
Rumah sakit ini berada di dalam tanah, dengan urutan ke 3. Aku menangis, karena panik takut Setyo kenapa-napa, dan juga perasaan amarah yang sangat besar. Lalu Jisu datang membawa makanan yang dia beli untuk makan malam. Dan keadaan Setyo semakin memburuk kata dokter setelah kejadian tadi.
"Tuan Vin... saya ingin memberitahu kepada anda soal pasien" kata dokter, lalu tiba-tiba aku berteriak padanya dan mengangkat kerah dokter itu.
"Kenapa! Ada apa dok! cepat beritahu aku apa yang terjadi Setyo!" kataku sambil menangis, dan marah.
"Pa-pasien kemungkinan besar dia akan mengalami kematian sebentar lagi. Dia akan mati sebelum dia sadar dari komanya, dia akan mati pada saat koma" kata dokter itu.
Lalu aku melepaskan tanganku dari kerah dokter itu. Dan aku menjatuhkan diriku ke lantai, dan menundukkan kepalaku, rasanya aku seperti lumpuh. Aku tak bisa menggerakkan tubuhku sedikitpun, aku hanya bisa menangis seperti ini. Lalu dokter itu pergi meninggalkan ku, dan memanggil petugas medis untuk selalu mengecek keadaan pasien.
"Vin..." kata Jisu dalam hati, wajah Jisu melihatku dengan sedih.
Aku sungguh tak percaya, kalau teman, bukan sahabatku akan mati. Dan meninggalkan ku disini, hanya dia yang menemani ku sejak aku kecil. Hanya dia yang mau berteman denganku, dan hanya dia juga yang melindungi ku dari orang lain yang bersikap kasar padaku. Aku, tak ingin dia pergi meninggalkanku, ini pasti bohong, dokter itu bohong padaku.
Aku masih menangis, dan terus menangis sambil berlutut. Kalau dia benar-benar akan mati, bisakah tuhan memberi kesempatan untuknya bangun dari komanya sebentar saja. Aku pasti akan mengatakan hal-hal yang membuatnya bahagia di akhir hidupnya. Dan juga rasa terima kasih ku padanya, yang selama ini selalu menjadi temanku.
Lalu Jisu menepuk pundak ku, dan mengajakku untuk masuk ke ruangan Setyo. Untuk melihat keadaannya, aku mengambil kursi, dan menaruhnya di sebelah Setyo. Lalu aku duduk di sampingnya, untuk menemani kehidupan terakhirnya, walau dia tak sadarkan diri. Lalu dokter yang tadi datang, bersama perawat lainnya untuk mengecek kembali keadaan Setyo.
Lalu setelah selesai para petugas medis untuk mengecek Setyo. Aku bertanya kepada dokter yang tadi, "Dok... kira-kira berapa hari lagi Setyo akan mati?" tanyaku dengan lemas.
"Tidak sampai satu hari pun, beliau akan mati sekitar 8 jam lagi. Dan juga tak ada kemungkinan kalau dia akan sadar di akhir hidupnya" kata dokter itu lalu pergi.
"Hanya 8 jam, aku terkejut begitu mendengarkannya, bukankah itu waktu yang singkat. Kenapa Setyo meninggalkanku tanpa sepatah katapun, dia meninggalkanku dalam keadaan diam. Kenapa dia tak berbicara padaku, kenapa semua ini terjadi padaku. Apakah ini takdir seorang manusia ramalan, atau yang dikatakan pak direktur Sunghon itu benar padaku.
Tentang hal bahwa semua keajaiban semua manusia ada pada dalam diriku. Oleh karena itu Setyo mati karena tak ada keajaiban sedikitpun, begitu juga dengan pak direktur Sunghon, dan kakek. Keajaiban mereka, semuanya di ambil olehku, kalau seperti ini bukankah aku yang salah. Karena telah merenggut keajaiban seseorang, sehingga membuat hidup orang itu menjadi singkat.
Jisu memberikanku makanan yang dia beli, tapi aku tak mau makan apapun. Aku sedang tidak ingin makan, aku sedang tak ingin melakukan apa-apa. Yang hanya ku inginkan adalah menunggu di akhir hidupnya Setyo, dan menemaninya walau dia tak sadarkan diri. Sudah 7 jam berlalu aku menunggu, tetapi Setyo tak bangun juga. Jadi benar apa yang dikatakan oleh dokter itu. Kalau Setyo tak akan bangun di akhir hidupnya.
"Vin... apa kau baik-baik saja?" tanya Jisu yang melihatku terus mengalirkan air mataku.
"Sudah 7 jam aku menunggu... hiks-hiks. Kenapa Setyo tak bangun juga... hiks-hiks. Padahal aku ingin melihatnya sadar di akhir hidupnya" kataku sambil membaringkan kepalaku di kasur.
"Sudahlah Vin, kau jangan terus sedih seperti itu. Karena aku masih ada disini" kata Jisu.
"Memangnya siapa kau hah! kau bukanlah teman atau siapapun. Kau hanya orang yang ku bawa pulang karena aku kasihan padamu!" teriakku karena tersinggung dengan perkataan Jisu.
"A-aku... aku" kata Jisu
"Aku menyesal karena telah memilih keputusan yang salah. Kalau aku tahu kalau kau akan bersikap dingin padaku, seharusnya aku mendengarkan apa kata kakekku saja" kata Jisu yang ngelantur tiba-tiba, dan sedih.
"Apa maksudmu hah? ngelantur apa kamu? lebih baik kau pergi. Aku tak ingin bertemu denganmu lagi" kataku.
"Apa kau yakin Vin... jika aku pergi, mungkin kau tak akan menemukan ku lagi. Jadi usahamu sudah tak ada gunanya lagi jika kau menyuruhku pergi" kata Jisu dengan berkaca-kaca.
"Usaha apa hah? memangnya apa yang telah aku lakukan untukmu seseorang sepertimu. Bahkan seseorang yang tak ku kenal, aku tak peduli jika aku tak akan bertemu denganmu lagi. Kau ingat kata-kata ku sebelum kau pergi, karena kau itu bukan siapa-siapa" kataku sambil berbisik di telinganya dengan kejam.
"Baiklah aku akan pergi... apa kau tak mengenaliku, Vin?" kata Jisu.
"Kau siapa hah? aku tak kenal dengan orang sepertimu. Aku hanya mengenal sahabatku saja, Setyo, dan Zack. Tapi semua sahabatku akan meninggalkanku" kataku.
"Kalau begitu... aku... akan pergi, dan tak pernah bertemu denganmu lagi. Ku harap kau... tak akan menyesal, dan mencari ku lagi" kata Jisu menangis, sambil pergi keluar dari ruangan.
"Huh... memangnya untuk apa aku menyesal jika kau pergi. Tapi... rasanya seperti aku kehilangan sesuatu untuk selama-lamanya. Saat aku melihat wajahnya yang seakan benar-benar pergi. Ah sudahlah, kenapa aku berpikiran yang tidak-tidak" kataku.
Lalu 1 jam berlalu, dan Setyo sudah meninggal. Dia pergi, tak ku sangka dia pergi begitu cepat, pertemuan kami di dunia ini hanya 12 tahun saja. Aku pertama mengenal dia sejak aku berumur 7 tahun, dan selama 12 tahun itu dia telah membuat kenangan yang berharga untukku.
Aku kenal dia, saat aku di bully oleh satu kelasku. Dan dia datang menolongku, walau dia dari kelas yang berbeda denganku. Dan menghajar semua orang yang mem-bullyku, dan sejak saat itu aku berteman dengannya. Dan tak ada yang berani menggangguku lagi semenjak aku berteman dengan Setyo.
Kami terus berteman, dan dia selalu datang ke rumahku untuk bermain denganku. Semenjak aku tahu pertemuan terakhirku di taman itu, Setyo jadi tak pernah bermain denganku lagi.
Lalu aku ikut membantu menyuburkan mayat Setyo. Lalu aku meletakkan jenazahnya di dalam tanah, lalu aku terkejut saat melihat ada tanda di dadanya. Yang sebelumnya tak ada, sekarang tanda ini ada, aku sudah mencoba untuk menghilangkannya, tapi tak bisa. Tanda itu adalah sebuah tulisan, yang terdiri dari satu huruf, "R".
Aku tak tahu ada apa dengan tanda itu. Dan apa yang akan terjadi dengan tanda itu, aku langsung membantu menguburkannya saja, lalu aku pergi. Dan pulang ke rumah, setelah aku memasuki rumah. Rasanya sangat sunyi sekali, tak ada keributan yang di buat oleh Setyo, dan juga tak ada Jisu.
Tak ada Jisu yang membantu untuk membuatkan kami makanan. Tak lagi terdengar suara teriakan Setyo yang menggila karena kelaparan, dan membangunkan Jisu dari tidurnya. Aku merasa hampa, barang-barang Jisu juga sudah di bawa pergi.
Lalu aku pergi ke dapur, dan kulihat makanan terkahir yang di buatkan Jisu sebulan lebih yang lalu masih ada di meja makan. Karena saat itu Setyo di serang, dan kami semua pergi ke rumah sakit. Aku duduk di kursi, dan memandangi sekitar, sambil membayangkan.
Membayangkan masa lalu, saat Setyo masih ada disini, dan juga Jisu. Seakan-akan saat aku sedang membayangkan, ini seperti nyata bagiku. Aku melihat Setyo duduk di depanku, dan dia membuat kekacauan. Lalu aku yang dibayangkan itu naik ke atas meja, dan menghajar Setyo.
Sampai-sampai meja makannya terbaik, dan semua makanan yang dibuatkan Jisu jatuh semua. Aku membayangkan itu sangat nyata sekali, lalu tiba-tiba aku di kejutkan dengan jiwaku, Hyun Go. Bayangan yang ku bayangkan menjadi hilang, dan aku langsung masuk ke dalam pikiranku untuk bertemu dengan Hyun Go.
Bersambung...