It'S Hurt

It'S Hurt
Ketulusan



...Mencintai namun dibarengi dengan LUKA hanya akan membuat LUKAmu semakin DALAM...


Wendi berdiri didepan kelasnya dengan pikirannya masih dengan kejadian semalam. Rasa takut itu sepertinya masih tersisa disana


“Wendi”


Cewek itu tersadar dan melihat Andre bersama dengan Yeri kekasihnya itu disana


“Lo kenapa melamun disini?” 


“Gak papa kok”


“Lo baik baik aja wen? Gue dengar cerita dari Andre katanya lo semalam disekap sama orang yang gak dikenal” 


“Gue baik baik aja yer”


“Lo pasti masih takut kan?” Wendi hanya menganggukkan kepalanya disana


“Jaga diri lo baik baik jangan jadi perempuan yang lemah” Ucap Andre sambil mengelus kepala cewek itu lembut sebelum kemudian keduanya pergi dari sana


Tiba tiba dirinya teringat kepada Gevan, dengan cepat dirinya berlari mencari dimana keberadaan cowok itu


Wendi perlahan memperlambat langkah kakinya ketika melewati ruang music. Cewek itu mencoba mengintip dari kaca dan benar saja Gevan ada disana, sendirian


Dengan segenap keberanian, cewek itu membuka pintu dan perlahan masuk kedalam ruangan itu. Gevan masih sibuk dengan gitar yang ada di pangkuannya seolah tak menghiraukan keberadaannya itu


“Lo mau berdiri terus disitu?” Wendi terkejut disana


Gevan menatap cewek yang masih setia berdiri disana dengan sedikit kesal, lalu kemudian ia meletakkan gitar itu dan bangkit berdiri mendorong cewek itu hingga punggungnya menabrak dinding


Wendi hanya diam mematung ketika melihat Gevan kini berdiri sangat dekat dengannya


“Van,,,,gu”


“Lo kesini nyariin gue kan?” Wendi terdiam disana karna memang jawaban cowok itu benar


“Gue,,jangan kayak gini van” Ucap cewek itu sambil mendorong Gevan untuk menjauh darinya namun Gevan tetap menahannya agar cewek itu tak bergerak


“Kenapa lo nyariin gue?” Tak ada jawaban dari mulut cewek itu


“Gue mau minta maaf”


“Untuk apa? Semalam? Lo gak salah wen” Cewek itu menatap tepat di manic mata cowok yang sedang berdiri didepannya itu


“Itu bukan kesalahan lo, jadi lo gak perlu minta maaf” Gevan tersenyum lalu kemudian semakin mendekatkan bibirnya dengan bibir cewek itu


Wendi memejamkan matanya berharap cowok itu tak benar benar menciumnya disana. Gevan membuka matanya dan tersenyum melihat ekspresi ketakutan cewek itu disana lalu kemudian menjauhkan dirinya


“Gue udah bilang kalau gue gak akan merusak orang yang gue cintai” Wendi terdiam disana


“Pulang sekolah gue tunggu lo diparkiran” Setelah mengatakan hal itu, Gevan langsung pergi meninggalkan Wendi yang masih diam mematung disana


...*******...


Jeno yang merupakan ketua tim basket masuk kedalam ruangan yang mana disana sudah hadir semua tim basket dari setiap angkatan yang ada. Jeno melihat seluruh anggota basket mencoba memastikan jika semua sudah hadir disana


“Oke, sorry banget kalau gue ngumpulin lo semua disini lagi”


“Gak papa bro santai aja” Ucap salah seorang disana


“Gue disini mau bahas tentang pertandingan basket yang akan diadakan dua minggu lagi”


“Pertandingan?” Tanya Rendi sedikit mengerutkan keningnya


“Iya. Pertandingan terakhir untuk angkatan kita” Semua anggota yang ada disana hanya mungut mungut mengerti maksud dari Jeno


“Jadi semua peserta harus dari kelas XII”


“Yaudah, lo tinggal pilih aja bro siapa yang ikut tanding”


“Gue tau, tapi masalahnya anggota kita kurang untuk pertandingan ini. Kita butuh pemain setidaknya satu atau dua orang pemain lagi dan lo semua tau kalau Gevan dan Daniel udah keluar dari tim basket”


Mereka yang ada disanapun kebingungan harus melakukan apa, tidak mungkin jika mereka mengajak Gevan bergabung ke dalam tim basket lagi


“Gue minta saran dari kalian semua kalau memang gak ada jalan keluar kita mengundurkan diri untuk tidak ikut pertandingan”


Semua masih diam karna tentunya mereka tidak mau mundur begitu saja hanya karna masalah seperti ini terlebih lagi tim basket mereka merupakan yang terbaik disana


“Biar gue yang ngomong sama Gevan” Semua mata tertuju kesumber suara yang tidak lain adalah Andre


“Gila lo tumpeng!” Ucap Rizal yang ikut terkejut disana


“Lo serius?” 


“Gue serius jen, gue bakal coba ngomong sama dia”


“Gue gak setuju. Gue gak mau lo berdua buat keributan lagi disekolah”


“Gevan keluar itu karna gue jadi biar gue juga yang ngajak dia ke tim basket lagi”


“Yang ada lo bakal dibunuh bangsat!!” Rizal kini benar benar tak habis piker dengan sahabatnya itu, setelah kemarin dia hampir dibunuh dan sekarang Andre masih mau mencari gara gara dengan Gevan


“Lo yakin gak akan terjadi apa apa?” Tanya Jeno disana mencoba memastikan


“Gue yakin jen”


Kring kring kring kringggg


Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi pertanda jam pelajaran hari ini selesai dan para siswa sudah bisa pulang kerumah beristirahat dan melakukan kegiatan lainnya


“Wen, gue duluan ya”


“Oke. Hati hati re”


Rena tersenyum lalu kemudian pergi bersama dengan kekasihnya Rendi yang sudah ada didepan kelas itu menunggunya


Wendi masih sibuk memasukan semua peralatannya kedalam tasnya dengan hati hati. Setelah selesai cewek itu kemudian memakaikan tasnya ke punggung dan tersenyum lebar ketika melihat Gevan sudah ada dibelakang pintu menatapnya


Cewek itu pun langsung berlari kecil mendapati dimana cowok itu berdiri


“Lo ngapain berdiri disini”


“Nungguin lo” Gevan kemudian berjalan diikuti oleh Wendi yang berjalan tepat disampingnya


“Hah? Enggak, kenapa?”


“Gue mau ngajak lo kencan” Wendi hanya tersenyum simpul disana mendengar ajakan cowok itu


Keduanya kini sampai diparkiran sekolah, Gevan sibuk mengeluarkan motornya dari sana sementara itu Wendi sibuk mengotak atik tasnya yang sepertinya dirinya meninggalkan sesuatu dikelas


“Van, lo boleh tungguin gue gak soalnya barang gue ketinggalan dikelas”


“Yaudah, gue tunggu” Setelah mendengarnya Wendi langsung berlari menuju kelasnya


Gevan berdiri disamping motornya sambil memainkan kunci yang ada ditangannya itu, sudah hampir sepuluh menit dirinya menunggu namun Wendi tak kunjung datang


Gevan melirik kesamping dan malah melihat Andre orang yang sangat ia benci itu berjalan kearahnya sambil menatapnya


“Hai” 


Sapa Andre namun tak ada jawaban dari Gevan dan malah membuang muka disana


“Lagi nungguin Wendi?”


“Hm” Andre menatap lawan bicaranya itu sambil menarik nafasnya


“Gue tau lo gak suka basa basi jadi gue langsung ke intinya aja. Gue mau lo masuk tim basket lagi”  Gevan masih diam bahkan tak menatap kearahnya


“Dua minggu lagi ada pertandingan dan ini pertandingan terakhir untuk angkatan kelas XII jadi”


“Gue gak mau”


“Ck, jangan buat gue marah”


“Gue gak peduli”


“Gue tau lo peduli. Gue tau kalau lo sebenarnya pengen diajak masuk tim basket lagi kan? Gak usah sok jual mahal lo” Gevan yang mendengar perkataan cowok itu heran disana


“Harusnya gue bunuh lo waktu itu”


“Terserah lo deh, lo bisa bunuh gue siap pertandingan tim basket” Gevan masih diam disana


“Besok kita latihan” Andre menepuk pundak cowok itu sebelum kemudian ia benar benar pergi dari sana


“Aduh van, sorry banget ya lo jadi nunggunya lama” Gevan kemudian tersadar dan menatap gadis itu


“Ayo” 


Wendi mengerutkan keningnya ketika melihat bahwa jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju pulang kerumahnya


“Van, ini bukan jalan ke rumah gue”


“Gue tau” Wendi yang bingung pun hanya diam disana


“Gue mau ngajak lo kencan” Wendi yang mendengarnya hanya diam pasrah karna ia tahu jika dirinya berontak pun tidak ada gunanya


Keduanya kini sampai disebuah Mall yang sangat besar disana


“Ayo” 


Wendi yang tadinya melamun tersadar ketika sebuah tangan menggenggam lembut tangannya


“Van, lo. Lo gak perlu bersikap kayak gini” Ucap cewek itu yang sedikit merasa canggung akibat tangannya yang di genggam disana


“Lo gak suka?”


“ahhmm, gu,gue cu,,” Gevan menghentikan langkahnya lalu kemudian melepas genggamannya dan berdiri berhadapan dengan cewek itu


Melihat Gevan yang kini menatapnya membuatnya kini merasa bersalah atas ucapannya barusan, ia takut jika itu menyinggung perasaan cowok itu


“Gue gak berniat untuk…” Tiba tiba Gevan menyerangnya dengan sebuah pelukan membuat Wendi terkejut setengah mati


“Hari ini aja wen, gue pengen lo nemenin gue” Setelah mendengar itu, Wendi dengan cepat cepat melepas pelukan itu


“Lo. Gila “ Gevan hanya tersenyum melihat wajah cewek yang menurutnya sangat menggemaskan itu


“Lo hanya pura pura jadi pacar gue hari ini” Gevan tersenyum dan langsung menarik tangan cewek itu untuk mengikutinya


Keduanya menghabiskan waktu bersama, tertawa bersama dan menikmati hari itu bersama sama.


Mereka tampak seperti pasangan serasi jika dilihat sekilas namun ternyata itu hanya sekedar khayalan karna kenyataannya keduanya memiliki perasaan yang berbeda


Gevan, cowok yang kini sangat mencintai gadis itu nyatanya tidak akan pernah mendapatkannya karna yang mencintai hanya dirinya sepihak tidak dengan Wendi yang hanya menganggapnya sebagai seorang teman


Keduanya memiliki kesamaan, yaitu sama sama pernah TERSAKITI, hanya saja dengan konteks yang berbeda dan sekarang keduanya sama sama sedang berjuang menyembuhkan luka itu tapi ternyata tidak semudah yang dibayangkan, rasa sakit dan cinta memiliki kekuatan yang sama sehingga berat untuk lepas dari situasi itu


Begitulah yang mungkin keduanya rasakan, ingin melepas masa lalu dan berhenti sejenak untuk membuka hati kembali karna tidak siap untuk tersakiti kembali……..


Malam pun tiba, Wendi dan Gevan berada disebuah taman duduk bersama menatap langit malam yang dipenuhi dengan bintang sengan cahanya indahnya


Entah kenapa, malam ini Wendi merasa sangat bahagia dengan keberadaan Gevan disisinya.


Perlahan rasa kenyamanan itu mulai muncul dibenak cewek itu, apakah Wendi mulai jatuh cinta dengannya?


“Lo bakal pergi?” Gevan menoleh kesamping ketika mendengar pertanyaan itu


“Maksud lo?”


“Bentar lagi kita ujian dan akan lulus. Lo bakal kuliah di luar negri?” Gevan diam beberapa saat tidak tahu harus berkata apa


“Gue gak tau gimana nantinya kalau lo pergi ninggalin gue disini” 


“Lo bakal baik baik aja wen. Kalaupun gue bertahan itu gak ada artinya lagi karna pada akhirnya kita punya jalan hidup yang berbeda”


Wendi yang mendengar itu menundukkan kepala, entah kenapa perkataan itu menyakiti perasaannya


“Gue mau berjuang sekeras apapun kalau Tuhan bilang enggak tetap gak akan bisa wen”


“Gue terlalu egois selama ini, gue terlalu memaksakan kehendak gue. Tapi sekarang gue sadar, kalau gue gak akan bisa melawan takdir yang sudah Tuhan tetapkan yaitu takdir bahwa gue gak akan bisa menjadi bagian dari hidup lo”  


Gevan menatap cewek yang hanya menundukkan kepala disana lalu mulai menghela nafasnya perlahan, ada rasa sakit yang begitu dalam ia rasakan sekarang.


Keputusan bertahan atau tidak adalah hal yang belum bisa Gevan putuskan sekarang, bahkan untuk meninggalkan cewek itupun ia tidak sanggup sebenanrnya


“Gue benar benar sayang sama lo wen”