
Lalu aku, dan Jisu menunggu Setyo sampai siuman. Sudah 1 hari, aku, dan Jisu di rumah sakit hanya untuk menunggu Setyo siuman, tapi Setyo belum siuman juga. Apakah komanya sampai separah itu, sampai dia tak bangun satu hari.
Lalu aku memanggil dokter untuk memintanya memeriksa keadaan Setyo lagi. Tapi percuma hasilnya selalu sama, dia tetap koma, dan tak sadarkan diri. 1Bulan berlalu, Setyo belum sadar juga dari komanya, jika seperti ini aku tak tahu siapa yang melakukan hal ini pada Setyo. Dan juga orang lain, karena sudah 1 bulan ini juga terjadi pembunuhan yang tak diketahui siapa pelakunya.
Aku, dan Jisu juga tinggal di rumah sakit untuk menjaga Setyo. Karena aku takut jika aku tinggal Setyo di sini, atau aku tinggal Jisu di rumah akan terjadi hal yang sama lagi. Oleh karena itu aku, dan Jisu tinggal disini, dan hanya keluar seperlunya saja.
Padahal sebenarnya aku juga ingin ikut untuk menyelidiki siapa pelakunya. Padahal keadaan Setyo sudah membaik, dan hanya komanya saja yang masih ada, sehingga dia belum siuman. Luka-luka di tubuhnya cepat sembuh karena dari kekuatan yang dia miliki secara alami.
Es krim yang di bawakan Jisu juga sudah membusuk di dalam kulkas karena tak dimakan. Andai aku bisa menyembuhkan komanya, pasti aku akan tahu pelakunya, dan langsung akan ku bunuh dia siapapun pelakunya. Karena dia sudah melukai temanku yang berharga.
Tiba-tiba saja aku kepikiran oleh Rick, kalau dia bisa melihat masa depan. Pasti dia tahu bukan wajah pelakunya, dan wujudnya, dan saat aku berencana untuk pulang hari ini. Tiba-tiba saja ada sebuah kertas yang di tempelkan di luar jendela. Ruangan ini berada di tingkat 7, siapa yang melakukannya, kenapa tiba-tiba saat aku terpikir oleh Rick.
Dia langsung memasang kertas ini... apa berarti dia juga tahu tentang keberadaan Rick. Apa sekarang Rick baik-baik saja, aku tak jadi pergi pulang untuk menemui Rick. Karena sebuah kertas yang di tempel di luar jendela itu, isi kertas itu.
"Jika kau keluar dari rumah sakit ini, orang-orang yang berharga bagimu akan kami bunuh"
Lalu ku ambil kertas itu, aku berpikir dengan kata "kami" bukankah kalau begitu dia mempunyai kelompok. Karena dia menyebut dirinya kami, dan ku balik kertas itu, ada lambang kepala tengkorak yang di tancapkan dengan pedang. Apa ini sebuah kelompok, atau geng dengan lambang kepala tengkorak ini.
Lalu aku memanggil direktur Wang untuk memberikan informasi yang ku dapat hari ini. Aku memanggilnya lewat telepati ku, dan dia akhirnya datang. Kali ini dia datang dengan sendirinya, padahal biasanya dia di kawal oleh beberapa penyihir di sekelilingnya.
"Ya... ada apa Vin" tanya direktur Wang sambil berjalan mendekati ku.
"Ini, aku menemukan kertas dengan lambang seperti ini dari jendela. Mungkin ini ada hubungannya dengan pembunuhan yang terjadi saat ini" kataku sambil memberikan kertasnya.
Lalu aku melihat wajah oak direktur Wang seperti tak suka dengan kertas ini. Sepertinya dia juga membenci orang-orang dengan lambang ini, baguslah. Lalu pak direktur Wang izin pamit padaku untuk menyelidiki kertas yang ditemukan olehku.
"Oh baiklah, terima kasih Vin. Sudah membantu ku dalam masalah yang terjadi sekarang. Untung saja kalau kau langsung memberitahukan kepadaku" kata direktur Wang sambil berjalan keluar.
Aku hanya mengangguk saja, dan kembali duduk di sofa untuk menunggu sampai Setyo bangun. Sedangkan Setyo sudah tertidur di kasur sebelah, kami menyewa kasur pasien yang ada di ruangan ini. Untuk kami tiduri, lalu di suatu tempat...
"Hei! siapa yang menyebarkan logo ini hah!? apa kalian ingin identitas kita ketahuan, dan menggagalkan rencana ini? mengaku lah, siapa yang menyebarkan logo ini?"
"Itu aku..."
"Kenapa kau menyebarkannya hah? apa kau ingin menghancurkan rencana kita yang sudah di buat selama 2 tahun?"
"Tidak, aku tak bermaksud seperti itu... maafkan aku. Aku janji aku tak akan melakukan hak seperti tadi lagi"
Lalu seseorang bertanya, "Bagaimana rencana selanjutnya yang harus kita lakukan. Untuk membunuh manusia ramalan itu?"
"Hmm pertanyaan yang bagus, kita akan melakukan rencana b. Kita akan menyerang rumah sakit itu secara tiba-tiba pada saat malam hari. Dan kita akan melakukannya bulan depan, jadi bersiap-siaplah kalian semua. Untuk saat ini kita lakukan saja hal yang sama seperti sekarang, yaitu membunuh manusia. Dengan secara diam-diam"
Lalu esoknya, saat aku sedang tidur, tiba-tiba saja jiwaku berbicara padaku. Keadaan ku masih tertidur, aku berbicara lewat alam bawah sadar ku.
"Ada apa tiba-tiba kau berbicara padaku seperti ini?" tanyaku.
"Aku hanya ingin memberitahu padamu sesuatu yang buruk yang akan terjadi padamu" kata jiwaku dan menatapku tajam.
"Hah? sesuatu yang buruk yang akan terjadi padaku? memangnya apa? kenapa kau bisa tahu hal seperti ini. Padahal kau adalah jiwaku, kau aneh sekali" kataku.
"Kita samping kan saja dulu pembicaraan pribadi. Aku ingin memberitahu padamu, kalau suatu saat nanti kau akan di serang pada malam hari" kata jiwaku.
"Hah... kapan itu akan terjadi?" tanyaku bingung.
"Sudah kubilang, suatu hari nanti. Jadi kau siapkan dirimu mulai sekarang untuk berjaga-jaga. Dan ingat jangan tidur pada malam hari, jadi kau hanya boleh tidur pada siang hari saja" kata jiwaku.
"Lah memangnya apa yang akan terjadi? dan bagaimana kau bisa tahu semua itu?" kataku.
"Firasat... ya, dari firasat ku mengatakan padaku kalau kau akan di serang suatu saat pada malam hari. Kau tidak ingin terjadi hal yang sama pada temanmu nanti seperti kakekmu bukan" kata jiwaku.
Lalu tiba-tiba saja aku merasa tertekan karena jiwaku berbicara seperti itu padaku. Itu adalah sesuatu yang sulit bagiku untuk di lupakan, itu sudah seperti trauma besar untukku. Aku memang membenci jiwaku sendiri, akan tetapi aku tak boleh meremehkan ucapannya. Karena ucapan dia itu selalu benar, dia sudah seperti seorang peramal yang hebat.
"Baiklah... aku akan mendengarkan kata-kata mu. Aku akan waspada untuk ke depannya nanti, terima kasih sudah memberitahu info penting ini untukku" kataku.
"Dan kau boleh meminjam kekuatanku pada saat di serang nanti" kata jiwaku.
"Diamlah kau, aku sedang tak ingin bercanda padamu. Dan untukmu... ingat kata-kata ku ini, aku akan mencari tahu kebenaran pada dirimu... Hyun Go" kataku sambil sadarkan diri untuk bangun.
Wajah jiwaku itu terlihat sangat terkejut saat aku mengatakan hal seperti itu. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Hyun Go, sebenarnya siapa kau. Kenapa kau berada di dalam tubuhku, seperti anak kecil itu yang bernama Akira. Kenapa dia juga bisa masuk ke dalam tubuhku, dan setelah dia masuk ke dalam tubuhku aku menjadi lebih kuat. Karena sepertinya dia memberikan kekuatannya padaku pada saat di masuk ke dalam tubuhku.
Seperti jiwaku, bukan... tetapi Hyun Go. Dia juga memberikan kekuatannya karena masuk ke dalam jiwaku. Karena itu dia selalu bilang kalau itu, adalah kekuatan milik dia. Dan juga sepertinya ada yang aneh pada diriku yang cepat kuat ini. Sepertinya tidak hanya Hyun Go, dan Akira saja yang masuk kedalam tubuhku. Akan tetapi orang lain juga masuk kedalam tubuhku.
Bersambung...