It'S Hurt

It'S Hurt
Pedih



...Tidak perlu terlalu berharap jika kita sendiri sudah tau akhirnya seperti apa...


“Pengumuman pengumuman” Teriak seorang perempuan yang bernama Devi itu disana. Dia adalah seorang siswi berparas cantik dan termasuk salah satu siswa terkaya disana


“Gue ngundang lo semua buat datang ke pesta ulang tahun gue nanti malam jam 7 malam. Gue gak butuh kado dari lo semua gue cuman mau lo semua datang. Okeee “ Ucap cewek itu dengan manja yang serentak dijawab oke oleh semua siswa disana


“Wen, lo datang ya. Ajak pacar lo si Gevan itu” Ucap Davi kepada Wendi yang sekarang tengah duduk dikantin sendirian


“Dia bukan pacar gue”


“Lo gak usah malu malu. Lo berdua cocok kok” Ucap davi sambil mengacungkan kedua jempolnya kepada cewek yang kini hanya menatap malas kearahnya


“Oke, pokoknya lo harus datang. Ngerti lo!” Davi kemudian pergi dari sana setela berkata demikian


Wendi kemudian mengacak acak rambutnya pusing akibat kejadian tadi pagi Gevan memeluk dirinya membuat semua orang menyangka bahwa mereka sudah berpacaran dan itu membuatnya frustasi


“Hai” 


Rena yang baru saja datang itu sedikit terkejut melihat betapa berantakannya wajah sahabatnya itu disana


“Waduhh,,,lo kenapa wen? Muka lo kusut amat?” Wendi tak menjawab dan hanya diam tanpa menatap cewek itu


“Wen, nanti malam lo ikut ke pesta kan?”


“Gue malas”


“Ck, ayolah wen. Lo harus ikut dong”


“Emang lo ikut?” 


“Hooh. Rendi ngajak gue untuk pergi bareng kesana” Wendi hanya bisa menatap Rena yang tersenyum manis kearahnya


“Please wen, lo ikut ya, ya ya ya” 


“Enggak”


“Lo harus ikut wen” Rena masih berusaha untuk membujuk sahabatnya itu


“Enggak re”


“Please….” Ucap Rena memohon disana dengan mimik wajah seperti anak kecil yang tidak dikasih permen oleh orang tuanya…..


...********...


Malam pun tiba dan banyak siswa yang datang dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada cewek yang bernama Davi itu. Pesta itu terlihat amat sangat mewah dan mahal dengan hiasan yang indah dan ada banyak menu makanan yang berbeda beda yang disediakan disana


Seorang perempuan dengan tampilan sederhana yang hanya menggunakan rok pendek berwarna hitam dengan atasan polos berwarna pink berjalan memasuki pesta yang sudah ramai itu.


Wendi melihat sekelilingnya yang mengenakan dress dan berdandan bagus namun ia tak memperdulikan itu karna sebenarnya Wendi sengaja berdandan polos disana karna dia akan pulang setelah mengucapkan selamat kepada Davi


“Wendiiiii” Suara teriakan yang sudah sangat familiar itu terdengar oleh cewek itu membuatnya menoleh kesamping


“Lo?” Perkataan itu terpotong karna terkejut melihat penampilan polos dari sahabatnya itu


“Lo, kenapa pake pakaian begini?”


“Emang salah?”


“Enggak sih, tapi lo harus menyesuaikan dengan keadaan dong wen”


“Udahlah re, lagian gue juga gak lama kok”


“Hai wen” Sapa Rendi yang tiba tba muncul entah dari mana


“Lo gak bareng sama Andre?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut cewek itu membuat Rena yang mendengarnya memukul pelan lengan Wendi


“Dia bareng sama Yeri” 


“Ohw”


“Oke guyssss, thank you so much karna udah mau hadir di pesta gue” Mata semua orang kini tertuju kepada Davi yang ada ditengah pesta sambil memegang mic ditangannya


“Malam ini, kita akan adakannnnnn…….DANSAaaaa”


“Huuuuuu” Teriak semua orang disana kegirangan


“Jadi lo semua boleh berdansa dengan pasangan masing masing ya”


Rendi yang mendengar itu menatap Rena yang berdiri tepat disampingnya.


Ia ingin mengajak Rena berdansa dengannya namun sepertinya Rendi sedikit ragu disana


Musik pun diputar dan langsung para siswa disana mengajak pasangannya masing masing untuk berdansa disana termasuk Andre dan juga Yeri yang sudah bedansa disana


“Re, lo mau dansa bareng gue?” Rena terkejut dan menatap kearah Rendi yang sudah mengulurkan tangannya disana


Dengan senyum bahagia Rena perlahan mengulurkan tangannya pertanda ia mau berdansa dengan Rendi. Keduanya pun kemudian langsung berlari ketegah pesta dan mulai berdansa disana


Sementara itu, Wendi hanya tersenyum melihat kedua sahabatnya itu disana. Cewek itu hanya berdiri melihat orang orang yang sedang berdansa itu dan matanya beralih kepada sepasang kekasih yang terlihat sangat mesra itu yakni Andre dan juga Yeri disana


Keduanya tampak sangat menikmati pesta itu, terlihat dari raut wajah bahagia antara keduanya. Jika mungkin dirinya belum putus dengan Andre maka pastilah Wendi yang ada diposisi Yeri sekarang, namun apa daya itu sudah tidak mungkin lagi sekarang


Tengah asyik menatap pasangan itu, seorang laki laki tiba muncul dihadapan Wendi sehingga menghalangi pemandangannya. Cowok itu berpakaian rapi bersih dan wangi sehingga terlihat sangat tampan


“Gue pikir lo gak datang”


“Awalnya sih iya tapi Rena ngajak gue untuk ikut” Gevan memasukkan kedua tangannya kedalam saku lalu menatap penampilan cewek itu dari atas sampai kebawah


“Lo datang ke pesta dengan penampilan seperti ini?” 


“Gue malas berdandan” 


“Itu adalah jawaban yang tepat” Ucap Gevan penuh semangat sambil merangkul cewek yang kini terkejut dengan tingkah lawan bicaranya itu


“Lo gak perlu dandan karna lo udah cantik natural” Wendi membuang mukanya malas disana


“Apaan sih” Gevan yang melihat itu hanya tertawa disana. Gevan kemudian menatap sekeliling sebelum kembali menatap cewek itu


“Lo mau dansa?” 


“Hah?”


“Ayo, kita dansa bareng” Tanpa persetujuan dari Wendi, cowok itu langsung menarik tangan Wendi disana dan membawanya ketempat dimana orang orang sedang berdansa


“Gue gak bisa dansa van”


“Gue juga gak bisa”


“Jadi lo ngajak gue dansa buat apa?”


“Buat gue bisa liatin lo terus”


Gevan tersenyum manis disana lalu kemudian meletakkan tangannya tepat dipinggang  cewek itu dan menariknya untuk lebih dekat dengannya


Keduanya mulai bergerak sedikit demi sedikit mengikuti alunan musik. Gevan sibuk menatap cewek didepannya namun Wendi sama sekali tidak menatapnya dan hanya sibuk menatap kearah lain sesekali melihat kearah Andre dan Yeri


“Gue ada didepan lo tapi kenapa lo gak liat kearah gue?” Wendi yang sadarpun perlahan menatap cowok itu


“Gue harus ngelakuin apa supaya lo bisa sekali aja liat kearah gue?” Ucap Gevan lembut namun tampaknya ada perasaan yang hancur disana


“Gue selalu ada buat lo, gue berjuang buat lo dan bahkan sekarang gue berada tepat didepan lo, tapi kenapa lo menutup mata lo buat gue?”


“Lo tau gimana perasaan gue ketika gue ada buat lo tapi hati lo buat orang lain?” 


“Van, cukup” Wendi kemudian angkat bicara dan melepas rangkulannya begitupun sebaliknya


“Gue mau lo berhenti. Gue gak mau nyakitin lo van dan gue gak mau lo jatuh terlalu dalam” Wendi menarik nafasnya 


“Lo nyuruh gue buat lupain Andre gue gak akan bisa van, lo tau kenapa? Karna gue jatuh cinta terlalu dalam. Jadi gue gak mau lo nantinya kayak gue van”


“Gue udah jatuh cinta terlalu dalam wen” Keduanya saling menatap satu dengan yang lain seolah menyalurkan rasa sakit yang dirasakan oleh keduanya


“Maka dari itu lo harus berhenti van karna gue gak akan bisa”


“Gue gak akan berhenti”


“Please van! Gue ga akan pernah bisa untuk itu karna gue masih sayang sama Andre” Gevan yang mendengar itu hanya diam namun sebenarnya hatinya hancur


“Buang perasaan lo karna sampai kapanpun gue gak akan pernah jatuh cinta sama lo”


“Gue gak peduli. Gue gak akan berhenti sebelum lo berhenti buat berharap sama Andre”


“Maka gue juga gak akan berhenti buat jauhin lo” 


Gevan menarik nafasnya panjang dan mundur selangkah menjauh dari hadapan cewek itu. Perasaannya benar benar sakit mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Wendi


“Gue pulang” Ucap Wendi dan segera pergi dari sana


Wendi memejamkan matanya mencoba menenangkan pikirannya.


Sebenranya ia tak berniat untuk menyakiti cowok itu namun kali ini mau tidak mau Wendi harus melakukannya sebagai cara untuk menghentikan Gevan


Cewek itu hendak akan melangkahkan kakinya pergi namun sebuah pemandangan dimana Andre bersama kekasihnya Yeri sedang berdiri dengan keduanya berpegangan tangan.


Beberapa detik kemudian Andre tiba tiba mendekat dan menempelkan bibirnya ke bibir kekasihnya itu tepat dihadapan Wendi


Wendi yang melihat kejadian itu merasa seperti di serang petir, hatinya sakit dan air matanya kembali turun membasahi pipinya.


Dadanya begitu sesak melihat kejadian itu, cewek itu hanya bisa diam berdiri melihat orang yang ia cintai berciuman dengan perempuan yang menggantikan posisinya itu


Tak lama kemudian Gevan tiba tiba muncul dibelakang dan ikut melihat kejadian itu. Gevan melihat Wendi yang berdiri didepannya, ia tahu bagaimana hancurnya perasaan cewek itu sekarang.


Gevan berniat ingin melangkah mendekati cewek itu namun terhenti ketika mengingat apa yang cewek itu sampaikan tadi………


Motor Rendi berhenti tepat didepan rumah dimana Rena tinggal. Cowok itu mengantarnya pulang setelah pesta selesai


“Makasih ya ren” Ucap Rena sambil tersenyum manis kearah cowok itu


“Lo ada kabar dari Wendi?”


Tanya Rendi yang kemudian cewek itu melihat layar ponselnya berharap ada jawaban dari Wendi namun nihil


“Dia bahkan belum baca pesan yang aku kirim dari tadi” Mereka juga bingung melihat Wendi yang pulang tanpa berpamitan 


“Apa mungkin dia pulang bareng Gevan ya?”


“Gue gak tau ren, besok biar gue tanya langsung ke orangnya” Rendi hanya mengangguk anggukkan kepalanya disana


“Gue masuk kedalam ya” 


“Ah, re” Panggilan itu menghentikan pergerakan Rena


“Gue…”


“Kenapa? Lo mau ngomong apa?” Rendi terlihat kebingungan disana merasa ragu untuk mengungkapkannya


“Gue. Gue sebenarnya suka sama lo” 


Rena yang mendengar itu mematung seketika itu juga, ia bahkan tak tau bereaksi seperti apa namun perkataan itu mampu membuatnya diam ditempat


“Gue tau lo sebenarnya suka sama Daniel makanya gue selama ini gak berani mengungkapkan perasaan gue ini. Gue juga gak minta jawaban dari lo karna gue udah tau kalau lo gak bakal pernah mau nerima gue”


Rendi tertawa kaku ketika melihat Rena hanya diam disana tak ada berkutik sedikit pun membuat cowok itu mengerti dan paham ika sebenarnya Rena tak pernah mencintainya


“Diam itu jawaban buat gue. Gue pulang” Rendi pun berbalik badan untuk pergi dari sana dengan perasaan sedikit kecewa melihat tak ada respon dari lawan bicaranya


“Gue juga suka sama lo”