
...Ketika sedang mencintai, mencintailah sewajarnya tanpa harus berlebihan karna ketika sudah berlebihan, maka akan menimnulkan rasa sakit yang berlebihan pula...
...W...
Wendi berlari cepat cepat bukan karna dirinya terlambat melainkan ingin menjumpai Andre kekasihnya itu. Akibat terlalu menikmati waktu dengan Gevan semalam sampai akhirnya dirinya melewatkan beberapa panggilan dari kekasihnya itu semalam
Wendi diam berdiri ketika melihat orang yang ia cari kini ada tepat didepannya sambil menatap kosong kearahnya
"Ndre, aku..bisa"
"Kemana aja semalam?" Tanya cowok itu ketus sambil memasukkan kedua tangannya kedualam saku
"Maaf ndre, aku semalam ada kerjaan"
"Kerjaan? Apa? Kemana? Sesibuk itu sampe telfonan aku gak bisa diangkat?" Wendi menelan air liurnya susah payah akibat dirinya tak tau harus berkata apa lagi sekarang
"Kamu kemana semalam?" Wendi diam dan menatap takut takut cowok itu. Andre yang melihat cewek itu diam kemudian tertawa kecil disana
"Wahh, pasti kamu capek banget semalam. Iya kan?" Ucap Andre sambil mengelus elus rambut cewek itu
"Maaf ndre"
"Kamu gak perlu minta maaf terus sama aku wen. Itu gak berguna" Andre kemudian menatap tajam cewek itu, ia kini mulai mengepalkan tangannya lalu dengan tiba tiba meninju dinding yang ada disana sekuat tenaga membuat Wendi benar benar terkejut disana
"Ndre, tangan kamu"
"Arrhhh!" Cowok itu melepas cekalan Wendi kuat
"Kamu puas? Puas setelah kamu kencan dengan Gevan" Wendi terkejut ketika kekasihnya itu tahu jika dirinya pergi dengan Gevan
"Kenapa? Kenapa kamu diam? Aku salah? JAWAB AKU WEN!" Wendi hanya diam disana, ia tahu jika dirinya menjawab maka emosi cowok itu akan bertambah
"Sekarang apa? Kamu mau apa? Kamu lebih bahagia sama Gevan kan dibanding sama aku?"
"Andre, aku sama Gevan cuman teman. Aku cuman sayang sama kamu ndre, please dengerin aku dulu"
"Aku gak mau dengerin kamu lagi dan mulai sekarang semua terserah kamu. Hubungan ini lanjut atau enggak, semua terserah kamu"
"KENAPA AKU SELALU SALAH NDRE!" ucap cewek itu keras, kini ia tak bisa menahan air matanya lagi
"Kenapa kamu bisa senang senang sama teman kamu sementara aku enggak. Kenapa kamu bisa larang aku dekat sama Gevan sementara aku enggak, kenapa kamu bisa marah sementara aku enggal bisa. Kenapa semua yang aku lakuin salah dimata kamu ndre, aku udah berusaha ngelakuin yang terbaik buat kamu tapi kenapa selalu salah, KENAPA NDRE!"
"Kamu mau tau jawabannya?" Wendi diam menatap kearah kekasihnya itu
"Karna kamu gak pernah dengerin aku wen. Kamu selalu dengan sifat egois kamu"
"Aku janji bakal dengerin kamu mulai sekarang kalau itu yang kamu mau ndre"
"Cukup wen. Aku capek dengar janji dan janji dari kamu tapi nyatanya semua nihil"
"Aku bakal jauhin Gevan mulai sekarang" Andre menatap cewek itu tepat di manik matanya
"Aku janji ndre"
...*******...
"Gimana kencan lo sama Wendi? Lancar?" Tanya Daniel kepada Gevan yang berdiri disampingnya
"Kencan apaan. Gue gak pernah kencan sama Wendi"
"Lah, jadi semalam itu apa?"
"Gue cuman kasihan liat dia nangis terus makanya gue ajak dia keluar"
"Lo suka kan sama Wendi?" Gevan mengalihkan pandangannya menatap Daniel sahabatnya itu
"Lo gila?"
"Gue serius setan!"
"Terserah lo" Daniel berdecak kesal dengan Gevan disana. Daniel menatap kedepan lalu kemudian menepuk pundak Gevan dan memberi isyarat dengan kepalanya pertanda ada orang yang menunggunya di belakang
Gevanpun langsung berbalik badan dan melihat Andre yang sudah berdiri disana sambil menatap kearah mereka
"Gue udah bilang sama lo, jangan cari masalah lagi" ucap Daniel pelan
"Lo tunggu disini" Gevan kemudian berjalan mendekat dimana Andre berdiri
Buukk....
Andre langsung meninju pipi kiri cowok itu kuat hingga mengeluarkan darah segar dari ujung bibir Gevan
"Gue udah peringatin lo jangan pernah dekati Wendi " Gevan tersenyum tipis mendengarnya
"Ternyata, lo masih peduli sama Wendi?"
"Wendi pacar gue"
"Gue tau, dan semua orang tau itu. Tapi kenapa lo malah nyakitin dia?"
"Itu bukan urusan lo! Lo gak perlu urus urusan gue"
"Lo takut? Takut kalau Wendi jatuh ketangan gue?" Andre kini mengepal kedua tangannya, ingin rasanya ia menghajar cowok itu habis habisan sekarang
"Gue gak bakal biarin lo rusak hubungan gue lagi"
"Gue bakal rusak ketika gue punya kesempatan"
"Gue bakal bunuh lo!" Ucap Andre mengancam cowok itu
"Stop, stop" Daniel kemudian datang karna takut jika keduanya kembali membuat mesalah lagi
"Kalau lo mau ngelakuin itu, artinya lo bakal mati ditangan gue" setelah berkata demikian, Andre pergi dari sana
"Wah, Andre hebat juga menahan emosinya" Daniel terkejut heran mendengar ucapan cowok itu
"Kalau gue diposisinya dia, gue bakal cabik cabik orang yang berani dekatin pacar gue" ucap Gevan sambil mempraktekkan dirinya seolah sedang mencabik cabik sementara itu Daniel masih menatap bingung sahabatnya itu
"Jadi lo sengaja dekatin Wendi? Lo mau bener bener mau rusak hubungan mereka?
"Ya enggaklah. Gila lo! Gue bilang gitu supaya dia berhenti marah marah sama Wendi dan menjaga pacarnya dengan baik"
"Ckckck, lo udah kayak malaikat tersembunyi buat Wendi"
"Kepala lo malailat" Daniel tertawa puas disana mendengar jawaban itu
...*******...
Gevan memasukkan semua buku dan peralatan tulis lainnya kedalam tasnya. Jam sekolah sudah berlalu sekitar dua puluh menit yang lalu sehingga sekolah kini sidah mulai sepi. Gevan menoleh ketika melihat sebuah kado yang ia berikan semalam kepada Wendi kini ada diatas mejanya
"Gue balikin!" Gevan menutup tasnya dan kemudian menghadangnya
"Gue gak terima lagi"
"Gue juga gak terima" Gevan menatap cewek itu. Ia tahu, alasan cewek itu tidak menerimanya adalah hanya satu, yaitu Andre.
"Lo tau, ketika orang lain memberi sesuatu itu diterima bukan ditolak"
"Gue gak mau Andre salah paham"
"Andre gak akan salah paham hanya karna perkara kado. Kalau pacar lo marah, lo bisa lempar kado itu sama mukanya Andre" ucal Gevan celetus kepada cewek itu
"Gue gak mau"
"Kalau lo tetap gak mau, lo bisa buang tapi jangan balikin ke gue"
"Kalau gitu, gue bakal buang"
"Terserah" Gevan kemudian pergi dari sana tanpa memperdulikan cewek itu. Wendi menatal kado itu, ia bahkan belum tahu apa isinya namun jika Andre melihatnya maka Andre akan semakin marah namun Wendi juga tak tega jika harus membuang kado itu
...*******...
Andre menghentikan motornya metika melihat Yeri, cewek yang waktu itu bersama dengan Jinny duduk sendirian dikursi panjang ditepi jalan. Andre turun dari motor kemudian menghampiri cewek itu
"Lo ngapain disini?" Yeri terkejut melihat kehadiran Andre disana
"Gue lagi nungguin Jinny ndre"
"Jinny?"
"Bokap gue gak bisa jemput jadi gue minta tolong sama Jinny buat jemput gue"
"Jadi, lo udah hubungi Jinny?"
"Udah. Tapi dia belum balas pesan gue, gue telfon juga gak diangkat"
"Yaudah, biar gue yang antar aja"
"Gak usah ndre, gue gak mau repotin lo"
"Lo gak repotin kok yer, ayo" cewek itu awalnya ragu ragu, namun akhirnya ia mau setelah cowok itu kembali mengajaknya
Tak lama kemudian mereka sampai didepan rumah cewek itu. Yeri kemudian turun dari atas motor
"Makasih ya ndre, maaf lo jadi repot"
"Sama sama" ucap Andre tersenyum lebar menunjukkan kedua lesung pipinya
"Lo mau singgah dulu?"
"Gak usah yer, gue langsung pulang aja. Bye"
"Hati hati ndre" ucap Yeri sambil melambaikan tangan kearah cowok itu. Yeri tersenyum kegirangan akibat dirinya diantar oleh cowok itu
Wendi tersenyum lebar ketika melihat Andre sudah datang, iapun langsung menghampirinya
"Andre" cowok itu sedikit terkejut melihat Wendi yang tiba tiba datang kerumahnya masih dengan seragam sekolahnya
"Ngapain kesini?"
"Aku mau ketemu sama kamu"
"Aku capek"
"Tapi ndre, aku udah datang jauh jauh kesini buat ketemu sama kamu"
"Aku capek wen, dan aku lagi malas ketemu sama kamu"
"Tapi ndre"
"Kamu mau buat aku marah?" Wendi langsung diam disana tak berani lagi menatap cowok itu
"Kamu pulang aja sekarang dan jangan ganggu aku untuk semenara waktu" Andre kemudian masuk kedalam dan menutup pintu
Wendi memang sengaja datang kesana berharap jika dirinya bisa bertemu dan mencoba bicara baik baik padanya namun ternyata, Andre masih marah padanya
Wendi duduk diam didepan meja belajarnya, pikirannya selalu tentang Andre kekasihnya itu. Ia sebenarnya pergi bersama Gevan hanya untuk menenangkan dirinya saja, mencoba untuk menjernihkan pikirannya, mencoba untuk jauh sebentar dari masalah namun ternyata malah menjadi masalah besar
Lagi dan lagi, air mata cewek itu kembali mengalir dipipi cewek itu. Perasaannya kini bercampur aduk, ia benar benar sangat dan sangat mencintai Andre, ia kini sudah terlalu jauh mencintainya sehingga untuk meninggalkannya pun ia tak sanggup, hal yang cewek itu takutkan sekarang adalah jika Andre pergi meninggalkannya