It'S Hurt

It'S Hurt
BINGUNG



...Jangan pernah mengharapkan yang sudah pergi untuk kembali karna apabila ia kembali pun, itu tidak akan bisa membuat semua kembali seperti semula...


Yeri tampak tengah berjalan keluar dari dalam kelasnya. Cewek itu tiba tiba berhenti ketika melihat Wendi berdiri tepat didepannya dengan kedua tangan dilipat didada


“Gue mau ngomong sama lo”


“Lo mau ngomong apa lagi? Lo mau nyalahin gue atas masalah yang terjadi antara lo sama Andre?” Cetus Yeri yang sudah tau maksud dan tujuan cewek itu mengajaknya bicara


“Lo masih belum sadar?” Yeri mengerutkan keningnya ketika mendengar perkataan itu


“Lo masih merasa kalau semua ini terjadi bukan karna lo?”


“Emang salah gue apa? Lo jangan sembarangan ngomong ya, Andre mutusin lo itu karna lo udah buat dia gak nyaman sama lo bukan karna gue”


Wendi tertawa sinis mendengar omong kosong dari perempuan itu, ia bahkan sudah muak dengan sifat cewek itu


“Lo pikir gue gak tau? Lo pikir gue bodoh?” Wendi sedikit melangkahkan kakinya kedepan untuk bisa lebih dekat dengan lawan bicaranya


“Lo pikir gue gak tau kalau lo selama ini suka sama Andre?” Yeri haya diam mematung menatap cewek didepannya itu


“Apa lo puas setelah lo berhasil merusak hubungan orang? Lo puas? Lo bahagia dengan kelakuan busuklo itu?”


“Tutup mulut lo! Gue gak pernah merusak hubungan lo sama Andre. Berhenti memfitnah gue kayak gini wen”


“Fitnah? Lo bilang gue memfitnah?” Wendi kini semakin mendekatkan dirinya dengan gadis itu sambil menatapnya tajam


“Lo harusnya ngaca wen. Lo yang udah buat Andre gak nyaman sama lo, lo yang buat dia menjauh dari lo dan itu gak ada sangkut pautnya ke gue. jadi gue mohon lo berhenti buat nyalahin gue”


“Dasar perempuan MURAHAN!” 


“Apa?” Yeri benar benar dibuat terkejut dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulut lawan bicaranya itu


“Lo gak tau gimana sakitnya hati gue sekarang. Lo bahkan berlagak seolah olah lo gak melakukan kesalahan apapun. Gue jamin, suatu saat lo bakal ngerasain gimana rasanya ada diposisi gue yang sekarang ini”


Wendi hendak akan berbalik badan untuk segera pergi dari sana namun tiba tiba suara serak seorang laki laki yang memanggil namanya berhasil menghentikan pergerakannya disana


“Gue dengar semua” Ucap Andre berjalan sambil mendekatinya


“Sampai kapan lo bersikap kekanak kanakan kayak gini wen?” Wendi masih diam menatap cowok itu disana


“Masalah gue mutusin lo gak ada hubungannya dengan Yeri, semua itu atas dasar kesalahan lo sendiri wen”


“Lo belain dia?”


“Gue belain dia karna memang disini jelas lo yang salah”


“Gue? Salah?.” Air mata cewek itu kini kembali turun namun dengan cepat cewek itu menyekanya dengan kedua tangannya


“Gue bahkan udah ngelakuin semua yang gue bisa buat lo ndre, gue selalu mengalah, gue selalu menuruti apa yang lo mau, gue yang selalu diam ketika lo marah marah dan segampang itu lo pergi dan ninggalin gue demi,,”


“Wen” Andre membasahi bibirnya yang kering lalu menatap Wendi yang tepat berdiri didepannya


“Gue mau lo berhenti. Gue mau lo pergi jauh dari kehidupan gue dan jangan pernah ganggu gue maupun Yeri lagi mulai sekarang. Ingat satu hal, gue udah lupain lo dan sampai kapan pun gak akan pernah kembali lagi seperti dulu”


Setelah berkata itu, Andre langsung menggenggam tangan kekasihnya Yeri untuk pergi dari sana tanpa mau memperpanjang percakapan itu lagi


...*******...


Gevan kini berada diruang musik sendirian ditemani dengan gitar yang kini tengah ia mainkan disana. Cowok itu memetic senar gitar sehingga menghasilkan melodi yang indah. Sedang sibuk memainan gitar tiba tiba dirinya dikejutkan dengan kehadiran sahabatnya Daniel yang kini sudah berada disamping cowok itu


“Lo sendiri? Wendi dimana?” 


“Gue gak tau”


“Biasanya lo selalu bareng sama dia” Perkataan itu tak ditanggapi oleh Gevan dan hanya fokus memainkan gitar yang ada di pangkuannya itu


“Lo suka sama Wendi?” Tanya Daniel dengan mimic wajah penasarannya


“Gak”


“Jujur lo van, gue udah lama kenal sama lo. Lo gak bakal dekat sama cewek kalau lo gak suka”


“Terserah lo” Jawab cowok itu singkat namun dirinya tetap fokus dengan gitar disana


“Lo bilang suka aja gengsian banget. Gue selama ini perhatiin lo selalu ada buat Wendi, dia sedih lo ada disamping dia, lo bahkan selalu ada disampingnya Wendi dan lo rela ngelakuin apapun buat dia. Lo masih bilang kalau itu bukan cinta?”


Gevan yang mendengar itu langsung berhenti memainkan gitar dan menatap sahabatnya itu


“Gue cuman merasa bersalah aja sama dia” Daniel tertawa kecil mendengar perkataan Gevan yang tak masuk akal disana


“Lo masih belum ngaku dengan perasaan lo?” Daniel menatap serius sahabatnya itu sambil menepuk pundaknya


“Ketika lo udah bertindak sampai sejauh ini, itu bukan karna lo merasa bersalah van tapi karna lo udah cinta dan sayang sama dia”


Gevan mencerna semua perkataan sshabatnya itu, sebenarnya ia sendiripun tidak tahu mengapa dirinya melalukan semuanya untuk Wendi. Dirinya bahkan benci ketika mendengar cewek itu masih mencintai laki laki yang bahkan sudah menyakitinya itu


Apa benar ini pertanda bahwa dirinya sudah mencintai Wendi? Tapi sejak kapan? Gevan sendiri tidak menyadari hal itu. Gevan bahkan tak menyangka jika benar bahwa dirinya memang jatuh cinta terhadap cewek itu.


...*******...


“Ayo pulang” Ajak cewek itu tiba tiba namun Gevan masih diam menatap cewek itu


“Kenapa bengong?”


“Tumben?. Lo mau apa lagi sekarang?”


“Ck, gue lagi gak mau cari masalah sama lo. Gue cuman mau pulang hari ini”


“Kenapa?”


“Gak papa”


“Kenapa?” Ulang cowok itu dengan nada bicara yang sedikit dinaikkan


“Pertayaan lo banyak banget. Ayo pulang” Gevan pun langsung merunuti perintah cewek itu dan segera menyalakan motor miliknya dan pergi dari sana. 


Selama diperjalanan keduanya tidak melakukan percakapan apapun. Namun sesekali cowok itu melirik Wendi dari kaca spion motornya, terlihat sesekali cewek itu menyeka air mata itu sebelum kemudian turun membasahi pipinya.


Apa lagi sekarang? Apa Wendi akan sedih seperti ini terus? Gevan bahkan tak tega ketika melihat cewek itu selalu menangis dan terpuruk seperti ini karna itu juga menyakiti perasaan Gevan. 


Motor cowok itu kemudian berhenti tepat dimana Wendi tinggal. Cewek itu turun dari motor lalu merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Makasih”


“Tunggu” Ucap Gevan disana lalu kemudian turun dari atas motornya mendekati cewek itu


“Kenapa” Tanya Wendi, namun cowok itu diam kebingungan disana


“Van”


“Hmm, lo masih sedih?” 


“Gue lagi gak mau bahas itu van”


“Oh,,maaf. Kalau gitu gue pulang”


“Hm. Hati hati”


Tanpa banyak basa basi lagi, Wendi kemudian membalikkan badan segera masuk kedalam meninggalkan Gevan yang hanya bisa menghela nafas disana


Wendi kini kembali menangis entah sudah kesekian kali dirinya sibuk menangis. Hatinya benar benar sangat sakit, terluka, hancur bagaikan kapal pecah yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi seperti semula.


Sebegitu teganyakah Andre meninggalkannya seperti ini? Apa dosa cewek itu terlalu besar sehingga dirinya harus menerima semua ini? Disaat ia sudah kembali percaya dengan cinta namun disaat itu pula Wendi menerima rasa sakit yang bahkan tidak akan bisa dirinya lupakan.


Wendi menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis tersedu sedu disana. Satu hal yang sangat ia harapkan adalah, bahwa Andre kembali berbalik dan keduanya bisa saling memperbaiki semua seperti semula


...*******...


Wendi berlari menuruni anak tangga ketika dirinya melihat Gevan sudah ada didepan rumahnya menunggunya untuk pergi kesekolah bersama. 


“Ayo” Wendi yang mendengar ajakan itu langsung bergerak menuju jok belakang dan duduk disana.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai disekolah. Keduanya langsung turun dan berjalan secara beriringan namun sebelum Gevan menuju kelasnya, dirinya terlebih dahulu mengantar Wendi sampai kedepan kelasnya


“Lo harusnya gak perlu antar gue sampai kesini” Ucap cewek itu


“Gak papa, gue ikhlas kok” Gevan menatap wajah cewek didepannya itu dengan lembut


“Lo, jangan sedih lagi ya”


Wendi hanya tersenyum tipis lalu pergi masuk kedalam kelasnya. Gevan berbalik badab dan terkejut ketika dihadapannya berdiri Rena yang merupakan sahabat dari Wendi


“Lo ngantarin Wendi sampai kesini?” Ucap Rena dengan nada seolah ia tak suka dengan keberadaan Gevan disana


“Lo senang kan sekarang ketika lo liat mereka putus?” Gevan masih diam disana menatap cewek didepannya itu


“Dari awal gue udah gak suka sama lo. Gue tau sebenarnya alasan lo deketin Wendi itu untuk merusak hubungan mereka kan? Dan sekarang lo pasti puas karna rencana lo berhasil, lo udah berhasil merusak semuanya. Kalau saja lo gak muncul dikehidupannya Wendi, gue yakin mereka pasti baik baik aja tapi nyatanya didunia pasti ada yang namanya SETAN”


“Lo udah selesai bicara?” Rena yang mendengar itu tertawa sinis merasa kesal


“Mulai sekarang, lo harus jauhin Wendi “


“Itu hak gue bukan hal lo” 


“Lo mau apa sih sebenarnya? Lo mau buat rencana apalagi hah?” Gevan yang sudah pusing dengan perkataan cewek itu langsung melangkah pergi dari sana


“Lo suka sama Wendi?” Perkataan itu mampu menghentikan langkah kaki cowok itu


“Lo suka sama Wendi?” Gevan perlahan kembali membalikkan badannya untuk menatap Rena yang menatapnya dengan tatapan seolah meminta jawaban dari mulut cowok itu.


Gevan diam beberapa saat, ia tidak tau harus menjawab dengan kata apa, bahkan dirinya pun tak mengerti apa yang menjadi alasannya selalu ada untuk Wendi


“Iya. Gue suka sama Wendi”