Human Divination

Human Divination
Jiwaku?



Perkataan pak direktur Sunghon benar juga. Tak semua manusia adalah penyihir, dan kekuatan kita mungkin tak akan kuat untuk mengalahkan jumlah para iblis nanti. oh ya, aku baru ingat kalau malaikat di pihak manusia, pasti para malaikat akan membantu para manusia saat perang nanti.


"Tapi pak! kita kan masih mempunyai malaikat. Pasti mereka akan membantu kita kan?" tanyaku.


"Bapak lupa bilang hal ini padamu Vin. Malaikat... dunia malaikat juga akan di serang seperti bumi kita" kata pak direktur Sunghon.


Aku kaget setelah mendengarnya, "Tapi kalau iblis menyerang dua-duanya sekaligus. Pasti kekuatan mereka terbagi menjadi dua bagian, pasti akan lebih mudah" kataku.


"Apa kau tahu Vin... makhluk mana yang paling kuat?" kataku.


Aku baru ingat kalau iblis adalah makhluk terkuat diantara makhluk-makhluk lainnya. Aku tahu itu dari monster yang bernama Cancer itu. Apa karena mereka para iblis merasa lebih kuat, mereka jadi membagi dua bagian untuk menyerang.


"Pak! apa bisa kita membatalkan serangannya, atau dengan cara menghancurkan menara itu?" tanyaku.


"Soal menara itu, menara itu tak bisa di hancurkan sedikitpun. Karena terdapat pelindung yang luar biasa pada menara itu, setelah ku amati pelindung itu berasal dari raja iblis. Kemungkinan besar raja iblis juga akan ikut berperang" kata pak direktur Sunghon.


Aku berpikir kalau ini saatnya ramalan itu akan di wujudkan olehku. Aku yakin sekali kalau peperangan ini akan selesai dengan kemenangan umat manusia. Aku harus cepat-cepat untuk berlatih lagi agar menjadi lebih kuat, tapi aku sembuh kira-kira seminggu lagi.


Kapankah perang itu akan datang, kumohon jangan saat aku lagi sakit begini. Jika mereka datang saat aku sakit begini mungkin akan susah sekali menyelesaikan pertarungan.


"Vin jangan terlalu percaya pada dirimu... karena bisa saja kau bukan anak ramalan itu. Bisa saja orang lain bukan?" kata pak direktur Sunghon.


Setelah pak direktur Sunghon berbicara seperti itu, tiba-tiba saja ada yang tertawa. Ternyata yang tertawa itu adalah jiwaku, aku tak tahu kenapa dia ketawa, padahal tak ada hal yang lucu. Lalu aku berbicara dengannya, "Hei kenapa kau tertawa?" tanyaku.


"Tidak ada apa-apa kok, hanya saja aku kepikiran sesuatu yang lucu" kata jiwaku.


"Hah? memangnya kau punya pikiran? kau adalah aku, dan aku adalah kau..... Eh? kalau dipikir-pikir ini aneh juga ya. Kenapa kau, dan aku tak sepemikiran?" tanyaku.


"Karena aku hanya jiwamu yang hidup, bukan pikiranmu" kata jiwaku.


"Aku merasa ada yang aneh dengan dirimu? sebenarnya siapa kau?" tanyaku.


"Kau kan sudah bilang tadi. Kalau aku adalah kau, dan aku adalah aku" kata jiwaku.


"Masa sih aku berbicara pada diriku sendiri. Kau pasti orang lain kan?" tanyaku.


"Hah sudahlah! lebih baik kau urus saja direktur Sunghon itu" kataku.


Lalu aku menurutinya, dan aku sadar kembali, "Vin ada apa denganmu tadi? kenapa kau tiba-tiba pingsan?" tanya pak direktur Sunghon.


"Oh, aku sedang berbicara pada jiwaku pak, jadi sementara aku masuk kepikiran ku sendiri, untuk berbicara dengannya" kataku.


"Hah? kau berbicara pada jiwamu sendiri, itu aneh sekali. Apa kau yakin kalau dia adalah jiwamu? bisa jadi ada seseorang yang merasuki mu, dan mengaku kalau dia adalah kamu" kata pak direktur Sunghon.


"Saya juga merasa aneh pak, saya merasa di bodohi oleh jiwa saya sendiri. Tapi selama ini dia banyak sekali membantu saya pak, jika saja dia tidak ada. Mungkin aku akan mati saat menjalankan misi yang bapak berikan" kataku.


"Jadi kalau begitu, ada penyihir baik yang ingin membantumu dari jarak jauh" kata pak direktur Sunghon.


"Entahlah pak saya masih belum tahu, kenapa dia membantuku. Tapi asalkan niat dia baik, akan ku terima" kataku.


"Tapi kau harus berhati-hati dengan dia. Siapa tahu dia akan menusukmu dari belakang saat perang ini terjadi" kata pak direktur Sunghon.


Lalu jiwaku berbicara padaku, "Tenang saja, Vin... aku tak mungkin mengkhianati mu" kata jiwaku.


"..... Baiklah aku percaya padamu, karena aku lihat kau sungguh-sungguh. Tapi bisakah kau memberitahuku, dimana kau sekarang?" tanyaku.


"Apa maksudmu dimana aku sekarang?" tanya jiwaku.


"Kau pasti sedang merasuki ku dari jarak jauh bukan? aku ingin bertemu denganmu" kataku.


"Soal itu... kau tak akan pernah bertemu denganku. Karena itu mustahil kita bisa bertemu" kata jiwaku.


"Suatu hari nanti kau akan mengetahui keberadaan ku yang sebenarnya" kata jiwaku.


Lalu aku sadar kembali, "Apa kau sedang berbicara lagi dengan jiwamu?" kata pak direktur Sunghon.


"Iya pak... dia bilang kalau aku tak akan bisa bertemu dengannya. Apa maksudnya itu pak?" kataku.


"Entahlah bapak juga tidak tahu. Kalau begitu bapak pergi dulu ya, bapak ingin mengajari semua manusia untuk menguasai sihir" kata pak direktur Sunghon.


Jiwaku sering kali memberikanku teka-teki, seolah-olah harus ku pecahkan sendiri teka-teki itu. Selama aku di rawat disini, aku hanya berbicara dengan jiwaku sendiri, dan juga Setyo yang setiap hari mengunjungi ku.


"Apa? kau berbicara dengan jiwamu? itu hal yang aneh, apa kau serius?" tanya Setyo.


"Iya aku serius, menurutku itu hal yang aneh juga" kataku.


Kalau bukan karena seseorang yang merasuki mu dari jarak jauh. Kemungkinan besar dia adalah dirimu yang berasal dari masa lampau" kata Setyo.


"Hah? apa maksudmu? jadi maksudmu aku ini reinkarnasi dari diriku di masa lampau?" kataku.


"Yah itu memang benar... Tapi..." kata Setyo.


"Hah? tapi apa?" tanyaku.


"Tapi bohong, hahahaha!" kata Setyo.


"Oh ayolah bisakah kau serius sedikit padaku Setyo" kataku.


"Hahaha, baiklah. Langsung saja ke intinya, reinkarnasi itu tidak ada. Jadi bisa saja dia berbohong padamu, padahal dia berada di suatu tempat untuk merasuki mu" kata Setyo.


"Lagi-lagi aku di bohongi lagi, aku juga sudah menduganya" kataku.


"Memangnya kau sudah di bohongi berapa kali olehnya?" tanya Setyo.


"Hah, aku sudah banyak sekali dibohongi olehnya. Hampir setiap saat dia membohongiku, dia hebat sekali aktingnya sehingga aku terpengaruh olehnya" kataku.


"Hahaha... kalau begitu aku pulang dulu ya. Oh ya ini hari terakhir mu di rumah sakit bukan?" tanya Setyo.


"Iya, besok aku sudah bisa pulang. Ah senangnya bisa pulang ke rumah" kataku.


Lalu saat itu juga Setyo sudah pulang karena sudah menemani ku dari pagi hingga sore. Kami mengobrol tak kenal waktu, dan saling tertawa, aku beruntung mempunyai teman seperti dia.


Lalu esok harinya aku sudah di perbolehkan pulang. Saat aku sampai di rumah aku langsung kepikiran dengan Rick, aku mencari-cari tapi tak kutemukan. Sebab dia masih sangat kecil, lalu ada yang berbicara padaku, ku tengok ke belakang dia adalah Rick.


"Hei sedang mencari apa kau, Vin?" tanya Rick.


"..... Dari suaranya kau... Rick?" tanyaku.


"Iya ini aku, memangnya kenapa?" tanyaku.


"Yang benar saja cepat sekali kau besarnya, kau sudah menyamai tinggi rumah ku" kataku.


"Haha... Tapi jika aku tinggal di dunia malaikat. Aku akan lebih besar dua kali lipat dari ini" kata Rick.


"Oh benarkah? itu hebat sekali. Tapi kenapa kau ingin tinggal disini?" tanyaku.


"Maaf aku tak bisa memberitahumu" kata Rick.


Entah kenapa semua makhluk hidup disini seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Kenapa semuanya merahasiakannya dariku, memangnya aku ini kenapa. Sepertinya mereka semua mempunyai hubungannya denganku.


Bersambung...