
Peringatan : karakter, tokoh dan cerita ini hanya imajinasi penulis, jadi cerita ini hanya imajinasi penulis saja.
Lalu aku mengikutinya, dan aku di ajak pergi berjalan, dan sekejap aku berada di sebuah hutan bambu. Dan di hutan itu banyak sekali jalan, seperti labirin bambu, lalu cahaya itu pergi masuk kedalam salah satu jalan itu, dan aku pun mengikutinya.
"Hei jiwaku kau mau membawaku kemana?" tanyaku.
"Aku akan membawamu ke sesuatu tempat, ikuti aku saja, nanti kau akan tahu sendiri" kata cahaya itu.
Lalu aku sampai di sebuah ruangan yang di kelilingi banyak bambu yang menjulang tinggi. Lalu di tengah ruangan bambu itu terdapat sebuah batu yang ada tulisannya, sepertinya itu sebuah prasasti.
"Tuanku, ini adalah salah satu ingatan mu sebelumnya, kau harus menyentuh prasasti itu, nanti ini akan di gunakan" kata cahaya itu.
"Apa yang kau bicarakan, aku tak mengerti sama sekali, tapi jika kau bicara seperti itu akan ku turuti, lagi pula kau kan adalah jiwaku sendiri tidak mungkin untuk membohongiku" kataku.
Lalu aku menyentuh prasasti itu, dan sekejap di pikiranku aku selalu mengingat prasasti ini. Tapi apa sebenarnya prasasti ini, aku tak mengerti sama sekali, bahkan aku tak bisa membaca prasasti ini.
Lalu setelah menyentuh prasasti itu, semua bagian tubuhku bercahaya, aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Lalu cahaya di tubuhku makin terang, dan aku kembali sadar, dari jiwaku. Tapi sebelum aku pergi kembali cahaya itu, yang mengaku sebagai jiwaku, dia hendak mengatakan sesuatu padaku.
"Vin Edward, alam semesta ini membutuhkan dirimu, semuanya berharap besar terhadap mu, maka dari itu kau jangan mengecewakan kepercayaan yang di berikan alam semesta kepamu, vin" kata cahaya itu.
Apa maksud dari semua itu, aku tak mengerti, ya aku tahu kalau aku adalah anak ramalan manusia itu. Dan yang akan menyelamatkan dunia ini, tapi apa maksud dari kepercayaan yang di berikan alam semesta padaku.
"Hei vin, sadarlah apa kau baik-baik saja" kata Zack yang menampar pipiku.
"Ya, aku sudah sadar, hentikan pukulan mu itu Zack" kataku.
"Apa kau sudah berhasil vin" kata Zack.
"Ya aku berhasil, walau aku tak mengerti yang dia katakan padaku" kataku.
"Baiklah kalau begitu ayo kita temui lagi paman Yuzel" kata Zack.
Lalu aku turun dari bukit dan menemui paman Yuzel, atau petapa sungai. Aku melihat paman Yuzel sedang melakukan sesuatu, lalu aku menyapanya.
"Hai paman Yuzel, aku sudah selesai berlatih, bisakah kau ajarkan aku yang lain" kataku.
"Eh vin, kau sudah selesai ya, baiklah kalau kau sudah selesai, pelajaran kedua kau harus bisa menyatukan jiwa dengan alam, dan berinteraksi dengan mereka, nanti kalau kau sudah selesai, kau boleh bertemu denganku lagi" kata paman Yuzel.
"Hmm, maaf paman, kalau aku boleh tahu belajar seperti ini untuk apa? apa paman juga dulu belajar seperti ini" kataku.
"Zack bisakah kau pergi dahulu, paman mau berbicara dengan vin" kata paman Yuzel.
"Hmm, baiklah aku akan pergi, aku juga sudah lelah berkeliaran seperti ini, aku mau istirahat, mungkin besok aku akan kembali, sampai jumpa paman, dan vin" kata Zack.
"Vin dengarlah perkataan ku, paman sebenarnya tidak pernah belajar apa yang kau pelajari dariku, sebenarnya aku tak bisa belajar yang seperti itu, tetapi kau bisa vin" kata paman Yuzel.
"Ya, kau benar vin, paman tahu siapa dirimu yang sebenarnya, dan karena kau lah orangnya yang bisa mempelajari itu, dan tak ada satupun makhluk yang bisa melakukan apa yang kau lakukan tadi" kata paman Yuzel.
"Benarkah begitu? lalu bagaimana mana kau bisa tahu tentang yang kau ajarkan semuanya padaku?" tanyaku.
"Paman tahu dari pendahulu paman, yang sempat mendengar pembicaraan manusia, Dengarlah ini para keturunanku, mungkin suatu saat kita akan berdamaian dengan para manusia, dan jika ada seseorang dari manusia kesini, dan kalian para keturunanku merasakan kekuatan yang belum pernah kau rasakan, maka ajari dia kertas yang aku curi ini" kata paman Yuzel.
"Kertas yang di curi? apa maksudnya itu?" tanyaku.
"Dulu leluhur kami mencuri selembar kertas dari sebuah buku yang sangat dilindungi oleh manusia, alhasil leluhur ku berhasil membawa selembar kertas itu, tapi kekuatan buku itu sangat besar, sampai lama-kelamaan tubuh leluhur ku terkikis sedikit demi sedikit oleh kertas itu, walau sudah melepaskan kertas itu, tetap saja tubuhnya masih terkikis, mungkin sudah terkena kutukan dari buku itu" kata paman Yuzel.
Apa jangan-jangan buku yang ku serap Waktu itu, pantas saja aku tak bisa mengingatnya karena satu lembarnya sudah di curi. Jadi kekuatan yang dia ajarkan ini adalah dari buku itu juga, wah tak kusangka.
"Baiklah kalau begitu, sekarang bisakah kau mengajariku pelajaran berikutnya?" kataku.
"Kau hanya perlu melakukannya seperti tadi, tapi ada perbedaannya, perbedaan itu hanyalah kau, harus menyerap kekuatan alam, kau harus bisa mengalahkan alam itu sendiri, sampai dia tunduk patuh padamu" kata paman Yuzel.
"Baiklah kalau begitu aku mengerti, aku pergi ke gunung lagi paman, sampai jumpa" kataku.
Lalu aku mulai berlatih lagi, aku terbang ke gunung itu lagi, dan mulai berlatih. Lalu aku fokus pada diriku, dan aku mengontrol kekuatan ku, dan aku mulai menyerap kekuatan alam. Saat aku mulai menyerap kekuatan alam, aku masuk ke dimensi lain, yaitu dimensi mereka, alam.
Aku berada di sekeliling makhluk yang berbeda-beda, tetapi bentuk mereka seperti manusia. Ada yang terbuat dari tanah, api, tumbuhan, laut, besi, dan masih banyak lagi, yang ada di alam ini.
Lalu salah satu dari mereka berkata kepadaku, dengan wajah yang terlihat tidak suka dengan keberadaan ku.
"Hei siapa kau? siapa yang menyuruhmu masuk ke dimensi kami, kenapa kau bisa masuk kesini" kata salah satu dari mereka.
"Aku, butuh bantuan kalian, tolong bantu aku" kataku.
"Seenaknya kau datang kesini dan langsung menyuruh kami, berani sekali kau, SERANG DIAAA!!!" kata salah satu dari mereka.
Lalu mereka semua menyerangku, persis seperti apa yang paman Yuzel katakan. Aku harus mengalahkan mereka semua, lalu aku mengeluarkan 3 monster ku, dan aku menggunakan skill baru yang ada di buku itu.
Aku membuat partikel-partikel yang ada di bumi ini menjadi sebuah senjata, yang bisa berubah kapan saja, sesuai apa yang akan aku pikirkan. Aku mengubah partikel itu menjadi sebuah pedang yang padat, dan kuberikan energi ku kepada pedagang itu.
Lalu aku menyayat mereka satu persatu. Makhluk tumbuhan itu mengeluarkan akar berduri dari bawah tanah, dan mengikatku dengan serangannya.
Aku tak bisa bergerak, badanku tertusuk oleh akarnya yang berduri, dan makhluk summon ku, semakin kewalahan menghadapi mereka, dan dikalahkan oleh mereka yang begitu banyak. Aku masih tak sanggup bergerak, lalu ada sesuatu yang bercahaya datang kepadaku.
Bersambung...
Hallo semuanya, author minta dukungannya dari kalian semua, tolong bantu novel ku ya, agar maju, dengan cara share ke teman kalian dan like, mohon bantuannya, terima kasih.