Human Divination

Human Divination
Setyo Kau Keterlaluan!



Lalu saat kami sedang asik mengobrol tentang dirinya masing-masing. Penjual es krim itu datang, dan menaruh dagangannya di samping pohon besar yang ada di dekat bangku yang kami duduki. Lalu kami membeli es krim itu, dan saat aku ingin membelinya, sepertinya penjual es krim ini tak asing bagiku.


Aku sepertinya pernah melihat dia, tapi aku tak tahu dimana aku pernah melihatnya. Wajah penjualan es krim itu tersenyum padaku, dan menanyakan es krim apa yang ingin ku beli.


"Anda mau beli es krim apa?" tanya si penjual es krim itu dengan tersenyum.


"Hmm... saya mau beli es krim yang sama dengan teman saya" kataku.


"Ok baiklah... ini dia" kata penjual es krim itu sambil memberikan es krimnya padaku.


"Hmm benar rasanya enak katamu Setyo. Oh ya nama kamu siapa? sepertinya kita seumuran" kataku kepada penjual es krim itu.


"Namaku? namaku Jisu, memangnya kenapa kau menanyakan namaku?" kata Jisu.


"Ah tidak apa-apa... hanya saja kau mirip dengan seseorang yang ku kenal. Tapi sepertinya kau hanya mirip saja ya, karena aku bisa merasakan tak ada kekuatan di dalam dirimu. Apa kau tak belajar sihir?" kataku.


"Ah itu... hmm aku tak suka sihir, aku hanya ingin hidup damai seperti ini. Aku tak ingin membunuh makhluk hidup, walau makhluk itu bersalah sekalipun aku tak ingin membunuhnya" kata Jisu.


"Hmm? kenapa kau tidak ingin membunuhnya. Padahal dia sudah banyak membunuh seseorang, termasuk seseorang yang berharga bagiku. Kau mirip sekali denganku yang dulu, aku juga dulu begitu sama sepertimu. Aku tak ada niat sama sekali untuk membunuh iblis itu" kataku.


"Wah ternyata kita sama ya, walaupun itu dirimu yang dulu. Oh ya siapa namamu? kau belum memberitahu namamu" kata Jisu.


"Ah iya aku belum memberitahu namaku padamu. Perkenalkan namaku Vin Edward, kau boleh memanggilku Vin saja" kataku sambil menjulurkan tanganku.


"Ah iya Vin, senang berkenalan denganmu" Kata Jisu sambil menjabat tanganku.


Lalu tiba-tiba saja Setyo mengeluh karena es krimnya sudah habis. Dia seperti anak kecil saja, lalu Setyo membeli es krim lagi. Kamu seharian berada di taman itu, dan membeli es krim secara terus-menerus jika sudah habis. Sampai barang dagangannya sudah habis tak tersisa karena di beli kami, dan beberapa orang yang ada di taman juga.


"Oh ya tadi namamu Vin ya? sepertinya aku pernah mendengar nama itu... ah iya kau itu adalah manusia ramalan itu kan!" kata Jisu.


"Hmm iya kau benar, itu adalah aku" kataku, sambil memakan es krim terakhir.


"Dan lagu ku dengar kalau kau sudah menyelamatkan dunia malaikat juga kan?" kata Jisu.


"Iya aku juga sudah menyelamatkan dunia malaikat juga" kataku.


"Terima kasih" kata Jisu.


"Hmm? terima kasih untuk apa?" tanyaku.


"Terima kasih karena kau sudah menyelamatkan dunia malaikat. Karena kelakuan mu yang sudah menyelamatkan dunia malaikat. Manusia, dan malaikat menjadi semakin dekat karena mu" kata Jisu.


"Ah... iya sama-sama, oh ya Jisu dimana rumahmu" kataku.


"Hmm kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?" kata Jisu.


"Hmm hanya saja saat aku berbicara denganmu, rasanya seperti aku berbicara dengan dia. Lalu bolehkah aku sering-sering mampir ke rumahmu?" tanyaku.


"Ah... hmm sebenarnya aku tak mempunyai rumah. Aku tinggal dengan cara pindah pindah tempat setiap harinya" kata Jisu.


"Kalau begitu apa kau mau tinggal di rumahku?" kataku.


Lalu tiba-tiba Setyo memotong pembicaraan kami, "Ya! benar kau tinggal saja bersama kami! betapa bahagianya aku jika kau tinggal bersama kami!" kata Setyo yang tiba-tiba semangat.


"Hah? kenapa tiba-tiba kau jadi seperti itu Setyo? Tapi syukurlah kalau Setyo tak keberatan" kataku.


"Haha tentu saja aku tak keberatan, karena aku bisa makan es krimnya setiap hari secara gratis" kata Setyo.


"Hah kau ini kekanak-kanakan sekali, tetap saja kau harus membeli es krimnya" kataku.


"Gratis lah, kan dia sudah tinggal di rumahmu. Anggap saja bayaran untuk tinggal di rumahmu adalah sebuah es krim" kata Setyo.


"Hei kau ini tak sopan sekali bicaranya Setyo" kataku yang mengecilkan suaraku.


"Hahaha! tak apa-apa kok, aku akan membuatkan es krim dengan gratis karena aku sudah menumpang tinggal denganmu" kata Jisu.


"Hentikan cara bicaramu itu Setyo. Eh apa!? jadi kau setuju ingin tinggal di rumahku. Tapi sebenarnya kau gak perlu memberikan es krim itu secara gratis hanya karena kau menumpang di rumahku" kataku.


"Iya aku setuju tinggi di rumahmu. Tak apa-apa kok hanya es krim saja" kata Jisu.


"Hmm baiklah jika kau memaksa... hmm sebenarnya aku juga ingin es krim itu sih" gumamku.


"Haha! ternyata kau juga ingin es krim itu juga kan!" kata Setyo yang tiba-tiba berbicara.


"Eh apa? kapan aku berbicara seperti itu! ah sudahlah ayo kita pulang. Sudah mau gelap sebentar lagi, ayo kita ke rumahku" kataku sambil berjalan.


"Hei aku belum selesai berbicara kau main pergi begitu saja! Jujur saja kau juga ingin es krim itu gratis kan!" kata Setyo sambil mengejar ku.


"Ah kau ini berisik sekali, apa kau tak malu suaramu di dengar oleh semua orang" kataku, sambil memukul-mukul Setyo.


"Hei! aduh sakit tahu! baiklah ayo kita berkelahi! rasakan ini! Hyaaaaat!" kata Setyo sambil meluncurkan serangan.


Akhirnya kami berkelahi di taman itu tanpa menggunakan kekuatan. Orang-orang yang berada di taman itu melihat kami berkelahi, dan malah mendukungku. Mereka bersorak dengan namaku, kalian pikir ini boxing apa. Setyo sudah menyeret ku ke lembah rasa malu, dia membuatku malu di perhatikan oleh banyak orang.


Memang benar-benar Setyo telah membuatku malu, dan memperburuk image ku. Lalu kamu pulang dengan wajah bonyok, si Jisu juga malah ikut-ikutan dengan orang-orang. Jisu malah bersorak-sorai juga, dan dia menyoraki namaku.


"Nah ini rumahku, ayo kita masuk. Untuk Setyo aku hukum kau, kau tak boleh masuk ke rumahku untuk semalaman" kataku.


"Hah! apa! bisa-bisanya kau menghukum ku! aku tak mau. Pokoknya aku ingin masuk ke rumahmu" kata Setyo langsung menerobos masuk ke rumahku.


"Eh apa! hei sudah ku bilang jangan masuk! dasar kau anak laknat!" kataku sambil berteriak-teriak.


"Haha biarkan saja... sepertinya kalian sangat akrab sekali ya. Aku tadi melihatmu dengannya sudah seperti keluargamu sendiri" kata Jisu.


"Eh! hmm ya begitulah, kami sangat akrab sekali. Karena dia sangat menyenangkan, dan juga menyebalkan. Oh ya ayo kita masuk" kataku.


"Hmm baiklah aku masuk" kata Jisu.


Lalu aku memberikan kamar yang tak terpakai untuk di tempati oleh Jisu. Lalu setelah itu aku menyiapkan makan malam untuk kami bertiga. Makanan yang aku buat adalah sayur-sayuran, sayurnya terbuat dari daun Rick. Haha tentu saja tidak, ini aku yang menanamnya dengan Setyo.


Karena ada lahan kosong di rumahku, tiba-tiba saja Setyo mengusulkan ide. Untuk membuat kebun di lahan kosong itu, dan aku setuju. Kebun itu sudah kami buat satu setengah tahun yang lalu. Di dekat kebun itu ada Rick, tetapi Rick bersembunyi di dalam tanah jika ada seseorang.


"Ayo kita makan aku sudah tak sabar nih... hmm sepertinya ada yang kurang" kata Setyo.


"Hah? apa yang kurang? kau jangan minta yang macam-macam padaku" kataku.


"Hah apaan sih, bukan minta padamu kok. Aku cuma mau minta hidangan penutup, yaitu es krimnya Jisu" kata Setyo.


"Hei kau ini dasar anak tak tahu malu sama sekali. Sudah makan saja, kau masih bisa-bisanya berbicara seperti itu di depan Jisu" kataku.


"Haha tak apa-apa kok, aku buatkan dulu es krimnya sebentar ya" kata Jisu sambil meninggalkan tempat duduknya.


"Lihat gara-gara kau Jisu jadi tak bisa makan karena kau minta es krim" kataku.


"Tapikan perutku ini yang selalu ingin makan es krim. Jadi jangan kau salahkan aku dong, salahkan saja perutku" kata Setyo.


"Kau... benar-benar ya! sini aku pukul perutmu sampai hancur" kataku naik ke atas meja, karena dudukku berhadapan dengan Setyo.


"Kyaaa! apa yang ingin kau lakukan. Kau membuat makanannya berantakan!" kata Setyo.


"Ah, aku sudah tak peduli dengan makanannya! biar ku urus dulu perutmu yang terkutuk itu!" kataku.


Lagi-lagi kami ribut lagi, dan semenjak kedatangan Jisu. Setyo makin keterlaluan sekali, padahal setahuku dia tak seperti ini dulu. Kenapa semakin dia tumbuh dewasa dia menjadi semakin kekanak-kanakan sekali sikapnya. Mungkin ada yang salah dengan otaknya.


Lalu kami sudah selesai makan, dan bersiap untuk tidur. Sepertinya Jisu lelah sekali karena dibuat sibuk oleh Setyo hari ini. Lalu setelah mereka tidur, aku pergi keluar untuk bertemu dengan Rick. Aku lihat Rick sudah keluar dari dalam tanah, dan aku mengobrol padanya semalaman.


Bersambung...