Human Divination

Human Divination
Sudah 10 Hari Perang Berlangsung



Setelah mendengar perkataan pak direktur Sunghon. Seakan-akan impianku menghilang di dalam diriku, seakan-akan aku hanya seorang figuran di dalam suatu novel. Bukan seorang tokoh utama, atau tokoh pendukung, aku hanya... seorang figuran.


"Lalu kenapa aku di sebut sebagai manusia ramalan itu hah?" tanyaku.


"Itu... itu karena kau bisa menyerap semua isi buku itu. Tapi bukan berarti kau adalah orang yang di dalam ramalan itu" kata pak direktur Sunghon.


"Bukannya hanya aku yang bisa menyerap isi buku itu. Tapi kenapa kau bilang bukan aku anak ramalan itu? jadi maksudmu orang yang akan menjadi ramalan itu adalah orang yang bukan menyerap isi buku itu?" kataku.


"Bukan begitu juga maksudku... aku sebenarnya iri padamu. Dan juga karena kau adalah anak ramalan itu Vin! aku selalu bicara yang membuatmu berpikir kalau kau bukan anak ramalan itu. Itu agar kau tak selalu percaya diri, nanti aku takut kau kenapa-napa" kata pak direktur Sunghon.


"Jadi itu semua hanya kebohongan yang kau buat, dan kau iri padaku. Dan kau seakan-akan tak percaya padaku" kataku.


"Ah sudahlah kita tak usah membahas hal ini. Lebih baik kita mengurusi yang di depan mata kita. Vin dunia itu bergantung padamu, jadi kumohon lakukanlah yang terbaik sesukamu" kata pak direktur Sunghon.


"Baik pak... saya pasti akan melakukan yang terbaik bagi umat manusia" kataku.


Aku terus mencoba segala cara selama 10 hari untuk menghancurkan pelindung itu. Sudah ku gunakan semua sihir yang ada di dalam buku itu, tapi tetap saja pelindung itu tak bisa dihancurkan sama sekali. Mungkin aku harus mengurusi iblis lain saja, dan menyelamatkan penyihir lain dari pada mengurusi yang mustahil untukku.


Lalu aku pergi jauh, dari monster itu untuk menyerang iblis lainnya. Saat aku sudah berada agak jauh darinya, walau serangannya masih bisa mengenai ku. Tiba-tiba saja ada semacam dinding yang menghalangiku untuk pergi jauh dari monster itu. Aku sudah berputar-putar di sekitar dinding itu tapi tak ada celah sedikitpun.


Aku juga sudah mencoba untuk menghancurkan dinding itu tapi tetap saja tak bisa di hancurkan. Kuat dinding itu sama dengan pelindung yang ada di sekitar monster itu. Lalu apa yang harus kulakukan, apa aku harus menunggu sisa-sisa hidupku disini. Monster itu terus menyerangku, dan aku selalu menghindar, dan menghindar.


Terus seperti itu, tak ada hal yang lain yang bisa ku lakukan. Sepertinya dinding tadi baru saja keluar, karena sebelumnya kekuatan petir besar ku bisa masuk, sampai mengenai pelindung monster itu. Lama-lama aku mulai lelah, sedangkan monster itu terlihat tak lelah sama sekali. Dia masih terus menyerangku, aku semakin lelah, rasanya aku ingin pingsan.


Aku kehilangan kesadaran ku di dekat ruang bawah tanah peninggalan leluhurku. Rasanya aku tak kuat untuk membuka mataku, aku lihat ada sesuatu yang mendekatiku. Mataku terlihat sangat buram sekali, sepertinya aku ingin dibunuh oleh orang yang mendekatiku itu. Sudah 10 hari aku selalu menghindari serangan monster itu, apakah aku akan mati?.


Sebelum mataku menutup, seseorang yang mendekatiku itu ada dua. Yang satunya seperti seseorang yang bercahaya tubuhnya, dan yang satunya lagi seperti monster. Lalu aku di angkat oleh monster itu, dan seketika aku merasakan kekuatan yang luar biasa.


Dan rasa lelahku ini menghilang begitu saja, setelah kulihat siapa monster itu. Ternyata dia adalah Rick, dia membantu memulihkan ku, setelah dia memulihkan ku, dan memberikan ku kekuatan entah kekuatan apa yang dia berikan itu. Setengah dari daunnya berguguran, dan setengahnya lagi masih utuh.


Dan juga setengah dari tubuhnya mengering, "Hei apa kau tak apa-apa Rick? kau terlihat begitu lemas" kataku.


"Aku tak apa-apa, coba sekarang kau serang dia dengan kekuatan yang kuberikan" kata Rick.


"Kenapa kau harus melakukan ini?" kataku.


"Karena aku percaya padamu Vin, tenang saja aku masih mempunyai satu nyawa yang tersisa. Dan jika aku tak melakukan ini padamu, kau akan mati" kata Rick.


"Baiklah terima kasih Rick sudah percaya padaku. Aku pergi dulu untuk mengurusi monster itu. Lalu bagaimana denganmu, sepertinya kau tak terkena serangannya sama sekali" kataku.


"Oh ya... tadi aku lihat ada seseorang yang waktu itu datang padamu. Kemana dia sekarang" kataku.


"Oh mungkin kau tadi salah lihat, atau kau berhalusinasi" kata Rick.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik Rick" kataku.


Aku tahu kalau Rick sedang berbohong padaku. Jelas-jelas kalau tadi bukan halusinasi, aku benar-benar melihat dia lagi, walau agak tak jelas aku melihatnya. Lalu aku pergi ke arah monster itu, dan mencoba kekuatan yang diberikan oleh Rick padaku. Aku mengangkat kedua tanganku ke atas, dan seketika akar-akar yang besar muncul dari bawah tanah.


Akar-akar itu menjalar di sekitar pelindung monster itu. Lalu akar-akar itu menutupi semua bagian pelindung itu hingga tak tersisa. Lalu aku menggenggam kedua tanganku, lalu akar-akar itu juga ikut menggenggam pelindung itu. Laku terdengar bunyi seperti kaca yang retak, "Krak" lama-lama bunyi itu terdengar semakin keras, dan banyak.


Lalu "KRAK" pelindung itu hancur, dan akar-akar itu langsung mengikat monster itu. Sehingga monster itu berteriak kesakitan, karena akar-akar itu tak hanya besar, dia juga berduri tajam sekali. Namun lama-lama akar-akar itu mulai terbakar karena menyentuh tubuh monster itu.


Akar-akar itu terbakar sampai hangus tak tersisa sedikitpun. Ini kesempatanku untuk menyentuh serangan ku ke monster itu, aku langsung berubah menjadi monster listrik. Lalu aku menyambar listrik dari tanganku ke monster itu. Monster itu tersetrum, dan tak bisa menyerangku, lalu selama monster itu tersetrum.


Aku langsung melesat mendekatinya, dan memukulnya dengan sangat cepat. Aku memukul kepalanya hingga tembus, biarpun rasanya panas sekali. Tapi aku harus membunuh monster itu, lalu monster itu mati terjatuh di tanah. Dan bersamaan dengan monster itu mati, dinding yang menghalangiku hilang begitu saja ketika monster itu mati.


Aku segera membantu yang lain, aku melihat di atas ada penyihir yang sedang mengurusi para iblis yang keluar. Aku langsung ikut membantunya, sepertinya dia mulai kewalahan karena mengurusi iblis yang keluar dari portal yang tak habis-habis.


Setelah aku berada di samping penyihir itu, ternyata dia adalah temanku yaitu Setyo. Aku langsung membantu dia, "Hei Setyo apa kau butuh bantuan?" kataku.


"Eh Vin? ya tentu saja aku butuh bantuan. Disini sangat sulit sekali karena terus membunuh iblis yang baru saja keluar dari portal. Oh ya ngomong-ngomong bagaimana caramu keluar dari dinding itu" kata Setyo.


"Ceritanya panjang, nanti akan ku jelaskan padamu, setelah perang ini berakhir" kataku.


"Itu lama sekali... ternyata kau sudah membunuh monster raksasa itu ya" kata Setyo.


"Ya tentu saja walau aku hampir mati saat aku berhadapan dengannya. Oh ya bagaimana kau tahu kalau ada dinding yang menghalangiku?" tanyaku.


"Karena waktu itu aku berusaha untuk membantumu, tapi tiba-tiba saja ada dinding yang menghalangiku. Aku sudah mencoba berbagai sihirku untuk menghancurkannya tapi tak bisa ku hancurkan" kata Setyo.


"Hmm baiklah, kalau begitu ayo kita urus para iblis yang baru saja keluar dari portal ini" kataku.


Lalu kami menjaga portal itu, agar tak ada iblis yang masuk kesini. Begitu juga dengan penyihir lainnya, aku melihat dari kejauhan para penyihir yang memiliki tingkat setinggi S-SS juga sedang menjaga portal itu. Lalu tiba-tiba saja ada suara bergemuruh yang datang dari portal itu.


Bersambung...