
"Apa benar, nyokapnya Gevan udah meninggal?" Daniel terdiam dan menatap cewek itu serius
"Kenapa lo tiba tiba nanya itu?"
"Lo hanya perlu jawab itu aja Daniel"
"Lo tau sesuatu?" Wendi diam bingung harus menjawab apa
"Kalau gue ngasih tau, lo janji bantuin gue" Daniel tersenyum mendengarnya, kini ia tau bahwa cewek itu sudah mulai mengetahui fakta yang sebenarnya
"Van" Gevan berbalik ketika Daniel memanggilnya sementara cewek itu membulatkan matanya lebar, apa Daniel akan memberitahunya kepada Gevan?, Cewek itu benar benar takut sekarang
"Kita cabut" Daniel yang melihat wajah pucat cewek itu tersenyum karna ia tau apa yang ada dipikiran cewek itu, Daniel kemudian pergi yang disusul oleh Gevan dibelakangnya sedang Wendi disana sudah benar benar kesal melihat tingkah cowok itu
...******...
Wendi duduk sendirian didepan kelasnya, sekolah sudah sepi karna memang jam sekolah sudah berlalu tiga puluh menit yang lalu, Wali kelasnya menyuruhnya untuk mengoreksi tugas dari kelas lain yang membuatnya harus pulang terlambat
Wendi berjalan dan tiba didekat halte untuk menunggu angkot yang akan mengantarkannya pulang
"Oi" Wendi melihat kesamping ketika mendengar suara dan matanya melihat seorang laki laki tengah berdiri disamping mobil dan memanggilnya menggunakan gerakan tangan
"Oi cantik" Wendi menunjuk dirinya sendiri ketika sadar bahwa hanya dialah orang yang ada disana. Wendi berjalan mendekat kearah dimana cowok itu berada
"Kenapa?"
"Lo cantik juga, mau gak jadi pacar adik gue?" Wendi hanya mengerutkan keningnya disana ketika mendengar perkataan cowok yang bahkan ia tidak kenal itu
"Sekolah lo udah lama pulang?"
"Em, hampir satu jam mungkin"
"Jadi kenapa lo belum pulang?" cewek itu terkejut mendengarnya, mau dia pulang atau tidak sebenarnya tidak ada hubungannya dengan cowok itu
"Terserah guelah, mau pulang atau enggak"
"Anak zaman sekarang emang susah diatur ya, dinasehati malah melawan. Selalu ada jawabannya, keras kepala kayak lo" Wendi masih bingung dengan cowok didepannya itu, sebenarnya cowok ini siapa dan maunya apa?, Cowok itu bahkan mengoceh tak jelas
"Gue pulang"
"Eh, lo mau kemana?, Gue belum siap ngomong"
"Penting?" Cowok itu kemudian menatap bet nama yang terpampang jelas diseragam sekolah cewek itu
"Wendi, nama lo Wendi. Nama gue Steven" cewek itu hanya diam menatap cowok itu disana
"Gue udah nunggu lama disini tapi adik gue belum pulang, dia kemana?" Wendi kini lelah dengan cowok yang menurutnya tidak jelas itu
"Siapa nama adik lo?"
"Gevan, lo kenal?" Wendi terkejut lalu kemudian menatap cowok itu dari ujung kaki sampai ujung rambut secara detail, ia heran melihat cowok didepannya yang menurutnya begitu aktif dan banyak bicara itu sementara Gevan bersifat dingin tidak seperti cowok ini
"Lo ngapain liatin gue terus?, Lo kenal Gevan atau enggak?"
"Gue kenal"
"Dia dimana?, Lo tau?"
"Dia tadi lagi la.."
"Ngapain lo?" Kedua remaja itu serentak menoleh kearah sumber suara, disana sudah ada Gevan yang turun dari matornya lalu memdekati mereka, Gevan terkejut ketika ia melihat Wendi bersama dengan Steven
"Lo apain dia?"
"Lo pikir gue cowok apaan, sembarangan ngomong" Gevan menatap kearah cewek yang hanya diam berdiri disana
"Lo ngapain jemput gue?, Gue naik motor"
"Kepedean banget lo gue jemput lo, gue mau pinjam motor lo" Gevan menaikkan satu alisnya bingung, mengapa Steven meminjam motornya padahal ia punya mobil sendiri
"Ck. Perlu dijelasin lagi?. Gue mau jemput pacar gue, lebih enak pake motor biar cewek gue bisa meluk gue" Steven tersenyum genit sambil menaik turunkan kedua alisnya
"Dalam mobil juga bisa pelukan"
"Mobil terlalu tertutup van, takutnya gue khilaf" Wendi hanya diam menyimak pembicaraan itu disana tanpa mau ikut campur
"Mesum" Gevan kemudian memberikan kunci motor beserta helm kepada Steven
"Makasih, gue cabut. Oi Wendi" cewek yang sadar karna namanya dipanggil menoleh kesamping
"Gue pulang" cewek itu hanya tersenyum kaku sambil melambaikan tangannya dengan ragu ragu
"Lo antarin dia pulang, jalanan udah sepi jam segini" bisik Steven ditelinga adiknya itu lalu kemudian pergi melajukan motornya kencang dijalan raya, kini tinggallah Gevan beserta Wendi disana
"Dia abang lo?"
"Hm"
"Dia, lucu. Dia berbeda banget sama lo. Dia banyak omong kosongnya" cowok itu hanya memutar bola matanya malas, lucu?, Hal konyol seperti itu dibilang lucu, pikirnya
"Kenapa lo belum pulang?"
"Gue tadi ada kerjaan dikantor"
"Andre masih didalam, lo gak nyamperin?"
"Gak. Gue mau pulang aja"
"Gue antar" cowok itu masuk kedalam mobilnya lalu menyalakannya, namun ia melihat Wendi masih diam berdiri disana
"Lo gak mau pulang?"
"Gak papa?"
"Hm" Wendi tersenyum lebar lalu kemudian masuk kedalam mobil
"Makasih"
"Makasihnya lo simpan dulu, karna gue gak jamin lo bisa pulang baik baik aja" cewek itu berfikir keras karna bingung dengan maksud perkataan cowok out
"Maksud lo"
"Gue bisa aja khilaf trus melakukan hal aneh aneh sama lo" cewek itu melebarkan mulutnya terkejut ketika cowok itu bisa berkata kata seperti itu, ia kemudian memukul cowok itu dengan buku yang ada ditangannya
"Dasar mesum. Lo sama aja kayak abang lo. Genit. Gue hajar lo kalau lo berani sama gue" Gevan hanya tersenyum tipis dengan reaksi cewek itu lalu kemudian melajukan mobil itu pergi dari sana
...******...
Andre tengah sibuk mendrible bola basket, ia latihan keras untuk pertandingan basket yang sudah tidak lama lagi. Disana juga ada Rizal dan Rendi
"Ndre, lo minum dulu. Dari tadi lo gak ada istirahat" Andre tak menghiraukan perkataan Rizal temannya itu, ia masih sibuk latihan disana
"Emang itu penting" Andre berhasil memasukkan bola kedalam ring basket, cowok itu tersenyum lalu berjalan mengambil air minum dan meneguknya
"Itu penting bro, masa lo pacaran gak ada momen romantis sih?, Hambar tau gak" Andre hanya diam disana kemudian Rizal mendekatkan dirinya
"Lo ajak dia nonton" Andre menatap temannya itu meminta penjelasan
"Lo nanti malam ajak dia ke bioskop, lo pilih film yang paling seram, gue jamin dia bakalan nempel sama lo terus" Andre berfikir sebentar lalu kemudian tersenyum merasa tertarik dengan ide sahabatnya
"Cocok?" Andre tersenyum dan merangkul Rizal kuat
"Ide lo emang terbaik zal"
"Bau setan. Lo lagi keringatan" ucap Rizal yang sudah memasang wajah kesalnya disana
...******...
"Makasih" ucap Wendi setelah sampai didepan kontrakannya namun tiba tiba perempuan paruh baya datang menghampiri cewek itu sambil menarik kuat telinganya membuatnya meringis kesakitan
"Pacaran terus yah, mana uang kontrakan kamu?" Gevan yang melihat kejadian itu langsung turun dari mobilnya
"Maaf bu, nanti pasti saya bayar. Kemarin Wendi sibuk makanya lupa ngasih tau"
"Kapan?, Ibu udah nunggu lama. Kamu selalu punya banyak alasan. Ibu hubungi orang tua kamu aja sekarang" Wendi terkejut dan mencoba menghentikannya
"Ini kenapa?" Gevan yang tadinya hanya sebagai penonton kini bersuara
"Anak ini, udah lewat tanggal biaya kontrakannya belum lunas, selalu banyak alasan" Wendi menundukkan kepalanya akibat malu disana. Gevan mengambil tas didalam mobil dan mengambil dompet dan mengeluarkan sejumlah uang dari dalam sana
"Van, lo gak perlu ngelakuin itu"
"Ini cukup" perempuan paruh baya itu mengambil uang dari tangan cowok itu lalu menghitungnya
"Ini udah lebih"
"Ambil semua"
"Van"
"Kamu pacarnya dia?"
"Teman" perempuan paruh baya itu menatap tajam kearah Wendi lalu segera pergi dari sana
"Makasih. Gue bakal balikin uang lo secepatnya"
"Lain kali jangan lakuin hal yang sama lagi" cewek itu menundukkan kepalanya
"Gue pulang" Gevan masuk kedalam mobilnya kemudian pergi dari sana
Ponsel cewek berbunyi yang dengan cepat cewek itu mengambilnya lalu tersenyum ketika melihat bahwa Andre kekasihnya itu menelponnya
"Halo"
"Kamu udah pulang"
"Udah. Kamu udah pulang?"
"Aku baru nyampek rumah. Nanti malam sibuk?"
"Hmmm, kayaknya aku gak ada tugas. Kenapa ndre?"
"Gue jemput lo jam nanti malam"
"Oke"
"Bye. Love you" Wendi tersenyum malu ketika mendengar perkataan cowok itu
"Wen, kenapa diam?, Dijawab dong sayang" jantung cewek itu memompa dengan cepat, ia menarik nafasnya panjang lalu kemudian mencoba menjawabnya
"Love you too" ia langsung mematikan ponselnya dan tersenyum cerah, pipinya memerah sepertinya ia benar benar sudah jatuh cinta sekarang, dengan penuh kegirangan ia berlari menuju kamarnya dengan semangat yang membara
...*****...
Andre duduk diatas motornya, memutar mutar kunci motor dijari telunjuknya sambil sesekali melihat jam tangan yang melingkar ditangannya
"Maaf ndre, tadi mama aku telfon makanya lama"
"Gak papa" kemudian cowok itu menatap kekasihnya itu dari atas sampai kebawah yang mana cewek itu hanya mengenakan celana pendek dengan kaos putih yang dibarengi dengan jacket berwarna biru langit dan hanya mengenakan sendal yang biasa saja
"Kamu gak suka penampilan aku yah?" Andre tersenyum lebar sambil mengelus rambut gadisnya itu lembut
"Aku suka kamu yang polos kayak gini. Ayo naik" cewek itu kemudian naik keatas motor dan langsung pergi berangkat menuju tempat tujuan mereka
Tak butuh waktu lama mereka akhirnya sampai di sebuah bioskop yang dipenuhi banyak orang disana
"Bioskop?"
"Kita nonton malam ini" cowok itu kemudian membeli popcorn sebagai teman yang akan menemani mereka saat menonton nanti. Cowok itu sengaja mengajaknya kebioskop untuk menonton film horror sebagaimana seperti yang dikatakan Rizal siang tadi
Mereka kini sudah duduk ditempat duduk mereka dan film sudah mulai, Andre sudah bersiap siap berharap cewek itu akan ketakutan dan memeluknya seperti yang dikatakan Rizal namun sudah hampir setengah film, tidak ada tanda tanda jika cewek itu ketakkutan, ia malah menikmati adegan setiap adegan dalam film itu
Mereka akhirnya selesai menonton dan pulang dari sana, Andre merasa sangat kesal pada dirinya sendiri, ia bahkan tidak merasakan adanya moment romantis diantara mereka
"Kamu, suka?" Tanya Andre kepada cewek yang duduk disampingnya itu, mereka kini sudah berada didepan kontrakan cewek itu
"Aku suka banget, apalagi film horror, itu genre kesukaan aku banget" pantas saja cewek itu tidak takut sama sekali ternyata ia suka hal hal yang menyeramkan seperti itu
" Ndre" cowok itu menoleh kearah Wendi yang menatapnya dalam
"Setelah lulus nanti, kamu mau kuliah dimana?"
"Kenapa emang? Takut kangen?" Cewek itu tiba tiba gugup sendiri, ia kini meruntuki dirinya sendiri karena menanyakan hal itu
"Aku juga belum tau wen" Wendi diam, ia menunggu penjelasan selanjutnya dari kekasihnya itu
"Papa nyuruh aku kuliah di luar negri tapi mama gak setuju"
"Jadi, kamue belum tentuin mau kuliah kemana?"
"Sebenarnya aku pengen kuliah ke luar negri, itu mimpi aku wen" cewek itu sedikit kecewa mendengarnya
"Kalau kamu kuliahnya diluar negri, kamu bakal ninggalin aku?"
"Aku gak bakalan ninggalin kamu wen, sampai kapan pun. Aku janji" cewek diam disana, sebenarnya ia sangat takut jika Andre pergi jauh darinya
"Wen, aku sayang sama kamu. Jangan samakan aku dengan orang yang nyakitin kamu dimasa lalu" cewek itu sebenarnya takut jika cowok itu mengingkari janjinya suatu saat nanti dan pergi meninggalkannya, ia sebenarnya tidak ingin disakiti untuk yang kedua kalinya lagi
"Aku janji wen" tanpa aba aba cewek itu langsung memeluk Andre lembut, meluapkan semua ketakutannya kepada cowok itu
"Aku sayang sama kamu ndre"