
...Belajarlah untuk selalu melihat segala sesuatu dari segi positifnya dan jadikanlah itu sebagai pembelajaran untuk kedepannya...
...W...
Wendi memegang pergelangan tangan cowok yang masih setia terbaring diatas ranjang dengan mata tertutup, ia menatap sayu cowok itu berharap matanya terbuka
"Wendi, kamu belum pulang nak?" Mia berjalan mendekati cewek itu
"Ini udah hampir jam sepuluh, besok kamu masih sekolah, Andre biar tante yang jagain ya" Wendi kemudian vangkit berdiri dan segera pamit kepada Mia ibunya Andre
Wendi kini berada di halte didepan rumah sakit tempat Andre dirawat menunggu angkutan umum datang, cewek itu memainkan jarinya disana sambil menundukkan kepala, entah kenapa pikirannya lebih banyak kepada Gevan, ia berharap cowok itu tidak dikeluarkan dari sekolah karna memang ini bukan kesalahan dirinya melainkan kesalahan Andre kekasihnya itu
"Lo belum pulang?" Wendi terkejut lalu mengangkat kepalanya melihat siapa yang mengajaknya bicara
"Gimana keadaan Andre?" Tanya Rendi lalu kemudian duduk disamping cewek itu
"Dia belum siuman, tapi dokter bilang dia baik baik aja"
"Baguslah" Wendi menatap cowok itu, sebenarnya ada hal yang ingin ia tanyakan namun ia masih takut untuk menanyakannya
"Ren, Hmm.. Gevan gimana?" Cowok itu sempat terdiam karna sebenarnya ia sendiripun tidak tahu bagaimana keadaan cowok itu setelah kejadian ini
"Gue gak tau, besok keputusannya dia keluarkan atau enggak" cewek itu hanya mengangguk anggukkan kepala disana
" Gimana perasaan lo setelah lo tau semua sekarang? "
"Gue terkejut. Gue gak nyangka kalau masalahnya kayak gini"
"Itu sebabnya Andre gak mau ngasih tau lo tentang masalah ini"
"Tapi kenapa Gevan selalu nyalahin Andre terkait kematian nyokapnya?. Apa, Andre ada hubungannya dengan kemstian nyokapnya Gevan?" Rendi diam sejenak, berfikir keras untuk bagaimana cara untuk menjelaskannya
"Kenapa lo bilang gitu, lo tau sesuatu?"
"Gue gak tau makanya gue nanya sama lo" cewek itu menatap Rendi yang masih diam disana
"Tapi gue pernah dengar kalau Andre ada ditempat kejadian dimana nyokapnya Gevan meninggal" Rendi terkejut, ia tak menyangka jika cewek itu sudah banyak tahu tentang masalah ini, ia takut jika Wendi tau semuanya sekarang
"Ahmm.. Ini udah larut malam, ayo gue antar lo pulang" cewek itu sebenarnya sedikit kesal ketika pertanyaannya tak ditanggapi oleh cowok itu. Wendi kemudian bangkit berdiri dan naik keatas motor cowok itu dengan wajah kesal yang masih terpancar disana
"Lo gak perlu tau semua wen. Lo belajar baik baik aja" ucap Rendi lalu kemudian melajukan motornya pergi dari tempat itu
...******...
PLAK.....!!!
Melvin menampar pipi cowok itu kuat meluapkan amarahnya kepada Gevan karena sudah membuat Andre putranya terbaring dirumah sakit
"Siapa kamu, sehingga tangan kamu berani nyakitin anak saya" Gevan hanya menundukkan kepala disana, bukannya ia tak berani melawan namun jika dirinya melawanpun tidak akan ada orang yang membelanya
"Kalau terjadi sesuatu kepada anak saya, kamu akan saya tuntut. Ngerti kamu!"
"Dimana orang tua kamu" tanya salah seorang guru bernama Anton yang merupakan wali kelas cowok itu
"Orang tua kamu gak mau datang?" Gevan masih diam, karna dia memang tidak memberitahu orangtuanya tentang masalah ini
"JAWAB SAYA GEVAN"!
"Saya mau dia dikeluarkan dari sekolah" ucap Melvin yang sudah muak dengan cowok itu
"SAYA GAK TERIMA!" semua orang yang ada diruangan itu terkejut ketika seseorang muncul dari luar pintu. Gevan yang tadinya menundukkan kepala kini membulatkan matanya lebar ketika melihat Steven berada disana
"Apa alasan kalian membuat keputusan seperti itu?" Ucap Steven sambil berjalan mendekati Gevan adiknya itu dan menatapnya dalam, sebenarnya ia ingin menangis melihat Gevan namun ia tak mungkin melakukan itu sekarang
"Kamu siapa?" Tanya Pak Anton karna tidak tahu siapa orang yang berani masuk itu
"Saya saudaranya Gevan, orang tua saya tidak bisa datang karna sibuk kerja jadi saya yang menggantikan" dusta Steven membuat adiknya sedikit mengerutkan keningnya karna ia tahu jika perkataan Steven itu hanyalah omong kosong
"Jadi, kamu anaknya Wilson juga?" Ucap Melvin sembati menatap kedua cowok itu secara bergantian
"Yap, betul sekali. Saya memang anaknya Wilson"
"Kamu tau apa kesalahan adik kamu?" Tanya Melvin
"Saya tahu"
"Anak saya sekarang dirumah sakit akibat perbuatan adik kamu"
"Saya tahu om. Tapi sebelum itu, om tau apa kesalahan Andre" Melvin mengerutkan keningnya bingung, tidak tahu maksud dari perkataan Steven
"Gevan gak akan nyerang anaknya om, kalau dia gak cari masalah"
"Kamu nyalahin anak saya?"
"Ya, karna anak om yang cari gara gara duluan sama Gevan"
"Maksud kamu apa!"
"Sudah pak, kita bicara baik baik dulu sekarang" ucap pak Anton mencoba meredakan keributan itu
"Kenapa kalian hanya melihat kesalahan dari satu pihak? Apa karna Andre yang terluka?, adik saya juga terluka tapi kenapa kalian hanya menyalahkan Gevan"
"Adik kamu jelas jelas yang salah, kamu punya pembelaan apa?" Pak Anton juga kini mulai geram dengan kedua remaja itu
"Saya gak mau tau, keluarkan dia dari sekolah ini"
"Kalau Gevan dikeluarkan dari sekolah itu berarti anak Om juga harus dikeluarkan"
"Dasar anak kurangajar. Saya suruh kamu buat mendatangkan orang tua bukan orang gila ini" ucap Pak Anton yang sudah tak tahan lagi
"Steven kemudian mengeluarkan beberala foto yang tertempel dimading sekolah saat kejadian dan memberikannya kepada Melvin
"Om tau ini perbuatan siapa?" Melvin masih sibuk melihat foto yang ada ditangannya itu satu persatu
"Andre. Dia yang nyebarin foto itu disekolah. Kalau Om ada diposisi adik saya, apa Om akan diam aja ketika Om dilermalukan didepan banyak orang?" Melvin diam dan perlahan menatap kearah Steven
"Saya pikir, kalian akan melakukan hal yang sama jika hal seperti itu terjadi"
"Ini bukan pertama kalinya adik kamu bermasalah, jadi dia tetap akan dikeluarkan dari sekolah" Steven yang mendengar itu langsung menatap kearah Pak Anton
"Kenapa?, kamu gak terima saya tidak peduli"
"Saya bisa menuntut kalau Gevan tetap dikeluarkan"
" KAMU MENGANCAM SAYA? "
..."Biarkan dia tetap sekolsh disini"...
...******...
Gevan mengikuti langkah Steven dan berjalan tepat dibelakangnya.
"Kenapa lo bisa tau?" Mendengar itu, Steven menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan
"Menurut lo?"
^^^"Wendi?" Tebak cowok itu yang langsung benar^^^
^^^Flashback^^^
Wendi berjalan cepat, matanya sibuk menjari objek yang ia cari sedari tadi. Ia kini lelah, hampir ingin menyerah namun akhirnya ia menemukan orang yang dirinya cari itu
"Kak" teriaknya kuat membuat Steven dan beberapa orang yang ada disana sontak menatap kesumber suara. Wendi berlari kecil mendekat dimana Steven dan teman temannya berada
"Dia siapa? pacar kamu?" Ucap seorang gadis yang duduk disamping cowok itu
"Bukan. Dia pacarnya Gevan" ucap Steven asal lalu kemudian bangkit berdiri mendekati Wendi
"Kenapa kesini? Lo kangen?" Wendi yang mendwngar itu langsung meninju lengan cowok itu kuat namun Steven hanya tertawa kecil disana
"Ini soal Gevan" mendengar nama itu Steven yang tadinya tersenyum kini langsung berubah menjadi serius
"Gevan? Dia kenapa lagi?" Wendi kemudian merogoh tasnya dan mengambil beberapa foto yang ia dapat dari mading tadi pagi dan memberinya kepada cowok itu
"Gevan berantam sama Andre karna ini dan sekarang Andre dirumah sakit" Steven membulatkan matanya mendengar kabar ini
"Rumah sakit?"
"Emn, Gevan memukul Andre sampe dia gak sadarkan diri dan akhirnya dibawa kerumah sakit"
"Lo kesini buat ngasih tau ini?"
"Gue kesini buat ngasih tau kalau Gevan bakal dikeluarkan dari sekolah larna masalah ini, jadi.." Kalimat cewek itu terpotong, ia ragu untuk mengatakannya
"Jadi kenapa?"
"Dia dapat surat panggilan tapi gue yakin dia gak akan ngasih tau masalah ini sama lo dan kalau besok gak ada yang datang, Gevan bakal di keluarkan dari sekolah. Jadi, gue minta tolong, bantu Gevan biar dia gak dikeluarkan dari sekolah"
"Lo kenapa peduli sama dia? Pacar lo terluka akibat ulahnya Gevan tapi kenapa lo masih peduli?"
"Karna bukan Gevan yang salah kak, Andre yang selalu cari gara gara sama Gevan"
"Gue gak bisa" ucap Steven namun dengan cepat cewek itu memegang tangannya
"Please, bantu Gevan kak"
Itulah yang terjadi setelah semalam Wendi bertemu dengan Gevan di rooftop, cewek itu dengan cepat mencari tau dimana Steven kuliah dan langsung pergi menemuinya
"Lo harus berterimakasih sama Wendi, kalau bukan karna dia lo udah dikeluarkan" kemudian Steven berjalan mendekati Gevan
"Berhenti ngelakuin semua untuk mama" ucap Steven lirih kepada adiknya itu
"Mama udah pergi dan gak akan pernah kembali lagi. Lo harus terima van, bukan cuman lo yang sedih gue juga merasa kehilangan setelah mama pergi. Marah?, awalnya gue marah dan merasa kalau Tuhan itu gak adil tapi kematian adalah hal yang akan dilalui oleh semua orang termasuk lo" Gevan masih diam disana mencermati semua permataan yang terlontar dari mulut saudaranya itu
"Belajarlah untuk melihat semua hal dari segi positif supaya lo gak merasa kecewa dan supaya lo belajar untuk menerima segala sesuatunya dan.." Sebelum melanjutkan perkataannya, cowok itu menarik nafasnya dalam
"Gue mau lo lebih terbuka sama gue, karna gue abang lo" Steven kemudian melangkah pergi dari sana sementara itu Gevan hanya menatap kepergian cowok itu yang kini sudah semakin jauh
...******...
Gevan yang tadinya menundukkan kepala kini menatap kedepan ketika melihat seseorang menyodorkan minuman untuknya
"Gimana keadaan lo?" Gevan memasang wajah malas ketika mengetahui bahwa itu adalah Daniel. Gevan menerima minuman itu lalu kemudian meneguknya
"Lo baik baik aja?"
"Lo gak usah sok peduli setan"
"Gue nanya karna gue khawatir goblok. Harusnya lo bersyukur masih ada orang yang peduli sama lo" Gevan hanya tersenyum miring disana
"Gue tau, lo pasti merasa bersalah setelah lo nonjok gue kemarin. Lo tenang aja, gue udah maafin lo"
"Gue gak pernah menyesal nonjok lo kemarin, gue bahkan pengen nonjok lo sekarang"
"Sialan lo" ucal Daniel kesal lalu meneguk minumannya
"Lo gak dikeluarin dari sekolah itu berkat Wendi, lo mesti traktir dia malam ini"
"Gue gak nyuruh dia buat bantuin gue" Daniel yang mendengarnya terkejut hingga air yang ada didalam mulutnya kuluar
"Lo jadi orang gak tau diri banget ya. Udah dibantuin masih aja berani sombong. Lo tau gimana perjuangan Wendi buat cari dimana Steven kuliah, lo gak tau kan?" Tak ada jawaban dari cowok itu, Gevan masih sibuk menatap kedepan
"Eh, tapi kadang gue heran sama Wendi. Kenapa dia khawatir banget sama lo sementara pacarnya terbaring dirumah sakit. Atau mingkin... Dia suka sama lo" Gevan dengan cepat memukul kepala sahabatnya itu, merasa tak masuk akal dengan apa yang ia dengar barusan
"Lo kenapa sih, jahat banget sama gue"
"Lo yang kenapa?. Teori lo gak masuk akal"
"Lah trus, kenapa coba dia sampe segitunya buat cari cara biar lo gak dikeluarin dari sekolah"
"Gue gak peduli dengan itu"
"Gue peduli. Dia pasti suka sama lo"
"Lo ngomong sekali lagi, gue dorong lo sampe jatuh" Daniel langsung bungkam dan menatap kesal cowok itu
"Kalau lo bunuh gue, lo gak bakalan punya teman lagi karna didunia ini cuman gue yang mau berteman sama makhluk aneh kayak lo"
"Lebih dari lo gue bisa dapat. Gue cuman kasihan sama lo makanya gue mau berteman sama lo" ucap Gevan dengan santainya disana
"Kasihan kata lo?" Daniel kini bangkit berdiri dan berjalan mendekati keberadaan Gevan
"Lo bilang apa tadi?"
"Gue bilang kalau gue sayang sama lo"
"Nah kan, lo baru akui sekarang kalau lo benar benar membutuhkan gue dihidup lo"
"Ck, najis" Daniel hanya tertawa disana disana. Daniel adalah satu satunya orang yang mengerti dirinya bahkan dia adalah orang yang selalu sabar dengan sifatnya itu sebabnya Gevan tidak ingin jika hubungan antara keduanya rusak bahkan Gevan sudah menganggap Daniel seperti saudaranya sendiri.