
Jika aku maju untuk menyerangnya aku pasti akan mati. Karena kekuatannya berbeda jauh dengan iblis pasukan khusus. Maka kami membuat lubang ke bawah tanah, untuk bersembunyi sementara. Lalu aku menutupi lubang tanah itu lagi, lalu Setyo menyalakan api dari tangannya. Aku membuat menggali tanah lagi untuk memperluas ruang ini.
"Lalu apa yang akan kita lakukan disini Setyo?" tanyaku.
"Aku tidak tahu... kita harus membuat rencana untuk keluar dari sini" kata Setyo.
"Rencana? aduh aku sedang tak memiliki rencana apapun. Apa kita harus melawannya?" kataku.
"Apa!? yang benar saja kita harus melawannya. Kau ingin kita berdua mati hah? kita saja mengurusi iblis di dunia kita saja sangat sulit. Apa lagi disini, kau sudah lihat kan, kalau mereka itu berbeda sekali levelnya dengan yang ada di dunia kita" kata Setyo.
"Tenang saja, aku adalah anak ramalan itu. Aku pasti akan berhasil, karena pasti akan ada keajaiban" kataku, agar Setyo percaya penuh padaku.
"Tapi itu kan kamu Vin. berbeda denganku yang hanya manusia biasa. Mungkin saja kau bisa melewati semua ini, tapi aku tidak. Kau hanya memikirkan dirimu saja, kau tak memikirkan orang lain. Orang yang bersamamu" kata Setyo.
Mendengar kata-kata Setyo membuatku terdiam sejenak. Dan kata-kata yang bisa ku keluarkan adalah hanya meminta maaf padanya. Memang benar kata Setyo kalau aku hanya memikirkannya diriku sendiri, dan tak memikirkan orang lain. Karena aku selalu berharap kalau aku akan bisa melewati semuanya sendirian, karena aku seorang manusia ramalan itu.
Perkataan pak direktur Sunghon benar, aku terlalu percaya diri pada diriku. Hingga aku melupakan sesuatu yang sangat berharga bagiku, sesuatu yang harus ku lindungi dengan nyawaku. Apakah jika aku melawan mereka, Setyo akan selamat?. Aku tak tahu aku harus bagaimana, ah lagi-lagi aku terlalu yakin pada diriku kalau aku akan selamat karena ada keajaiban.
"Lalu apa yang harus kita lakukan Setyo... apa kamu mau kita mati kelaparan disini?" kataku.
"Itu... ah aku tidak tahu harus bagaimana. Jangan membuatku pusing" kata Setyo.
"Apa tadi kau sempat melihat malaikat yang tersisa?" tanyaku.
"Aku tak melihatnya sama sekali, aku hanya melihat malaikat yang mati. Dan juga malaikat yang baru saja di bunuh. Apa jangan-jangan... para malaikat sudah mati semuanya?" kataku.
"Itu tidak mungkin terjadi Setyo. Aku sudah pernah cerita padamu bukan, kalau waktu itu di mimpiku kita berperang bersama malaikat" kataku.
"Memangnya setiap mimpimu itu menjadi kenyataan?" tanya Setyo.
"Entahlah itu... aku tak tahu. Tapi apa kau percaya padaku Setyo?" kataku.
"Percaya? ya aku sangat percaya padamu. Karena kau adalah anak ramalan itu" kata Setyo.
"Tapi kenapa kau tak mempercayai mimpi yang ku ceritakan padamu?" tanyaku.
"Entahlah hanya saja aku selalu merasa bingung. Kau pasti tahu kan kalau tidak semua orang itu seratus persen percaya padamu. Setiap orang memiliki jalan pemikiran yang berbeda" kata Setyo.
"Iya itu benar, apa yang harus kulakukan agar semua orang percaya padaku? agar tak ada keraguan di hati mereka" kataku.
"Entahlah sepertinya kau harus bisa mewujudkan ramalan itu. baru semua orang akan percaya padamu seratus persen. Dan tak ada keraguan sedikitpun, karena kau sudah menyelesaikan ramalan itu" kata Setyo.
"Entahlah aku tak tahu, itu adalah masalah yang harus kau selesaikan sendiri" kata Setyo.
Aku ingin segera kembali ke bumi, aku khawatir sekali dengan keadaan duniaku. Lalu tiba-tiba saja pak direktur Sunghon berbicara padaku lewat telepati. Suaranya terdengar seperti dia sedang kesakitan, atau terkena serangan.
"Vin... kau ada dimana? kenapa aku... tak bisa merasakan kekuatanmu disini?" kata pak direktur Sunghon.
"Kenapa nada bicara bapak begitu? apa terjadi sesuatu pada bapak, dan yang lainnya?" kataku.
"Ya keadaan bapak sangat buruk saat ini. Bapak, dan penyihir lainnya masih belum bisa keluar dari dinding ini. Karena kami belum mengalahkan monster raksasa itu. Lalu juga ada banyak iblis yang tingkatnya tinggi datang kesini. Bapak, dan yang lainnya di serang, tolong kau segera kesini Vin" kata pak direktur Sunghon.
"Maaf pak... keadaan ku disini juga sedang sangat mendesak. Aku sekarang sedang berada di dalam tanah untuk bersembunyi. Karena banyak iblis tingkat SS-SSS, dan iblis pasukan khusus mengelilingi kami" kataku.
"Kami? memangnya kau sedang sama siapa? dan aku sedang berada dimana Vin? apa kau pergi ke dunia malaikat?" kata pak direktur Sunghon.
"Iya pak aku sedang berada di dunia malaikat bersama Setyo. Karena waktu itu kami sedang di kejar oleh para iblis yang sangat banyak. Jadi kami kabur, dan masuk lewat portal ke dunia malaikat" kataku.
"Astaga, kenapa kami kesana Vin. Apa kau tak tahu kalau iblis yang ada disana itu levelnya sangat berbeda dengan iblis yang ada disini?" kata pak direktur Sunghon.
"Karena saya tergesa-gesa, jadi saya tak berpikir terlebih dahulu pak. Maafkan saya pak, sepertinya saya tak bisa kesana, dan membantu bapak" kataku.
"Baiklah, sepertinya hidupku sudah tak lama lagi Vin. Padahal aku ingin sekali melihatmu mewujudkan ramalan itu. Tapi sepertinya keinginan ku tak bisa ku capai" kata pak direktur Sunghon.
"Kenapa bapak bicara seperti itu pak. Bapak tak akan mati di tangan iblis. Jadi bertahanlah pak, karena masih ada keajaiban. Bapak harus percaya itu" kataku.
"Keajaiban semua manusia sudah kau ambil Vin. Jadi... tolong kau wujudkan ramalan yang di impikan telah lama oleh manusia. Aku akan melihatnya dari dunia lain Vin. Sepertinya waktu ku sudah tiba... selamat tinggal, Vin... UAKHHH... AKHH!!!" pak direktur Sunghon di bunuh oleh iblis.
"Pak? bapak? TIDAK!.... hiks-hiks, aku janji pak. Kalau aku akan mewujudkan ramalan itu" teriakku.
Tapi apa yang harus aku lakukan, aku saja masih bersembunyi disini. Memangnya jika dengan aku bersembunyi disini, ramalan itu akan terwujud. Tapi bagaimana pak direktur Sunghon bisa mati hanya dengan melawan iblis setingkat S-SS.
Tak mungkin juga jika dia mati karena monster itu. Karena serangan monster itu sangat lambat tetapi sangat kuat. Siapa iblis yang membunuh pak direktur Sunghon, aku akan membunuhnya suatu saat nanti untuk membalaskan dendam pak direktur Sunghon.
Aku harus melakukan sesuatu, aku tak bisa terus disini. Aku harus keluar, ya aku harus keluar dari sini, karena pasti keajaiban akan datang kepadaku. Tapi... bagaimana dengan Setyo, apakah dia akan baik-baik saja. Apa aku tinggalkan dia disini supaya tak terbunuh. Tapi bagaimana jika ada iblis yang menemukan dia saat aku tak ada.
Pokoknya, aku harus mencari cara agar kami berdua bisa selamat dari sini. Lalu setelah ku pikir-pikir, aku menemukan caranya. Yaitu dengan menggali tanah ke samping sampai menemukan sesuatu. Pasti disini ada semacam shelter bawah tanah disini. Untuk melindungi para malaikat yang tersisa, aku akan mencarinya.
Bersambung...