Human Divination

Human Divination
Masalah Muncul Kembali



Lalu aku, dan Jisu memasak di dapur, dengan semangat. Sedangkan Setyo tertidur terlelap di atas meja makan karena menunggu makanannya dihidangkan. Sepertinya Jisu tak bersalah sama sekali, karena sepertinya dia baik sekali. Lalu tiba-tiba saja jiwaku berbicara padaku mengenai Jisu.


"Hei Vin, apa kau meragukan perkataan Ent itu?" kata jiwaku yang tiba-tiba berbicara padaku.


"Maksudmu tentang Jisu... tapi bagiku dia itu anak yang baik. Jadi aku tak akan seserius itu dengannya" kataku.


"Apa kau tak merasakan hal yang aneh Vin? dia itu memang benar-benar sedang menyembunyikan sesuatu darimu" kata jiwaku.


"Menyembunyikan apa memangnya? dia tak seperti sedang menyembunyikan sesuatu dariku" kataku.


"Huh, memang kau ini anak yang bodoh sekali Vin. Hanya kekuatan mu saja yang kuat, walau kekuatan itu dariku" kata jiwaku.


"Hei apa kau bilang!? aku bodoh! kalau begitu kau juga bodoh lah! karena aku adalah kau. Kau ingat kan kata-kata itu" kataku.


"Eh apa!? bukan begitu juga maksudku, yang ku maksud adalah hanya kau saja yang bodoh disini" kata jiwaku.


"Kau memang menjengkelkan sekali, aku sangat menyesal waktu itu aku belajar kekuatan itu. Coba saja aku tak belajar kekuatan itu dari pakan Yuzel, pasti aku tak akan pernah bertemu denganmu" kataku.


"Hei apa? pelajaran mu waktu itu tak berhasil tahu. Walau kau tak belajar dari dia pun kau akan bertemu denganku" kata jiwaku.


"Eh!? apa maksudmu hah? aku tak berhasil belajar darinya. Lalu apa maksudmu walau aku tak belajar darinya akan tetap bertemu denganmu. Memangnya kau adalah belahan jiwaku yang hilang" kataku.


"Kata-kata terakhirmu itu menjijikkan sekali, aku mau muntah sepertinya. Hmm karena itu aku adalah kau, seperti yang ku bilang, kita pasti akan bertemu pada saatnya" kata jiwaku.


"Apa kau mencari alasan lagi untuk menyembunyikan rahasiamu?" tanyaku.


"Dasar kau curiga sekali padaku, aku tak menyembunyikan apapun. Sudahlah kau sadar kembali, cepat buat makanan sana" kata jiwaku. Lalu tiba-tiba aku sadar kembali.


"Berani-beraninya dia berbicara seperti itu padaku, lalu langsung pergi begitu saja" gumamku.


"Hei Vin apa kau tak apa-apa, kenapa kau pingsan tadi?" tanya Jisu.


"Oh, aku tak apa-apa kok, ayo lanjut masak lagi" kataku, langsung berdiri.


"Hmm apa kau serius kau tak apa-apa" kata Jisu, lalu aku mengangguk saja.


Dan kami melanjutkan memasak lagi, sementara Setyo masih tertidur lelap di meja makan. Anak itu memang benar-benar seperti raja saja, yang tak tahu malu. Padahal ini rumahku, dan dia menganggapnya ini seperti rumah dia, dasar Setyo.


"Akhirnya makanannya jadi! waw memang benar-benar spesial untuk hari ini! Makanannya banyak sekali" kata Setyo yang tiba-tiba bangun, dan berteriak-teriak.


"Dasar kau norak sekali Setyo. Seharusnya kami tadi tak makan di sini agar kau tak bangun karena mencium bau makanan" kataku dengan cemberut.


"Haha sudahlah, lebih baik kita makan bareng-bareng. Tak baik jika seperti itu Vin" kata Jisu.


"Iya! benar apa yang dikatakan Jisu. Kau jahat sekali padaku Vin, aku sungguh tak menduganya kalau kau akan berbuat seperti itu padaku. Oh ya Jisu dimana es krimnya" kata Setyo.


Lalu tiba-tiba suasana menjadi hening, dan tiba-tiba saja Jisu beranjak dari tempat duduknya. Lalu aku menarik Jisu kembali untuk duduk, dan memukuli Setyo. Lalu terjadilah pertengkaran yang sekian banyaknya.


"Hei apa-apaan lagi ini, kenapa tiba-tiba kau memukulku Vin? aku hanya bertanya tentang es krim kenapa kau langsung memukulku! Dan lagi kau naik ke meja makan! astaga makanannya lagi-lagi kau injak-injak! ARRRGH kau membuatku marah besar!" kata Setyo sambil memukulku.


Sementara Jisu langsung lari keluar, karena takut kena pukulannya yang melayang kemana-mana. Dan Jisu memanggil seseorang untuk menghentikan pertengkaran kami, lalu banyak orang yang berdatangan ke rumahku. Beberapa orang cuma untuk memvideokan kami, dan yang lainnya memisahkan kami.


Kuharap video kami tak viral di sosial media. Lagi-lagi aku di permalukan oleh perbuatan Setyo yang kekanak-kanakan itu. Kurasa dari pada aku harus ribut dengan sesama manusia, lebih baik aku ribut oleh para iblis saja. Karena akan di pandang hebat oleh orang-orang, bukan seperti ini yang ku mau, aku dipermalukan oleh Setyo.


Hari-hari berlalu begitu saja seperti biasanya, tak ada kekacauan. Kecuali kekacauan di rumah tangga ini yang tak kunjung berhenti. Dan lagi saat ini aku sedang bertarung dengan Setyo dengan tangan kosong. Lalu tiba-tiba saja di tengah pertarungan, ada pengumuman lewat telepati.


"Aku umumkan kepada kalian semua para penyihir! berhati-hatilah, karena hari ini terjadi pembunuhan berantai di kota e. Tapi kami tak melihat satu iblis pun di tempat kejadian, jadi harap berhati-hati lah kalian semua. Karena mungkin para iblis sudah bergerak lagi sekarang, dan jika ada yang menemukan pembunuh itu. Harap laporkan pada kami"


Lalu kami langsung berhenti bertarung, semenjak pak direktur Sunghon meninggal. Kini perusahaan di pegang oleh orang baru, karena dia cukup pintar dalam semua bidang. Dan di akui oleh semua orang untuk mengurus perusahaan itu. Pemegang perusahaan itu masih muda, dua tahun lebih tua dariku, dan dia bernama Wang.


"Akhirnya para iblis sudah bergerak lagi, aku sudah tak sabar ingin menghabisi mereka lagi" gumam Setyo sambil nyengir.


"Hei apa kau mengikuti ku? ini sangat bahaya Setyo, jangan di bawa bercanda. Karena pembunuhan ini berantai, dan pelaku pembunuhnya saja tak di ketahui. Mungkin saja para iblis bergerak secara diam-diam" kataku dengan serius.


"Haha iya iya, baiklah tunggu apa lagi... ayo kita pergi ke tempat kejadian" kata Setyo, lalu aku mengangguk.


Aku memberitahu pada Jisu kalau kamu akan pergi. Dan kami meminta pada Jisu untuk berhati-hati, dan menjaga rumahku. Lalu aku, dan Setyo pergi terbang ke tempat kejadian, saat kami sampai di tempat kejadian. Banyak sekali orang-orang yang melihat di tempat itu, dan juga masih di selidiki tentang kematian itu oleh para petugas. Aku melihat banyak mayat-mayat yang berlumuran darah, tapi aku merasa ada yang janggal.


Aku, dan Setyo ikut serta dalam tugas ini. Aku tak melihat adanya api di tempat kejadian ini, ataupun luka bakar pada penyihir yang mati. Ini sangat aneh, apa para iblis tak menggunakan kekuatannya untuk membunuh manusia. Apakah ini rencana mereka yang disiapkan untuk dua tahu ke depan. Atau apa mungkin ini bukan ulah para iblis, akan tetapi ulah, manusia sendiri, atau malaikat.


Bersambung...