It'S Hurt

It'S Hurt
FAKTA



...Karna kitalah yang seharusnya mengubah keadaan, bukan keadaan yang merubah kita...


...W...


Andre melipat kedua tangannya didada sambil menghela nafasnya disana, ia benar benar merasa bosan dan sangat lapar sekarang. Kini ia berada diperpustakaan bersama dengan kekasihnya Wendi, cewek itu tengah sibuk mengerjakan tugasnya sementara Andre tidak melakukan apa apa disana


"Sayang, kita kantin yok. Aku lapar"


"Ck, kamu pergi sendiri aja, aku lagi ngerjain tugas ndre"


"Ngerjain dirumahkan bisa wen"


"Nanti malam aku mau nonton drakor" Andre yang mendengar itu langsung diam. Ia kemudian berfikir sejenak untuk mencari cara agar cewek itu mau keluar dari ruangan yang dipenuhi tumpukan buku itu


Setelah berfikir lama, Andre mendapatkan ide. Ia kemudian mengambil ponsel dari dalam kantong celananya lalu mencoba menelpon seseorang


"Halo, Jinny" memdengar nama itu, Wendi sontak menatap kearah cowok itu


"Lo dimana?, kantin yok gue lapar banget, Wendi gak mau temenin gue soalnya" cowok itu sengaja membuat cemburu Wendi dengan berpura pura menelpon Jinny


"Lo tenang aja jin, gue yang traktir. Gue tung..." Perkataan cowok itu terputus ketika melihat Wendi yang sudah sibuk membereskan segala perkakasnya dari atas meja dengan raut wajah cemberut sedangkan Andre yang melihat itu hanya tersenyum


"Kita kekantin"


"Tadi katanya gak mau"


"Sekarang aku mau"


"Tugasnya?"


"Udah siap" jawab cewek itu ketus namun mampu membuat cowok itu merasa gemas melihatnya


"Kenapa senyum. Ayo"


"Kamu cemburu"


"Gak" cewek itu bangkit berdiri dan diikuti Andre dibelakangnya


"Kamu cemburukan?"


"Gak. Ngapain cemburu"


"Kamu bilang cemburu aja gengsi" Andre kemudian menggandeng tangan cewek itu namun Wendi menepisnya cepat


"Gak usah pegang pegang!"


"Kamu kan pacar aku" tidak aja jawaban dari cewek itu, Wendi kesal melihat cowok didepannya itu sekarang


"Sayang"


"Hm"


"Love you" ucap Andre manja sambil memegang tangan cewek itu, lalu kemudian mereka berjalan bersamaan menuju kantin


...******...


Seperti biasa, Gevan berada di rooftop sekolah sambil menatap foto yang ada ditangannya yang menunjukkan dirinya bersama dengan Gisel disana. Ia merindukan cewek itu, sangat. Namun tidak ada hal yang bisa ia lakukan sekarang selain harus melupakan cewek itu


Seseorang tiba tiba muncul dan mengambil paksa foto itu dari tangan Gevan membuat Gevan pun terkejut


"Wah.... Lo masih kangen sama dia?" Ucap Daniel sambil menatap heran kearah Gevan sahabatnya itu


"Balikin" Daniel kemudian menyerahkan kembali foto yang diambol tadi kepada sang pemilik


"Lo ngapain sih masih mikirin dia?, jelas jelas dia yang udah nyakitin lo" Gevan masih diam disana dan tak berniat untuk menanggapi perkataan Daniel


"Nih ya, gue bilangin sama lo. Masih banyak cewek yang jauh lebih baik dari dia, lo ganteng, kaya, pintar walaupun lo sedikit mirip lucifer tapi masih banyak cewek yang mau sama lo van. Jangan buang waktu lo buat mikirin Gisel"


"Lo bahas dia lagi gua pastiin lo mati sekarang"


"Siapa lo berani motong umur gue, emang lo Tuhan" Gevan kemudian menatap tajam kearah cowok itu


"APA!" Gevan menghembuskan nafasnya kasar lalu kembali menatap lurus kedepan


"Lo gak pernah lagi berantam sama Andre. Udah baikan lo berdua?"


"Itu karna gue sama Wendi gak dekat lagi"


"Lo yakin? Andre gak akan diam begitu aja, gue yakin dia lagi nyusun rencana buat lo hancur"


"Gue gak peduli, yang gue mau cuman hidup tenang sekarang"


"Hidup tenang lo bilang?. Lo gak akan hidup tenang selama dalam hati lo masih ada dendam. Makanya lo hidup baik baik, jangan cari musuh biar hidup lo tenang kayak gue. Lo liatkan, hidup gue berwarna gak kayak lo, sama bokap sendiri aja lo dendam" kali ini Gevan setuju dengan perkataan Daniel namun bagaimana mungkin ia tidak dendam jika karna mereka hidupnya jadi seperti sekarang ini


"Lo lebih baik diam aja"


"Lo gak capek?, gue yang liat lo aja capek van. Stop sampai disini aja dan mulai perbaiki semua. Lo dendam juga buat apa, karna mau bagaimanapun dia tetap bokap lo van. Apa yang lo dapat dari dendam lo selama ini?, gak ada van yang ada hidup lo dipenuhi beruntun masalah" Daniel sebenarnya tau bagaimana diposisi cowok itu namun jika Gevan terus seperti ini yang ada malah hidupnya akan semakin hancur


"Berhenti menyalahkan orang lain atau keadaan atas masalah lo, karna bukan keadaan yang buat lo kayak gini van, tapi lo yang buat keadaannya seperti ini" Gevan diam sambil menyimak seyiap perkataan yang disampaikan oleh sahabatnya itu


"Gue pikir, lo tau maksud perkataan gue tadi" Daniel mematap sahabatnya itu dengan prihatin, ada rasa kasihan namun dirinya tidak bisa melakukan apa apa untuk membantunya namun setidaknya Daniel selalu ada menjadi teman bagi cowok itu


...******...


Wendi yang tadinya hendak ingin masuk kedalam kelasnya terpaksa menguentikan langkahnya, cewek itu tersenyum lebar ketika melihat Daniel disana


"DANIEL!!" Teriak cewek itu hingga banyak para siswa menatap heran kearahnya. Cewek itu kemudian berlari mendekati Daniel


"Ngapain?" Tanya cowok itu dengan mimik wajah tak suka melihat cewek itu


"Muka lo biasa aja kali dan"


"Mau bahas Gevan lagi?" Tebak Daniel yang sudah tau maksud dari cewek itu memanggilnya


"Hm" cewek itu mengangguk dengan penuh semangat sambil tersenyum lebar kearah cowok itu


"Hari ini kelas lo ada jam olahraga kan?"


"Hm. Kenapa?"


"Gue mau menjalankan misi"


"Jelas dong, gue udah sampai dititik ini masa gue berhenti. Gue harus tuntaskan semua" cowok itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal


"Lo tau akibatnya apa?, kalau lo sampai ketahuan, Gevan bisa aja nyakitin lo"


"Helleh..... Lo tenang aja. Gue gak bakal ketahuan, lo percaya sama gue" ucap cewek itu dengan penuh percaya diri


"Gue gak yakin sama muka polos kayak lo. Udah deh, mending lo berhenti sebelum lo mati"


"Ssiit, lo tenang aja gue pasti bisa, lo gak perlu khawatir"


"Terserah lo. Jangan salahin gue kalau lo dihajar sama dia" Wendi mengacungkan jempol sambil tersenyum manis kearah Daniel. Sebebarnya cowok itu tak percaya dengan cewek itu namun apa boleh buat, dia sendiri juga yang memberitahu Wendi tentang ini, namun ia berharap cewek itu tidak samapai ketahuan


...******...


Wendi melihat jam dinding yang ada didalam kelasnya. Keadaan ruangan itu hening karna memang sekarang mereka dalam keadaan belajar dipandu seorang wanita didepan yang tengah sibuk menjelaskan pelajaran disana. Bukannya sibuk mendengarkan, Wendi malah sibuk mencari celah untuk ia bisa keluar kelas sekarang juga


" Semuanya paham?, ada yang ingin bertanya? " mendengar itu, Wendi dengan cepat mengangkat tangan


"Kamu mau bertanya?" Tanya wanita itu kepada Wendi yang masih mengangkat tangan


"Enggak bu, saya mau permisi ke kamar mandi bu" dusta cewek itu agar ia bisa keluar dari sana secepatnya


"Yasudah, kamu boleh keluar" dengan cepat Wendi bangkit berdiri dan segera pergi dari sana


Wendi dengan cepat pergi menuju kelas Gevan, ia melihat sekeliling dan memanh sepi karna sekarang masih jam pelajaran sementara kelas cowok itu kosong karna jam olahraga. Dengan penuh keyakinan cewek itu masuk kedalam dan mencari tas milik Gevan


"Tasnya dimana ya?" Cewek itu masih sibuk mencari tas milik cowok itu hingga beberapa lama kemudian ia menemukan t barang yang ia cari


"Dia ternyata duduk dibelakang" ucap cewek itu lalu dengan perlahan membuka tas dan mencoba mencari buku seperti yang dikatakan Daniel padanya. Entah kenapa cewek itu kini berkeringat, jantungnya berdetak kencang, ia sebenarnya sangat takut sekarang namun ia harus melakukannya


"Mana sih, kok gak ada" dumel Wendi karna tak menemukan barang yang ia cari, namun ia tak menyerah dan tetap mencari buku itu sampai akhirnya ia menemukannya


"Hah, akhirnya ketemu juga"


"Lo ngapain disitu?" Wendi terkejut ketika mendengar suara yang tak asing lagi baginya, dengan perlahan ia menoleh dan melihat Gevan sudah berdiri disana. Dengan cepat cewek itu mengambil buku itu dan menyembunyikannya kebelakang


"Ah, hai van" ucap Wendi dengan rasa gugupnya. Gevan kemudian berjalan mendekati cewek itu


"Lo ngapain dimeja gue?"


"Ahh, itu, hhmm.. Gu, gue"


"Yang lo pegang apa?"


"Oh" cewek itu memutar otaknya, mencari jawaban agar cowok itu tak mencurigainya


"Itu apa?" Ulang cowok itu sekali lagi


"Hm, ini, ini surat buat lo" Gevan menautkan alisnya


"Surat permintamaafan dari gue"


"Gue gak butuh itu. Lo bisa pergi sekarang"


"Tapi van"


"Pergi" mendengar itu, Wendi secara perlahan pergi meninggalkan cowok itu dari sana sebelum ia curiga. Wendi menghela nafasnya lega karna ia berhasil mengambil buku itu dari sana


"Wah, untung aja dia gak curiga" ucap Wendi kegirangan lalu kemudian pergi kembali kedalam kelasnya


Rena mengerutkan keningnya ketika melihat Wendi datang dengan wajah yang berbinar


"Lo kenapa?"


"Gak papa"


"Muka lo kenapa berubah setelah dari kamar mandi?"


"Berubah gimana sih re, muka gie emang selalu cantik kan?" Ucap Wendi dengan pdnya lalu kemudian kembali fokus dengan pelajarannya


...******...


Gevan memasukkan beberapa bukunya yang terletak diatas meja agar segera pergi kekantin menyusul Daniel yang sudah pergi duluan


"Nih, buku lo kenapa ada diatas meja gue?" Tanya Mina sambil memberikan buku itu kepada sang pemiliknya


"Lo yang ambil?"


"Ck, ngapain gue ngambil buku lo, kurang kerjaan aja" ucap Mina cetus merasa kesal karena dirinya dituduh mengambil barang milik cowok itu


Gevan diam sejenak, ia masih bingung mengapa bukunya berpindah tempat, hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Cowok itu kemudian kembali membongkar isi tasnya memastikan tidak ada yang berkurang dari sana, namun ternyata ada buku yang hilang dari sana, buku yang benar benar sangat berharga baginya


"Na, lo ada liat buki gue?" Minapun menoleh dan menatap sinis cowok itu


"Gak. Lo mau nuduh gue lagi?" Cowok itu menatap Mina sebentar lalu kemudian kembali sibuk mencari bukunya yang hilang


"Gue gak pernah pegang barang lo karna gue tau, lo paling benci kalau barang lo dipegang tanpa izin. Lagian ngapain juga gue ngambil buku lo, gak ada gunanya buat gue" Gevan sebenarnya tidak mencurigai cewek itu karna memang ia tak pernah berani memegang barang barang miliknya selama ini namun siapa orang yang berani mengambil buku itu?, tidak banyak orang yang tau tentang buku itu kecuali Daniel sahabatnya, namun tidak mungkin Daniel mangambilnya, untuk apa?, bahkan ia sendiri tau tentang semua isi didalamnya, lalu kemudian siapa?


Gevan berfikir keras, mencoba mencari tau siapa orang yang berani mengambil barang itu sampai tiba tiba ia teringat dengan Wendi. Ya, cewek itu datang ketika jam pelajaran olahraga tadi dan cewek itu memegang buku yang sama persis dengan miliknya


"Wendi?, apa mungkin...?" Gevan kini mulai yakin, jika cewek itulah orang yang mengambil bukunya, dengan penuh emosi ia bangkit berdiri untuk mencari cewek itu


Sementara itu, Wendi berjalan mencari tempat yang sepi agar ia bisa melihat isi buku itu tanpa dilihat oleh orang lain termasuk Gevan. Setelah mendapat tempat aman, Wendi kemidian mengambil buku itu dan mulai membukanya. Dihalam pertama terdapat foto yang menunjukkan tiga orang disana yang menunjukkan Steven, Gevan dan seorang wanita disana. Wendi menautkan alisnya melihat wanita itu


"Dia siapa?" Cewek itu kemudian membalikkan foto itu dan membaca tulosan yang ada dibelakang foto itu. Wendi sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa Wanita itu adalah ibu dari cowok itu


"Jadi ini nyokapnya Gevan. Cantik" ucap cewek itu sambil tersenyum manis. Wendi kemudian melihat ada kertas korang yang sepertinya sudah lama berada disana, tangannya dengan cepat mengambil kertas itu dan membukanya


Wendi terkejut melihat apa yang ada disana, ia bahkan membulatkan mata dan dengan cepat membaca isi koran tersebut yang menunjukkan berita tentang perselingkuhan antara kedua orangtua Gevan dan Andre


"Hah?, mereka selingkuh?" Wendi tiba tiba teringat dengan perkelahian yang ia lihat ketika berada dirumah Andre dan sekarang ia tahu mengapa keduanya saling membenci satu sama lain


"Ternyata dugaan gue selama ini benar" Wendi kemudian kembali membuka halaman berikutnya dengan perlahan dan betapa terkejutnya ia dengan apa yang ia lihat disana, cewek itu bahkan menutup mulutnya akibat terkejut


Cewek itu kini berkeringat, tangannya gemetar ketika melihat berita tentang kematian seorang wanita yang melompat dari gedung rumah sakit dan wanita itu sama dengan wanita yang ada difoto bersama dengan Gevan


"Me, meninggal?"ucap cewek itu merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat itu. Wendi bahkan diam mematung disana setelah mengetahui fakta yang sebenarnya


"Wendi" cewek itu tersadar ketika mendengar suara laki laki memanggilnya yang tidak lain adalah Gevan. Cewek itu diam dan tak berani berbalik badan melihat cowok itu. Apa yang akan terjadi setelah ini?, Gevan akan sangat marah padanya. Kini Wendi merasa sangat ketakutan