It'S Hurt

It'S Hurt
Benci




.


.


.


Jina merasakan angin yang berhembus dari jendela yang terbuka menyapu wajahnya dengan lembut.


Membuatnya kembali mendapatkan kesadaran, ia menghela nafas panjang dan merasakan tenggorokannya benar benar kering. Matanya menyipit berusaha mengenali keadaan di sekitarnya dan ia menatap horor saat ingat ia berada di dalam sebuah kamar.


"Akhh." Kepalanya benar benar terasa sakit dan ngilu menjalar di seluruh bagian tubuhnya. Jina berusaha bangkit dan terkejut bukan main saat melihat Kyuhyun tertidur di sampingnya dan mendekapnya erat dengan tubuh tanpa sehelai benangpun.


Ia ingat, akhirnya ia ingat dengan apa yang terjadi tadi malam dan Jina ingin menangis saat itu juga. Jika kematian datang padanya saat itu juga mungkin ia akan meraung raung memohon kepada sang Dewa untuk mencabut nyawanya saja.


Jina berusaha melepaskan diri dari pelukan posesif Kyuhyun dan saat berhasil ia berguling ke sisi lain tempat tidur. Ia melirik jam dinding dikamar ini. Ini masih terlalu pagi.


Ia menahan nafasnya. Langit masih gelap dan Kyuhyun belum terbangun dari tidurnya. Ini kesempatan Jina untuk melarikan diri.


Gadis itu pun bergerak menuruni ranjang dan berusaha menggapai pakaiannya yang berserakan di sekitar ranjang. Tangan serta kakinya sudah tak diikat lagi sepertinya pria itu yang sudah membukanya. Mungkin saat ia pingsan tadi.


Saat ia sudah berpakaian lengkap, Jina mulai berjalan mengendap endap keluar dari kamar. Langkahnya terseok dan Jina semakin merasakan ngilu di bagian bawah tubuhnya semakin hebat.


Rasanya seperti terkoyak, ia meringis dan berusaha menambah kecepatan kakinya untuk mencapai pintu keluar. Sekilas Jina memperhatikan rumah tempat ia dibawa oleh Kyuhyun.


Rumah dengan arsitektur kuno ditambah perabotan yang lebih banyak terbuat dari kayu. Ia melirik salah satu jendela dan melihat danau luas yang berada di pekarangan belakang, bangunan yang sangat nyaman tapi rumah ini terlalu jauh dengan rumah lainnya.


Jina menggelengkan kepalanya, ia berusaha mengusir rasa pening yang semakin menyerang kepalanya. Saat ia berhasil meraih kenop pintu, pergerakan Jina terhenti ketika seseorang memeluknya kuat dari belakang. Mata Jina membulat dan tubuhnya bergetar hebat.


"Kau mau kemana cherry?" Bisik Kyuhyun di belakang telingannya dan membuat tubuh Jina menegang.


"Ak-aku..." Ucapan Jina terhenti saat Kyuhyun mengendongnya dibahu seperti karung dan menyeret Jina kembali ke dalam kamar.


Jina meronta, ia memukul mukul punggung pria itu, namun sayangnya pukulannya sama sekali tak berarti. Tenaganya terlalu lemah untuk membuat pria itu melepaskan dirinya.


"Aakhh." Jina meringis ketika Kyuhyun melemparnya kembali ke atas kasur. Tubuhnya kembali terasa sakit dan dalam hitungan detik Kyuhyun **** tubuh mungil Jina.


"Bersikaplah manis. Kesabaranku pun ada batasnya." Ucap Kyuhyun sembari menatap tajam Jina dan membelai pipi gadis itu.


Jina kembali menangis, dengan sisa tenaganya ia berusaha mendorong tubuh Kyuhyun namun usahanya sia-sia.


"Sebenarnya apa salahku? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?" Raung Jina, airmatanya mengalir dengan deras dan tangannya masih setia memukul dada Kyuhyun.


Luka yang membuat Jina ingin selalu bersembunyi dari dunia luar. Luka yang menutupi wajah cantiknya. Luka itu menjalar dari leher sampai pipinya, bentuknya seperti akar yang tak mau lepas darinya. Sehingga membuat Jina setiap saat mengurai rambutnya. Mencoba untuk menutupi luka itu.


"Kesalahanmu hanya satu. Kau membuatku membencimu. Konsekuensinya kau harus membayarnya." Bisik Kyuhyun dan membuat Jina terisak dibuatnya.


"Hiks... Maafkan aku oppa tapi aku tak pernah merencanakannya. Semua itu terjadi begitu saja." Lirih Jina. Gadis itu menangis kembali.


"Kau penyebab orang tuaku meninggal. Kehadiranmu disini membuat orangtuaku lenyap. Kau pembawa sial dalam keluarga ini." Ucap Kyuhyun dengan nada marah.


"Maafkan aku oppa lalu apa yang harus kulakukan untuk menebus semuanya?" Tanya Jina. Yah. Kakaknya itu sangat membencinya. Meski Kyuhyun selalu bilang bahwa dirinya mencintainya tapi Jina tau hal itu tak sungguh-sungguh karena ia tau Kyuhyun amat sangat membencinya.


Hal itu sudah mendarah daging. Bahkan saat Jina menatap pria itu untuk pertama kalinya. Saat orangtua Kyuhyun membawa Jina untuk masuk kedalam keluarga Cho. Perlakuan Kyuhyun selalu saja tak pernah baik terhadapnya.


"Cih. Diamlah cherry. Tangisanmu membuatku semakin muak untuk melihatmu." Gertak Kyuhyun. Pria itu selalu saja memanggil dirinya 'cherry'. Ia tak pernah tau kenapa Kyuhyun selalu memanggil dirinya seperti itu. Mungkinkah karena oppanya itu tak pernah ingin menyebut nama aslinya? Lalu jika Kyuhyun merasa muak dengannya kenapa pria itu seakan tak pernah membiarkannya pergi?


Drrtt... Drttt...


Pria itu mengambil ponsel yang terletak di meja samping kasur.


Kyuhyun menatap ID caller di ponselmya. Tanpa menunggu lama ia menjawab panggilan tersebut.


"Oppa, kau dimana?" Tanya seseorang disebrang sana.


"Aku sedang ada urusan diluar." Jawab Kyuhyun wajah datarnya.


"Tapi kau akan menemaniku dipesta itukan?" Tanyanya lagi.


"Tenti saja." Ucap Kyuhyun dengan suara yang mulai lembut.


"Baiklah, aku akan menunggumu." Ucap suara disebrang sana dengan nada senang kekasihnya akan menemaninya untuk pergi keacara pesta pembukaan resort barunya.


Kyuhyunpun menutup sambungan telpon tersebut lalu kembali dengan menatap Jina yang tengah melayangkan pandangan penuh kebencian ke arahnya.


"Jangan buang buang tenagamu dengan membenciku seperti itu karna pada akhirnya kau akan tetap kalah." Ucap Kyuhyun dan ia pun melengos meninggalkan Jina sendirian di kamar tersebut begitu saja. Tampaknya pria itu tak sudah tak ingin menyentuhnya lagi. Dan Jina sangat bersyukur akan hal itu.


Jina kembali menatap langit kamarnya. Isakannya sudah tak terdengar lagi. Sepertinya ia sudah tak bisa melanjutkan tangisannya.


"Sampai kapan kau akan menyiksaku oppa?" Ucap Jina sedih. Tanpa berniat untuk keluar kamar. Jinapun menyerah dan mulai memejamkan kedua matanya.


TBC