
...Hal yang selalu merusak suatu hubungan adalah sifat egois diantara kedua belah pihak...
...W...
...
Wendi berjalan sambil berdumel kesal dengan kejadian yang terjadi di ruang musik tadi, ia masih tak menyangka jika Gevan mengira bahwa selama ini ia menyukai cowok itu...
"Wah, bisa bisanya dia bertanya hal konyol seperti itu. Jadi selama ini di berpikir kalau gue suka sama dia? Dasar cowok gila!" Cewek itu kemudian berjalan menuju kelasnya dengan perasaan kesalnya
Sementara itu Gevan duduk terdiam sambil memukul mukul kepala, ia sesekali memejamkan matanya dan menjambak rambutnya disana
"Ngapain sih gue bertanya hal konyol itu?" Ucap cowok itu menyesali perbuatannya. Mulai sekarang ia harus menahan malu ketika bertemu dengan cewek itu.
"Woi, disini lo ternyata!" Daniel tiba tiba muncul dari luar pintu lalu kemudian duduk menghampirinya
"Ngapain lo disini" ucap cowok itu sambil mengambil gitar yang tadinya ada ditangan Gevan
"Lo kenapa?" Daniel bertanya ketika melihat wajah cowok itu seperti dipenuhi banyak masalah
"Gue gak papa"
"Ck, muka sama omongan lo gak selaras. Lo kenapa?"
"Lo diam kalau lo masih mau liat bulan nanti malam" perkataan itu langsung membuat Daniel terdiam disana
...******...
Wendi memegang tali tasnya sambil berjalan ditengah banyaknya siswa yang berjalan menuju gerbang sekolah. Wendi tersenyum lebar ketika kelihat Andre berdiri diparkiran sekolah, dengan senang hati cewek itu berlari mendapati cowok itu disana
"Andre, kamu belum pulang?" Cowok itu hanya melihat Wendi sekilas
"Aku pulang bareng kamu ya. Kita udah lama gak pulang bareng lagi"
"Andre" keduanya menoleh kesumber suara yang memperlihatkan Jinny yang berlari kearah mereka
"Ayo" ajak cewek itu tanpa memperdulikan keberadaan Wendi disana
"Aku ada janji sama Jinny. Kamu pulang sendiri aja" ucap cowok itu lalu kemudian menyalakan mesin motornya, Jinny menatap sinis Wendi seolah mengejek dirinya disana lalu kemudian naik keatas motor cowok itu
Wendi yang melihat itu sebenarnya ingin menangis namun dirinya mencoba untuk tidak melakukan hal itu, sebenarnya ia lelah, capek dengan cowok itu yang selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi.
Wendi kemudian duduk dihalte sekolah dengan pikiran yang masih tertuju kepada Andre kekasihnya itu, entah apa yang harus ia lakukan agar cowok itu mau memaafkannya
Tiba tiba suara klakson mobil membuat Wendi tersadar dari lamunannya, ia menegakkan badan lalu melihat siapa yang ada didalam mobil itu
"Lo mau pulang?" Cewek itu hanya menganggukkan kepalanya disana
"Ayo naik, gue antar" Wendi awalnya merasa tak enak namun karena cowok itu memaksanya akhirnya iapun masuk kedalam mobil itu
"Lo susah banget sih diajak"
"Gue segan"
"Ck, sama teman sendiri lo masih segan" ucap Daniel lalu kemudian melajukan mobilnya. Daniel sesekali menatap kearah cewek yang sedari tadi hanya murung tidak seperti biasanya
Wendi memicingkan mata ketika melihat sebuah foto dimobil cowok itu yang menunjukkan Daniel, Gevan dan juga Rendi disana
"Ini Rendi?" Tanya cewek itu ketika melihat dengan jelas foto yang kini sudah ada ditangannya
"Hm" ucap Daniel lalu mengambil foto itu dari tangan cewek disampingnya
"Ke, kenapa dia barengan sama lo berdua?"
"Itu, kitakan tim basket jadi wajar kalau sesekali foto dengan sesama tim basket"
"Gak mungkin. Lo bertiga kayaknya kompak banget difoto itu"
"Gue udah bilang itu sekedar foto aja"
"Oke oke" ucap Wendi karna tak mau berdebat lama dengan cowok itu ditambah lagi keadaan moodnya sedang tidak baik sekarang
"Lo kenapa gak bareng sama pacar lo?"
"Dia ada janji sama Jinny"
"Lo, berantam sama pacar lo?" Wendi diam tak menjawab karna sebenarnya ia sudah muak dengan pertanyaan yang akhir akhir ini sering ia dengar
"Kenapa berantam? Apa ada kaitannya sama Gevan?" Cewek itu membuang nafasnya kasar lalu menatap kearah cowok itu
"Gue lagi gak mau bahas itu dan.."
"Lo mending gak usah temenan lagi sama Gevan kalau itu yang buat Andre marah"
"Gue jauhin Gevan pun gak ada gunanya. Gue tetap salah dimatanya Andre" Daniel kemudian tak berniat untuk membahas hal itu, ia tidak ingin terlalu ikut campur dalam hubungan cewek itu
Tak lama kemudian, mobil itu berhenti tepat dimana cewek itu tinggal. Wendi menatap terkejut kearah cowok itu karna yang ia tahu Daniel tidak pernah datang kerumahnya namun sekarang mengapa cowok itu tahu alamatnya? Sementara sedari tadi, Daniel tidak bertanya mengenai alamat rumah dirinya
"Lo kenapa bisa tahu alamat rumah gue?"
"Gevan ngasih tau gue" cewek itu mengerutkan keningnya bingung mendengar perkataan Daniel
"G, Gevan?"
"Hm" Wendi masih bingung mengapa Gevan tau jika dirinya bersama Daniel sekarang?
"Lo masih tetap mau disini?"
"Hah, gak gak. Makasih ya udah ngantar gue pulang" ucap cewek itu lalu kemudian membuka pintu mobil dan segera keluar dari sana
"Wen" panggil Daniel dari dalam mobil
"Kenapa?"
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo"
"Lo, mau ngomong apa?"
"Kalau lo udah capek sama hubungan lo yang sekarang, mending lo akhiri dari pada lo ngerasain hal yang lebih sakit" Daniel kemudian menutup kaca mobilnya lalu segera pergi dari sana. Wendi masih setia berdiri disana sambil menyimak perkataan yang baru saja ia dengar itu
...******...
Wendi duduk didepan meja belajarnya sambil pikirannya masih dengan perkataan Daniel siang tadi. Ya.., sebenarnya ia sudah lelah dan capek dengan hubungan seperti ini. Cowok itu selalu menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi dalam hubungan mereka yang membuat Wendi sendiri merasa sangat lelah.
Andre bahkan tak menjawab pesan yang Wendi kirim dari semalam, teleponnya juga tak diangkat padahal Wendi sendiri sudah meminta maaf padanya namun Andre tetap marah. Apalagi yang harus ia lakukan sekarang? Apa dirinya harus membujuk cowok itu terus? Sampai kapan? Wendilah selalu mengalah ketika mereka berantam, Wendi juga yang selalu membujuk cowok itu ketika marah dan Wendi jugalah yang selalu salah dimata cowok itu, kenapa? Dirinya sendiripun tidak tahu
"Gue harus gimana lagi sekarang?"
Andre menekal bel rumah yang ada didepannya beberapa kali sampai sang empunya rumah datang untuk membuka pintu
"Eh, nak Andre. Ayo masuk, sudah lama kamu gak datang main kesini" ucap seorang perempuan paruh baya yang ada disana. Perempuan itu bernama Lusi yang merupakan ibunya Rendi
"Makasih Tan. Oya, Rendinya ada?"
"Dia diatas. Kamu naik aja keatas"
"Makasi Tan" Andre langsung berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamar sahabatnya itu. Andre mengetok pintu dan langsung membukanya
"Hai.." Sapa Andre dengan senyum ceria diwajahnya ketika Rendi sudah menoleh kearahnya
"Ngapain lo?"
"Kenapa? Gak senang banget muka lo liat kehadiran gue disini. Harusnya lo sambut dong kedatangan gue"
"Ck, lo mau ngapain datang malam malam kesini?" Tanya Rendi sekali lagi karna dirinya belum mendapat jawaban dari mulut cowok itu
"Gue kangen tidur dikamar lo yang super super rapi ini" jawab Andre lalu membaringkan badannya ditempat tidur cowok itu
"Wah, ternyata begini rasanya hidup damai"
"Nyokap sama bokap lo berantam lagi?" Tanya Rendi yang ia yakini bahwa apa yang ia katakan itu benar, karna biasanya alasan Andre datang kerumahnya adalah karna kedua orang tuanya berantam
"Lo sebenarnya udah tau jadi gak perlu ditanya lagi"
"Bokap lo masih minta cerai?"
"Gue gak tau. Gue capek, gue pengen istirahat" Andre kemudian memejamkan matanya disana mencoba menenangkan pikirannya yang saat ini benar benar sangat kacau
"Gimana lo sama Wendi? Udah baikan?"
"Gue masih marah"
"Sampai kapan lo marah terus sama dia?"
"Sampai gue gak marah lagi" Rendi kesal mendengar jawaban yang menurutnya tidak ada faedahnya
"Lo gak capek berantam sama dia terus?" Andre kali ini tak menjawab pertanyaan itu
"Lo maafin dia apa susahnya sih"
"Semua butuh proses ren"
"Gak perlu proses buat maafin orang yang kita cintai ndre" Andre perlahan membuka matanya yang tadi terpejam, kini ia fokus menatap kelangit langit kamar yang ada disana
"Kali ini butuh proses ren"
"Sampai kapan? Lo udah cuekin dia selama beberapa hari ini, lo bahkan biarin dia pulang sendirian. Lo mau apa lagi?"Andre menatap kearah sahabatnya itu dengan tatapan yang tak bisa dimengerti
"Ren, gue lapar" Rendi terkejut,akibat kesal akhirnya dengan sigap Rendi menendang cowok itu hingga terguling jatuh kebawah
"Setan lo. Makan tuh sepatu" Rendi sangat merasa sial ketika ia serius berbicara Andre sahabatnya itu malah mengabaikan perkataannya
...******...
"Buka baju lo!"
"Gak mau. Lepasin gue"
"Lo gak mau?" Wendi yang mendengar suara itu langsung pergi mencari cari darimana suara itu berasal
"Lepasin gue, gue gak mau"
"BUKA SEKARANG BAJINGAN!" Cowok itu mencoba membuka paksa pakaian perempuan yang ada didepannya itu
"Gak. Lepasin. Gue gak mau"
Jepret...
Wendi membulatkan matanya lebar ketika dirinya lupa mematikan flash kameranya. Cowok yang berada disana berhenti ketika melihat cahaya flash kamera tiba tiba muncul
"Wendi hendak akan kabur namun terlambat, karena tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh cowok itu
"Balikin handphone lo"
"Gak. Gak bisa" ucap cewek itu gegabah karna takut sambil menyembunyikan handphone itu dibelakang
"Lo cari gara gara sama gue? Balikin sebelum gue marah"
"Gu, gue gak takut. Gue bakal ngelaporin lo biar lo dikeluarkan dari sekolah ini" cowok itu tertawa sinis mendengar perkataan itu
"Balikin sekarang" ucap cowok itu sambil menarik keras kerah baju Wendi
"Lepasin" rintih cewek itu disana
"Gue gak mau lepas sebelum lo kasih handphone lo"
"Gue gak mau"
"Brengsek!"sebelum cowok itu memukulnya, sebuah tangan datang menahan pergerakannya lalu melepas cekalannya dari kerah baju cewek itu
"Dasar pengecut! Beraninya sama cewek doang lo" Wendi memegangngi lehernya yang sakit akibat cekalan tadi dan terkejut melihat Gevan yang sudah ada disana
"Lo mau ikut campur?"
"Kalau berantam itu sama cowok bukan cewek, emang lo bencong?"
"Kurangajar lo" cowok itu mencoba memukul Gevan, namun Gevan dwngan sigap menangkap tangan cowok itu lalu kemudian Gevan memukulnya kuat hingga cowok itu jatuh tersungkur ketanah
"Lo boleh pergi sekarang" ucap Gevan kepada cewek yang tadi ingin dilecehkan itu, kemudian Gevan mengambil tangan Wendi dan memegangnya erat
"Lo udah sarapan?" Pertanyaan itu membuat Wendi bingung
"U, udah. Kenapa?"
"Karna kita mau lari"
"La, lari?"Gevan melihat kearah cowok yang ia pukul itu sekilas
"Satu"
"Satu?"
"Dua"
"Dua?"
"Tiga. LARI!"
"Woi, kemana lo?"
Gevan menarik tangan cewek itu dan membawanya berlari cepat, kini terjadilah fenomena langka disekolah yaitu kejar kejaran disekolah.
Semua mata siswa siswi kini tertuju kepada mereka, sebagian ada yang tertawa karena merasa lucu dengan kejadian itu namun sebagian lagi ada yang hanya menatap kebibungan melihat itu.
Woi, kemana lo!" Gevan langsung mempercepat kecepatannya ketika melihat cowok itu sudah semakin dekat dengan mereka
"Itu Gevan?" Tanya Daniel terkejut melihat Gevan sahabatnya itu berkeliaran tidak seperti biasanya
"Itu Gevan, sahabat lo yang dingin itu"
"Ini momen langka, gue harus vidioin" Daniel kemudian mengambil ponsel lalu mulai merekam kejadian itu
"I, itu Wendi kan? Sama siapa?" Rendi dan Andre memicingkan matanya mencoba memastikan dengan siapa cewek itu
"Ge, Gevan? Itukan Gevan?"
"Wahhh liat tangannya, Gevan bahkan memegang tangan Wendi erat. Mereka serasi juga ya, gue serasa nonton drama sekarang" Rendi memukul kepala Rizal kuat karna kesal mendengar itu.Andre hanya diam melihat itu lalu kemudian pergi meninggalkan Rendi beserta Rizal disana.
"Lo bisa gak sih jangan jadi kompor?"
"Lah, gue salah apa?"
Diam lo"
Pertunjukan kejar kejaran masih berlanjut, Wendi terpaksa harus
megikuti langkah kaki cowok itu walaupun sebenarnya ia sudah merasa capek
"Van, gue capek" memdengar itu Gevan langsung berhenti dan mencari tempat aman untuk bersembunyi
"Ikut gue" Gevan membawa cewek itu kedalam ruangan yang gelap dan bersembunyi disana. Mereka bersembunyi disudut ruangan yang ditutupi dengan tumpukan meja dan kursi rusak disana. Pintu ruangan itu terbuka dan memperlihatkan cowok yang mengejar mereka itu disana
"Kaki gu.." Gevan langsung menutul mulut cewek itu dengan tangannya dan memberi isyarat supaya cewek itu diam. Gevan mencoba melihat lihat arah kemana cowok yang mengejar mereka itu berada, sementara Wendi fokus menatap Gevan yang berjarak sangat dekat dengannya sekarang
"Arhh.. Sial" ucap cowok itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu
Gevan perlahan melepas tangannya dari mulut cewek itu lalu kemudian menatapnya
"Lo gak papa?"
"Hem"
Kedua remaja itu kemudian keluar dari ruangan itu secara bersamaan. Wendi membersihkan roknya yang kotor akibat duduk dilantai ruangan itu tadi
"Apa ruangan itu tidak pernah dibersihkan? Sangat kotor sampe rok gue berubah warna kayak begini" ia mendumel kesal melihat roknya yang dipenuhi dwngan debu. Cewek itu menghentikan langkahnya ketika melihat Andre sudah berdiri tepat didepannya
"A, Andre"
"Ikut aku" tanpa basa basi Andre menarik tangan cewek itu kasar hingga membuat cewek itu meringis kesakitan
"Ndre, pelan pelan tangan aku sakit" Andre melepas cekalannya lalu menatap tajam kearah cewek itu
"Kamu ngapain sama Gevan?"
"Makaud kamu?"
"Kamu kenapa bisa bareng sama Gevan?"
"Ta, tadi aku cu.--"
"Kenapa? Kamu kayaknya senang banget kalau aku cuek sama kamu, karna dengan begitu kamubisa sepuasnya dekat sama Gevan, iya kan?"
"Bukan gitu ndre, tadi itu dia cum--"
"Cuman apa? Kamu mau belain dia terus? Oh iya aku lupa, kamu kan gak bisa hidup tanpa Gevan"
"Ndre, dengerin aku du..-"
"Dengerin apa lagi? Emang kamu mau jujur sama aku? Kamu gak akan jujur sama aku Wen, kamu juga gak akan..--"
"Gevan tadi itu nolongin aku" Wendi mencoba memotong omongan cowok itu, lalu mengambil ponsel dan menunjukkan foto yang tadi ia ambil dibelakang sekolah
"Kamu liat foto ini? Tadinya aku hampir dilecehkan kayak cewek itu tapi Gevan datang nolongin aku, apa kamu masih marah?" Andre masih diam ditempat menatap kekasihnya itu
"Kalau Gevan gak datang mungkin aku bakal mengalami hal yang sama dengan cewek difoto itu"
"Jadi kamu belain dia hanya karna itu?"
"Apa?"
"Dia ngelakuin itu karna ada niat tertentu wen"
"Stop ndre, kamu kenapa sih selalu berpikir negatif terus? Apa kamu jauh lebih baik dari dia?
"Kamu mau bandingin aku sama dia?"
"Kenapa? Kamu takut? Kamu takut kalau dia jauh lebih baik dari kamu?" mata cowok itu kini memerah, sekarang cewek itu berani melawannya
"Aku selalu salah dimata kamu ndre, kamu selalu marah ketika aku gak dengerin kamu, kamu marah ketika aku berteman sama Gevan, aku selalu capek bujuk kamu setiap kita berantam dan aku selalu diam ketika kamu marah dan cuekin aku, aku gak bisa tidur mikirin cara gimana buat kamu mau maafin aku, kamu.." Cewek itu memejamkan matanya sejenak, lalu menarik nafasnya dalam mencoba menahan emosinya
"Aku capek ndre, capek dengan hubungan kayak gini" Andre menatap cewek itu dalam
"Kamu menganggap kalau semua ini terjadi karna kesalahan aku?" Andre tidak terima dengan semua kata kata yang dilontarkan cewek itu
"Kalau kamu dengerin aku dari awal, hubungan ini pasti baik baik aja, tapi nyatanya apa? Kamu gak pernah dengerin omongan aku wen, kamu selalu bertindak sesuka hati kamu dan sekarang, kamu gak terima ketika aku kayak gini" Andre membasahi bibirnya yang kering lalu kembali menatap cewek itu
"Kamu capek? Aku jauh lebih capek wen dengan kamu yang kayak gini terus" Andre menarik nafasnya panjang, ia juga bingung harus bagaimana sekarang, pikirannya kacau memikirkan banyaknya masalah yang menimpa dirinya
"Apa lebih baik kita putus?