It'S Hurt

It'S Hurt
I'M HERE



...Terjebak dimasa lalu hanya akan membuat seseorang semakin terpuruk hingga membuat seseorang itu semakin jatuh kedalam penyesalan...


Wendi keluar dari dalam kelasnya dengan cepat karna sekolah sudah sepi jadi dirinya takut jika terlalu lama disana.


Wendi yang tadinya berjalan cepat perlahan memperlambat langkahnya ketika melihat Andre ada diparkiran sekolah sambil hendak akan menyalakan mesin motornya


Andre yang sadar akan krhadiran Wendipun menghentikan kegiatannya lalu menatap cewek yang juga menatapnya


"Belum pulang?" Tanya Andre kepasa Wendi yang masih diam berdiri disana sambil menatapnya


"Kenapa lo belum pulang?"


"Gue, tadi ada urusan" Jawab Wendi singkat


"Ayo, gue antar lo pulang"


Wendi terkejut ketika cowok itu mengajaknya untuk pulang bersama


"Lo, serius?"


"Hm. Jam segini angkot udah gak ada lagi" Cewek itu perlahan tersenyum lalu hendak akan naik keatas motor namun tiba tiba seseorangenariknya secara paksa agar tidak naik


"Lo pulang aja. Wendi biar gie yang antar" Itu adalah Gevan cowok yang akhir akhir ini selalu ad bersama Wendi


"Dia gak aman sama lo, jadi biar gue yang antar" Andre menarik tangan cewek itu namun Gevan menghempaskan tangan cowok itu dari sana


"Lo pikir Wendi lebih aman kalau dia sama lo?" Andre yang mendengar itu mulai kesal, ia kemudian tersenyum miring seolah meremehkan Gevan disana


"Van, biarin gue bareng Andre"


"Lo dengar sendiri kan, dia mau pulang bareng gue"


"Gue gak peduli. Wendi akan tetap pulang sama gue"


"Van, lo apa apaan sih!"


Andre yang malas untuk ribut dengan cowok itupun langsung menyalakan motornya dan segera pergi dari sana


"Ayo"


"Gue gak mau pulang sama lo"


"Gue gak peduli" Gevan menarik paksa tangan cewek itu hingga membuatnya meringis kesakitan


"Van, sakit. Van lepasin" G3vn melepas cekalannya itu setelah sampai didekat dimana motor cowok itu parkir


"Lo gila ya, gue udah bilang kalau gue gak mau pulang sama lo"


"Iya. Gue gila. Gila sama lo"


Wendi diam namun tatapannya tajam kepada cowok didepannya itu. Dia benar benar kesal dengan kelakuan cowok itu sekarang


"Lo mau atau engak?"


"ENGGAK!"


"Kalau lo gak mau gue bakal paksa" Mendengar itu Wendi terkejut kebingungan disana


"Jadi sebelum gue paksa lo harus mau"


Wendi akhirnya hanya pasrah dan dengan wajah tak bersahabat naik keatas motor cowok itu


"Lo mau kemana hari ini?"


"Pulang"


"Selain pulang?"


"Tetap pulang"


"Kalau gitu lo ikut gue" Wendi semakin dibuat kesal dengan sikap cowok itu


"GUE GAK MAU!!"


"Lo harus ikuti kehendak gue hari ini"


Wendi hanya menghela nafasnya pasrah disana tak berniat lagi untuk berdebat dengan cowok itu


Tibalah mereka disebuah toko buku besar yang belum pernah dikunjungi cewek itu sebelumnya.


"Toko buku?"


"Hm. Gue mau cari buku" Gevan kemudian masuk kedalam toko itu diikuti Wendi dibelakangnya


Wendi hanya mengikuti Gevan disana dan matanya sembari melihat lihat sekeliling toko yang ramai pengunjungnya


"Lo suka baca buku?" Tanya cowok itu sembari sibuk mencari buku disana


"Suka"


"Ambil buku yang pengen lo baca, nanti biar gue yang bayar"


"Serius??"


"Hm"


Wendi yang kegiranganpun langsung pergi menuju rak buku yang lain untuk mencari buku yang bagus untuk dibaca


Cewek bahkan kebingungan untuk memilih buku apa yang akan ia beli hingga akhirnya ia tertarik dengan sebuah buku filsafat


"Lo suka filsafat?" Wendi terkejut ketika mendapati Gevan sudah ada berdiri tepat disampingnya


"Gue sekedar tertarik aja"


"Lo harus lebih sering baca bukunya biar lo bisa suka sama bukunya" Wendi masih diam disana


"Begitu pun dengan gue, lo harus sering sering liatin gue biar lo tau kalau gue benar benar sayang sama lo" Wendi menatap cowok disampingnya dengan tatapan kesal namun Gevan yang ditatatapnya itu hanya tersenyum tipis


"Van, lo pernah dekat sama Andre?"


"Gak"


"Bahkan sebelum kejadian ini?"


"Gue gak pernah dekat sama Andre. Gue sama Andre hanya sebatas satu tim basket aja"


"Rendi gimana? Lo pernah dekat dengan dia kan?"


"Gak"


"Gue pernah liat foto lo, Daniel juga Rendi di mobilnya Daniel. Kayaknya kalian bertiga pernah dekat" Gevan diam dan masih sibuk melihat lihat buku disana


"Kenapa sekarang kalian berantam? Apa karna masalah lo sama Andre?" Cowok itu kemudian menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Wendi


"Kita pulanh sekarang"


"Apa? Gue bahkan belum ngambil buku yang mau gue beli"


"Gue kasih waktu sepuluh menit buat lo milih buku" Gevan pergi dari sana meninggalkan Wendi yang sudah sangat kesal dengan kelakuan cowok itu


...*******...


"Aku pulang ya" ucap Andre sambil mengelus rambut kekasihnya disana


"Ndre" Sang empunya nama tersebut menatap lawan bicaranya disana


"Aku takut"


"Takut? Kenapa?"


"Aku..."


"Yen" Cewek itu menatap cowok didepannya itu dengan lembut


"Aku sayang sama kamu. Kamu gak usah mikir aneh aneh lagi. Kalau sampai Wendi gangguin kamu lagi, aku gak akan tinggal diam"


Yena kemudian perlahan mendekati cowok itu dan mulai memeluknya lembut


"Aku sayang banget sama kamu ndre"


Andre tak mengucapkan apa apa lagi disana dan hanya memeluk cewwk itu seolah memberinya kehangatan


Sementara itu disisi lain sudah ada Gevan yang sudah sampai didepan rumah cewek itu dengan motornya


"Ini buat lo" Ucap Gevan sambil memberi paper bag yang berisi buku


"Makasih" Wendi mengambil benda itu dari tangan Gevan namun ditahan oleh cowok itu


"Sekali kali lihat kearah aku wen" Ucap cowok itu lembut disana membuat Wendi diam tertegun


"Besok pagi gue jemput"


"Aa..."


"Gue gak terima penolakan" Gevan kemudian menyalakan mesin motornya dan segera pergi


...******...


Ya.. Pagi ini sesuai janjinya, dirinya akan menjemput Wendi untuk berangkat sekolah. Semenjak cewek itu putus dengan Andre, Gevanlah yang bertanggungjawab untuk menjaga cewek itu sekarang


"Lama banget" Ucap cowok itu ketika melihat Wendi yang baru saja turun


"Gue gak nyuruh lo buat nungguin gue"


"Udah buruan. Nanti kita terlambat" Dengan raut wajah kesal cewek itupun naik keatas motor


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai disekolah walaupun sebenarnya jarak rumah Wendi dengan sekolah lumayan jauh


Wendi turun dari atas motor sembari merapikan rambutnya yang sedikit berantakan


"Tunggu" Wendi berbalik badan ketika mendengar itu


Tanpa basa basi dan rasa malu sedikitpun Gevan langsung menggandeng tangan cewwk itu disana


"Gue antar"


"Lo apa apaan sih van. Lepasin!"


"Kenapa? Lo gak suka?" Tanya cowok itu dengan wajah tak bersalah dan masih menggandeng tangan Wendi


"Gue gak mau orang lain salah paham"


"Lo harusnya senang. Gue cowok incaran disekolah ini, banyak cewek yang suka sama gue dan lo adalah pemenangnya"


"GUE GAK PEDULI!" Wendi kemudian melepas genggaman cowok itu dan segera pergi dari sana


"Woi van, lo senang banget buat dia marah" Daniel tiba tiba muncul dari belakang. Ternyata sedari tadi cowok itu ada disana sebagai penonton atas kejadian itu


"Itu hobi gue sekarang"


"Gila lo. Gak ada otak lo"


"Emang lo punya?"


"Enggak" Ucap Daniel lalu tertawa keras disana karna merasa lucu dengan percakapan itu


"Temenin gue ke kantor bentar"


"Kantor? Mau apa lo kesana?"


"Jemput otak gue, kemarin ketinggalan disana" Gevan kemudian berjalan mendahului Daniel yang masih diam mengerutkan keningnya


"Cepattt" Teriak Gevan dari kejauhan lalu dengan terpaksa Daniel ikut mengikuti langkah sahabatnya itu


...*******...


Rena mendongakkan kepalanya ketika seseorang memberinya sebotol minuman


"Makasih" Rena kemudian mengambilnya dari tangan cowok itu


"Tumben lo datangin gue kesini"


"Gue kangen" Ucap Rendi singkat namun mampu membuat jantung cewek itu berdebar kencang


"Lo nanti malam sibuk?"


"Hah?" Rendi menegakkan badannya lalu menatap cewek itu


"Gu, gue. Enggak sibuk"


"Kalau gitu lo bisa temenin gue beli gitar?" Rena dengan perlahan menganggukkan kepala disana


"Nanti malam gue jemput lo jam tujuh"


"Lo gak perlu dandan berlebihan, gue gak suka" Rena mengerutkan keningnya bingung


"Kenapa?"


"Gue gak suka kalau orang lain ngelirik lo" Rena tersipu malu mendengar peekataan cowok itu


"Cuman gue yanh bisa ngelirik lo"


"Iya iya. Lo tenang aja" Rendi menatap dan tersenyum manis kearah Rena


Sebenarnya keduanya belum ada hubungan apa apa walau sebenarnya keduanya sudah saling mencintai, namun sepertinya Rendi masih butuh waktu yang tepat untuk ia mengutarakan perasaannya terhadap cewek itu


Wendi tampak berjalan sendiri sambil pandangannya kebawah. Langkahnya berhenti ketika melihat tiga orang perempuan berdiri dan menghalanginya


"Hai Wendi" ucap perempuan yang bernana Like itu disana


"Lo masih ingat gue?" Wendi menatap cewek itu dan mencoba mengingat ingat siapa perempuan ini


"Gue, cewek yang pernah lo liat ciuman sama Gevan" Wendi akhirnya ingat siapa perempuan itu


"Gue kasih lo peringatan ya, jangan pernah deketin Gevan lagi mulai sekarang"


"Gue gak ada hubungan apa apa sama Gevan"


"Gak ada? Jadi selama ini itu apa?"


"Lo pulang sekolah bareng, datang kesekolah bareng bahkan lo selalu bareng sama Gevan"


"Ck. Gue udah bilang kalau gue sama Gevan itu cuman teman"


"Lo pasti pacaran sama Gevan, atau lo suka sama Gevan?"


"Gue gak pacaran sama Gevan. Lo mau dekatin dia mau pacaran sama dia terserah, gue gak peduli"


"Kalau gitu jauhi Gevan" Wendi sebenarnya merasa kesal dengan ketiga perempuan itu


"Emang lo siapa berani ngomong gitu. Lo pacarnya Gevan, tunangannya? Enggak kan, jadi lo gak ada hak untuk ngelarang gue. Lagian lo kurang kerjaan ngelabrak gue kayak gini, gak ada yang naksir sama lo makanya lo yang ngejar ngejar cowok"


"Jaga omongan lo brengsek" Ucap salah seorang perempuang yang berdiri disamping cewek bernama Like itu


"Mendingan lo ngaca dulu, perbaiki diri biar harga diri lo mahal bukan murahan kayak gini"


Like yang mendengar itu emosi dan dengan cepat menjambak rambut Wendi disana


"Aawwwhhh"


"Lo berani ngehina gue, bangsat" Tiba tiba sebuah tangan memegang tangan Like dan melepasnya secara paksa hingga membuat Like jatuh kelantai


"Lo gak papa li" Kedua temannya itu langsung berjongkok membantu Like disana


"Jangan pernah sentuh dia lagi" Ucap Gevan dengan menekan nada disetiap kata


"Gue juga suka memukul cewek, apalagi cewek yang gak punya sopan santun kayak lo"


Setelah berkata demikian Gevan langsung menarik tangan cewek itu menjauh dari tempat itu menuju tempat yang agak sepi


"Lo gak papa?" Ucap Gevan dengan nada khawatir


"Kenapa lo belain gue?" Gevan menaikkan satu alisnya disana bingung dengan pertanyaan cewek itu


"Gue tanya, kenapa sekarang lo belain gue? Kemarin lo belain dia"


"Gue gak ngerti maksud lo" Wendi tersenyum simpul seolah mengejek Gevan disana


"Lo, pernah ciuman sama dia. Bahkan didepan gue dan gue liat dengan jelas"


"Gue waktu itu khilaf " Wendi tertawa kecil mendengarnya


"Emang semua laki laki sama aja. Setelah puas, ceweknya bakal ditinggalin gitu aja" Tak ada respon dari cowok itu, ia hanya diam menatap Wendi disana


"Mulai sekarang, setiap gue liat lo gue bakal ingat cewek itu"


"Lo gila?"


"Bagaimanapun cewek itu udah berbekas didalam diri lo"


"Gue bahkan udah lupain kejadian itu"


"Gue gak pernah lupa tiap kali gue liat lo"


"Lo mau tau caranya supaya lo lupain kejadian itu?" Wendi terdiam disana menatap Gevan yang juga menatapnya


Dengan gerakan cepat, Gevan menyudutkan cewek itu hingga punggungnya terbentur kedinding yang ada disana


"Gue bakal buat lo lupa dan lo bakal selalu ingat kejadian ini" Gevan perlahan menundukkan kepalanya untuk mendekatkan bibirnya dengan bibir cewek itu


Wendi tak bisa bergerak, ia hanya bisa memejamkan matanya berharap cowok itu tak melakukan hal itu padanya


Gevan semakin dekat dan bibirnya hampir mendarat ke bibir cewek itu hingga kini jaraknya sudah sangat sangat dekat


Gevan kemudian menghentikan pergerakannya, membuka matanya dan tersenyum ketika melihat mimik wajah ketakutan dari cewek itu


"Lo belum cukup umur untuk ini" Wendi yang mendengar itu perlahan membuka matanya dan melihat Gevan sudah menjauh darinya sambil tersenyum tipis


"Lo pikir gue anak TK!" Wendi hendak akan pergi namun lengannya ditarik oleh Gevan kuat


"Gue gak akan ngerusak orang yang gue cintai wen" Wendi menatap cowok itu tepat dimanik matanya


Sebenarnya Wendi tau jika Gevan tulus dan benar benar mencintainya namun entah kenapa, cinta yang ada dalam hatinya itu masih kepada Andre cowok yang bahkan sudah meninggalkannya demi perempuan lain