
.
.
.
Jina menatap kearah kamar yang tertutup itu. Ia sendiri tak tau dengan pikirannya saat ini. Seharusnya ia bersyukur jika oppanya itu sakit bahkan mungkin meninggal? Entahlah hanya saja ia masih memiliki hati nurani untuk merasa khawatir terhadap pria itu.
"Pergi!" Jina menatap tak percaya dengan teriakan yang baru saja dia dengar.
Jina memundurkan langkahnya saat dokter pribadi keluarga ini sedikit memijit pelipisnya saat keluar dari kamar tersebut.
"Nona, saya permisi." Baru saja ia ingin menanyakan kenapa Kyuhyun seperti itu tapi dokter itu pergi begitu saja.
Setelahnya Jina menimang-nimang apakah ia harus masuk kedalam untuk memeriksa keadaannya?
Langkahnya terus saja merasa ragu saat hendak memegang handle pintu. Dengan pasti ia menyakinkan dirinya untuk masuk kekamar itu.
Kyuhyun terlihat menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sepertinya Kyuhyun belum menyadari ia yang sudah masuk kekamar ini.
Jina mencoba melangkah mendekat tapi sebuah desisan membuat langkahnya terhenti begitu saja.
"Pergilah." Jina masih terdiam kaku saat mendengarnya.
"Seharusnya kau tak menolongku, seharusnya kau membiarkanku mati disana." Ujar Kyuhyun lalu pria itu menatap langit kamarnya dengan pandangan mata yang kosong.
"Ak-aku tak bisa membiarkannya. Ak-aku merasa khawatir dengan keadaanmu." Ujar Jina sambil mengigiti bibirnya. Inilah dia, kadang Jina bisa dengan lantang menyuarakan isi hatinya tapi disaat yang sama gadis itu juga bergetar ketakutan saat berbicara.
"Bukankah seharusnya kau merasa senang jika saja tadi aku langsung mati? Dengan begitu kau akan terbebas dariku." Kyuhyun tertawa miris. Jina yang mendengar hal itu langsung mengepalkan tangannya.
"Benar. Seharusnya aku marah padamu dan seharusnya aku membiarkan kau kesakitan dan mati saja tadi. Akh. Aku memang bodoh bukan?" Tanya Jina yang seperti sedang mempertanyakan kebodohannya itu. Pria itu berdecak saat mendengarnya.
"Apa kau melakukan ini agar mendapat permintaan maaf dariku." Tanya pria itu tepat kearahnya.
"...."
"Meskipun kau melakukan hal yang lebih besar dari ini, kau tak akan pernah mendapatkan permintaan maaf itu." Jina menggeram. Yah anggaplah seperti itu. Ia menyelamatkannya agar Kyuhyun sedikit membuka hatinya untuk memaafkan dirinya meski sedikit tapi kenapa sekarang perkataan seperti itu yang terlontar dari Kyuhyun?!
"Kyuhyun!" Suara pintu yang terbuka dan teriakan itu seketika membuat kedua manusia itu berhenti dari percakapan sengit mereka.
Jina menatap tak percaya saat gadis yang beberapa hari lalu menghilang begitu saja kini tiba-tiba datang kerumahnya.
"Yoora?" Ujar Jina tak percaya. Bukankah seharusnya Yoora sudah tak menemui Kyuhyun lagi karena Kyuhyun telah menyakiti hatinya? Jina tersenyum miris saat melihat pemandangan didepannya. Beruntung sekali pria itu. Meski ia sudah menyakiti hati Yoora tapi faktanya Yoora tetap memilih bersama Kyuhyun. Benar. Seharusnya ia tak perlu khawatir lagi karena ada Yoora disini.
"Kyuhyun kau kenapa?" Yoora menatap tak percaya dengan Kyuhyun saat ini. Pria itu terlihat sangat pucat dan terbaring lemah sekarang.
"Sebaiknya kau keluar dari sini." Jina menatap tak percaya dengan perkataan Kyuhyun saat pria itu menyuruh dirinya untuk pergi. Pasti karena ada Yoora. Jadi, Kyuhyun tak ingin diganggukan?
Yoora menatap kearah Jina. Astaga ia baru sadar jika ada gadis itu disini. Tadi ia terlalu khawatir dengan Kyuhyun sampai gadis itu tak terlihat olehnya.
Jina mengepalkan tangannya, dengan cepat ia keluar begitu saja dari kamar Kyuhyun. Cih. Bukankah pria itu seharusnya berterima kasih dulu sebelum mengusirnya?
Yoora memandang Kyuhyun yang masih setia menatap kearah pintu sejak Jina pergi. Ada rasa sakit didadanya saat tatapan Kyuhyun yang menunjukkan raut penyesalan?
'Apa kau tak rela dia pergi?'
"Kau tak apa?" Yoora berujar panik saat Kyuhyun memegang perutnya lagi. Apa penyakit pria itu kambuh?
"Akh." Ringis Kyuhyun. Keringat mulai bercucuran dipelipis pria itu.
Kyuhyun masih meringis dan berusaha untuk duduk, dengan sigap Yoora membantunya dan dengan cepat Yoora mengambil obat yang sudah ada dimeja kamar kemudian membantu Kyuhyun meminum obat itu.
Setelah meminum obatnya, ia pun kembali terbaring dikasurnya.
Kyuhyun tak menjawab. Mungkin terlalu sakit untuk berbicara lagi. Yoora menghela nafasnya saat ia mendengar dengkuran halus milik pria itu.
Akh. Cepat sekali efek obatnya?
Tangan lentiknya pun mulai meraih selimut untuk menutupi tubuh itu.
Yoora menatap lekat kearah pria itu. Sambil merapihkan rambut Kyuhyun yang tampak kusut.
"Jika seperti ini, bagaimana bisa aku membencimu?" Yoora pun mengecup dahi pria itu pelan. Matanya kemudian melihat jam dinding yang tertempel manis diruangan, ia sedikit menguap dan tanpa sadar tertidur dengan posisi terduduk dikursi sambil terus menggenggam tangan yang terlihat pucat itu.
Baru saja Jina ingin memberikan minum untuk Yoora tapi niatnya harus ia kubur dalam-dalam karena Yoora sudah terlelap disamping Kyuhyun.
Bodoh. Seharusnya ia tak menganggu mereka.
••⏳⏳••
Lagi-lagi Jina memilih terdiam ditaman sambil terus merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
Taman ini sungguh indah. Jauh lebih indah dari taman yang ada dirumah. Yah. Ia saat ini tak ingin dirumah. Ia tak ingin menganggu sepasang kekasih itu jadilah ia pergi ketaman yang ada di kota ini.
Semilir angin terus saja membuat dirinya sedikit menggigil tapi kenapa rasanya ia enggan untuk beranjak dari duduknya?
Sebuah mantel mulai membungkus pakaiannya yang tak terlalu tebal. Ini seperti deja vu.
Sehun! Jina menatap tak percaya sosok tersebut. Bukankah sudah lama pria itu tak terlihat? Lalu kenapa pria itu tiba-tiba datang?
"Bukankah ini menarik? Aku kemari untuk mencoba melupakanmu tapi tak disangka kau berada ditempat ini." Ujar pria itu sambil tersenyum dan mulai mengeratkan mantel yang ia pasangkan ditubuh Jina.
Entah kenapa Jina merindukan senyum itu. Sudah lama rasanya ia tak melihatnya.
Sehun membulatkan matanya saat tiba-tiba Jina beranjak dari duduknya dan langsung memeluk dirinya.
Jina terus mengeratkan pelukannya. Pria itu masih terdiam kaku. Sampai ia tersadar jika gadis itu tengah bersedih.
"Kuharap kau tak bersedih lagi." Ujar pria itu lalu membalas pelukan Jina. Mendekapnya lebih erat. Ia mencintai gadis itu. Kini ia sudah yakin dengan perasaannya. Saat mendengar Jina yang tiba-tiba menikah dengan Kyuhyun sangat membuat dirinya terkejut.
Selama ini yang ia tau jika Kyuhyun adalah kakak kandung gadis itu tapi sungguh mengejutkan bukan? Ternyata Jina tak mempunyai hubungan darah dengan pria itu.
Cho Kyuhyun. Sehun menggeram saat mengingat nama itu lagi. Ia tau jika Kyuhyun pria yang kejam tapi ia tak pernah tau jika Kyuhyun terus saja membuat Jina tersiksa dan alasannya karena kematian orang tuanya? Bukankah kejadian itu tak ada hubungannya dengan Jina? Karena nyatanya Jina juga merupakan korban yang selamat dari maut itu.
Yah. Ia sedikit mengetahui fakta ini dari Hani. Setelah menunggu lama agar pelayan itu memberikan informasi, baru sekarang Hani mau berbicara. Andai saja Hani tak meragukannya mungkin saat ia bertemu Jina ia sudah membawa Jina kabur bersamanya.
"Aku tau aku salah tapi kenapa ia tak pernah mau memaafkanku?" Lirih gadis itu dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau juga korban dalam kecelakan itu lalu kenapa kau terus menyalahkan dirimu?" Ujar Sehun tak terima dengan ucapan gadis itu.
"Ani. Aku menyebabkan kecelakaan itu, jika saja aku tak meminta mereka untuk pulang secepatnya pasti semua ini tak akan terjadi." Sehun menghela nafanya. Jina memang keras kepala. Apapun yang ia katakan untuk membuat gadis itu tak menyesalinya pasti tak didengar. Sial. Kyuhyun beruntung sekali bertemu dengan gadis ini. Jika saja dirinya yang berada diposisi Kyuhyun maka sudah sejak lama ia memaafkan Jina karena sebenarnya ini semua bukan kesalahan gadis itu. Ini adalah takdir dan sialnya Jina ada didalam takdir itu.
"Menjauhlah dari pria itu Jina. Dia adalah monster. Lihatlah? Bahkan Kyuhyun tak membantu menyembuhkan lukamu. Bukankah pria itu kaya? Aku yakin dengan kekayaan itu dia bisa dengan mudah menyingkirkan luka ini. Jika kau mau, aku akan membantumu untuk menyebuhkannya dan membuatmu terbebas dari pria itu." Ujar Sehun dan menangkup wajah sembab Jina, menatapnya dengan harap agar gadis itu menyetujui usulnya.
Jina tersenyum mendengarnya lalu menatap lekat ke pria itu.
"Hmm. Terima kasih. Aku senang mendengar kekhawatiranmu Sehun. Aku juga berharap seperti itu tapi mungkinkah?" Ujar Jina yang seakan pupus. Benar. Kyuhyun memang kejam terhadapnya tapi kenapa ia tetap merasa tak bisa lepas darinya? Ia selalu merasa Kyuhyun akan menemukannya lagi. Bisakah Sehun memujudkan impiannya? Lalu untuk luka ini, benarkah bisa hilang jika ia menjalani operasi?
"Aku janji akan membantumu dan membuatmu terlepas darinya Jina." Ujar Sehun yang terlihat bersungguh-sunguh. Jina pun hanya bisa tersenyum menanggapinya karena ia juga tak yakin dengan ucapan Sehun. Meski pria itu ingin, ia merasa yakin jika Sehun tapi bisa mewujudkan hal itu.
Sehun yang melihat Jina tersenyum, membuatnya merasa senang akan hal itu lalu tangannya pun mulai menyeka air mata Jina dengan tangannya, mengecup dahi gadis itu dan memeluk tubuh yang terlihat rapuh itu. Mendekapnya dan seakan tak mau kehilangannya lagi.
Meski Jina sudah menikah ia masih berharap bisa bersama dengan gadis itu karena pernikahan Jina dan Kyuhyun hanya sebuah keterpaksaan. Ia akan merebut Jina dari tangan Kyuhyun dan membuat Jina bahagia.
TBC