
Andre bersama dengan Yeri tengah duduk menunggu sampai dokter keluar dari dalam ruangan itu. Mereka sekarang berada dirumah sakit untuk memeriksa keadaan adiknya Yeri yang sedang sakit
Andre duduk tepat disamping kekasihnya itu dan sesekali menatap kearah gadis yang menunjukkan wajah khawatirnya disana. Lalu kemudian tangan cowok itu perlahan terulur menggenggam tangan Yeri disana
“Adik kamu pasti baik baik aja yer” Ucap cowok itu mencoba menenangkan kekhawatiran yang ada dibenak kekasihnya itu disana
“Makasih ndre”
“Kenapa kamu baru cerita sekarang kalau adik kamu sakit”
“Aku bukannya gak mau cerita tapi aku juga butuh waktu untuk cerita semuanya sama kamu”
“Tapi lain kali, kalau ada sesuatu aku mau kamu cerita ke aku ya” Kemudian Yeri menganggukkan kepala sambil tersenyum manis kearah cowok itu
...******...
Dipagi hari ini, matahari tampaknya sedang bersembunyi dibalik awan seolah lelah untuk menyinari bumi hari ini, mungkin matahari pun bisa merasa lelah untuk menunjukkan dirinya didepan orang orang sehingga tak ingin menunjukkan dirinya sekarang
Mendung , begitulah cuaca dipagi ini seperti yang dirasakan oleh gadis yang duduk sendirian didepan kelas sambil menatap lurus kedepan. Entah sampai kapan sakit hati ini akan sembuh, dirinya sendiripun tidak tau tentang hal itu.
Setiap kali ia melihat Andre, cowok yang tega menyakitinya itu maka rasa sakit itu akan muncul kembali, hatinya seperti diremas kuat setiap kali Wendi melihat cowok itu dan akan semakin terasa sakit ketika Andre bersama dengan Yeri, pacar dari cowok yang ia cintai itu
Wendi dengan wajah yang putus asa bangkit berdiri hendak ingin masuk kedalam kelas tapi tiba tiba dihadapannya muncul Gevan yang baru saja sampai disekolah yang juga hendak berjalan menuju kelasnya
Wendi diam beberapa saat sebelum kemudian ia masuk kedalam kelasnya tanpa sepatah katapun, sementara Gevan hanya diam menatap punggung cewek itu lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju kelasnya
“Oi van, kantin yok” Ajak Daniel langsung ketika melihat sahabatnya itu sudah sampai kesekolah
“Nanti aja, bentar lagi udah masuk jam pelajaran”
“Ellahh, masih ada waktu sepuluh menit lagi van”
“Lo aja, gue malas”
“Ck, gue tunggu lo dikantin” Ucap Daniel lalu kemudian pergi dari sana
Gevan sebenarnya tak ada niat untuk kekantin namun karna Daniel yang mengajaknya mau tidak mau ia harus menurutinya.
Gevan pun dengan berat hati bangkit berdiri namun sebelum melangkah sebuah dering notifikasi berbunyi membuatnya berhenti dan mengambil ponsel itu dari dalam kantong celananya
Gevan mengerutkan kening ketika melihat bahwa yang mengirimnya pesan adalah Rendi
^^^Rendi^^^
^^^Sepulang sekolah,^^^
^^^Gue mau ketemu^^^
^^^Sama lo^^^
^^^PENTING!^^^
Andre mendrible bola basket dilapangan bersama dengan Rizal. Mereka sedang bermain bola basket bersama dengan rekan tim basket lainnya kecuali Rendi, cowok itu tak ada disana bersama dengan mereka.
Semenjak kejadian dimana Andre dan Wendi putus, hubungan mereka sedikit tidak baik dan Rendi memilih untuk sedikit menjaga jarak dengan kedua sahabatnya itu. Rendi merasa, jika kelakuan Andre kini sudah sangat berlebihan sampai sampai dirinya tega melampiaskan emosinya kepada Wendi yang sebenarnya tidak tau apa apa itu.
“Kita istirahat dulu ya, gue capek banget” Ucap Andre lalu kemudian semua tim bergegas menuju keluar lapangan untuk beristirahat
“Zal, ini buat lo” Andre melempar sebotol minuman dingin yang dengan cepat ditangkap oleh Rizal disana
“Lo ada masalah apa sama Rendi?” Tanya Rizal yang juga sadar akan jarak yang terjadi diantara keduanya
“Gue gak tau”
“Apa karna lo putus sama Wendi?”
“Gue gak tau zal” Ucap Andre dengan sedikit menaikkan nada bicaranya
“Gue udah peringatin lo untuk berhenti cari masalah sama Gevan, tapi nyatanya lo gak bisa tahan emosi lo. Coba lo dari awal gak bermasalah sama Gevan, pasti semua baik baik aja termasuk hubungan lo sama Wendi”
“Jadi maksud lo ini semua salah gue?”
Rizal menarik nafas kesal disana, Andre benar benar sangat keras kepala menurutnya, sahabatnya itu bahkan selalu merasa jika ini bukanlah kesalahannya
“Siapa yang salah dan benar itu gak penting ndre. Lo sadar gak sih, akibat masalah lo berdua semua jadi kacau bahkan sampai ke pertemanan kita ini”
“Gue gak peduli. Rendi mau menjauh atau enggak itu urusan dia”
“Ndre, lo tuh..”
“Lo pikir gue gak tau?” Andre perlahan menatap kearah Rizal yang juga kini menatap serius kearahnya
“Gue tau kalau waktu itu lo datang ke rumah sakit untuk ketemu dengan nyokapnya Gevan” Pernyataan itu membuat Andre terkejut, pasalnya selama ini Rizal tak pernah memberitahunya tentang ini
“Gue diam karna gue gak mau Gevan tau tentang ini. Gue takut Gevan ngebunuh lo kalau dia tau tentang ini” Rizal kemudian perlahan mendekati Andre dan menatapnya tepat di manik matanya
“Lo salah satu alasan kenapa nyokapnya Gevan bunuh diri ndre”
...*******...
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, pertanda bahwa semua siswa sudah boleh pulang dan beristirahat dirumah mereka masing masing. Semua siswa bergegas pulang dan merapikan semua peralatan mereka
“Wen gue pulang duluan ya” Teriak Rena sedikit kuat agar didengar oleh sahabatnya itu
“OKE”
Wendi kemudian kembali mencatat disana. Ia terpaksa harus pulang belakangan karna dirinya terlambat mencatat catatan yang ada di papan tulis
Disisi lain terlihat Rendi yang berjalan cepat menuju kelas dimana Gevan berada
“Kenapa lo gak balas pesan gue?” Itulah perkataan pertama yang keluar dari mulut Rendi ketika melihat Gevan disana
“Lo yang ngajak gue ketemu itu artinya lo yang harus datang buat jumpain gue” Rendi sebenarnya kesal mendengar jawaban itu, namun sekarang bukanlah waktunya untuk berantam dengan laki laki itu
“Gue gak punya banyak waktu buat lo sekarang” Rendi menggigit bibirnya entah mengapa cowok itu tiba tiba merasa takut dan sedikit menyesal mengajak cowok itu bicara sekarang
“Lo mau bilang apa?”
“Gue. gue mau lo balik lagi jadi tim basket ” Gevan menaikkan satu alisnya merasa aneh dengan cowok yang sekarang tengah berdiri didepannya itu
“Gue gak mau lo keluar dari tim basket. Jangan karna masalah lo sama Andre, lo rela pergi dan keluar dari basket selamanya”
“Lo ngajak gue ketemu cuman untuk ini?” Gevan sebenarnya merasa janggal dengan Rendi yang tiba tiba mengajaknya untuk ketemu namun hanya untuk membicarakan hal yang menurutnya tidak penting itu
“Gue pergi”
Ucap Gevan yang dengan cepat mengambil tasnya lalu pergi dari sana
“Ini tentang nyokap lo” Mendengar itu, Gevan langsung berbalik badan dan kembali menghampiri Rendi yang ada disana
“Lo bilang apa tadi?”
“Gue tau siapa…”
Kata kata itu terpotong akibat seseorang membuka pintu kelas itu dengan kuat membuat Rendi dan juga Gevan serentak menoleh kesumber suara
Itu adalah Andre, dirinya kini tengah berdiri didekat pintu dan menatap kearah kedua remaja itu dengan tatapan tajam disana
“Lo sibuk?”
Rendi yang tadinya diam disana terkejut dan gelabakan ketika Andre tiba tiba bertanya padanya
“Ah,,Gu, gue? Enggak”
“Gue mau main kerumah lo”
“Ohhh,,,boleh. Kalau gitu kita pulang bareng aja” Andre yang mendengar itu tanpa basa basi menganggukkan kepala dan segera pergi dari sana
“Gue. pergi “ Rendipun pergi dari sana dengan perasaan yang campur aduk
Rendi kini berjalan tepat dibelakang Andre mengikuti langkah cowok itu. Sepi, begitulah keadaan sekolah sekarang karna memang jam pulang sekolah sudah berlalu satu jam yang lalu
"Lo kenapa ada disana?"
Setelah sekian lama hening, kini Andre mulai bertanya kepada sahabatnya itu
"Gue. Gue tadi ada keperluan sama Gevan" dustanya kepada cowok itu
"Tiba tiba banget?" Andre sebenarnya merasa janggal dengan sikap Rendi sekarang
"Jangan bilang lo udah mulai berpihak sama Gevan lagi"
"Lo jangan mikir aneh aneh ndre, gue tadi emang ada urusan sama dia"
"Baguslah kalau begitu. Gue pikir lo bakal jadi penghianat untuk kedua kalinya" Ucap Andre sambil menatap curiga Rendi yang berdiri tak jauh darinya disana lalu kemudian pergi meninggalkan Rendi yang hanya bisa diam pasrah