It'S Hurt

It'S Hurt
Terlihat baik baik saja



Wendi kini sedang berjalan diarena sekolah sambil memegang kedua tali tasnya, ia hari ini berangkat sendiri kesekolah karna Andre kekasihnya itu tidak datang menjemputnya akibat masalah semalam, semenjak itu, Andre tak mengangkat telpon Wendi . Cewek itu hanya bisa pasrah, karna ini memang kesalahannya yang tak mau mendengarkan cowok itu


"Lo berangkat sendiri?" Wendi langsung menoleh kesumber suara , disana sudah ada Gevan yang berjalan tepat disamping cewek itu


"Pacar lo marah?"


"Hm. Gak papa kok, entar gue ajak dia ngomong"


"Wendi" itu adalah Rena yang datang sambil berlari mendapati keberadaan kedua remaja itu, Rena menatap sinis melihat keberadaan Gevan disana pertanda ia tak suka melihat cowok itu


"Kenapa re"


"Gue cabut" Gevan yang sudah tak suka dengan tatapan Rena pun langsung saja pergi dari sana


"Lo ngapain sih dekat sama dia lagi?" Rena memukul lengan temannya itu kuat sampai terdengar suara meringis kesakitan


"Emang kenapa?"


"Ck, lo mau dimanfaatin lagi?, Dia udah pernah jahat sama lo wen, lo sadar dong" gerutu Rena yang benar benar kesal melihat cewek itu


"Dia gak sejahat yang lo kira re"


"Ohhhh, gue tau, lo suka sama dia?" Mata Wendi membulat sempurna mendengar pertanyaan dari lawan bicaranya itu


"Lo gila! Ngapain gue suka sama dia. Aneh" Wendi kemudian pergi melangkahkan kaki dari sana sesegera mungkin


"Wen, tungguin gue mak lampir"


*****


Wendi mengintip setiap sudut dari ruangan itu, mencari objek yang ingin ia temui,  ia tersenyum lebar ketika melihat Andre dan kedua temannya disana, sebenarnya ia merasa geli dengan tingkahnya sekarang namun ia harus melakukan ini untuk memperbaiki semuanya


"Hai" ketiga cowok itu serentak menoleh dan sedikit terkejut melihat kehadiran Wendi disana


"Eh, neng Wendi. Mau ngapain?" Jawab Rizal dengan gaya menggodanya


"Mau jumpai pacar gue lah"


"Tumben banget?, Gak biasanya lo kayak gini"


"Woi ndre, pacar lo datang kok lo malah cuek, biasanya lo paling heboh sedunia" Andre tak menjawab, ia hanya sibuk dengan benda pipih yang ada ditangannya itu


"Pasti lo berdua berantam" Wendi hanya tersenyum kaku mendengar tebakan Rendi yang langsung benar


"Berantam?, Wah wah... gak bener lo berdua, baru aja pacaran udah berantam, ketahuan banget gak jodoh"


"Lo selesaiin masalah lo berdua, kita cabut kekantin" Rendi berdiri dan beranjak pergi dari sana, namun ia melihat kebelakang dan melihat ternyata Rizal masih duduk rapi disana


"Woi zal, ngapain lo. Ayo" teriak Rendi sedikit keras


"Gue kepo anjir" Rendi menatap tajam Rizal dari kejauhan membuat cowok itu sedikit merasa takut hingga akhirnya Rizal pun memutuskan untuk ikut pergi bersama Rendi


Kini, tinggallah Wendi dan Andre disana, Andre masih cuek seperti tak menganggap kehadiran cewek itu disana, Wendi menarik nafasnya pelan dan kemudian duduk disamping kekasihnya itu


"Ndre, kamu marah?" Bukannya menjawab, cowok itu malah berpindah arah supaya tak bertatapan dengan Wendi, melihat itu Wendi menarik kursi dan kembali duduk didepan cowok itu


"Dia cuman mampir bentar doang" Andre masih diam dan kembali berputar arah untuk tak bertatapan dengan Wendi, namun cewek itu tak menyerah, ia menarik cowok itu kuat hingga kini mata mereka saling bertemu satu sama lain


"Aku minta maaf sayang" ucap Wendi lembut membuat Andre yang mendengarnya terkejut


"Aku minta maaf ndre" Wendi kemudian melepaskan tangannya dari cowok itu sementara Andre kini mulai menarik sudut bibirnya senang mendengar perkataan kekasihnya itu


"Kamu maafin aku kan?" Andre menegakkan badannya lalu menatap cewek itu lembut


"Asalkan kamu gak ngulangin lagi" Wendi tersenyum lebar lalu kemudian menggandeng lengan cowok itu kuat


"Aku janji" jawab cewek itu memberi kepastian agar cowok itu mempercayainya


"Kantin yok" ajak cowok itu dan langsung menggandeng tangan cewek itu menuntunnya berjalan menuju kantin


*****


"Kamu ibu perhatikan akhir akhir ini banyak masalah" jelas Bu Siska yang merupakan wali kelas dari cowok yang tengah duduk didepannya itu


"Kamu ada masalah?"


"Gak ada bu" jawab Gevan singkat membuat perempuan paruh bawa itu sedikit harus bersabar menghadapinya


"Nilai kamu banyak yang turun, kamu sering bolos jam pelajaran bahkan kamu sering berantam, tadinya kamu itu siswa yang pintar tapi sekarang kamu jadi nakal" Gevan masih tetap diam disana


"Semenjak kematian mama kamu enam bulan yang lalu kamu jadi berubah, kamu pikir mama kamu senang liat kamu yang sekarang?" Gevan masih sama, tetap diam tak berniat menjawabnya


Perempuan paruh baya itu kemudian memberikan sebuah kertas yang berisi surat panggilan kepada orangtua Gevan


"Ibu gak mau tau, pokoknya besok saya ingin bicara langsung dengan orang tua kamu, kalau tidak saya akan hubungi langsung wali kamu. Kamu boleh keluar" dengan hati yang bercampur aduk, Gevan keluar dari ruangan itu.  Cowok it berjalan dikoridor sekolah menuju ruangan kelasnya dengan pikirannya yang masih tertuju kepada surat panggilan yang ada ditangannya itu


"Gevan" cowok itu terkejut melihat Gisel yang sedang duduk didepan kelasnya, Gevan kemudian meremas


kertas yang ia terima tadi lalu memasukkannya kedalam kantong celananya


"Kamu ngapain?" Tanya Gevan sembari duduk disamping cewek itu


"Maaf yah, semalam aku gak angkat telp kamu, aku nemenin mama belanja soalnya"


"Gak papa" jawab cowok itu singkat


"Kenapa telp?Ada masalah?"


"Gak ada. Cuman mau ngajak kamu keluar aja, kita udah lama gak keluar bareng. Nanti malam kamu sibuk?"


"Maaf van, aku gak bisa. Kamu tau kan papa lagi sakit, aku gak tega ninggalin papa sendiri, mama juga pulang kerja kadang udah larut malam, jadi yang jagain papa cuman aku"


"Yaudah, gak papa. Kalau kamu ada waktu kabarin aku"


"Pasti" ucap cewek itu sambil mengacungkan jempolnya membuat Gevan yang melihatnya sedikit tersenyum


*****


"Uummm.... wah, segarr" ucap Rena dengan semangat setelah ia meneguk minuman yang ada ditangannya


"Ini emang enak banget tau gak, rasanya gak ada yang nandingin"


"Lebay banget sih lo re"


"Lo mesti cobain ini wen, gue jamin lo bakalan jatuh cinta sama minuman ini"


"Ogah, gue gak suka rasa lemon"


"Ya iyalah, lo kan sukanya sama Andre" Rena mencoba menggoda temannya itu namun Wendi hanya diam, tak berniat menjawab


" Kayaknya lo emang udah mulai nyaman deh sama Andre"


"Biasa aja"


"Ihh, gue serius. Lo udah mulai sayang kan sama dia" Wendi membisu mendengar pertanyaan cewek itu, iya bahkan sebenarnya tidak tau bagaimana perasaannya yang ssebenarnya terhadap cowok itu


"Iya kan?"


"Entahlah, gue masih ragu sama perasaan gue re"


"Makanya, lo mesti percaya dulu wen sama Andre"


"Gue masih takut"


"Apa sih yang lo takutin?" Wendi hanya menunduk diam Diana


"Lo yakin dia gak bakalan nyakitin gue re?"


"Gue yakin wen. Andre sayang banget sama lo, dia gak halal nyakitin lo" Wendi hanya menatap cewek disampungnya itu


"Jangan sia siain orang yang sayang sama lo wen, sebelum lo menyesal"