Human Divination

Human Divination
Akira



Entah kenapa semua makhluk hidup disini seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Kenapa semuanya merahasiakannya dariku, memangnya aku ini kenapa. Sepertinya mereka semua mempunyai hubungannya denganku.


"Oh ya Rick, kira-kira kapan para iblis itu datang. Menurut legenda kau bisa mengetahui masa depan" kataku.


"Yah memang benar tentang legenda itu. Apa kau tahu kenapa kakekmu memiliki kekuatan seperti kami para Ent?" tanya Rick.


"Hah? memangnya kekuatan kakek bukan dari hasil latihannya, atau bakat alaminya?" tanyaku.


"Tidak ada makhluk hidup selain kami para Ent yang mempunyai kekuatan melihat masa depan. Dahulu saat manusia, dan malaikat masih bermusuhan. Kakekmu membunuh salah satu Ent yang berada di dunia malaikat. Lalu dia menyerap kekuatan Ent yang dia bunuh itu sehingga dia memiliki kekuatan Ent" kata Rick.


"Apakah itu benar? tapi bagaimana kau bisa tahu padahal kau kan baru lahir" kataku.


"Memang aku baru lahir... tapi kami para Ent mempunyai kekuatan khusus, untuk memberikan ingatan yang dimiliki leluhur sebelumnya. Sehingga kita para Ent mengetahui keadaan Ent yang terdahulu hidup sebelum aku" kata Rick.


"Oh ya, kalau gitu kapan terjadinya perang ini? apa kau bisa membantuku saat perang?" kataku.


"Sekitar seminggu lagi para iblis akan datang. Kalau soal membantu sepertinya aku tidak tahu kata Rick.


"Hmm kalau begitu, setelah perang apa kau bisa melihatnya. Siapakah yang akan menang nanti?" tanyaku.


"Bukan berarti kami para Ent bisa melihat masa depan yang sangat jauh. Kami mempunyai batasan yaitu melihat masa depan seminggu yang akan datang" kata Rick.


"Oh ya... kalau dilihat-lihat kau ini berbeda dari Ent yang kulihat. Daunmu terlihat seperti berkilauan keemasan" kataku.


"Ah!?... mungkin ini karena aku tinggal di duniamu. Bukan tinggal di habitatku" kata Rick.


Lalu kami mengobrol sampai larut malam tentang masa depan yang akan terjadi pada bumi, dan malaikat. Setelah itu mengobrol terlalu lama, aku mulai berlatih untuk meningkatkan kekuatan sihirku. Aku masih mengingat iblis yang waktu itu mengalahkanku. Dia menatapku seolah-olah aku ini pecundang yang lemah.


Aku bertekad akan mengalahkannya di perang ini jika kami di pertemukan kembali. Akan ku balas dia seperti dia membalasku, akan ku tunjukkan pada kalian para iblis, kalau manusia itu lebih kuat dari kalian. Karena aku percaya pada ramalan itu, entah kenapa aku begitu sangat mempercayainya.


Padahal aku hanya mendengarnya saja. Operasi yang di jalankan oleh pak direktur Sunghon mulai berjalan. Yaitu untuk mengajarkan semua manusia tentang sihir. Walau awalnya mereka tak percaya pada hal yang seperti itu, aku jadi teringat aku yang dulu. Tapi para penyihir memperlihatkan sihir mereka kepada manusia biasa agar mereka percaya pada sihir.


Lalu memberitahukan pada semua manusia biasa. Kalau para iblis akan menyerang bumi ini, awalnya juga mereka tak percaya. Tetapi karena identitas para penyihir di bongkar secara cuma-cuma mereka menjadi yakin pada perkataannya. Walau para manusia biasa tak pernah melihat para iblis, tapi mereka percaya pada para penyihir.


Aku juga ikut membantu dalam operasi ini sambil aku berlatih di waktu yang senggang. Dan aku juga menjadi guru mereka, manusia biasa di bagi beberapa kelompok, lalu di setiap kelompok ada 1 guru yang akan mengajarkan mereka tentang sihir. Walau masih ada yang belum bisa menggunakan sihir, mereka sangat berusaha keras untuk menguasainya.


Saat aku sedang melatih para manusia biasa. Ada gadis kecil yang bertanya padaku, "Apa kau adalah manusia yang di ramalkan itu?" tanya manusia biasa itu.


"Hmm... ya... akulah manusia ramalan itu, atau mungkin tidak. Tapi bagaimana kau tahu soal ini?" tanyaku.


"Sebenarnya aku mempunyai satu teman sihir. Awalnya aku takut padanya karena ku kira dia monster karena mempunyai kekuatan yang aneh. Tapi dia begitu baik padaku, dan dia ingin berteman padaku. Selama kami berteman dia meminta untuk merahasiakan identitasnya pada manusia lain. Lalu dia sering membicarakan seseorang yang bernama Vin Edward. Kalau dia adalah manusia yang akan membawa perdamaian antara ketiga dunia ini" kata gadis kecil itu.


Aku melihat gadis kecil ini menjadi sedih. Karena dia harus mengalami kehidupan yang seperti ini, bukan kehidupan yang damai seperti manusia biasa.


"Oh ya... siapa namamu gadis kecil yang imut ini?" tanyaku, sambil bercanda.


"Hihi... kakak lucu, hmm namaku Akira" kata gadis kecil itu.


"Baiklah Akira... apa kau suka dengan kehidupan seperti ini?" tanyaku.


"Aku? aku... hmm, aku tak suka kehidupan yang seperti ini. Karena kehidupan yang seperti ini, aku jadi jarang bertemu dengan keluargaku" kata Akira.


Setelah mendengar perkataan gadis itu. Tak sadar kalau aku mengeluarkan air mataku di depan gadis kecil itu, "Hmm... kenapa kakak menangis?" tanya Akira.


"Tidak... hanya saja kakak teringat saat kakak masih kecil sepertimu. Begitu melihatmu... aku seperti melihat diriku di masa kecil. Baiklah kalau begitu kita lanjutkan latihannya, kasihan yang lain menungguku" kataku.


Lalu aku melanjutkan latihannya, aku akan mengingat wajah gadis kecil itu. Karena dia mirip sekali denganku, dunia ini cukup kejam untuk seorang gadis kecil seperti dia. Tapi tidak bagiku, karena aku adalah anak ramalan itu. Aku akan membawa perdamaian dunia ini, sesuai ramalan yang tertulis itu.


Lalu hari ke 5 tiba. Aku tak melihat gadis kecil itu lagi. Padahal dia berada di kelompokku, tapi kenapa dia tidak datang. Apa dia sakit, atau apa? lalu ku tanya pada orang-orang yang sekelompok denganku tentang gadis itu. Setelah kudengar rumor soal gadis itu aku terkejut. Kalau gadis itu mati tragis dibunuh oleh para iblis, tapi di samping kematian gadis itu. Ada satu iblis yang mati, setelah di cek iblis itu setingkat A, aku sungguh tak percaya Seorang gadis kecil bisa mengalahkan iblis tingkat A. Dan lagi dia di keroyok oleh para iblis, lalu para tim penyelamat telat datang untuk menolongnya. Sehingga gadis kecil itu mati dengan berlumuran darah di badannya.


Aku sangat marah... aku sangat marah... rasanya aku ingin langsung datang ke dunia iblis, dan menghajar semua iblis itu. Aku memeluk mayat gadis itu di tempat kematiannya sambil menangis. Lalu tiba-tiba saja ada yang berbicara padaku, setelah kulihat di depan mataku. Ternyata itu adalah arwah gadis itu, dia menatapku dengan penuh senyuman.


"Biarkanlah aku kak, tak usah pedulikan aku lagi kak. Karena aku tak mungkin kembali lagi, kakak pedulikan saja masa depan kakak. Karena kakak di butuhkan oleh dunia ini untuk mengubah segalanya" kata Akira.


Lalu aku langsung memeluknya, dan saat aku memeluknya rohnya tak bisa ku pegang sama sekali. Dan akhirnya aku terjatuh karena tak bisa memeluknya, dia terus tersenyum padaku. Melihat wajahnya yang tersenyum itu aku jadi sadar, aku harus merelakan dia pergi.


Bersambung...