
.
.
.
Matanya mulai terbuka dengan perlahan. Kepalanya terasa berdenyut. Ia sedikit meringis dan mencoba melihat keberadaannya saat ini.
'*Ini kamarku.'
'Lalu kenapa aku tertidur disini*?'
Ia benar-benar tak ingat dengan apa yang terjadi. Ia menggerakkan tangannya sedikit. Ia baru sadar jika dari tadi dirinya tak sendiri diranjang ini. Ada seseorang bersamanya. Tunggu. Bersamanya?
Jina terlonjak kaget saat mendapati pria itu tengah memeluk dirinya. Oppanya itu masih tertidur dengan pulas.
Jina sedikit menggerakkan tangannya bermaksud untuk menyingkirkan tangan Kyuhyun yang memeluk dirinya begitu erat.
Tidak bisa. Meski sudah perlahan pelukan itu malah semakin erat. Jika ia tetap berusaha keras untuk menyingkirkan tangan Kyuhyun bisa dipastikan pria itu akan terbangun dan Jina benar-benar tak menginginkannya.
"Sebenarnya apa maumu oppa?" Gumamnya yang terdengar lirih. Sambil memperhatikan tangan yang terus melingkar dipinggang rampingnya dengan mata sendunya.
"Bukankah seharusnya aku pergi jauh darimu agar kau merasa bahagia hidup dengan Yoora?"
"Haruskah aku menghilang atau mungkin mengakhiri hidupku agar kau bisa melepaskanku dan memaafkanku?" Gumamnya lagi.
Jantung Jina berdetak lebih cepat saat merasakan pria itu yang sudah erat memeluknya jadi semakin erat saja dan kini wajah Jina tenggelam dipelukan dada hangat milik Kyuhyun. Jina hanya terdiam saat menerima perlakuan ini.
Tanpa Jina sadari sebenarnya Kyuhyun sudah sejak tadi tersadar dari tidurnya. Ia mendengarkan semua ucapan gadis itu.
Ia tak bisa menunjukkan jika dirinya telah sadar, jika itu terjadi pasti Jina sudah melompat dari ranjang dan menghindarinya.
Sepertinya Jina sudah terlarut dalam pelukan hangat dan posesif Kyuhyun. Entah kenapa ia kembali mengantuk. Ia ingin istirahat sejenak. Tak butuh waktu lama Jinapun tertidur dipelukan Kyuhyun.
Kyuhyun yang mendengar dengkuran halus dari Jina kembali mengeratkan pelukannya. Seakan takut jika gadis itu akan menghilang dari pandangannya jika ia tak memeluknya seperti ini.
Tanpa seorangpun tau, pria itu meneteskan air matanya. Ia menangis. Hatinya sangat sakit. Benar-benar sakit. Nafasnya terasa sesak saat mendengar semua ucapan Jina barusan.
••⏳⏳••
Entah sejak kapan pria itu sudah tak berada dikamarnya. Jina bernafas lega, lalu dengan cepat ia bergegas untuk mandi. Setelah rapih dengan pakaian kantornya ia menuju keruang makan.
Jina menatap heran saat melihat seseorang dengan wajah yang selalu datar itu kini tengah duduk manis disofa sambil membaca koran dan menikmati secangkir kopi dengan santainya?
"Kau sudah bangun?." Tanya pria itu tanpa melihat wajah Jina sekalipun.
'Bagaimana ia tau aku berada disini?'
"Hari ini kau tak perlu bekerja." Ucap Kyuhyun. What? Lalu kenapa tak bilang sejak kemarin? Jadi ia tak perlu rapih seperti ini untuk bekerja.
"Kenapa?" Tanya Jina penasaran.
"Kau tak perlu tau alasannya, kau cukup mendengarkan ucapanku." Jelas Kyuhyun. Tentu saja pria itu tak menjawab pertanyaanya dengan benar, pasti ada saja nada perintah didalamnya.
"Baik." Ujar Jina lemah lalu kembali menuju kekamarnya dan mengganti pakaiannya dengan lebih santai.
Saat Jina turun dari tangga, mata gadis itu menelisik kearah pria itu lagi. Ada apa ini? Kenapa dia tak pergi? Oh. Mungkin sebentar lagi oppa akan pergikan? Iya. Sepertinya begitu.
Berusaha untuk tak perduli Jina melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Kyuhyun melirik wajah penuh pertanyaan milik Jina. Pasti gadis itu bertanya-tanya kenapa dirinya belum pergi sejak tadi.
Dengan perlahan ia menutup koran yang tengah ia baca lalu berdiri dan mengucapkan sesuatu yang membuat Jina tersendak dengan makanannya.
"Aku hari ini akan dirumah dan memastikan kau tak berbuat hal yang aneh-aneh." Ujar pria itu enteng lalu pergi entah kemana.
Jina mengambil minumnya dengan cepat ia menghabiskan air putihnya sampai tak tersisa.
"What?!" Ujar Jina tak percaya. Ini buruk. Jadi Kyuhyun akan seharian ada dirumah? Kenapa? Apa yang terjadi?
••⏳⏳••
Ah. Ia bosan. Sejak tadi ia hanya melihat para pelayan yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
"Kemana Hani? Aku belum melihatnya?"
Jina menghembuskan nafasnya. Ini musim semi, pasti diluar sana beberapa bunga sakura telah mekar. Ia ingin sekali melihatnya. Ingin sekali tapi mungkinkah jika ada Kyuhyun? Ah. Rasanya tak mungkin untuknya pergi keluar.
Jina menghembuskan nafasnya dijendela kamarnya. Embunnya menempel dijendela itu, kemudian dengan perlahan ia membentuk sebuah gambar.
Cklek...
Tanpa adanya ketukan sama sekali pria itu masuk begitu saja kekamarnya. Jina sedikit terlonjak kaget saat oppanya itu menatap dirinya dengan mata tajamnya.
"Op-opa. Ad-ada apa?" Selalu jika berada didekat pria itu ia menjadi gagap seketika. Mulutnya kelu untuk berbicara dengan lancar.
"Kau ikutlah denganku sekarang. Kutunggu dibawah." Ujar Kyuhyun memerintah. Mata pria itu melirik sekilas gambar yang dibuat oleh Jina, lalu dengan cepat meninggalkan ruangan itu.
Jina menghembuskan nafasnya. Baiklah. Ia tak bisa menolak pria itu.
••⏳⏳••
Mobil sport mewah itu membelah jalanan Seoul di sore hari. Jina tak tau kemana tepatnya mereka akan pergi. Pria itu sejak tadi tak berbicara.
Lagipula Jina juga malas untuk memulai percakapan.
'Ini sebenarnya mau kemana?'
Jina memasang wajah kecewa saat tak tau kemana arah tujuan mereka. Lama ia melihat jalanan Seoul. Ini sudah berada didaerah gunung.
Jina tak pernah tau jika ada daerah seperti ini?
Raut wajah yang tadi merasa kecewa kini telah berubah menjadi sebuah senyuman indah diwajah cantiknya.
Jina tersenyum dengan lebarnya saat melihat beberapa kelopak bunga sakura bertebaran dijalanan yang mereka lewati.
Kyuhyun melirik wajah gadis itu sekilas. Ia tersenyum tipis saat melihat ekspresi Jina.
••⏳⏳••
"Bagaimana bisa? Bukankah seharusnya mereka mekar sepenuhnya satu bulan lagi?" Kagum Jina. Kyuhyun berdecak saat mendengar ucapaan Jina barusan.
"Kau tak tau apapun. Pengetahuanmu sangat minim. Yah. Pantas saja jika kau tak tau sama sekali dengan keberadaan tempat ini." Ujar Kyuhyun yang terdengar mengejek dirinya. Jina tak memperdulikan ucapan itu lebih baik ia menikmati ini semua. Iyakan?
Jina memejamkan matanya. Apakah ini mimpi? Jika hanya sebuah mimpi ia berharap tak ingin terbangun dari mimpi indah ini.
Tempat ini jauh lebih cantik dari yang ditunjukkan Sehun. Ia tak sangka Kyuhyun bisa tau tempat seindah ini.
"Buatlah permintaan oppa." Ujar Jina sambil tersenyum dan melihat kearahnya.
"Untuk?" Kyuhyun tak mengerti sama sekali dengan ucapan Jina barusan.
"Kudengar, jika kita menangkap helaian kelopak bunga sakura yang berjatuhan dengan telapak tangan kita maka, keinginan kita akan terkabul." Ujar Jina senang.
"Bodoh. Aku tak percaya ucapan konyolmu itu." Ujar Kyuhyun yang terdengar tak suka.
Jina menaikkan bahunya. Tak peduli dengan komentar Kyuhyun barusan. Lebih baik ia mencoba apa yang ia katakan tadi.
Jina tersenyum dengan lebarnya. Senyum yang tak pernah terlihat sejak lama.
Gadis itu terlihat begitu bebas seperti tak mempunyai beban dihidupnya. Dengan antusias ia berusaha menggampai helaian kelopak bunga yang berjatuhan dengan pelan, lalu menangkapnya.
Jina mengepalkan tangannya. Menuntun tangannya ke bibirnya. Lalu melantunkan keinginannya.
Lama Jina seperti itu, tanpa gadis itu sadari ternyata Kyuhyun melakukan hal yang sama dengannya.
Jina menyeka air mata yang perlahan turun ke wajahnya. Entah apa yang diucapkan gadis itu didalam hatinya tapi itu seperti sebuah harapan yang sangat ia impikan.
Luasnya bentangan bunga sakura terlihat semakin memperindah pemandangan ditempat itu. Hanya ada mereka saja.
Tempat ini seperti terisolasi dari dunia luar. Tak ada yang tau keberadaan tempat seindah dan sebagus ini.
Sepertinya ini akan menjadi tempat yang hanya mereka berdua saja yang tau.
Helaian kelopak bunga sakura semakin banyak yang berjatuhan. Kelopak itu seperti ingin menyelimuti kedua manusia yang ada disana dengan pesona indahnya. Mendekapnya dalam hembusan angin musim semi.
••⏳⏳••
Yoora masih menatap gelas yang sudah kosong itu dengan tatapan yang masih sama sejak setengah jam yang lalu. Matanya terlihat kosong.
'*Ada apa dengan sifat Kyu?'
'Kenapa ia berubah*?'
'*Ah. Pasti hanya perasaanku saja. Tentu saja ia khawatir begitu karena bagaimanapun Jina adalah adik kandungnya kan?'
'Mungkin aku terlalu berlebihan menanggapi semuanya*.'
Yoora kembali menuangkan minumannya lalu mengaduk-aduk tanpa ada niat untuk dihabiskan kembali.
Dia dan Kyuhyun adalah teman sejak lama. Mereka bertemu di USA saat kuliah bersama dan satu Kampus.
Sudah sejak lama Yoora mengenal dan menyimpan hati untuk pria itu. Kyuhyun saat itu bahkan tak menanggapi perasaanya bahkan hanya berkata jika dia hanya ingin berteman dengannya saja karena menurutnya dia bukanlah pria yang baik tapi walau bagaimanapun sifat dan kelakuan Kyuhyun yang tak bisa Yoora tebak, dia tetap mencintainya meski pria itu tak pernah bilang hal itu juga dan hanya berkata, "karena aku menyayangimu."
Yoora menghembuskan nafasnya. Apa hati Kyuhyun sudah utuh bersama dengannya? Mungkinkah? Tapi kenapa rasanya tidak?. Apakah Kyuhyun menyatakan cintainya karena kejadian waktu itu? Benarkah?
'*Aku akan menutup mataku dengan semua perlakuanmu Kyu dan tetap meyakini jika kau tulus mencintaiku.' Ucap Yoora optimis.
'Ah. Kurasa aku terlalu berlebihan memikirkan hal ini. Lebih baik aku menjenguk Jina. Kuharap ia baik-baik saja*.'
Yoorapun menyudahi lamunannya dan bergegas untuk pergi kerumah Kyuhyun.
'Bodoh. Kenapa aku cemburu dengan seorang kakak yang khawatir dengan adiknya?' Rutuknya. Lalu mulai menjalankan mobil sport putih mewahnya.
Mobil itupun mulai meninggalkan rumah yang hampir sama megahnya dengan rumah Kyuhyun. Yoora adalah anak teman appa Kyuhyun. Mereka teman bisnis. Tentu saja Yoora mempunyai materi yang berlimpah dan sama kayanya dengan Kyuhyun.
Ia jadi ingat kalung yang diberikan Kyuhyun untuknya. Meski ia bisa membelinya sendiri tentu akan berbeda jika Kyuhyun yang mengantar dan membelikannya karena menurutnya semua hal romantis yang Kyuhyun lakukan dan berikan sangat membekas dihatinya dan membuat dirinya tersenyum senang seharian.
••⏳⏳••
Seorang wanita dengan baju pelayannya tampak memerhatikan lingkungan sekitar. Ia mengigit jarinya seakan takut jika ia ketahuan oleh orang suruhan sang majikan.
Ia cemas karena sosok yang ia tunggu belum juga muncul. Ia tak boleh terlalu lama diluar bisa-bisa ia tertangkap oleh pengawal yang berjaga.
"Oh, Hani. Mian menunggu lama." Ujar pria itu dengan mengeluarkan kepalanya sedikit dijendela mobil sambil menunjukkan senyum tampan diwajahnya. Pria itu mengenakan kacamata hitam dan baju santai yang seakan membuat tubuh atletis dan jangkung itu semakin mempesona untuk dilihat.
"Masuklah." Ujarnya lagi. Hanipun mengangguk dan langsung memasuki mobil hitam tersebut.
Hani masih menimang-nimang dengan apa yang telah ia lakukan sekarang. Apakah ini benar dan yang terbaik?
"Bagaimana? Apa kau ingin membantuku?" Tanya pria itu langsung. Hani masih setia memainkan kuku jarinya. Benar. Ia harus melakukan hal ini karena hanya pria itu yang bisa membantunya.
"Iya tuan." Ujar Hani.
"Kau yakin?"
"...."
"Kurasa kau masih bimbang. Ini simpanlah nomorku. Jika kau sudah yakin hubungi aku segera." Ujar pria itu lagi sambil memberi sepotong kertas berisikan nomornya.
"Baik tuan."
"Tentu."
"Oh. Kurasa kau harus segera pulang. Aku tak mau pria menakutkan itu melihatmu. Bisa-bisa ia melakukan hal yang tak terduga terhadapmu." Ujar pria itu mengingatkan.
"Iya tuan." Ujar Hani lalu berusaha turun dari mobil.
"Baiklah, hati-hati dijalan." Ujar pria itu sambil melambaikan tangannya. Hani tersenyum menanggapinya lalu menundukkan kepalanya sedikit untuk berterima kasih kepadanya.
"Anda juga tuan Sehun." Ujar Hani. Pria itupun tersenyum dan mulai meninggalkan dirinya.
TBC