Human Divination

Human Divination
Hyun Go (11)



Jadi... kira-kira sebelum aku diciptakan, apakah tak ada yang namanya ramalan sebelumnya. Karena ramalan itu ada, karena ada aku yang menemukan prasasti itu bukan. Jika bukan aku yang menemukannya, atau aku tak ada.


Pasti tak ada yang namanya manusia ramalan, dan tidak ada Vin yang di sebut sebagai manusia ramalan. Jika tak ada aku, bagaimana keadaan dunia manusia, apakah akan terus berada di bawah.


Jika saja aku tak diciptakan tatanan dunia pasti tak akan berubah. Dan yang paling pastinya lagi, seluruh umat manusia, pasti tak akan bisa melewati semua derita yang di alami bertarung dengan makhluk lainnya. Para manusia pasti akan lemah, karena tak ada seorang pemimpin.


Dan juga pasti manusia, dan malaikat tak akan pernah bersekutu jika aku tak ada. Manusia akan punah dengan cepat, tak ada yang peduli dengan kepunahan manusia. Lalu begitu saat aku datang, dunia manusia berubah, dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


Apakah itu alasan yang tepat kenapa Naozi menciptakan ku. Tapi jika dengan cara itu, kenapa masih ada topik tentang manusia ramalan itu. Bukannya hanya perlu aku saja sudah cukup untuk mewujudkan ramalan ini. Bahkan sepertinya tak perlu ada ramalan sekali pun karena aku ada.


Kalau seperti ini, jadinya aku hanya perantara saja bagi manusia ramalan itu. Aku hanya perantara rasa yang akan mewujudkan ramalan itu, sampai ada Vin Edward. Dia adalah manusia ramalan sesungguhnya, kenapa tak aku saja.


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu Hyun Go" kata Naozi yang melihatku diam saja.


"Eh!? hmm tidak kok, tak ada yang ku pikirkan" kataku sambil termenung.


"Sudah jelas sekali kalau kau sedang mempunyai masalah. Apa karena kau memikirkan ucapan ku? karena tak ku beritahu padamu?" kata Naozi.


"Tidak kok, aku tak memikirkan ucapan mu, hanya saja. Aku ingin sekali menjadi manusia ramalan itu, tapi sayangnya aku tak bisa. Karena manusia ramalan itu sudah ada, yaitu Vin Edward" kataku.


"Ah sudahlah kau tak perlu memikirkan itu sendirian. Apa kau lapar? jika kau lapar akan ku buatkan sesuatu untukmu" kata Naozi.


"Ya baiklah, aku sangat lapar, bolehkah aku membantumu" kataku dengan tersenyum.


"Hmm baiklah kau boleh membantuku" kata Naozi.


"Kita akan memasak apa?" tanyaku.


"Sesuatu yang bisa kita makan" canda Naozi.


"Ya aku juga tahu itu" kataku.


"Lebih baik kau ambil saja bahan-bahan yang akan kita masak di lemari itu" kata Naozi sambil menunjuk.


"Baiklah" kataku sambil berjalan menuju lemari itu.


Lalu setelah ku buka lemari itu, aku tak menemukan satu bahan makanan pun. Aku hanya menemukan sebuah kertas yang telah usang, dan pakaian yang terlihat kuno, sama seperti pakaian yang di pakai Naozi. Tapi hanya saja sepertinya pakaian itu untuk laki-laki, lalu aku mengambil kertas itu, dan membacanya.


"Hyun Go... kenapa kau pergi? kenapa harus kau yang pergi Hyun Go. Kenapa bukan yang lain? jika tak ada kau... apa yang akan kulakukan untuk kedepannya.


Aku tak bisa hidup tanpamu... aku selalu menangis, dan menangis setiap malam. Sambil memikirkan dirimu yang selalu ada untukku saat itu. Sampai pada akhirnya aku kehilanganmu, dan hidupku terasa hampa setelah kau tak ada"


Kata tulisan yang tertulis di selembar kertas itu. Apa dia sedih selama ini, karena aku tinggalkan. Sampai dia sesedih itu. Tapi sejak kapan aku selalu ada untuknya, apa karena dari aku bayi. Dan setelah aku agak besar aku di buang ke daratan, dan di pungut oleh ayahku, entah kenapa aku masih menyebut dia ayahku.


Padahal dia adalah ayahku, lalu kenapa Naozi tak bilang padaku soal ini. Kenapa dia memendam derita ini sendirian, oh ya aku lupa kalau diriku tak punya perasaan sedikitpun. Percuma saja jika dia memberitahu padaku.


Lalu Naozi berdiri di belakangku, "Apa yang kau lakukan" kata Naozi dengan tatapannya yang dingin.


Lalu aku langsung menaruh kembali kertas itu ke lemarinya lagi, "Ah maaf kau tadi menunjuk lemari ini bukan" kataku, tak berani menatap.


"Maksud ku lemari yang ada disana" kata Naozi menunjukkan lemarinya.


Astaga ternyata lemari yang berisi bahan makanan, ada disebelahnya. Lalu aku mengambil bahan makanan yang ada di lemari, dan membawakannya ke dapur untuk di masak. Kenapa saat aku memegang selembar kertas itu, Naozi terlihat marah sekali padaku.


Namun sebaiknya aku harus membantu memasaknya, jangan langsung berbicara. Apa lagi berbicara tentang selembar kertas itu, pasti akan membuatnya marah besar. Tapi tiba-tiba, saat aku memotong-motong bahan makanannya, Naozi menangis, dan menjatuhkan dirinya.


"Hiks-hiks... hiks-hiks" Naozi menangis tersedu-sedu.


Aku sangat bingung apa yang harus ku lakukan, apakah aku harus membantunya. Atau aku harus diam saja, aku sangat bingung sekali. Kalau aku membantunya, bisa saja dia tambah membenciku nanti.


Lalu aku memutuskan apa yang menurutku yang sangat tepat, "Naozi... jangan menangis, maafkan aku" kataku sambil menepuk pundaknya.


"Hiks-hiks... tidak... kau tidak salah Hyun Go... hiks" Sepertinya malah semakin parah nangisnya karena aku.


"Aku tahu... itu adalah salahku kan, karena aku sudah pergi. Padahal kau sudah menciptakan ku, maaf aku sudah pergi" kataku.


"Hiks-hiks... sudah ku bilang ini bukan salahmu... hiks... kau tak mengerti apapun Hyun Go! kau tidak tahu apa yang ku maksud! kau tak ada hubungannya!" kata Naozi merasa kesal denganku.


"....... kalau begitu, aku tetap akan minta maaf padamu, walaupun aku tak ada hubungannya denganmu" kataku sambil beranjak untuk melanjutkan memotong bahan makanannya lagi.


Saat aku sedang memotong-motong bahan makanan, sepertinya ada yang aneh. Lalu aku melirik ke arah Naozi yang masih terduduk di lantai di sampingku. Dia berhenti menangis, dan sekarang malah bengong, karena mendengar kata-kata ku tadi.


Memangnya apa yang terjadi? kenapa dia tiba-tiba seperti itu, "Terima kasih..." kata Naozi.


"Eh!? untuk apa kau berterima kasih padaku?" kataku bingung.


"Terima kasih untuk semuanya... kau mirip sekali dengan dia" kata Naozi sambil mengusap air matanya, dan beranjak untuk melanjutkan memasaknya.


Lalu setelah kami selesai memasak, akhirnya kami makan, aku sudah sangat lapar sekali. Yang dimasak oleh Naozi sepertinya hanya masakan biasa, sup sayur, dan ikan goreng bumbu.


"Wah makanannya enak sekali! apa kau selalu masak makanan seperti ini?" tanyaku.


"Ah... hmm i-iya" kata Naozi malu-malu.


"Oh ya jika kau masih kepikiran soal tadi, aku ucapkan. Aku minta maaf" kataku masih merasa tidak enak dengannya.


Setelah aku bicara seperti itu, tiba-tiba Naozi mengeluarkan air mata di pelupuknya, "Terima kasih" kata Naozi sambil mengelap air matanya yang terlintas di pipinya.


"Iya, sama-sama... kalau boleh tahu, kenapa kau menangis seperti ini?" tanyaku.


"........."


"Ah kalau tak mau beritahu juga tak apa kok, aku tak akan memaksamu" kataku, lagi pula tidak mungkin juga aku memaksanya untuk berbicara. Yang ada nanti aku akan mati jika memaksa dia berbicara.


"Sebenarnya ada yang belum aku ceritakan padamu Hyun Go. Hanya ada satu saja yang belum ku ceritakan padamu saat itu, ini tentang apa yang kau temukan di kemari itu. Sebuah selembar kertas, dan pakaian seorang pria.


Dan juga alasan sebenarnya aku menciptakan mu ada hubungannya dengan kertas yang kau temui. Waktu itu aku hanya bilang kalau aku menciptakanmu karena aku kesepian kan.


Aku menciptakanmu juga karena kau itu mirip dengan seseorang. Dari bentuknya aku buat kau serupa dengannya" kata Naozi.


Apa maksudnya, jadi dia membuatku karena teringat akan seseorang. Dan sebenarnya wujud tubuhku yang dulu, bukan yang sekarang aku ambil dari Vin. Tetapi wujudku yang pertama kali aku hidup, mirip dengan seseorang.


Siapa seseorang itu, kenapa dia sampai menangis hanya karena orang itu. Apa seseorang yang dimaksud itu adalah seseorang yang memakai pakaian yang ada di lemari itu?.


Bersambung...