
...Tidak perlu mengharapkan seseorang itu untuk kembali, karna itu hanya akan menjadi sia sia...
Sekarang , Wendi hanya bisa menatap Andre orang yang ia cintai dari kejauhan. Bahkan kini, Wendi harus bisa menahan perih dihatinya ketika melihat Andre sudah dengan perempuan lain.
Andre , yang dulunya selalu ada bersamanya, menemani dirinya dan selalu mengisi hari harinya sekarang sudah pergi meninggalkannya. Cowok itu bahkan meninggalkan luka yang teramat dalam dihati cewek itu.
Air mata cewek itu kembali mengalir membasahi pipinya ketika dirinya harus melihat Andre kini bersama dengan Yeri, orang yang kini mengisi hati cowok itu. Mereka tampak bahagia seolah tak merasa bersalah dengan apa yang mereka laukan terhadap dirinya
“Lo masih sedih?” suara seorang laki laki berhasil membuatnya tersadar dan menoleh kearah suara
“Gue terkejut ketika tau kalau lo sama Andre udah putus” Ucap Rendi disana yang sudah duduk disamping cewek itu
“Sebenarnya apa masalah lo sama Andre, kenapa dia tiba tiba mutusin lo kayak gini?” Wendi menundukkan kepala disana sambil mencoba menghapus jejak air matanya disana
“Wen” Rendi kemudian memegang bahu cewek itu ketika dirinya melihat Wendi yang tak berhenti menangis disana
“Gue tau, ini pasti berat buat lo. Tapi berhenti menangis wen, janan siksa diri lo kayak gini” Wendi masih teta diam disana, bibirnya tak sanggup untuk berkata sepatah katapun disana
“Gue, gue pengen sendiri ren” Rendi yang mendengar itu hanya bisa menatap prihatin kearah cewek itu
“Please”
...*******...
Gevan menark nafasnya panjang ketika ia sudah sampai di rooftop sekolah. Cowok itu menatap sekeliling mencoba mencari Wendi, cewek yang menyuruhnya untuk datang menemuinya itu.
Gevan kemudian berjalan ketika dirinya melihat cewek itu sudah berdiri membelakangi dirinya
“Lo ngapain nyuruh gue kesini?” Tanya cowok itu yang kemudian ikut berdiri disambing cewek itu dengan kedua tangannya ia masukkan kedalam saku celananya
“Lo gak capek nangis terus?”
“Gue sebenarnya capek, tapi gue gak tau caranya supaya gue bisa berhenti”
“Lupain dia” Wendi perlahan menoleh kearah Gevan yang juga kini sudah menatapnya
“Jangan buang buang waktu lo buat mikirin dia terus, masih banyak hal yang lebih penting dibanding lo harus sedih , nangis hanya karna orang yang gak berguna kayak dia”
“Tapi gue gak bisa van”
“Lo bisa wen”
“Gue gak bisa van. Itu berat buat gue!” Gevan kemudian berbalik badan agar berdiri sejajar dengan cewek itu
“Kalau gitu terserah lo. Silahkan lo hidup dengan kenangan kenangan lo itu, dengan semua sakit hari lo, dengan semua rasa kecewa lo silahkan!! Lo pikir orang kasihan liat lo kayak gini? Yang ada semua orang ketawa liat lo nangis terus wen”
“Bantu gue buat bisa lupain dia van” Gevan semakin kesal mendengar perkataan cewek itu disana
“Gue perlu bantuan lo buat gue bisa lupain dia”
“Gue gak bisa”
“Hah?”
“Gue gak bisa bantuin lo wen karna cara buat lo bisa lupain dia itu harus dari dalam diri lo sendiri, bukan dengan bantuan orang lain”
“Tapi dengan bantuan orang lain juga bisa kok van”
“Gila lo! Gue gak mau. Gue sibuk!”
“Van” Cewek itu merengek disana mencoba membujuk Gevan untuk mau membantu dirinya
“Van” Gevan hanya bisa membuang mukanya disana tak mau ikut campur dengan masalah cewek itu, ia kini sudah lelah berhadapan dengannya
“Lo mau liat gue sedih terus?”
“Itu bukan urusan gue”
“Gue kan teman lo van, lo tega banget sih”
“Lo bukan teman gue”Wendi yang mendengar itu hanya bisa terdiam disana dan seketika itu berhenti untuk membujuk cowok itu. Gevan melirik kearah cewek yang kini sudah diam dan menundukkan kepalanya disana
“Pulang sekolah ikut gue” Wendi seketika langsung menatap kearah cowok itu
“Kemana?”
“Lo ikut aja gak usah banyak pertanyaan” Ucap cowok itu sambil berjalan pergi dari sana karna memang bel masuk kelas sudah berbunyi
“Oke” Ucap Wendi kegirangan lalu mengikuti langkah cowok itu dari belakang sambil tersenyum lebar
...*******...
Gevan dan juga Wendi kini sampai didepan sebuah rumah besar yang diketahui adalah tempat tinggal cowok itu. Dengan cepat cewek itu turun dari atas motor dan membuka helm yang ia pake
“Wahh, tumben lo mau ngajak gue kesini”
“Bukannya lo senang?” Dengan cepat cewek itu menganggukkan kepalanya disana sambil tersenyum lebar disana
“Entah apa yang lo cari dirumah gue” Gevan kemudian turun dari atas motor dan mengajak cewek itu untuk masuk kedalam
“Papa lo kemana?”
“Kerja”
“Ohh…”
“Lo tunggu disini bentar, gue mau ganti baju” Gevan kemudian naik ketas untuk mengganti pakaian dikamarnya sementara itu Wendi tinggal dibawah dengan matanya menatap sekeliling ruangan.
Pandangan cewek itu berhenti ketika melihat sebuah foto yang menunjukkan Gevan,Steven dan kedua orang tuanya disana, dengan cepat tangan cewek itu mengambil foto itu
“Lia tapa lo?” Gevan turun dan menghampiri cewek itu disana
“Tangan lo lasak banget ya” Ucap Gevan lalu mengambil foto itu dari tangan cewek itu dan kembali meletakkannya ditempat semula
“Gue cuman liat doang kok”
“Lo lapar?” Tanya Gevan kepada cewek itu
“Hm, Gue lapar banget”
“Gak usah van” Gevan yang mendengar itu mengerutkan keningnya bingung disana
“Kita masak aja” Wendi melepas tasnya disana lalu kemudian berjalan menuju kulkas dan membukanya
“Isi kulkas lo banyak, sayang kalau dibiarkan menganggur disini terus” Gevan masih tetap diam disana tak mengerti apa maksud dari perkataan cewek itu
“Kenapa lo diam aja? Sini bantuin gue masak”
“Emang lo bisa masak?”
“Ck, lo meragukan kemampuan gue?”
“Bukannya lo cuman bisa nangis doing yah?” Wendi dengan cepat meninju lengan cowok itu kuat hingga membuatnya meringis kesakitan disana
“Sekali lagi lo ngomong gue congkel mata lo” Gevan hanya tersenyum tipis melihat mimic wajah kesal cewek itu disana
Mereka pun kini mulai sibuk untuk memasak. Mereka mulai mengambil bahan bahan yang ingin mereka masak dari dalam kulkas.
Terlihat mereka sedang sibuk dengan pekeraannya dan terkadang mereka saling membuat lelucon yang membuat keduanya tertawa bersama disana. Gevan sesekali menatap cewek itu sambil tersenyum, ia senang melihat cewek itu kini sudah tidak menangis lagi
“Tada…….selesai” Ucap Wendi ketika melihat makanan sudah siap disajikan
“Ayo makan” Mereka kemudian menyantap makanan yang mereka masak sendiri
“Hmm, enakkan masakan gue?”
“Biasa aja” Ucap gevan singkat membuat Wendi kesal mendengarnya
“Bilang enak aja lo gengsi banget sih”Tidak ada respon dari cowok itu lagi disana
“Van, Kak steven pulangnya jam berapa?”
“Lo jatuh cinta sama dia? Tiap hari lo nyariin dia terus”
“Emang kenapa? Dia seru gak kayak lo”
“Emang gue kenapa”
“Lo. Lo nyebelin”
“Awas lo, entar jatuh cinta sama gue” Wendi yang mendengar itu tersendak dan cepat cepat langsung mengambil air minum
“Lo bilang apa? Jatuh cinta?”
“Gue cuman bercanda kali”
“Bercandaan lo gak lucu”
“Yang bilang lucu siapa?” Wendi hanya mengerucutkan bibirnya kesal disana. Wendi memang selalu kalah jika harus berdebat dengan cowok didepannya itu
“Cepat makan. Kita mau pergi”
“Pergi? Kemana?”
...*******...
“Lo mau ngajak gue nonton?” Ucap Wendi ketika mereka sampai disebuah bioskop besar disana
“Lo suka film horror?” Cewek itu menganggukkan kepalanya cepat disana
“Itu film kesukaan gue”
“Kalau gitu ayo masuk” Mereka kemudian masuk kedalam. Film sudah dimulai dan terlihat mata cewek itu hanya fokus menatap layar besar yang ada disepan matanya.
Badannya tegang menonton film horror yang ada, cewek itu sesekali berteriak kuat akibat terkejut membuat Gevan yang melihat itu hanya tersenyum tipis merasa lucu dengan sikap cewek itu disana
Setelah film selesai, keduanya segera keluar dari dalam sana dengan ekspresi lega dan puas setelah selesai menonton
“Hah, akhirnya selesai juga”
“Lo suka?”
“Hm. Gue suka. Makasih ya” Dering handphone cowok itu tiba tiba berbunyi membuat Gevan dengan cepat mengambil ponsel itu dari dalam kantong jacketnya
“Bentar ya, gue mau angkat telfon dulu” Setelah pamit dengan cewek itu, Gevan pergi menjau mencari tempat yang agak tenang untuk mengangkat telfonnya.
Wendi kemudian menatap sekeliling yang memperlihatkan banyak orang disana namun tiba tiba senyum dibibirnya perlahan hilang ketika melihat Andre bersama dengan Yeri kekasihnya yang baru berada disana.
Keduanya terlihat asik mengobrol dengan Andre merangkul cewek itu dengan hangat. Hati cewek itu kembali sakit, kejadian malam itu kembali terlintas didalam ingatannya membuat dadanya sesak disana
Tiba tiba seorang anak kecil yang berlari kencang menabrak dirinya hingga membuatnya terjatuh ditanah
“Maaf kak” Ucap anak kecil itu lalu segera pergi dari sana. Sementara itu, Wendi masih tersungkur diatas tanah dan kembali dirinya menatap kedepan melihat Andre yang masih tetap merangkul cewek itu disana.
Lagi dan lagi, air mata cewek itu turun tanpa izin mengalir membasai pipinya disana
“Wen, lo gak papa?” Ucap Gevan ketika melihat cewek itu terjatuh diatas tanah. Dengan cepat Gevan memegang pergelangan tangan cewek itu untuk membantuya bangkit berdiri
“Lo kenapa bisa jatuh, Siapa yang buat lo jatuh? Lo baik baik aja kan, kaki lo ada yang sakit” Gevan kemudian menatap cewek itu dan terkejut ketika melihat Wendi kini menangis disana
“Wen, lo nangis? Lo kenapa la,,” Belum selesai, Gevan kini melihat Andre ada disana bersama dengan Yeri. Kini, cowok itu paham kenapa cewek itu menangis disana
“Kita pergi dari sini” Gevan langsung menarik tangan cewek itu untuk segera pergi dari sana
“Kenapa dia selalu muncul van” Gevan menghentikan langkah kakinya ketika mendengar perkataan dari mulut cewek itu
“Kenapa disaat gue udah mulai lupain dia, dia datang dan muncul didepan gue. Kenapa van!” Gevan masih diam disana menatap cewek itu
“Apa Tuhan gak mau liat gue senang? Gue salah apa van, gue salah apa. Kenapa gue gak bisa bahagia, kenapa gue selalu disakiti, kenapa harus gue van, apa gue gak berhak untuk bahagia?. Gue capek van” Wendi kini menangis disana, enah kenapa rasa sakit yang kini ia terima dari Andre terasa sangat menyiksanya
Wendi kini hanya bisa menagis disana meluapkan semua rasa sakit hatinya sementara itu Gevan hanya diam menatap cewek itu.
Entah kenapa, sebenarnya Gevan benci ketika melihat cewek itu selalu menangis didepannya, rasanya ia ingin sekali membunuh Andre yang tega menyakiti gadis itu tanpa memperdulikan tentang bagaimana perasaan cewek itu disana
Perlahan , tangan cowok itu terulur untuk memegang bahu Wendi mencoba untuk memberi ketenangan kepada cewek itu
“Gue disini buat lo wen”