It'S Hurt

It'S Hurt
Membutuhkanmu




.


.


.


Sehun tersenyum lebar saat menemukan sosok yang ia cari sejak tadi duduk terdiam dibawah pohon Sakura yang dulu pernah mereka singgahi.


Sehun sedikit memperlambat langkahnya saat melihat Jina memejamkan matanya dan menghirup aroma musim semi dalam hembusan setiap nafasnya.


"Boleh aku duduk disini?" Jina terhentak, ia baru tersadar jika ia terlalu mengagumi perubahan warna kelopak bunga tersebut.


"Hmm." Ia mengangguk dan sedikit menggeser duduknya.


"Bukankah mereka cantik?" Sehun menatap bunga sakura itu dengan tersenyum. Jina terdiam saat mendengar perkataan Sehun. Saat melihat bunga sakura itu mengingatkan dia saat Kyuhyun mengajaknya saat itu. Benar kata Kyuhyun, hanya didaerah itu saja yang sudah mulai merontokkan helaian bunganya.


"Entahlah." Gumam Jina sembari menghela nafas.


Sebelum Sehun bertanya lebih lanjut Jina menyandarkan kepalanya di pundak tegap pria yang kini mengenakan jaket coklat tersebut. Sehun tak mengira jika Jina sudah mau berada didekatnya lagi. Tangan nan kokoh itu pun mulai mengusap pelan rambut panjang itu dengan lembut dan tanpa ragu Sehun melingkarkan tangannya dipinggul gadis itu. Ia menyukai harum tubuh Jina. Wangi strawberry.


Masih dengan memejamkan matanya Jina pun bertanya, "Apa kau ingin mendengarku bernyanyi?" Sehun tak percaya jika gadis itu bisa menyanyi. Jina itu selalu tertutup bahkan ia jarang berbicara, hanya firasatnya selalu mengatakan jika Jina dulu pasti mempunyai banyak teman lalu kenapa Jina seakan menutup diri dari dunia luar? Apa karena luka diwajahnya? Atau karena luka yang digoreskan oleh pria itu?


Alunan nada lembut dari gadis yang kini ia dekap membuat hatinya bergetar. Nada nan lembut itu seperti menancap langsung ke jantung. Ia tak pernah tau jika Jina pandai menyanyi seperti ini tapi kenapa ia tak menyukai lagu yang Jina nyanyikan? Lagu itu adalah lagu Taylor Swift_Back to December.


"Suaramu bagus." Puji Sehun kemudian kepalanya pun ikut bersandar dikepala Jina. Akh. Ini sungguh menyenangkan bukan?


Sehun menggenggam jemari Jina, benda yang nampak berkilau itu sungguh mengggangu pemandangannya sejak tadi. Ia hanya bisa menghela nafasnya panjang. Kenapa cincin itu harus ada disana?


"Sehun." Ujar Jina kemudian ia memperat pelukannya ditubuh Sehun. Mereka masih dalam posisi duduk. Pandangan mata Jina pun terbuka mengarah kedepan tapi terlihat kosong.


"Hmm. Kenapa?" Ujar Sehun sambil sesekali merapihkan rambut Jina kebelakang kupingnya.


"Terima kasih atas segalanya. " Ujar Jina, Sehun tersenyum mendengarnya.


"You're welcome princess."


"Kuharap ada keajaiban dalam hidupku." Jina kembali memejamkan matanya.


"...."


Sepertinya Sehun bingung untuk menjawab apa. Karena ia hanya bisa berdo'a. Yah. Semoga dewa mendengar permohonanmu Jina.


Merekapun menikmati udara yang terasa segar itu. Sambil sesekali Sehun melirik gadis yang tengh ia dekap. Gadis cantik itu ternyata tertidur dipundaknya.


Sehun rasa ia akan menunggu Jina sampai terbangun. Biarlah seperti ini. Biarlah ia merasakan Jina yang begitu dekat dengannya saat ini.


"Sleep well, my princess."


••⏳⏳••


Setelah memastikan Kyuhyun sudah mulai membaik Yoora meminta ijin untuk pulang kerumahnya. Yah. Gadis itu sudah hampir seminggu menginap di rumah ini. Menurutnya ia harus tetap menjaga Kyuhyun sampai kondisi pria itu membaik dan sepertinya Jina pun tak mempersalahkan kehadirannya disini. Bahkan gadis itu menunjukkan kamar kosong yang ada untuk ia tinggal sementara.


"Aku rasa kau harus kedokter Kyu dan kuharap kau tak berteriak lagi kepada dokter Xin yang menyuruhmu segera ke rumah sakit. Ia hanya khawatir dengan keadaanmu." Kyuhyun membalikkan tubuhnya yang tengah terbaring agar tak melihat wajah gadis itu. Yoora hanya bisa mengela nafasnya panjang karena melihat tingkah Kyuhyun.


"Kalau begitu aku permisi, sudah seharusnya aku pulang." Pamit gadis itu sambil mengangkat piring kotor di meja kamar Kyuhyun tapi sebuah tangan mencekalnya dan membuatmya seketika berhenti.


"Bukankah kau merasa kesepian dirumah besar itu? Kami masih punya banyak kamar jadi kau bisa menggunakannya." Jelas pria itu dengan nada seraknya. Apa katanya tadi? Pria itu menyebutkan kata 'kami'. Apa itu artinya dia dan Jina?


"Kau tak perlu khawatir kepadaku, perhatikanlah kesehatanmu. Aku sungguh cemas jika operasimu dulu tak berjalan lancar. Kuharap kau mendengarkan saran dokter Xin." Dengan lembut tangan itu pun menyikirkan lengan yang masih terlihat lemah itu. Yoora tersenyum miris dan dengan cepat segera meninggalkan pria itu. Ia senang Kyuhyun tetap menyuruhnya tinggal tapi kenapa Kyuhyun harus menggunakan kata 'kami'. Ia merasakan sesak didadanya saat mendengar kata itu. Bukankah artinya Kyuhyun mengakui pernikahannya?


Yoora menyeka sudut matanya yang terasa berlinang. Ia harus kuat. Yah. Ia masih menyakini jika Kyuhyun mencintainya dan bukan karena hanya balas budi semata.


Dengan segera ia merapihkan baju-bajunya kedalam tas dan menyambar kunci mobil berwarna silver itu.


Kakinya sedikit terburu, ia ingin sampai kerumah secepatnya atau mungkin kesuatu tempat. Ia hanya ingin menenangkan hatinya yang terasa sesak sekarang.


••⏳⏳••


Dengan tergopoh wanita yang mengenakan pakaian pelayan itu berusaha mempercepat langkahnya menuju rumah putih bak istana itu.


Hani sedikit melirik mobil lamborgini keluaran terbaru itu dengan pandangan menyipit. Bukankah itu nona Yoora? Mungkin dia sudah ingin pulang? Baguslah, jadi ia tak perlu khawatir jika gadis itu mendengarkan pembicaraan penting ini.


Ia kembali menatap pria yang berjalan dibelakangnya. Pria itu masih mengatur nafasnya untuk menyeimbangi langkah gadis muda didepannya.


"Maaf ahjussi, tapi kita harus cepat." Ujar Hani dan membantu ahjussi itu untuk melangkah lebih cepat lagi. Ini hari yang sangat ia tunggu-tunggu.


Hani menelusuri rumah itu, ia mencari sang tuan muda diruang tamu yang terlihat sepi sepertinya tuan Kyuhyun masih berada dikamarnya. Benar. Seharusnya ia langsung kelantai dua menuju kekamar tuan Kyuhyun.


Tok. Tok. Tok.


Hani menundukkan kepalanya begitupun pria tua yang ia bawa. Ia sedikit mencuri pandangannya saat tak melihat Kyuhyun dikasurnya. Apa tuan Kyuhyun sudah sembuh?


"Tuan." Ujar Hani lagi dengan sedikit mencari sosok itu sampai sebuah suara membuatnya terlonjak kaget.


"Apa yang kau lakukan disini?" Desis pria itu yang sudah tampak sehat, buktinya Kyuhyun sudah bisa berjalan dengan tegap dan menatapnya penuh selidik.


"Ma-maaf tuan sa-saya telah lancang masuk kekamar tuan tapi ada yang harus saya bicarakan secepatnya dan ini sangatlah penting." Ujar Hani sambil memundurkan langkahnya pasti tuan mudanya sedang marah buktinya Kyuhyun berjalan kearahnya.


"Apa yang ingin kau bicarakan dengan sikapmu yang tak sopan ini?" Tanya pria itu tak suka. Terlihat jelas dari nada suaranya.


"Sa-saya membawa seseorang. Dia adalah...." Ucapan Hani pun terputus saat wajah Kyuhyun yang terlihat pucat saat melihat orang dibelakang tubuhnya. Kyuhyun sedikit memundurkan langkah dan menyangga berat tubuhnya di pilar kamar ini.


"Anda tau siapa dia?" Tebak Hani saat melihat keterkejutan Kyuhyun dengan yakin Hani berusaha memperlihatkan ahjussi itu dengan jelas.


"Tuan maafkan saya, saya merasa bersalah telah menyembunyikan semua ini dari anda. Saya tak punya pilihan saat Nyonya meminta saya dengan memelas." Ujar pria itu langsung sambil terus menatap wajah mantan tuan mudanya itu.


Hani sedikit memundurkan langkahnya kesudut ruangan untuk memberikan privasi kepada mereka.


"....."


"Seharusnya saya tak menerima permintaan itu. Saya sangat menyesal tuan." Ujarnya penuh penyesalahan.


"Saya sudah mendengar semuanya dari Hani. Nona Jina tak salah tuan."


"...."


"Dia hanyalah korban yang selamat."


"...."


"Nona Jina tak salah. Nyonya yang menyebabkan ibu nona Jina meninggal."


"...."


"Sa-saya ikut menutupi kasus tabrak lari yang dilakukan nyonya sebagai saksi satu-satunya saat peristiwa itu terjadi. Nyonya mengambil alih kemudi saat melihat eomma Jina. Nyonya mengira jika eomma Jina ingin merebut Tuan Cho."


"...."


"Tapi beliau tersadar akan kecemburuannya yang tak mempunyai bukti itu, nyonya sadar jika ia gelap mata karena gosip yang beredar saat itu."


"Tuan!" Teriak Hani untuk segera menghampiri Kyuhyun yang tiba-tiba meringis memegangi perutnya. Pria itu terlihat pucat kembali.


"Tu-tuan." Langkah Hani terhenti saat tangan Kyuhyun seakan mengatakan tak usah menghampirinya.


"Lanjutkan." Ujar pria itu tegas. Sedang supir pribadi itu masih terdiam kaku menyaksikan semua ini.


"Sa-saya kemari ingin membuat pengakuan dan meminta maaf dari nona Jina, saya juga bersedia masuk penjara untuk menebus ini semua." Ujarnya dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Jadi hanya itu?" Ujar Kyuhyun yang terdengar dingin meski dia terlihat menahan rasa sakitnya.


"Ap-apa maksudnya tuan?" Tanya ahjussi itu. Ia tak mengerti maksud pertanyaan Kyuhyun. Apa pengakuannya tadi kurang? Atau bagaimana?


"Hah, kurasa kau tak mengerti. Aku tanya sekali lagi, apa hanya itu yang bisa kau jelaskan? Tidak ada hal lain yang harus kuketahui. Ini sungguh membosankan, mengetahui kembali hal ini, apalagi dari mulutmu." Kedua orang didepan pria itu mengaga lebar. Seakan jika Kyuhyun sudah mengetahui semua ini.


"Aku sudah mengetahuinya. Kurasa kerja kerasmu masih kurang Hani." Ujar pria itu sengit dan langsung menatap tak suka kearah gadis itu. Hani membatu seketika. Kenapa seperti ini? Bukankah seharusnya Tuan mudanya itu meraung-raung meminta maaf kepada nona Jina?


"Jika kau pikir dengan membawa ahjussi kesini membuatku melepaskan Jina kau salah besar. Dengan kau yang melakukan ini semua membuatku yakin jika Jina memang harus selalu bersamaku." Ujar Kyuhyun meremehkannya. Sial. Pria itu. Entahlah. Ia tak paham akan situasi ini.


Hani mengepalkan tangannya. Seharusnya ia melihat ketidakberdaan Kyuhyun dan menyaksikan pria itu seakan berada dijurang kematian karena kesalahannya itu.


Kyuhyun mengambil ponsel yang terletak dikasur dengan segera ia menelpon beberapa orang untuk segera kekamarnya.


Hani membulatkan matanya saat para pengawal dirumah ini masuk begitu saja kekamar tuan muda.


"Tuan." Sapa pemimpin pengawal itu dan memberi hormat kepada bosnya.


"Seret mereka keluar dari sini, pastikan pria itu mendekam dipenjara untuk membayar perbuatannya lalu seret wanita ini, bawa ia pergi jauh dari sini, pastikan aku tak melihat wajahnya lagi. Kalian mengerti?!" Ujar Kyuhyun tegas.


"Tuan!" Teriak Hani yang terus saja memberontak, ia tak terima ini. Bagaimana bisa ia harus pergi begitu saja. Bagaimana nasib Jina nantinya? Ia tak bisa membayangkannya.


"Pergilah! Dan jangan menemui Jina lagi!" Teriak Kyuhyun dengan nada frustasi saat melihat wanita itu. Hani sudah lancang mengganggu kehidupannya. Ia benci itu.


"Cepat!" Seru Kyuhyun agar pengawal-pengawal bodoh itu segera pergi dari kamarnya. Pengawal itu terlihat kesusahan saat membawa Hani tapi lain halnya dengan ahjussi, ia tampak pasarah dengan semua ini. Sepertinya ia sudah memperkirakan semua konsekuensi saat datang kemari.


"Anda akan sangat menyesal suatu saat nanti! Aku pastikan nona terlepas dari anda! Anda sungguh jahat! Tak taukah anda telah membuat nona tersiksa selama ini?! Saya harap anda berada dijurang penyesalan!" Teriak Hani sebelum benar-benar menghilang dari pandanganya.


"Arghhhhh!" Kyuhyun melempar semua benda yang dapat ia raih. Wanita itu kenapa harus mengungkit hal itu lagi? Dan ucapannya itu. Akh! Dasar pelayan gila!


Kyuhyun mengigit bibirnya saat merakan sakit itu muncul lagi, keringat dingin mulai menyerangnya dengan segera ia mengambil beberapa butir obat dan langsung meminumnya.


Ia mulai mengatur nafasnya saat sudah meminum obat itu. Penyakit ini pasti kambuh karena ia terlalu banyak pikiran.


"Cih. Sial."


••⏳⏳••


Sejak pria itu sakit, entah kenapa rasanya Kyuhyun seperti menjaga jarak dari Jina. Pria itu benar-benar jarang terlihat dan Hani juga.


Ah. Kemana Hani pergi? Apa ia pulang kampung seperti yang dikatakan penjaga rumah ini? Tapi kenapa tak menghubunginya dulu?


"Bereskan pakaianmu, mulai sekarang kita akan meninggalkan rumah ini." Ujar pria itu yang tiba-tiba saja datang kekamarnya dan memasukkan pakaiannya kedalam koper? Tunggu. Ada apa ini?


"Kau tak dengar?!" Jina terlonjak saat Kyuhyun berteriak. Ia memang sudah terbiasa akan hal ini tapi kenapa saat ini ia tak merasa kesal saat Kyuhyun berteriak kepadanya? Nada kesal itu terdengar seperti sahutan frustasi.


"O-oppa." Ujar Jina terbata, ia tak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Ia hanya terus menatap Kyuhyun yang tengah sibuk dengan bajunya dan benda-benda di kamar Jina.


"Cepat Jina." Jina bertambah terkejut, bukan karena nada perintah dari Kyuhyun tapi untuk pertama kalinya Kyuhyun menyebut namanya! Apa ini mimpi?


"O-oppa, kau barusan menyebut namaku?" Ujar Jina tak percaya. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa mendengar Kyuhyun mengucapkan namanya lagi.


"Tunggu! Kita mau kemana?" Tanya Jina heran saat Kyuhyun menyeret tangannya agar segera meninggalkan kamarnya.


"Jepang."


TBC