
Aku, dan Setyo ikut serta dalam tugas ini. Aku tak melihat adanya api di tempat kejadian ini, ataupun luka bakar pada penyihir yang mati. Ini sangat aneh, apa para iblis tak menggunakan kekuatannya untuk membunuh manusia. Apakah ini rencana mereka yang disiapkan untuk dua tahu ke depan. Atau apa mungkin ini bukan ulah para iblis, akan tetapi ulah, manusia sendiri, atau malaikat.
Aku tidak tahu yang pasti yang mana, tapi sebenarnya siapa yang telah melakukan pembunuhan ini. Semua saksi mata dibunuhnya agar pembunuhan ini tidak diketahui siapa pelakunya. Dan lagi di daerah sini tak ada cctv, kalau begini masalahnya akan rumit, lalu Direktur Wang menghampiri ku dengan terburu-buru.
"Vin untunglah ternyata kau datang kesini, apa kau bisa selidiki masalah ini Vin?" tanya direktur Wang.
"Belum, sepertinya masalah pembunuhan kali ini lebih sulit untuk menentukan pelakunya" kataku sambil mengamati mayat.
"Hmm? apa maksudmu untuk menentukan pelakunya, Vin?" tanya direktur Wang.
"Menurut prediksi saya adalah, pelakunya bisa jadi bukan iblis. Kemungkinan pembunuhan ini terjadi oleh manusia, atau malaikat" kataku dengan serius.
"Hah! apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?" tanya direktur Wang.
"Karena kerusakan di tempat ini tak seserius kerusakan yang iblis buat. Dan juga tak ada kebakaran, atau api yang menjalar di sekitar sini" kataku, orang-orang yang di sekitarku menepuk tangannya untukku.
"Eh!? hmm iya benar juga katamu, tapi bisa saja dia tak menggunakan kekuatannya bukan, untuk menghabisi para manusia" kata direktur Wang.
"Ya, aku juga berpikiran seperti itu, nanti kita lihat saja besok. Mungkin ada kesempatan yang lebih besar untuk mengetahui siapa pelakunya" kataku.
"Hmm baiklah, apa kau akan pergi secepat ini?" tanya direktur Wang, aku hanya mengangguk saja.
Lalu aku, dan Setyo pulang ke rumah, dan untuk mendiskusikan kembali masalah ini bersama Setyo. Entah kenapa perasaanku ini mengatakan kalau bukan iblis lah yang melakukan pembunuhan itu.
"Wah, aku tak menyangka cara bicaramu tiba-tiba menjadi seperti orang jenius" kata Setyo sambil menepuk pundak ku.
"Hahaha, sebenarnya ini kata-kata dari jiwaku. Dia memberikan kata-kata seperti itu padaku" kataku, sambil menggaruk kepala.
"Hahaha! ternyata yang tadi kau katakan berasal dari jiwamu ya. Pantas saja kok ada yang aneh pada dirimu, kenapa tiba-tiba kau pintar dalam sekejap" kata Setyo.
"Hei apa maksudmu, tiba-tiba aku pintar dalam sekejap hah?" kataku.
"Haha, maaf-maaf, soalnya semua orang tahu kalau kau itu. Di bawah standar lah otaknya, hanya kekuatanmu saja yang melebihi standar" kata Setyo.
"Apa kata kau! beraninya kau mengatakan seperti itu padaku. Tega sekali kau sama temanmu sendiri" kataku, dengan penuh drama.
"Dih... terlalu dramatis banget sih. Yang penting aku mengatakannya dengan sopan. Kalau orang lain yang mengatakannya pasti akan bilang kalau kau bodoh" kata Setyo.
"Hiks-hiks... kau benar juga, iya juga sih aku ini tidak pintar" kataku, seakan tiba-tiba aku sadar.
Lalu Setyo datang menemui ku di depan pintu kamar Jisu. Lalu Setyo yang tiada akhlak itu langsung membangunkan Jisu seperti ibu tiri. Setyo membangunkannya dengan sangat kasar sekali, astaga apakah akan ada perkelahian lagi diantara kami.
"Woi! bangun! tidur aja kerajaanmu Jisu! bukannya membuatkan kami makanan, kau malah enak-enakan tidur!" Teriak Setyo sambil menggoyangkan tubuh Jisu yang lemah.
"Astaga! lagi-lagi seperti ini setiap hari! apa kita akan terus seperti ini sampai kita tua terus mati hah" kataku sambil menarik-narik Setyo.
"Hei apa yang kau lakukan Vin, jangan menarik-narik ku!" kata Setyo sambil menarik-narik Jisu.
"Hentikan yang kau lakukan pada Jisu! kasihan dia. Kau kira kita ini lagi apa hah? apa kau mengira kita sedang membangun rumah tangga hah" kataku yang tiba-tiba bicara ga jelas.
"Tentu saja, inilah kehidupan rumah tangga kita. Sangat harmonis bukan" kata Setyo, yang ikut-ikutan bicara ga jelas.
Lalu pada akhirnya, seperti biasa Jisu mengalah. Dan menuruti permintaan Setyo, Jisu bangun dari tidurnya dengan terpaksa. Lalu membuat es krim, dan makanan untuk kami, dan aku juga membantu Jisu membuat makanan. Sedangkan Setyo seperti biasa, dia tak pernah membantu kami.
Kerjaan dia hanya malas-malasan saja, dasar Setyo. Setyo hanya bermain game saja di HP-nya di kamarnya. Saat kami sedang memasak, tiba-tiba saja Setyo berteriak-teriak kesal, karena kalah bermain game. Lalu setelah beberapa menit kemudian dia berteriak lagi, tapi teriakan ini berbeda dari sebelumnya.
Seperti teriak, kesakitan, atau apalah itu. Dan aku tak peduli sama sekali, dan melanjutkan memasak dengan Jisu. Lalu makanan sudah jadi, dan di taruh di atas meja, aku pergi ke kamar Setyo untuk memanggil Setyo untuk makan. Setelah aku berada di kamar Setyo, aku terkejut melihat banyak darah yang berceceran dimana-mana.
Dan tubuh Setyo penuh luka yang sangat banyak seperti luka gores kena benda tajam. Darahnya terus bercucuran, dan Setyo terlihat belum pingsan, dia masih membuka matanya meskipun sedikit. Lalu aku bertanya kepada Setyo apa yang terjadi, Setyo tak menjawab apa-apa.
Lalu aku langsung panik, dan aku langsung membawa Setyo pergi ke rumah sakit. Dalam perjalanan darahnya terus menetes, sepertinya Setyo ingin berbicara sesuatu padaku. Walau suaranya tak jelas dia terus berbicara padaku, aku tak mengerti apa yang dia katakan.
Akhirnya aku sampai di rumah sakit, dan cepat-cepat meminta bantuan kepada pihak rumah sakit. Lalu, aku menunggu di ruangan tunggu untuk menunggu hasilnya. Lalu dokternya keluar, dan dia bilang padaku kalau Setyo sedang koma. Lalu aku langsung masuk ke ruangannya, dan memeluknya.
Aku menangis begitu mendengar keadaan Setyo kalau dia koma. Dia kehilangan banyak sekali darah, saat dia sampai di rumah sakit dia baru pingsan. Dan aku semakin panik saat dia pingsan, aku harap dia tak kenapa-napa.
Lalu setelah beberapa jam kemudian, Jisu datang ke rumah sakit juga, dan menemui Setyo. Jisu membawakan makanan kesukaannya, yaitu es krim.
"Bagaimana kau bisa tahu, kalau aku kesini?" tanyaku sambil mengusap air mata.
"Karena aku melihat banyak darah, dan tiba-tiba kau pergi begitu saja tanpa memberitahu ku. Jadi ku kira kau akan pergi ke rumah sakit, jadi ternyata benar dugaan ku" kata Setyo sambil menaruh es krimnya di meja.
"Terima kasih kau sudah datang, dan membawakan es krim kesukaannya untuk Setyo.
Lalu aku, dan Jisu menunggu Setyo sampai siuman. Sudah 1 hari, aku, dan Jisu di rumah sakit hanya untuk menunggu Setyo siuman, tapi Setyo belum siuman juga. Apakah komanya sampai separah itu, sampai dia tak bangun satu hari.
Bersambung...