin, Steven lebih banyak diam, mengurung diri dikamar dan sering sekali melamun membuat Gevan kebingungan melihatnya
Apa yang sebenarnya Steven sembunyikan dari dirinya?, Apa ia bertengkar dengan ayahnya dirumah sakit waktu itu atau ada sesuatu hal lain yang terjadi disana. Gevan benar benar penasaran dengan apa yang membuat Steven berubah seperti ini
"Gue pergi keluar bentar" Steven menoleh kesumber suara dan menatap Gevan yang entah kapan sudah berdiri dibelakangnya
"Mau kemana?"
"Kerumah Daniel"
"Jam segini?" Tanya Steven heran karna memang jam sudah menunjukkan pukul 11.20 WIB
"Bentar aja. Barang gue ketinggalan disana"
"Jangan bohong lo" Gevan sempat terdiam, sebenarnya ia tidak tega berbohong namun kali ini ia harus berdusta kepada Steven
"Hm. Gue langsung pulang" kemudian Gevan pergi, memakai helm dan langsung melajukan motornya dengan cepat menuju rumah sakit
Tak lama kemudian Gevan sampai ditempat dan masuk kedalam menuju lift, menekan angka 11 dimana disitu adalah ruangan ayahnya
Setelah berfikir lama akhirnya ia memberanikan diri untuk membuka pintu, perlahan matanya menelusuru setiap sudut ruangan dan ternyata....
Mata cowok itu membulat sempurna, tangannya gemetar memegang knop pintu, kakinya serasa lemas dan dirinya seperti disengat petir ketika melihat ayahnya Wilson tengah bercumbu mesra dengan seorang gadis muda didalam sana
Bibirnya kelu, pandangannya kosong menatap pemandangan didepannya itu. Dengan rasa sakit dan kecewa yang teramat besar, Gevan menutup pintu dan menjatuhkan dirinya kelantai tersungkur disana. Air mata turun tanpa diuandang, ya cowok itu menangis disana. Kini ia tahu dan paham mengapa Steven berubah setelah pulang dari rumah sakit kemarin
Gevan menghapus jejak air matanya lalu pergi dari sana secepat mungkin. Sebelum ia membawa motornya pergi dari sana, cowok itu sempat mengirim pesan kepada Daniel sahabatnya
^^^Daniel^^^
^^^Dan, gue lagi di bar^^^
^^^Gue nanti nginap^^^
^^^Dirumah lo^^^
Setelah mengirim pesan itu, Gevan pergi dari sana menuju bar sebagai pelampiasan amarahnya
Gevan tidak bisa berhenti minum minuman alkohol disana, pikirannya benar benar kacau malam ini dan hanya inilah cara yang ia bisa lakukan.
Disisi lain Daniel berlari cepat menaiki anak tangga dan mengetok keras pintu rumah itu hingga sang empunya keluar
"Daniel. Lo ngapain disini?" Wendi terkejut melihat kehadiran Daniel disana
"Bantuin gue wen. Gevan lagi dibar sekarang dan gue mau lo bantuin gue jemput dia kesana"
"Gu, gue gak mau kesana" Wendi teringat kejadian dimana ia pernah bersama dengan Gevan ke bar
"Please wen. Gue butuh bantuan lo" Wendi sebenarnya menolak namun karna cowok itu terus membujuknya akhirnya ia mau dan pergi dengan cowok itu menuju bar.
Gevan kini sudah mabuk dan hampir tidak berdaya disana. Seorang gadis cantik dengan pakaian sexy dan sangat terbuka datang dan duduk mendekat dengan cowok itu
"Halo ganteng, mau minum lagi?" Ucap gadis itu sambil mengisi gelas itu dengan minuman alkohol dan memberinya kepada Gevan yang langsung diterima dan diteguk cowok itu
", Sendirian aja, mau ditemenin?. Gue jamin lo puas malam ini" gadis itu semakin menempelkan dirinya kedada bidang cowok itu sambil mengelus elus wajahnya dan sedetik kemudian gadis nakal itu mencium bibir Gevan dan langsung dibalas oleh cowok itu
Wendi dan Daniel sampai didepan bar dengan wajah cemas dan khawatir
"Lo yakin ini tempatnya?"
"Gue yakin. Ayo masuk" sebelum mereka masuk kedalam segerombolan wanita sexy menghampiri Daniel dan menghalangi jalan masuknya
"Cowok ganteng, mampir sini dulu" ketika gadis itu menghalangi jalan masuknya membuat Wendi yang melihatnya kesal dan langsung masuk kedalam
Tercium aroma alkohol yang sangat menyengat disana, alunan musik yang keras dan cahaya lampu yang buram membuat Wendi merasa tak nyaman disana. Ia mencari setiap sudut ruangan berjalan kesana kemari mencari keberadaan Gevan namun ia tak menemukannya. Wendi kelelahan dan hampir menyerah namun matanya tiba tiba sosok laki laki yang sepertinya itu adalah Gevan
Wendi mendekat dan memicingkan matanya untuk memperjelas dan benar saja itu adalah Gevan yang sedang berciuman dengan wanita berpakaian sexy itu. Wendi berlari dan memisahkan keduanya
"Lo siapa" bentak wanita itu tak terima ketika Wendi datang dan merusak segalanya
"Dasar cewek murahan!. Pergi lo!"
"Apa hak lo ngusir gue. Dia punya gue" wanita itu mendorong Wendi kebelakang sampai hampir terjatuh. Wendi kini mulai emosi, ia menatap tajam wanita itu lalu mendorongnya kuat sampai terjatuh kelantai
"Lo mau lawan gue?, Ayo sini, gue patahin leher lo murahan!" Akibat kesakitan dan kesal wanita itu pergi dari sana. Wendi menatap Gevan yang sudah tidak berdaya dan mendekatinya
"Van, lo sadar. Lo dengar gue kan" Wendi menepuk nepuk pipi cowok itu dan tiba tiba cowok itu bangkit dan berpindah posisi diatas Wendi
"Van, lo. Lo mau apa?" Gevan tak mengubris, ia malah mencoba untuk mencium cewek itu dengan paksa
"Van. Lepas van. LEPAS!" Wendi berusaha keras melepas pegangan cowok itu namun tidak berhasil hingga Daniel datang dan melepas cekalan Gevan
"Lo gak papa wen. Maaf gue terlambat masuk"
..."Gue gak papa dan, makasih ya" Gevan sudah terbaring dilantai tak berdaya. Daniel hanya bisa menarik nafas melihat kebodohan yang dilakukan Gevan malam ini. Apa yang membuatnya seperti ini?, Apa sesuatu terjadi?...
...******...
Andre berjalan menuju kelasnya setelah mengantar Wendi kekasihnya itu, namun sebuah notifikasi masuk membuat cowok itu mengambil benda pipih itu dan menautkan alisnya ketika mendapati sebuah kiriman vidio dari nomor yang tidak ia kenal
Andre sempat ragu untuk membuka vidio itu namun karna penasaran akhir ia membuka vidio tersebut. Ia meremas kuat benda yang tangannya, matanya memerah dan rahangnya mengeras ketika melihat vidio itu menunjukkan Gevan bersama Wendi seperti kejadian tadi malam, dengan emosi yang meluap, ia memasukkan benda itu kekantong celananya, tangannya ia kepal dan berjalan mencari objek yang akan dihajarnya
Andre berjalan menatap tajam kedepan hingga ia bertemu dengan orang yang ia cari. Gevan berbalik badan dan melihat Andre yang sudah menatap tajam kearahnya. Gevan mendekatkan dirinya karna ia sebenarnya tau maksud dan tujuan kedatangan Andre menemui dirinya
"Maaf" Andre yang sudah emosi tanpa basa basi lagi langsung memukul Gevan sekuat tenaga hingga ia terjatuh kelantai. Andre memukul Gevan bertubi tubi membuat semua siswa yang ada disana ketakutan dan tidak ada yang berani menghentikannya
"ANDRE!" teriak Wendi ketika melihat Andre dengan puas memukul Gevan yang sudah terbaring dilantai
"Andre, udah ndre. PLEASE, BERHENTI" Wendi dengan susah payah menghentikan Andre yang akhirnya mau berhenti dan menjauh dari Gevan. Wendi terkejut melihat banyak luka diwajah cowok itu, ia mendekat namun Andre dengan cepat menariknya pergi menjauh dari sana
"Ndre, . A..Aku bisa jelasin semua. Gevan gak ngelakuin apa apa ndre, dia hanya mabuk"
"Hanya mabuk?" Wendi diam, ia takut jika Andre marah padanya
"Aku udah peringatin, dia bukan orang baik seperti yang kami pikirkan wen. Kenapa lo gak percaya!" Andre benar benar marah sekarang
"Ndre"
" Apa susahnya buat kamu jauhin dia?, Kamu rugi gak ketemu sama dia? KAMU SENYAMAN ITU SAMA DIA SAMPAI KAMU GAK MAU DENGERIN AKU!" Bentak Andre yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi
"Kamu lebih milih diakan dibanding aku?"
"Ndre, bukan gitu"
"Sekarang SEMUA TERSERAH SAMA KAMU WEN. AKU CAPEK. KAMU GAK PERNAH DENGERIN AKU DAN AKU CAPEK DENGAN HUBUNGAN KAYAK GINI!" mata Wendi memerah mendengar setiap perkataan yang terlontar dari mulut cowok itu
"Aku gak bakal ngelarang kamu lagi. TERSERAH KAMU MAU DEKET SAMA SIAPAPUN KARNA AKU UDAH CAPEK" Andre kemudian pergi meninggalkan Wendi disana. Wendi menatap kepergian cowok itu yang semakin menjauh darinya, ia akui bahwa ini adalah kesalahannya dan ia harus memperbaiki hubungannya dengan Andre bagaimanapun caranya