
...Terlalu banyak hal yang tidak kita mengerti dalam hidup ini, banyak masalah terjadi yang kita tidak tahu kapan semuanya berakhir. Namun satu hal yang pasti adalah bahwa dibalalik masalah akan ada jalan keluar untuk menyelesaikannya...
...W...
Gevan duduk didepan meja belajarnya sambil menatap handphonenya yang berdering sedari tadi. Ia sengaja tak mengakatnya karna orang yang meneleponnya sedari tadi adalah Gisel
Gevan yang sudah muak dengan panggilan itu langsung saja membuang benda pipih itu kesembarang arah. Sebenarnya ia tidak siap berpisah dengan gadis itu karna sebenarnya Gevan sangat mencintainya namun kini cowok itu merasa lelah dengan hubungannya
Gisel kembali mencoba menghubungi cowok itu namun tetap sama, tidak ada jawaban dari sebrang sana
"Gimana sel?" Tanya Wendi kepada cewek yang duduk disampingnya itu
"Dia tetap gak mau ngangkat wen" air mata cewek itu kini kembari turun membasahi pipinya, ia benar benar belum siap berpisah dengan cowok itu
"Udah sel, lo jangan nangis terus" Wendi mencoba menenangkan cewek itu, sesama perempuan ia juga ikut merasakan kesedihan yang dialami Gisel sekarang ini
"Gue nyesal wen, gue bodoh. Gue harus gimana wen"
"Besok gue coba ngomong sama Gevan" mendengar itu Gisel langsung mendongakkan kepalanya menatap Wendi
"Lo, serius?"
"Gue bakalan coba ngomong sama dia besok"
"Makasih wen"
...******...
Wendi berlari cepat menaiki anak tangga satu persatu hingga kini ia sudah sampai di rooftop dan melihat Gevan tengah duduk rapi disana. Wendi menarik nafas lalu kemudian melangkah mendekati cowok itu
Gevan menoleh kesamping dan terkejut ketika melihat Wendi sudah berdiri disana menatapnya. Wendi terkejut ketika melihat Gevan merokok disana, Gevan yang sadar dengan tatapan terkejut cewek itupun langsung membuang rokok yang ada ditangannya kelantai lalu menginjak injak benda itu
"Lo, merokok?" Ucap Wendy namun cowok itu hanya membuang mukanya kesamping, Wendi hanya bisa menggeleng geleng Kerala disana lalu kemudian duduk disamping cowok itu
"Lo ngapain kesini?"
"Buat ketemu sama lo" cowok itu sebenarnya tahu maksud dari kedatangan Wendi menemui dirinya sekarang namun ia mencoba berpura pura tidak tahu
"Gue gak nyangka kalau perkataan lo semalam itu benar van"
"Gue gak pernah bercanda dengan ucapan gue" Wendi kemudian menatap cowok itu
"Ini terlalu tiba tiba van. Lo harusnya kasih dia kesempatan"
"Gue udah kasih dia kesempatan selama ini"
"Tapi van" ucapan cewek itu terhenti, ia bahkan tidak tahu harus bagaimana caranya membujuk cowok ini untuk kembali memperbaiki hubungannya
"Dia benar benar menyesal van, gue tahu dia yang salah tapi setidaknya lo kasih dia waktu buat memperbaikinya van. Dia belum siap berpisah dari lo"
"Menyesal sekarang itu udah gak berguna buat gue. Lo mau ngajak depalan malaikatpun gue gak akan berubah pikiran wen" cewek itu hanya diam ditempat, ia tidak tahu harus bagaimana lagi sekarang
"Mendingan lo pergi. Seiring berjalannya waktu dia bakalan bisa lupain gue begitupun sebaliknya"
" Gue tahu van, lo sebenarnya masih sayang sama dia dan gue tau ini juga berat buat lo, apa salahnya lo kasih dia kesempatan. Kalau hubungan lo sayang kenapa lo gak mau memperbaiki hubungan lo" Wendi kemudian bangkit berdiri lalu pergi meninggalkan Gevan yang masih diam menyimak perkataan cewek itu
Wendi pergi dengan rasa kesal dengan sikap cowok itu, mengapa ia begitu keras kepala dan susah untuk dibujuk pikirnya
"Wen, wendi. Lo habis ketemu sama Gevan kan?, Gimana wen?, Dia mau maafin gue?" Gisel langsung menyerang gadis itu dengan pertanyaan karna ia tahu bahwa Wendi baru saja bertemu dengan Gevan. Wendi masih diam dan menatap kasihan dengan cewek yang berdiri didepannya itu
"Wen, lo habis ketemu sama Gevan kan?, Dia ngomong apa?"
"Mulai sekarang lo harus lupain dia?" Gisel terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar itu
"Ma, maksud lo"
" Lo lupain dia karna dia gak akan pernah berubah pikiran"
"Gak wen. GUE GAK BISA!. gue harus ketemu sama Gevan" Gisel bergegas ingin pergi namun Wendi menahan pergerakan cewek itu
"Sel, lo gak perlu pergi kesana"
"Lepasin wen. Gue gak terima. GUE MAU KETEMU SAMA DIA!" teriak Gisel dengan air matanya yang kembali turun membasahi pipinya
"Sel, lo tenang. Lo gak perlu kesana"
"LEPAA WEN. LEPASIN!" Dengan cepat Wendi menarik cewek itu dan memeluknya lembut mencoba menenangkan Gisel yang kini menangis dipelukannya
"Lupain dia sel"
...******...
Wendi duduk sendirian ditaman sekolah, pikirannya masih kepada Gisel. Ia kasihan melihat cewek itu yang selalu menangis dan murung.
Sedang sibuk melamun, Andre tiba tiba muncul dari belakang melompati kursi panjang yang diduduki oleh cewek itu. Andre bergaya didepan cewek itu dan mengedipkan mata kearahnya membuat Wendi yang melihatnya terheran heran
"Halo my baby" ucap Andre dengan senyum manisnya lalu duduk disamping cewek itu
"Kamu kenapa natap aku kayak gitu?"
"Kamu aneh" mendengar itu Andre tersenyum lalu merangkul kekasihnya itu lembut sambil mencubit pipinya pelan
"Walaupun aku aneh kamu tetap sayang kan?" Wendi hanya tersipu malu disana
"Kamu kenapa melamun sendirian disini?" .
"Kamu tau, Gisel udah putus dengan Gevan"
"Jadi lo murung hanya karna itu?" Tanya cowok itu dengan mimik wajah herannya
"Gue kasihan sama Gisel"
"Maksud kamu?"
"Hubungan gue sama Gisel putus karna ulah dari Gevan"
"Tapi itu bukan sepenuhnya kesalahan Gevan kan" Andre sontak menatap cewek itu dengan tatapan tak suka mendengar ia membela Gevan
"Lo belain dia?" Wendi langsung diam disana, takut jika Andre akan memarahinya lagi
"Setelah mereka putus, Gevan bakal ngerusak hubungan kita" Wendi hanya menjadi penggemar setia disana, tidak berniat berbicara karna ia tahu Andre akan marah jika ia menyangkal perkataannya itu
"Kamu gak percaya?"
"Iya iya. Aku percaya" Andre tersenyum lebar melihat ekspresi kekasihnya yang menurutnya menggemaskan itu
"Nanti malam sibuk?" Wendi hendak ingin menjawab namun tiba tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil cowok itu membuat keduanya menoleh kesumber suara
"Andre" Jinny berteriak kencang lalu kemudian mendekati kedua remaja itu
"Disini lo ternyata" Wendi yang melihat kehadiran Jinny disana menjadi kesal, ia benar benar sangat tidak suka dengan perempuan yang selalu mengganggunya ketika bersama dengan Andre
"Kenapa lo nyariin gue?"
"Nanti malam lo sibuk?, Temenin gue beli komik ya ndre, kemarin soalnya gak jadi" cowok itu spontan langsung manatap Wendi yang sudah sedikit membuang muka disana
"Please.. komik kesukaan gue udah keluar ndre. Takuynya komiknya keburu habis" Andre sedikit bingung harus memilih yang mana namun jika ia pergi dengan Jinny maka otomatis Wendi akan marah padanya
"Gue udah janjian sama Wendi nanti malam jin. Maaf" Wendi terkejut dan menatap cowok itu ketika ia mendengar bahwa cowok itu kini lebih memilih dirinya sekarang
"Maaf jin. Gue udah janjian duluan sama Wendi. Lain kali aja ya" Jinny sedikit kecewa namun bagaimanapun dia tidak mungkin marah kepada cowok itu
"Yaudah deh. Gak papa. Gue cabut" Jinny kemudian pergi dari sana sedangkan Andre yang melihatnya merasa bersalah, selama ini ia tidak pernah menolak ajakan cewek itu namun sekarang ia terpaksa harus menolak ajakan sahabatnya itu demi menjaga hubungannya
"Kenapa kamu bohong? Padahal kita belum ada janjian"
"Aku gak mau kamu marah lagi wen" ucap cowok itu sambil tersenyum hangat kepada kekasihnya itu
"Setelah pulang sekolah nanti, kamu ikut aku kerumah"
"Hah. Ngapain???"
"Ketemu calon mertua" ucap Andre sambil menaik turunkan kedua alisnya
"Tapi ndre.._"
"Aku gak terima penolakan!"
...******...
Wendi dan Andre kini sudah berada didepan rumah cowok itu. Wendi sebenarnya merasa segan berada disana namun karna paksaan cowok itu akhirnya ia mau ikut
Andre membawa cewek itu masuk kedalam rumah besar itu dan mereka langsung disambut oleh perempuan paru baya yang bernama Mia
"Andre, kamu udah pulang" Andre mencium tangan perempuan itu lembut namun Wendi tampak kaku disana tidak tahu harus melakukan apa
"Dia siapa?"
"Kenalin ma, namanya Wendi pacarnya Andre" ucap Andre sambil tersenyum lebar
"Halo tante" Wendi tersenyum lebar lalu kemudian mencium tangan perempuan itu
"Kamu cantik" puji Mia sambil mengelus pipi cewek itu lembut
"Kita mau keatas dulu ma"
"Kok buru buru, makan dulu yok. Kalian pasti belum makan"
"Nanti aja ma. Ayo wen" Andre membawa cewek itu menaiki anak tangga menuju kamarnya
"Kamu bersikap santai aja, mama aku baik kok"
"Bukan gitu ndre, aku segan aja"
"Anggap rumah sendiri wen" Wendi hanya diam lalu kemudian menatap sekeliling kamar cowok itu
"Kamar lo luas juga"cowok itu hanya diam dan tak menjawab perkataan Wendi. Disaat keadaan hening tiba tiba terdengar suara gelas pecah dari lantai bawah membuat keduanya terkejut
"Kamu tunggu disini dan jangan kemana mana" ucap Andre lalu kemudian meninggalkan cewek itu disana dan berlari cepat menuruni anak tangga
"Kamu gak perlu sok peduli dengan kehidupan aku lagi perempuan ******!" Ucap Melvin penuh emosi
"Maaf Pa" ucap Mia menangis sambil tangannya sibuk mengumpulkan serpihan kaca yang pecah dilantai, Andre yang melihat pemandangan itu kini mulai emosi
"Ceraikan mama sekarang juga"
"Kamu bilang apa?" Ucap Melvin menatap putranya itu
"CERAIKAN MAMA SECEPATNYA!" teriak Andre penuh amarah, kini matanya memerah, jantungnya berdetak kencang, sebenarnya ini bukanlah hal yang dia inginkan namun ia juga tidak tega jika Mia ibunya selalu diperlakukan seperti ini
"Andre gak butuh orang tua kayak papa, Andre gak butuh pengecut kayak papa, Andre gak butuh papa lagi"
"Dasar anak gak tau diri!" Melvin langsung menampar Andre sekuat tenaga, amarahnya sudah tidak terkontrol lagi ketika mendengar perkataan putranya itu
"Pa, udah pa" Mia mencoba melepas cekalan Melvin yang masih menggenggam kuat kerah baju putranya itu
"Papa mau pukul Andre?, Pukul pa, pukul sampai papa puas!" Melvin mengepal tangannya kuat bersiap memukul Andre namun tangannya terhenti ketika ia mendengar suara teriakan seorang gadis dari lantai atas
"ANDRE!" Wendi terpaksa keluar ketika ia mendengar pertengkaran hebat dari lantai bawah
Andre diam mematung disana, ia benar benar lupa jika Wendi sedang bersamanya dan kini ia tidak tau harus bagaimana menjelaskan ini semua kepada gadis itu, Andre belum siap jika cewek itu harus tau tentang masalah yang terjadi dalam keluarganya namun kini cewek itu sudah mendengar dan melihat semuanya.....