
.
.
.
Setelah selesai dari acara di Pulau Jeju entah kenapa Kyuhyun jadi lebih suka menghindarinya. Bahkan saat berpapasan dengannya dirumah saja, pria itu tampak tak peduli dengannya. Matanya tetap saja menatap lurus kedepan. Bukan melihat Jina yang waktu itu ingin melihat tatapan mata Kyuhyun tapi pria itu terdiam dan tak memperdulikan kehadirannya, dan lagi-lagi Jina tak memusingkan hal tersebut karena baginya sikap Kyuhyun yang seperti itu sudah biasa baginya.
Ngomong-ngomong ia mempunyai janji dengan Sehun hari ini, tapi jika ia minta ijin kepada Kyuhyun untuk pergi jalan-jalan bersama Sehun sudah dipastikan jika permintaan konyolnya itu akan ditolak keras, karena itu ia sedikit berbohong kepada Kyuhyun jika hari ini ia akan ikut acara kelas yang mewajibkan para mahasiswa untuk ikut serta atau nilai pelajaran tambahan akan dikurangi. Ia tak peduli dengan hal itu, biar saja nilainya sedikit buruk. Lagipula ia merasa sangat jenuh selama satu bulan terakhir ini.
"Aku sudah selesai berkemas, aku hanya dua hari menginap jadi lusa aku akan pulang." Jina menutup kopernya yang telah isi beberapa lembar pakaian. Yah. Ia sudah rapih dan terlihat cantik dengan pakaian santainya. Pria itu tak bergeming. Ia masih memilih menyeruput kopi paginya dengan raut wajah yang tak terbaca. Jina menghela nafasnya dan mengangkat bahunya singkat. Yah. Biarkanlah Cho Kyuhyun tetap bersikap seperti itu.
"Terserah saja." Akhirnya pria itu bersuara tapi yang terdengar malah nada menjengkelkan. Apa maksudnya Kyuhyun sudah tak peduli lagi dengan segala urusannya? Oh, baguslah! Tapi kenapa nada suara pria itu begitu ketus?
"Kalau begitu aku pergi sekarang." Ujar Jina akhirnya. Ponselnya bergetar beberapa kali. Membuatnya melirik benda persegi panjang itu dengan raut senang. Tanpa sadar ia tersenyum tipis dan membuka isi pesan tersebut dihadapan Kyuhyun dan membacanya dengan cepat lalu Jina langsung menaruh ponselnya didalam saku lagi. Sehun ternyata sudah sampai di Kampus.
Yah. Rencananya Jina tetap pergi ke Kampus tapi ia akan menghindari para rombongan dan berbalik arah menuju mobil Sehun yang sudah terparkir disebrang area Kampusnya.
Jina kembali melirik koper yang kini berada dalam genggamannya. Setelah memastikan semuanya sudah siap. Jinapun melangkah keluar rumah sambil menyeret kopernya. Sebenarnya untuk menginap dua malam ia sedikit berlebihan.
Kenapa ia harus membawa koper? Jawabannya tentu saja karena Sehun yang memintanya.
Lalu untuk apa? Ia juga tak tau pasti maksud dari permintaan Sehun. Ah, biarlah. Nanti juga ia akan tau sendiri dengan pemikiran Sehun. Ia yakin Sehun akan selalu menyiapkan hal yang tak terduga untuknya.
"Aku akan menelponmu saat kau sudah sampai sana. Jangan mencoba untuk menghindari panggilanku atau aku akan langsung menyusulmu saat itu juga." Ujar Kyuhyun sambil terus menatap koran yang ia genggam sejak tadi. Sejenak Jina menghentikan langkahnya saat memegang handle pintu. Entah kenapa perkataan Kyuhyun tadi membuat dirinya merasa sedikit senang? Itu artinya kakaknya itu masih memperhatikannya bukan? Tanpa menoleh Jina menganggukkan kepalanya tanpa berkata. Entahlah, seperti bibirnya terasa kelu untuk sekedar menjawab.
Saat tak melihat Jina lagi. Kyuhyun langsung melempar korannya dengan kasar. Sial! Ia tadi bahkan berusaha agar tetap terlihat tenang dan bersabar karena melihat Jina yang sangat senang. Ia sedikit mengepalkan tangannya kuat saat menyadari Jina sedikit tersenyum saat menerima pesan dari seseorang. Padahal perubahan sikapnya ini, ia lakukan untuk membuat Jina merasa tak terkekang lagi dan sedikit memberi kebebasan kepada gadis itu. Oh, ayolah siapa si brengsek yang mencoba menggoda istrinya? Yang benar saja! Berani sekali brengsek itu menggoda miliknya? Sudah cukup! Tidak ada lagi kesabarannya dalam menghadapi tingkah Jina. Pasti ada sesuatu yang Jina tutupi darinya. Dengan kasar ia meraih ponselnya dengan cepat dan menghubungi orang kepercayaannya disebrang sana.
"Kris cepat ikuti Jina sekarang!" Geram Kyuhyun bahkan ia mengepalkan tangannya dengan keras. Pria tinggi yang masih muda disebrang sana langsung menganggukkan kepalanya. Lalu dengan cepat menyimpan ponselnya saat tuan mudanya itu langsung mematikan sambungannya begitu saja.
Kris menginjak pedal mobilnya dan perlahan mulai membututi Jina yang sekarang adalah istri majikannya saat ini. Mengikuti Jina itu adalah hal yang sangat kecil. Buktinya saja saat Jina yang hampir berhasil kabur dari tuan Kyuhyun bisa ia langsung temukan. Ia merasa bangga karena Kyuhyun saja tak bisa menemukan gadis itu sama sekali sedangkan dirinya dengan mudah menemukan keberadaan Jina dan langsung memberitau keberadaannya kepada tuannya itu.
••⏳⏳••
"Apa kau sudah membawa semua yang kubilang?" Sehun meletakkan kacamata hitamnya dikantung kemeja putih yang ia kenakan saat ini. Membuat tubuhnya yang tegap itu makin tercetak sempurna. Pria itu masih menatap Jina sambil tersenyum. Oh, ayolah kenapa Sehun tampak terlihat keren saat ini? Pria itu begitu tampan dengan pakaian santainya.
"Hmm, sebenarnya kenapa kau menyuruhku berkemas dan memberitauku untuk membawa paspor?" Ujar Jina bingung. Memangnya mereka ingin pergi keluar negeri sampai-sampai Sehun menyuruhnya menyiapkan segalanya dan pergi diam-diam seperti ini. Sebenarnya apa rencana Sehun?
"Kita memang akan pergi keluar negeri besok pagi." Jina langsung membulatkan matanya mendengar perkataan Sehun. Mata pria itu beralih kedepan dan mulai menyetir dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Membuat Jina memegang sisi kursi yang ia duduki.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Jina merasa bingung dan tak mengerti.
"Bukankah kau sendiri yang bilang ingin menjauh dari Kyuhyun? Sekaranglah saatnya. Kita tak bisa menundanya lagi. Aku akan membantumu terlepas darinya dan kita akan pindah ke Inggris. Aku janji kau akan mendapatkan kehidupan barumu disana." Ujar Sehun dengan lugas, membuat Jina menatap jalanan didepannya dengan tatapan kosong. Benar. Ini memang harapannya tapi kenapa hatinya terasa mengganjal dengan semua hal ini?
"Sehun bawa aku pergi." Ujar Jina setelah beragrumen dengan dirinya sendiri. Ini pasti jalan yang Tuhan pilihkan untuknya. Mungkin ini adalah jawaban atas do'anya selama ini, lalu sekarang haruskah ia bersyukur?
••⏳⏳••
"Nona tidak ikut acara kampusnya tapi ia pergi bersama dengan pria tinggi berkulit pucat. Nona Jina saat ini sedang menuju ke daerah Busan. Sepertinya mereka akan mengunjungi suatu tempat. Saya masih memantau keberadaan nona. Lalu-" Kyuhyun melempar gelasnya. Benar bukan? Jina sedang mempermainkan kebaikannya saat ini. Diberi sedikit kekebebasan saja gadis itu tak tau diri! Ck!
"Yeob! Cepat siapkan mobil dan suruh Kris mengirimkan lokasinya. Aku ingin berangkat sekarang!" Kyuhyun bangun dari duduknya dan pengawal yang bernama Sang Yeob itu mengangguk patuh. Lalu setelahnya ia berlari untuk segera mengambil mobil tuan mudanya itu.
"Tuan... Biar saya saja mengemudi." Kyuhyun menghempaskan tangan Yeob dengan kasar saat pria itu mencoba menghalangi Kyuhyun berkendara sendiri. Memperingati kepala pengawal barunya itu dengan tatapan tajamnya.
"Diamlah. Brengsek! Jika kau yang mengemudi maka aku akan telat ketempatnya. Sebaiknya gunakan otak bodohmu itu untuk memblokir akses Jina pergi ke bandara." Desis Kyuhyun. Yah. Ia mengetahui hal ini lagi dari Kris saat pria itu mengiriminya pesan saat mencuri dengar perkataan Jina dan Sehun. Lalu ternyata mereka sudah sampai ditempat istirahat milik Sehun. Bajingan bodoh! Ia pikir bisa membawa Jina pergi? Hah. Mimpi saja sana!
Kyuhyun memukul kemudi mobilnya dan semakin menambah batas kecepatan mobilnya. Bagaimanapun caranya ia harus sampai kesana dengan cepat.
"Kris! Pastikan kau pantau mereka terus dan jangan sampai kehilangan jejak mereka mengerti?!" Kris yang disebrang sana mengangguk patuh. Lalu Kyuhyun melempar headphone yang ia kenakan setelahnya mulai kembali fokus kejalanan sambil terus mengikuti GPS yang Kris berikan.
"Kali ini kau salah karena telah bertindak bodoh Kim Jina." Geram Kyuhyun sambil mengepalkan tangannya kerasa sambil beberapa kali memukul stir kemudinya dengan amarah yang memuncak.
••⏳⏳••
Rose Home
"Masuklah, kita masih memiliki waktu lebih untuk beristirahat sebelum ke bandara pagi nanti. Maaf, seharusnya aku membelikan tiket dengan waktu yang paling cepat." Pria itu membantu Jina membawakan kopernya masuk kedalam rumah yang lumayan besar. Suasananya begitu asri dan rumah disini dengan yang lainnya sangat berjauhan. Seakan ini adalah milik persembunyian Sehun seorang. Udaranya masih begitu sejuk karena banyak pepohonan yang sepertinya pria itu sengaja tanam disekitar area rumahnya.
"Apa ini rumahmu?" Tanya Jina penasaran saat mengagumi betapa indahnya tempat yang ia lihat saat ini. pria itu mengangguk.
"Benar dan sepertinya rumah ini akan aku jual setelah kita pergi dari negara ini." Sehun tersenyum kecut saat mengatakan hal itu membuat Jina menatap dalam kearah Sehun.
"Kenapa?" Tanya Jina kembali.
"Semuanya terasa berat. Rumah ini sangat tidak ingin kuhuni lagi. Perceraian dan pertengkaran eomma dan appa seakan masih terngiang diotakku. Aku bahkan saat itu nekat membawa Seok bersamaku pergi kekota untuk pergi menjauh dari orangtuaku. Seok. Adikku itu sangat mengkhawatirkanku. Kau tau? Sebenarnya aku ini tak sekuat yang kau kira. Tapi rasanya aku merasa bisa menjalani hari-hariku dengan lebih optimis sejak bertemu denganmu. Dan sekaranglah saatnya. Disaat kurasa semuanya belum terlambat dan aku masih memilikimu untuk bersamaku. Bersama denganmu di Inggris adalah harapanku saat ini. Semoga aku dan kau bisa menjalani semuanya dengan lancar." Sehun mengelus rambut Jina dengan lembut, membuat Jina terpaku dan tak mengerti dengan yang Sehun katakan. Sebenarnya apa fakta yang ingin Sehun ungkapkan kepadanya?
"Jelaskan, sepertinya bukan hanya karena diriku kau mengajakku ke Inggris bukan?" Jina menerka dari ucapan Sehun barusan. Membuat pria itu mencubit pipi gadis itu. Jina membulatkan matanya kearah pria itu. Sedikit terkaget dengan tindakan Sehun.
"Nanti, kau pasti akan tau alasanku sebenarnya. Dan disaat hal itu terjadi, kumohon jangan pernah menyesali apapun nantinya. Aku sangat mencintaimu Kim Jina." Sehun memeluk Jina dengan begitu erat. Membuat Jina terdiam kaku. Kenapa akhir-akhir ini Sehun penuh dengan misteri?
"Baiklah, kau tidurlah. Nanti akan aku bangunkan dan kurasa kau perlu beristirahat bukan?" Sehun sedikit mendorong tubuh gadis itu hingga menuju kamarnya. Seperti sihir yang diberikan oleh Sehun membuat Jina mengikuti dorongan itu hingga iapun tersadar saat pria itu telah menutup kamarnya dengan perlahan dan tubuh Sehun menghilang dibalik pintu. Kini hanya Jina yang berada dikamar ini.
Jina memegang dadanya yang berdetak tak jelas. Ada rasa khawatir dan gelisah. Sebenarnya apa maksud Sehun? Biarpun dipikirkan beberapa kali ia tak akan mengerti ini semua.
••⏳⏳••