
Peringatan : karakter, tokoh dan cerita ini hanya imajinasi penulis, jadi cerita ini hanya imajinasi penulis saja.
Aku tak bisa bergerak, badanku tertusuk oleh akarnya yang berduri, dan makhluk summon ku, semakin kewalahan menghadapi mereka, dan dikalahkan oleh mereka yang begitu banyak. Aku masih tak sanggup bergerak, lalu ada sesuatu yang bercahaya datang kepadaku.
Bukan, dia melainkan seorang manusia tetapi tubuhnya mengeluarkan cahaya, dan dia mirip denganku. Orang itu memakai pakaian zirah yang terlihat begitu keren, Dan dia datang menyelamatkanku, dengan kekuatannya. Semua makhluk yang tadi menyerangku terpental olehnya.
"Hei, apa kau tidak apa-apa" tanya orang itu padaku.
"I, iya aku tak apa-apa, tapi siapa kau? kenapa kau bisa masuk kesini bersamaku?" kataku.
"Hei apa kau lupa? baru saja tadi kau mempelajari ku" kata orang itu.
"Apa maksudmu kau itu adalah jiwaku? tapi kenapa kau mirip sekali denganku, apa karena kau jiwaku?" kataku.
"Ya aku ini jiwamu, tapi kalau soal itu, nanti kau akan tahu sendiri, kalau begitu mari kita habiskan mereka semua" kata orang itu.
Lalu aku melanjutkan pertarungan ku bersama jiwaku sendiri. Dia juga tak kalah hebat denganku, sepertinya dia sudah biasa bertarung. Lalu setelah sekian lama aku mengalahkan mereka semua, mereka sudah tunduk patuh padaku.
"Kami semua berjanji, akan selalu tunduk patuh kepada mu, kami akan selalu ada untukmu" kata salah satu dari mereka yang mewakili yang lainnya.
Lalu aku keluar dari dimensi mereka, dan kembali. Aku telah berhasil mendapatkan kekuatan dari alam semesta ini, jadi aku bisa menggerakkan benda di dunia ini sesukaku. Tapi ini semua juga berkat jiwaku yang tadi menolongku, mungkin jika tak ada dia, aku akan mati disana.
Tapi aku masih merasa aneh dengan jiwaku, kenapa tadi dia bilang kalau aku akan tahu nanti. Memangnya kenapa, padahal aku hanya bertanya kenapa wajahku mirip dengan dia, tapi dia malah memberikan teka-teki untukku.
Lalu aku turun dari bukit, dan ke sungai lagi, untuk pelajaran selanjutnya yang di berikan oleh paman Yuzel. Lalu aku menghampiri dia yang sedang tiduran di bawah pohon.
"Hai paman Yuzel, aku sudah selesai belajarnya, lalu bagaimana dengan pelajaran selanjutnya, apakah masih ada lagi?" tanyaku.
"Oh kau vin ternyata, ya masih ada pembelajaran lagi, dan ini adalah pelajaran terakhir untukmu vin" kata paman Yuzel.
"Oh benarkah ini yang terakhir? yah sayang sekali padahal aku berharap lebih banyak lagi, lalu apa yang harus kulakukan paman?" kataku.
"Kau harus menemukan batu jiwamu, di hutan sebrang sana, ingat jangan keluar dari hutan saat kau belum menemukannya, yah walaupun kau ingin keluar sudah terlambat karena kau sudah masuk kesana, jadi jalan untuk keluarnya kau harus menemukan batu jiwamu itu vin" kata paman Yuzel.
"Wah benarkah? hmm sepertinya ini pilihan yang sulit, tapi apapun itu aku harus melakukannya bukan, karena aku yakin pada diriku sendiri, toh aku akan menggunakan summon ku untuk membantu mencari batu itu, oh ya paman batu itu berada dimana kira-kira, apa di pohon, atau di tanah, atau mungkin yang lainnya" kataku.
"Ku harap kau jangan terlalu percaya diri vin, dan jangan sombong karena kau orang ramalan itu, dan batu itu kau harus mencarinya sendiri, karena aku tak tahu cara mendapatkan batu itu, kan aku sudah pernah bilang padamu, kalau pelajaran ini hanya kau yang bisa melakukannya" kata paman Yuzel.
"Hmm baiklah kalau begitu aku akan masuk hutan ini, dan mencari batu jiwaku itu, aku sangat yakin pada diriku paman, bukannya aku sombong, karena aku sudah menentukan pilihanku, dan inilah pilihanku yang harus ku jalani, aku pergi dulu" kataku, sambil beranjak pergi.
"...... Kau anak yang hebat, aku yakin padamu vin, dan para manusia tentang ramalan itu" kata paman Yuzel.
Aku sudah berkeliling hutan, tapi tak menemukan batu yang kucari itu, lagi pula aku tak tahu bentuknya seperti apa. Aku sudah terbang juga tak menemukan apa-apa, tapi aku hanya melihat hutan yang tak kunjung akhirnya. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh paman Yuzel, aku sudah terjebak, jadi tak asa gunanya aku terbang untuk keluar dari hutan.
Karena jalan keluar itu hanya satu, yaitu menemukan batu jiwa itu. Lalu sekian lama aku berjalan, aku menemukan sebuah pohon yang sangat besar, dan dia berbicara padaku.
"Hai anak muda, apa yang kamu lakukan di hutan ini?" tanya pohon itu.
"Hmm, pohon aku sedang mencari batu jiwaku, tapi aku tak pernah menemukannya, apakah kau tahu batu jiwa itu?" tanyaku.
"Wahai anak muda, batu jiwa itu, adalah batu jiwamu, orang lain tak akan pernah menemukan batu jiwamu, karena itu adalah batu jiwamu, aku tak bisa membantumu, mungkin aku hanya bisa memberikan sebuah petunjuk untukmu" kata pohon itu.
"Wah petunjuk, bisakah kau memberitahukan petunjuk itu padaku pohon" kataku.
"Batu itu berhubungan dengan jiwa, dan perasaanmu, batu jiwa itu hanya bisa ditemukan olehmu, dengan ketulusan hati, dan jiwa demi kebaikan" kata pohon itu.
"Hah? petunjuk macam apa itu, aku tak mengerti sama sekali bisakah kau menjelaskan yang lebih mudah dimengerti oleh orang lain?" kataku.
"Kau ingatlah kata-kata yang tadi ku sampaikan, karena hanya itu petunjuk untukmu" kata pohon itu.
Lalu pohon itu menghilang dari hadapanku, dan ternyata di balik pohon itu ada seseorang. Seseorang itu, sedang terikat di pohon, lalu aku menghampirinya, dan mencoba melepaskan ikatan itu.
"Hei apa kau tidak apa-apa? aku akan membantumu melepaskan tali ini" kataku.
"Jangan mendekat, ini berbahaya lebih baik kau pergi dari sini, dan jangan melepaskan ku, karena jika kau melepaskan ku, kau akan terkutuk untuk selamanya, karena aku orang yang sudah terkutuk disini" kata orang itu.
"Ter, terkutuk? apa maksudmu terkutuk, memangnya siapa yang mengutukmu, apakah ada seseorang lagi disini?" tanyaku.
"Ada seseorang yang begitu menyeramkan, dan dia sangat kuat, kau tak boleh melawannya, jika kau menemukan orang lain saat itu, kau harus cepat lari, dan jangan melawannya, dia sangat kuat, aku tak tahu makhluk macam apa itu" kata orang itu.
"Baiklah, tapi bagaimana denganmu, apakah kau sudah lama disini?" kataku.
"Aku baik-baik saja, kau tak usah pedulikan ku, pedulikan saja pada keselamatanmu" kata orang itu.
Lalu aku menuruti kata-katanya, dan meninggalkan dia di pohon dalam keadaan terikat. Lagi pula aku tak mau mati disini, dan lagi pula tujuanku untuk mencari batu itu, dan keluar, bukannya menolong dia, dan menghajar makhluk itu. Eh tunggu tadi dia bilang dia tak tahu makhluk macam apa itu, apakah ini berarti ada makhluk lagi selain manusia, malaikat, dan iblis.
Bersambung...
Hallo semuanya, author minta dukungannya dari kalian semua, tolong bantu novel ku ya, agar maju, dengan cara share ke teman kalian dan like, mohon bantuannya, terima kasih.