It'S Hurt

It'S Hurt
Bertemu




.


.


.


Jina menyantap sarapan paginya dengan malas. Dia tetap mengunyah roti isi telur itu dengan pandangan mata yang begitu datar, sambil terus menghembuskan nafasnya berat.


Acara kemarin begitu membuatnya seperti dikurung dua kali lipat. Selama pesta pertunangan berlangsung pria itu tak mengijinkannya untuk sekedar keluar kamar. Tentu saja hal itu sangat membuatnya terkekang. Ia benar-benar bosan terkurung dikamar selama seharian.


Well. Tapi ada bagusnya juga jadi ia tak harus menunjukkan wajahnya dalam deretan para teman pria itu yang tentu saja tanpa ia pinta Kyuhyun tak pernah melakukannya karena nyatanya selama ini ia merasa sangat jauh dari dunia luar.


Kegiatannya hanya dirumah-kampus, kampus-rumah. Yah. Seperti itulah. Tanpa adanya interaksi dengan orang lain. Apalagi pergi jalan-jalan dengan temannya. Teman? Hah. Tentu saja ia tak punya bahkan jika itu satu orang. Tunggu. Pria aneh yang bernama Oh Sehun bisa ia masukan kedalam list pertemannya. Mungkin?


"Cepat habiskan sarapanmu." Suara berat itu langsung membuyarkan lamunannya. Tanpa diminta juga ia sedang berusaha menelan makanannya yang terasa sulit masuk kedalam tenggorokannya karena kehadiran pria itu yang tepat duduk didepannya dengan membaca koran sambil meminum kopi hangatnya dengan gaya yang arogan.


"Kau harus masuk kuliah, meski kau tak menginginkannya tapi kau harus melakukannya. Kau harus sudah siap bekerja di perusahaanku. Aku tak ingin terlalu lama bekerja diperusahaan seorang diri. Kau tau? Karenamu aku harus merelakan waktu berhargaku dan kau juga membuatku kehilangan masa remajaku untuk mengurus perusahaan agar tetap berdiri kokoh." Ujar pria itu tanpa menatap mata Jina. Pria itu tampak fokus dengan bacaannya.


"Ayo." Ajak Kyuhyun saat dirasa Jina sudah menghambiskan makanannya.


Jina ikut berdiri dan mengikuti pria itu dari belakang. Jina mengusap pelan dahinya. Dahinya menyentuh punggung tegap pria itu dari belakang karena Kyuhyun tiba-tiba menghentikan langkahnya.


Jina sedikit tersentak saat Kyuhyun tepat berada didepannya. Tubuh mereka bahkan hampir menempel dan Jina dapat mencium aroma parfum maskulin milik pria itu yang melekat di jas mahalnya.


"A-apa?" Jina begitu gugup saat wajah Kyuhyun turun sedikit untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dan saat ini Jina bisa langsung menatap bola mata kelam itu dengan lekat tanpa harus menonggakan kepalanya.


"Pasang dasiku." Ujar pria itu pelan. Nafas Jina sedikit sesak. Nafas pria itu sangat terasa diwajahnya. Ia kira pria itu akan melakukan hal yang tidak-tidak lagi. Setelah mengucapkan itu Kyuhyun berdiri tegap kembali, bersiap menunggu Jina yang akan memasangkan dasinya.


Jina menghela nafasnya pelan dan menurutinya. Menyimpulkan dasi berwarna merah yang tampak serasi dengan jas hitam mewah milik pria itu.


Kyuhyun terus memandang wajah Jina yang tak berekspresi. Tangan lentik dan lembut itu terus menyimpulkan dasinya. Entah kenapa darah Kyuhyun berdesir saat tak sengaja tangan Jina menyentuh lehernya. Rasanya ia menginginkan gadis itu lagi untuk menghangatkan tubuhnya yang seakan terbakar karena sentuhan nan lembut itu. Cih. Sial.


Setelah memasang dasinya, merekapun kembali melanjutkan langkahnya menuju mobil sport mewah milik Kyuhyun. Sepertinya Jina menepati janjinya karena nyatanya gadis itu tak mencoba untuk melawan lagi. Well. Itu sudah membuat Kyuhyun sedikit senang.


••⏳••⏳••


"Kau harus langsung pulang dan jangan mendekati siapapun terlebih dengan pria yang bernama Sehun." Peringat Kyuhyun. Jina sedikit mengernyitkan alisnya. Dari mana oppanya itu tau? Ia rasa ia tak pernah mengatakan hal itu kepadanya.


"Sebelum meremukkan ponselmu pria itu menelponmu." Ujar Kyuhyun dengan tetap menatap jalanan.


"Se-sehun? Aku bahkan tak mempunyai teman. Jadi, bagaimana mungkin nama itu ada diponselku?" Ujar Jina sambil mengigit bibirnya pelan. Kyuhyun tak boleh tau jika Sehun berusaha mendekatinya jika tidak ia bisa pastikan hidup Sehun takkan pernah tenang saat Kyuhyun mengetahuinya.


"Well, anggap saja seperti itu tapi jika mulutmu itu berbohong jangan harap kau lepas dari hukumanmu cherry." Tubuh Jina menegang. Ucapan pria itu kembali mengingatkan dirinya saat Kyuhyun menyentuh dirinya saat itu.


Tanpa berniat menjawab lagi Jina lebih memilih diam. Yah. Perkataan pria itu seakan membuat dirinya sulit berbicara lagi.


"Ingat ucapanku." Peringat Kyuhyun lagi. Dan setelah itu pria itupun meninggalkan Jina digerbang masuk sekolah.


Jina menghirup nafasnya lega. Meski ia tak suka dengan kuliahnya tapi ia berusaha menuruti perintah itu.


Bukan karena kuliahnya tapi karena jurusan yang ia harus ambil adalah Businness Management. Padahal ia ingin sekali masuk jurusan masak memasak. Yah. Ia bermimpi bisa membuat berbagai macam masakan yang enak lalu mempunyai sebuah restoran yang cukup terkenal. Tidak perlu di pusat kota besar, sebuah restoran dipinggir kota juga sudah membuatnya tersenyum senang.


"Akh. Pabbo." Jina memukul dirinya sendirinya untuk berhenti memikirkan mimpi-mimpinya itu karena nyatanya hidupnya bagaikan sebuah boneka bagi pria itu.


Jika bersama oppanya ia merasakan perasaan yang begitu campur aduk. Antara takut, sedih, marah, prihatin. Yah semacam itu. Meski Kyuhyun memperlakukannya seperti ini ia merasa tak bisa melarikan diri dari genggaman pria itu.


Sejak dirinya dibawa oleh orang tua Kyuhyun. Entah kenapa pria itu menatapnya dengan aura permusuhan. Dan Jina tak begitu peduli akan hal itu karena nyatanya ia juga bingung dengan ajakan kedua orang tua Kyuhyun yang ia tak kenal saat itu untuk tinggal dengan mereka dan menyuruhnya untuk menganggap mereka adalah orang tua Jina.


Ia yang saat itu berusia 17 tahun masih belum terlalu paham dengan ajakan tiba-tiba mereka. Dan sepertinya Jina juga harus menerima permintaan itu karena ia juga tak tau harus kemana lagi. Nyatanya orang tuanya telah tiada dan dirinya sebatang kara didunia ini. Sejak saat itu Jina terus bertahan dirumah keluarga Cho. Ia begitu senang dengan perlakuan orang tua barunya, mereka memperlakukannya dengan begitu baik. Sangat menyayangi dirinya meski ia mempunyai oppa yang begitu dingin kepadanya. Ia tetap tersenyum tulus kepada kakak laki-lakinya itu karena ia juga menyayangi kakaknya meski pria itu tak pernah mengakui Jina sebagai adiknya.


"Aku akan berusaha untuk menebus kesalahanku oppa tapi aku juga ingin terlepas darimu." Lirih Jina. Iapun melangkah menuju kekelasnya. Memulai hari-harinya yang akan terasa sangat membosankan.


••⏳••⏳••


Gadis itu terduduk disudut ruangan. Tempat yang cocok untuk dirinya. Menurutnya. Meski selalu duduk seorang diri tapi ia bersyukur karena semakin kecil orang-orang yang akan memperhatikannya.


Ia duduk menopang dagu dengan tangan kirinya sambil menatap keluar jendela. Melihat para mahasiswa lain yang sedang bermain bola dari lantai dua ruang kelasnya. Ia sedikit membuka jendela agar udara segar itu masuk.


Wushhh...


Tanpa diduga angin kencang menerpanya, membuat tatanan rambut panjangnya berantakkan. Dengan segera ia merapihkannya.


Seorang pria terkejut akan hal itu.


Tanpa Jina sadari pria itu sudah berdiri tepat disampingnya. Jina terkejut saat dirinya sibuk untuk merapihkan rambutnya ternyata sejak tadi ada orang lain yang memperhatikannya.



"Boleh aku duduk disini?" Suara itu. Jina menonggakkan kepalanya dan langsung melihat wajah pria itu. Dia. Sehun. Pria aneh yang ia temui saat tak sengaja ditaman bermain saat itu. Saat dirinya membolos pelajaran untuk pertama kalinya.


Jina langsung menundukkan kepalanya. Pasti Sehun melihat luka diwajahnya. Ia malu sekali.


"Haha, kau masih saja dingin." Ujar pria itu dengan nada senang.


Benarkan? Pria itu sedikit aneh. Padahal Jina tak pernah menganggap kehadirannya. Tapi nyatanya pria itu tetap tersenyum senang terlebih sekarang duduk disebelahnya. Menjadi teman sebangkunya. Tunggu. Teman sebangku?


"Kurasa kau tak mendengar saat dosen itu memperkenalkan aku sebagai anak baru." Ujar Sehun seperti menebak isi pikirannya. Jina masih menyembunyikan wajahnya dan berusaha tak mendengarkan ucapan pria itu.


"Kau lucu. Kurasa kau malu karena wajah cantikmu itu." See? Pria itu terus saja berusaha mengajak dirinya berbicara. Jina mengeratkan bolpoint yang ia genggam sejak tadi dengan kuat. Pria itu seperti mengejek dirinya!


"Kau mengejekku?" Ujar Jina dengan nada kesal. Jina menatap pria itu. Sehun mengeryitkan alisnya.


"Mengejek? Ani. Kau memang cantik. Bahkan saat kau menumpahkan es krim dibajuku saat itu." Ujar pria itu yang terdengar santai.


"Kau mengejekku. Bukahkah kau sudah melihat luka diwajahku?" Ujar Jina dingin. Benar pasti pria itu tengah mengejek dirinya sama seperti yang oppanya lakukan.


"Ani. Kenapa kau berpikir seperti itu?" Ujar Sehun tak percaya. Ia tak merasa salah akan ucapannya. Memang nyatanya gadis itu sangatlah cantik.


Jina bertambah geram saat mendengarnya. Dengan tanpa sepatah katapun ia berdiri dan meminta ijin kepada dosen yang mengajar untuk ke toilet.


Sepeninggal Jina, Sehun merasa bingung setengah mati. Gadis itu aneh. Bukankah para wanita sangat suka jika dipuji? Lalu kenapa ucapannya barusan membuat gadis itu merasa sangat kesal?


Ini sungguh menarik. Terlalu banyak hal yang coba gadis itu tutupi. Seperti luka diwajahnya. Yah. Dia sedikit terkejut saat mengetahui hal itu tapi itu tak masalah karena gadis itu tetap sangat cantik dimatanya dan ia ingin lebih dekatnya.


'"Astaga, aku lupa menanyakan namanya." Sehun menepuk dahinya pelan.


"Mr. Kim. Saya ijin untuk ke toilet." Setelah mendapat ijin Sehunpun segera menyusul kemana gadis itu pergi. Yah. Ia harus berkenalan dengannya.


TBC