
Lalu kami sudah selesai makan, dan bersiap untuk tidur. Sepertinya Jisu lelah sekali karena dibuat sibuk oleh Setyo hari ini. Lalu setelah mereka tidur, aku pergi keluar untuk bertemu dengan Rick. Aku lihat Rick sudah keluar dari dalam tanah, dan aku mengobrol padanya semalaman.
"Apa kedatanganmu kesini untuk meminta maaf lagi Vin?" kata Rick yang sudah bosan mendengar kata maafnya lagi.
"Ah.. hmm iya, bagaimana kau bisa tahu? oh ya kau bisa melihat masa depan ya, aku batu ingat" kataku.
"Tanpa kekuatan melihat masa depan pun aku pasti akan tahu kedatanganmu. Vin, tolong kau tak usah minta maaf padaku lagi ya, anggap saja permintaanku ini adalah ucapan untuk memaafkan mu" kata Rick.
"Hmm baiklah, dan juga aku mau..." tiba-tiba saja ucapan ku di potong oleh Rick.
"Seminggu ke depan tidak ada apa-apa kok, jadi kau tenang saja. Para iblis mungkin sudah kapok, atau apalah itu. Oh ya kenapa kau membawa manusia itu ke rumahmu?" kata Rick.
"Maksudmu manusia yang penjual es krim itu? kalau itu karena dia mirip sekali dengan Zack. Aku merasa nyaman saat berbicara dengannya" kataku.
"Hanya karena itu, apa itu berarti kai sudah menggantikan Zack dengan manusia itu?" kata Rick.
"Bukan begitu juga maksudku, akan tetapi dia itu seperti Zack" kataku.
"Seperti Zack bagaimana maksudmu? jelas-jelas dia berbeda sekali. Dia itu manusia, dan bukannya malaikat" kata Rick.
"Astaga kau hanya membedakan makhluknya saja" kataku.
"Hah... terserah kau lah, pokoknya aku tak peduli dengan manusia itu. Sepertinya ada yang dia sembuh darimu, jadi aku peringatkan kau untuk berhati-hati dengan manusia itu" kata Rick, dengan serius.
"Hmm baiklah, kedepannya aku akan lebih berhati-hati, dan selalu was-was. Terima kasih sudah memperingatkan ku Rick, oh ya kalau sampai dia seperti apa yang kau katakan. Apa berarti dia itu adalah penyihir, penyihir yang bisa menyembunyikan kekuatannya, soalnya aku tak merasakan apa-apa di dekatnya" kataku.
"Sepertinya tidak, dia hanyalah manusia biasa. Walaupun dia adalah manusia biasa, tetap ingat dengan kata-kata ku" kata Rick.
Dari balik jendela rumah Vin, ada yang memperhatikan mereka berdua. Orang itu sudah mengamati dari awal Vin, pergi keluar dari rumah. Dan orang itu mendengar semua pembicaraan Vin, dan Rick.
"Oh jadi begitu ya Vin... kau mengambil salah satu barang ku. Tapi tak apalah aku tak peduli dia mengambil Rick dariku, asal Rick bersama Vin" gumam seseorang dari balik kaca.
Rick, dan Vin juga tak bisa merasakan ada seseorang yang menguntit mereka. Lalu saat jam dua malam, Vin kembali ke rumah, dan masuk ke dalam kamar untuk tidur. Sebelum dia masuk kamar, dia melihat lampu dapurnya nyala. Maka aku pergi ke arah dapur itu, kurasa tadi sudah ku matikan lampunya.
Tapi siapa yang menyalakan lampu dapur ini, padahal aku sudah mengecek di semua kamar. Kalau mereka, Setyo, dan Jisu sedang tidur, lalu aku tiba-tiba saja terpikir kata-kata Rick barusan. Lalu aku langsung lari dengan cepat ke kamar Jisu, saat aku sampai di kamarnya Jisu terbangun.
Mungkin terbangun karena suara langkah kakiku, padahal tadi tidur. Tapi sepertinya tidak mungkin dia bangun hanya karena mendengar suara langkah kakiku. Lalu aku menghampirinya Jisu, yang terbangun itu, dan mencekik lehernya. Lalu ku angkat ke atas sehingga dia merasa tercekik dengan erat, lalu aku bertanya padanya.
"Siapa kau sebenarnya hah? jawab! kalau tidak akan kubunuh kau!" kataku dengan perasaan emosi yang memuncak.
"A-apa maksudmu? Bi-bisa kau lepaskan aku... aku susah berbicara jika begini" kata Jisu, lalu aku melepaskan tanganku.
"Katakan siapa dirimu sebenarnya Jisu, apa kau iblis. Atau seorang pemberontak hah!" jawabku, sambil menodongkan listrik ku ke arah kepalanya.
"Aku tak tahu apa maksudmu, Vin... bisa kau jelaskan mengapa tiba-tiba kau seperti ini padaku" kata Jisu dengan pura-pura kebingungan.
Sepertinya Jisu tidak bersalah, sepertinya dia tak tahu apa-apa, "Maaf karena aku telah bersikap kasar padamu, Jisu. Hanya saja aku mempunyai firasat buruk tentangmu. Tapi aku tanya sekali lagi, siapa kau?" tanyaku.
"Hmm... baiklah aku sudah percaya padamu, kalau begitu kau tidur lagi saja. Karena sudah malam, aku juga ingin tidur, bersiap-siap lah untuk hari besok. Karena mungkin Setyo akan menyisakan mu lagi" kataku, lalu aku pergi ke kamarku dan tidur.
"Hihihi... firasat katamu? kurasa kau tahu dari Rick ku itu. Benarkan Vin" gumam Zack saat aku sudah pergi ke kamar.
Lalu hari berlalu begitu saja seperti biasa, tak ada serangan dari iblis. Dunia menjadi sangat tenang, dan makmur setelah mereka tak datang lagi. Lalu aku terbangun karena mendengar suara teriakan, setelah ku dengar lagi itu adalah teriakan Setyo.
"Hei dasar pemalas cepat bangun kau! sudah enak kau tinggal disini! malah rebahan mulu. Cepat buatkan aku es krim mu, aku ingin sekali makan es krim" kata Setyo, lalu aku datang menghampirinya.
"Astaga Setyo, ada apa ini! kenapa kau tega sekali dengannya hah! hanya karena semangkuk es krim kau menjadi tak manusiawi" kataku.
"Hei Vin, lihatlah dia... dia sudah ku pukul-pukul tetap juga tak bangun. Dan apa kau tahu, aku tak bisa tidur semalaman tahu" kata Setyo, setelah kulihat matanya bengkak.
Lalu aku menertawakannya dengan sangat keras, lalu setelah mendengar tawaku Jisu bangun. Aku jadi teringat tentang lampu dapur yang menyala itu, apa mungkin Setyo, karena dia bilang dia tak bisa tidur semalaman. Lalu aku langsung kaget, dan bertanya kepada Setyo, karena takut rahasiaku dengan Rick ketahuan.
"Hei Setyo! apa saja yang kau lihat tadi malam!" kataku sambil menggoyang-goyangkan tubuh Setyo.
"Hei hentikan aku pusing! apa maksudmu aku lihat tadi malam hah?" kata Setyo, lalu aku melepaskan tanganku.
Lalu aku berpikir kalau Setyo tak sempat melihat pembicaraan kami, "Eh... hmm tak ada apa-apa kok, hahaha" kataku sambil garuk-garuk kepala.
"Ini sudah jam berapa ya? kok sepertinya matahari lebih cerah dari sebelumnya?" kata Jisu sambil mengusap matanya.
"Hei ini sudah jam sebelas tahu, dan kau belum bangun. Dan tak menyiapkan makanan sedikitpun" kata Setyo, yang semakin keterlaluan sikapnya dengan Jisu.
"Hei Setyo bisakah kau tak bersikap seperti itu dengan Jisu. Kau memperlakukanku dia seperti asisten rumah tangga saja tahu. Apa kau membencinya?" tanyaku dengan serius.
"Aku tak membencinya sama sekali kok, hanya saja perutku ini yang keterlaluan. Lebih baik aku tak punya perut jika jadinya seperti ini" kata Setyo sambil menunjukkan perutnya.
"Hah... lagi-lagi kau menyalakan perutmu itu. Apa kau sudah gila" kataku.
"Perutku yang gila, bukannya aku yang gila tahu. Dan lagi ini karena salahmu tahu. Karena tadi malam kau manjat ke meja makan, jadinya semua hidangan yang kau siapkan malah kau injak-injak. Dan lagi aku tadi malam hanya makan es krim buatan Jisu saja" kata Setyo.
"Eh... Ah... hmm itu, benar juga sih. Hehehe, maaf" kataku sambil nyengir.
"Baiklah jika kalian lapar, ayo ikut aku ke dapur, aku akan menyiapkan hidangan lezat khusus hari ini" kata Jisu yang beranjak dari tempat tidurnya.
"Apa! hanya untuk hari ini kata kau! yang benar saja Jisu. Aku inginnya setiap hari tahu" kata Setyo yang mengikuti Jisu di belakang ke dapur.
"Hei seharusnya kau sudah beruntung bisa memakan makanan lezat hari ini" kataku, mengikuti mereka ke dapur juga.
Lalu aku, dan Jisu memasak di dapur, dengan semangat. Sedangkan Setyo tertidur terlelap di atas meja makan karena menunggu makanannya dihidangkan. Sepertinya Jisu tak bersalah sama sekali, karena sepertinya dia baik sekali. Lalu tiba-tiba saja jiwaku berbicara padaku mengenai Jisu.
Bersambung...