
...Jangan tunggu sampai benar benar SAKIT untuk segera pergi...
Seperti biasa, saat jam istirahat tiba akan banyak laki laki bermain bola basket dilapangan walau dibawah terik matahari sekalipun. Itulah yang terjadi sekarang, Andre serta kedua sahabatnya ikut turut bermain basket dilapangan dengan penuh semangat
“Woi Ren, lempar sini”
Mendengar itu cowok itu langsung melempar bola kepada orang yang menyuruhnya itu namun sayang, bola itu malah diambil alih oleh Andre dan langsung mendribel bola itu mendekati ring dan kemudian memasukkannya kedalang ring basket
“YEAHHH” Teriak cowok itu kuat merasa bangga dengan kemenangannya
“Lo emang hebat” Ucap Rizal sambil menepuk punggung cowok itu
“RENDIIII”
Bukan hanya Rendi, kedua sahabatnya pun terkejut mendengar suara teriakan yang melengking itu
“Ini, aku bawain minum buat kamu” Ucap Rena sambil memberi botol minuman yang sengaja ia beli untuk kekasihnya itu
“Makasih”
“Jadi monster laut ini pacar lo sekarang” Ucap Rizal dengan santainya yang langsung dipukul kuat oleh cewek itu
“AWW”
“Mulut lo tuh yang monster laut” Rendi juga Andre yang melihat itu hanya tersenyum tipis
“Gue mau cabut dulu” Andre pun segera pergi dari sana
“Ren, kantin yok. Gue lapar”
“Lo duluan aja nanti gue nyusul”
“Emang lo mau kemana?” Rendi pun memajukan kepalanya seolah menunjuk kearah perempuan yang tengah berdiri didepannya itu
“Ck, mentang mentang sekarang lo punya pacar lo ninggalin gue sendiri”
“Lo tuh emang pantas sendiri tau gak?”
“Diam lo monster laut” Rena hanya mengerucutkan bibirnya disana
“Udah, jangan berantam lagi. Ayo, kita pergi” Rendi langsung menggenggam tangan kekasihnya itu dan membawanya pergi dari sana
“Woi, lo ninggalin gue!” Rendi yang mendengar itu hanya melambaikan tangan sambil membelakangi dirinya
“Sial. Teman brengsek lo semua”
Andre berjalan lurus sambil sesekali mengusap keringat yang berucuran dari pelipisnya akibat bermain basket dilapangan tadi. Sekarang dirinya ingin pergi menuju kelas Yeri kekasihnya itu untuk menemuinya
Andre berjalan sambil melihat sekeliling hingga pandangannya bertemu dengan seorang cowok yang berjalan berlawan arah dengannya.
Cowok itu sempat menghentikan langkahnya beberapa detik sebelum kemudian ia kembali melangkah
“Lo pacaran sama Wendi?” Pertanyaan itu membuat Gevan terpaksa menghentikan langkahnya
“Mau gue pacaran atau enggak itu bukan urusan lo”
“Gue tau. Gue cuman heran aja, karna setau gue Wendi itu cuman sayang sama gue dan dia gak pernah punya perasaan sama lo”
“Kalaupun ucapan lo benar, apa urusannya buat lo?” Andre tersenyum tipis kemudian menghadap kepada cowok itu
“Gue khawatir aja kalau sampai Wendi buka hati sama lo”
“Khawatir? Lo masih punya rasa khawatir sama dia setelah apa yang lo lakuin?” Gevan kemudian memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celananya
“Lo gak perlu khawatir karna gue gak sebrengsek lo”
“Lo yakin dengan ucapan lo? Gue emang brengsek tapi setidaknya gue gak pengecut kayak lo” Gevan hanya diam menatap lawan bicaranya itu dengan serius
“Lo emang selalu menang dari gue dalam segala hal, tapi lo tau? Lo gak akan pernah menang ngerebut hatinya Wendi dari gue” Gevan mengangguk anggukkan kepalanya disana
“Bahkan kalau gue minta balikan sekarangpun gue yakin Wendi masih mau nerima gue”
“Lo benar, gue emang gak akan pernah bisa dapatin hatinya Wendi, tapi lo juga harus tau satu hal. Gue gak akan pernah biarin Wendi jatuh ketangan orang yang udah nyakitin dia”
Andre yang mendengar itu langsung merubah raut wajahnya menjadi raut wajah marah dan tak terima dengan ucapan cowok itu dan saling bertatapan satu dengan yang lain
“Ndre”
Keduanya serentak menoleh kearah sumber suara dan langsung kembali keposisi semula
“Ka,,kamu gak papa?” Tanya cewek itu yang takut jika Gevan menghajar kekasihya itu
“Aku gak papa kok. Kita pergi dari sini” Andre pun langsung membawa pergi cewek itu dari sana karna dirinya tak mau jika Yeri turut ikut campur dengan masalah antara dirinya dan Gevan
“Gevan”
Gevan menoleh kesamping lalu tersenyum lebar ketika melihat bahwa orang yang memanggilnya itu adalah Wendi
“Lo ngapain berdiri disini?” Tanya cewek itu yang heran melihat cowok itu berdiri sendiri tanpa ada orang lain disana
“Gue. Gue pengen berdiri disini aja” Wendi hanya mengerutkan keningnya bingung dengan jawaban yang baru saja ia dengar
“Tumben lo nyariin gue. Lo kangen?”
“Hah”
“Gue bercanda. Kenapa?”
“Gue lapar” Gevan yang mendengar itu hanya menatap kearah lawan bicaranya disana
“Gue lupa bawa uang makanya gue nyariin lo buat traktir gue”
“Traktir?” Ulang Gevan sambil tertawa mendengar perkataan cewek itu
“Harusnya lo bilang mau minjam uang bukan malah minta traktir. Lo pikir nyari uang gampang” Wendi langsung dengan sigap menggandeng tangan cowok itu sambil tersenyum lebar
“Pleasee, gue udah lapar banget nihh”
“Gak”
“Ayo dong van”
“Cium gue baru gue mau”
Wendi yang mendengar itupun langsung melepas gandengannya dan meninju dada cowok itu sekuat tenaga yang ia miliki sampai Gevan meringis kesakitan disana
“Makan tuh. Dasar cowok mesum. Gue tunggu lo dikantin gue gak mau tau” Gevan menatap kepergian cewek itu dengan tangan yang masih memegang dadanya yang sakit akibat pukulan cewek itu
“Tunggu wen”
...********...
“Iya re. Lo tenang aja. Lagian udah biasa kok keluar malam kayak gini, lo tau kan gue orangnya suka lapar tengah malam”
“Gue tau, tapi ini udah hampir jam, 12 malam wen”
“Iya bawel. Gue udah dekat kok”
”Oke, hati hati ya wen”
“Iya, gue tutup ya” Wendi kemudian menutup telfonnya dan kembali berjalan
Malam ini perutnya tiba tiba merasa kelaparan sehingga cewek itu memutuskan untuk pergi ke supermarket yang lumayan jauh dari kediamannya untuk membeli beberapa makanan
Sepi, karna memang jam sudah menunjukkan hampir jam 12 malam dan jalan menuju rumah cewek itu harus melewati gang sepi dan sedikit gelap
Tiba tiba, Wendi merasa jika dirinya sedang diikuti sesorang dari belakang. Cewek itu menoleh namun tak ada orang, dia kembali berjalan dan detak jantungnya semakin kuat akibat ketakutan
Wendi kemudian mengambil ponselnya dan mencoba mencari Gevan di ponselnya dan langsung menghubunginya namun cowok itu tak mengangkat panggilannya
“Van, please angkat telfon gue”
Cewek itu kembali memanggil nomor itu namun tetap nihil tidak ada jawaban
Keringat mulai bercucuran disana dan rasa takut mulai membara, dengan keberanian cewek itu menghentikan langkah kakinya dan perlahan menoleh kebelakang dann..
“AAAAHHKKK”
Gevan yang baru saja sampai dirumahnya langsung turun dari atas motor dan masuk kedalam rumah
“Dari mana aja lo”
“Rumah Daniel” Gevan meraba saku celananya dan baru sadar jika ponselnya tidak ada disana
“Lo liat handphone gue?”
“Di kamar lo” Gevan merasa lega mendengarnya, ia pikir ponselnya itu akan hilang
Gevan menaiki anak tangga menuju kamarnya, cowok itu membaringkan tubuhnya di kasur dan tangannya mengambil ponsel itu
Mata cowok itu terbuka lebar ketika melihat ada 18 panggilan tak terjawab dari Wendi disana.
Gevan kemudian bangun dan langsung menghubungi nomor itu namun nomor itu tiba tiba tidak bisa dihubungi
Tiba tiba sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal olehnya yang berisi “Datang sekarang kalau lo mau cewek lo selamat”
Melihat pesan itu, Gevan dengan cepat langsung pergi menuju tempat yang baru saja dikirim padanya
“Mau kemana lagi lo” Tanya Steven namun tak ada jawaban disana
“Woi van, Papa bentar lagi pulang”
Sementara itu, pesan yang sama juga diterima oleh Andre disana membuatnya diam beberapa saat
“Ndre, kenapa?” Cowok itu perlahan menoleh kearah Yeri kekasihnya itu
“Gak papa, aku pulang yah”
“Kamu hati hati ya” Andre tersenyum mencoba menyembunyikan kejadian itu disana
Setelah pamit, Andre kemudian melajukan mobilnya menuju alamat yang baru saja dikirim nomor yang tak dikenal itu
Wendi perlahan membuka matanya dan melihat segerombolan laki laki tengah berdiri disana. Cewek itu menatap sekeliling ruangan itu dan air matanya mengalir disana
Tangannya diikat kebelakang dengan posisinya duduk dilantai, ruangan itu sepi dan tampak hanya dirinya dan segerombolan laki laki itu disana
“Lo siapa?”
“Lo gak perlu tau gue siapa”
“Lepasin gue!!” Kemudian cowok yang diketahui bernama Vino itu berjalan dan berjongkok didepan cewek itu
“Lo tenang aja, gue gak nyakitin perempuan cantik kayak lo” Rasa takut cewek itu semakin besar disana.
Matanya kemudian melihat sekeliling berharap jika Gevan datang untuk menolongnya
“Lo pacarnya Gevan?” Tanya cowok itu namun tak dijawab oleh lawan bicaranya
“Gue peringatin lo untuk gak percaya sama Gevan. Dia bukan orang baik baik. Dia hanya berpura pura baik didepan lo”
“Lepasin gue brengsek!” Ucap Wendi memberanikan dirinya disana
Mendengar itu, Vino tertawa sinis merasa lalu dengan segala emosi ia mengepalkan tangannya hendak akan memukul wajah cewek itu namun ditahan oleh cowok itu
“Jangan buat gue terlihat seperti pengecut”
“Kayaknya dia udah dekat vin” Ucap salah seorang cowok disana
“Cabut”
Vino dan teman temannya kemudian pergi dari sana meninggalkan Wendi yang kini hanya menangis ketakutan disana
Berharap Gevan datang menolongnya dan membawanya pergi dari tempat itu. Itulah yang cewek itu harapkan sekarang
Tiba tiba seseorang berlari dan masuk kedalam ruangan itu dan mendekati cewek itu. Wendi melihat objek itu dan ternyata itu adalah Andre bukan Gevan seperti yang ia harapkan
“Lo gak papa wen?” Ucap Andre disana dengan raut wajah khawatir
Andre kemudian melepaskan ikatan yang ada ditangan cewek itu lalu mencoba memeriksa kembali jika memang tidak ada yang terluka dari cewek itu
“Lo pasti takut banget kan?”
Andre kemudian memeluk cewek itu lembut, mencoba memberinya ketenangan disana sementara itu Wendi hanya bisa menangis meluapkan rasa takutnya dipelukan cowok itu
Gevan berlari masuk kedalam bangunan yang tampak sudah tak berpenghuni itu dan mencoba mencari dimana keberadaan Wendi
“Wen, Wendii”
“Wendiii” Cowok itu berlari kesana kemari mencari jejak cewek itu namun ia tak menemukannya
Sampai kemudian lima orang laki laki muncul dan berjalan mendekati cowok itu. Gevan memicingkan matanya mencoba melihat siapa orang yang ada disana
“Hai Gevan”
Sapa Vino sambil tersenyum disana sementara Gevan hanya diam, ternyata dirinyaberhasil masuk kedalam perangkap cowok itu
“Lo masih ingat gue kan. Gue Vino, cowok yang lo keluarkan dari sekolah”
“Dimana Wendi, jangan coba coba lo nyakitin dia” Vino tersenyum seolah mengejek lawannya itu disana
“Lo tenang aja, dia baik baik aja gue gak sejahat itu van”
“Dia dimana, lo sembunyiin dia dimana!!”
BUUKKKK…..
Vino meninju kuat wajah cowok itu disana hingga membuatnya terjatuh kelantai
“Lo tau berapa lama gue menantikan moment ini. Semenjak gue dikeluarkan dari sekolah, gue setiap hari selalu mikirin lo, gue pengen lo ngerasain sakit seperti gue juga”
Gevan menatap tajam cowok itu dan mencoba mengatur nafasnya disana
“Lo merasa kalah dari gue? Gue gak pernah ngeluarin lo dari sekolah itu semua karna kebodohan lo sendiri”
“Lo bakal menyesal dengan perkataan lo” Vino kemudian memberi isyarat kepada teman temannya untuk memegang Gevan disana agar tak bisa melawan
Vino kemudian mulai menendang perut cowok itu disana sekuat tenaga mencoba meluapkan semua amarahnya disana
Dia adalah Vino yang dulunya satu sekolah dengan Gevan saat dibangku SMP. Vino dikeluarkan dari sekolah ketika sudah duduk dibangka kelas IX karna perkelahian yang terjadi antara dirinya dan Gevan yang berakibatkan dirinya dikeluarkan dari sekolah sementara Gevan tidak
Alasan kenapa Gevan tidak dikeluarkan dari sekolah adalah karna kedua orang tuanya yang membayar pihak sekolah untuk tidak memberi hukuman padanya. Vino yang mengetahui itupun merasa tak terima dan timbul dendam dalam dirinya terhadap Gevan
Bertahun tahun Vino mencari dimana keberadaan Gevan yang akhirnya bisa dia temukan dan inilah saatnya Vino untuk membalaskan dendamnya
“Lo harus terima hukuman sekarang” Ucap Vino sambil terus menghajar cowok itu disana
Sementara itu disana, Andre melepas pelukannya lalu merapikan rambut cewek yang berantakan itu
“Kita pulang ya” Wendipun menganggukkan kepalanya disana
Andre membawa cewek itu untuk masuk kedalam mobilnya dan membawanya segera pergi dari tempat itu
Gevan kini terkapar dilantai tak berdaya lagi, tenaganya sudah habis disana. Vino yang melihat itu tersenyum puas, kini rasa dendamnya sedikit terobati ketika melihat Gevan sudah tak berdaya disana
“Kita pergi” Vino dan teman temannya akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari sana
Gevan perlahan mencoba untuk bangkit berdiri dengan sekuat tenaga, ia memejamkan matanya disana. Rasa sakit disekujur tubuhnya membuatnya beberapa kali meringis kesakitan
Andre menghentikan mobilnya ketika sampai didepan rumah kediaman cewek itu. Keduanya segera turun dari dalam mobil
“Makasih ya ndre”
“Sama sama”
Keduanya serentak menoleh ketika melihat sebuah motor besar berhenti tepat didepan keduanya
“Lo gak papa wen?” Tanya Gevan langsung tanpa basa basi dengan wajah khawatir
“Lo kemana aja. Lo tau gue ketakutan”
“Wen, gu”
“Kenapa lo gak ada disaat gue butuh sama lo. Lo bilang kalau lo sayang sama gue tapi nyatanya apa, lo malah menghilang saat gue benar benar butuh lo”
Gevan hanya bisa diam disana merasa tak ada gunanya jika ia memberitahu yang sebenarnya sekarang
“GUE GAK BUTUH LO LAGI DAN MULAI SEKARANG JANGAN PERNAH GANGGU GUE LAGI. PERGI LO!!”
Wendi kemudian pergi masuk kedalam dengan rasa kecewa meninggalkan kedua cowok itu disana
Andre menatap Gevan dari atas sampai kebawah lalu menarik nafasnya panjang
“Ternyata lo sampai detik inipun masih menjadi pengecut” Gevan hanya diam disana
“Kenapa lo gak bilang kalau sebenarnya lo datang buat nolongin dia. Lo babak belur kayak gini itu karna nolongin dia kan?”
“Itu bukan urusan lo”
“Berhenti jadi cowok pengecut kayak gini”
“Lebih baik lo diam aja”
Gevan yang tak mau ribut pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana
Steven terkejut ketika melihat wajah adiknya itu dipenuhi luka
“Lo kenapa van?” Gevan tak memperdulikannya dan hanya berjalan lurus kedepan
“Van, lo gak papa?”
“Kamu berantam lagi?” Mendengar itu Gevan langsung menghentikan langkah kakinya disana
“Kamu berantam dengan siapa lagi sekarang”
“gevan capek Pa, Gevan mau istirahat” Setelah mengatakan itu cowok itu langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya
“Gevan. Gevan ….”
“Udah Pa, biar aku yang tanya” Steven akhirnya memutuskan untuk pergi kekamar sang adik mencoba mengajaknya untuk bicara baik baik
“Gue pengen sendiri” Ucap Gevan yang sadar kehadiran kakaknya itu disana
“Lo ada masalah?”
Gevan hanya diam disana, tak ingin jika kakanya itu tau tentang apa yang terjadi padanya
“Gue gak akan maksa lo buat cerita ke gue tapi gue juga pengen tau apa yang sedang lo alami sekarang. Kalau lo ada masalah, gue mau lo cerita ke gue van setidaknya lo hargain gue sebagai kakak lo”
Setelah berkata demikian, Steven kemudian pergi dan menutup pintu kamar adiknya itu disana.
Sakit hati yang teramat dalam kini ia rasakan sekarang, pikirannya kacau, hancur tidak tahu harus bagaimana sekarang, mungkin jalan terbaik baginya adalah berhenti untuk mencintai cewek itu sekarang…..