Human Divination

Human Divination
Hyun Go (8)



"Kau salah, dia adalah salah satu dari bagian rencanaku. Dia bukanlah ayahmu, melainkan seseorang yang tak ada hubungannya denganmu. Bisa di bilang, kalau dia adalah orang yang memungut mu Hyun Go" kata wanita itu.


Apa yang sebenarnya dia bicarakan? dia selalu saja mengucapkan omong kosong yang tak masuk akal. Siapa dia, kenapa dia berpakaian sangat aneh, dengan kain yang panjang sampai ke bawah menara. Lalu dengan sebuah mahkota di kepalanya, dan ada 2 tanduk juga di kepalanya.


Tapi kulitnya putih, dan terlihat sangat indah, dan lembut. Wajahnya juga sangat sempurna, dia sangat cantik, dan anggun. Tapi... sepertinya aku belum melihat dengan jelas mata wanita itu..


"Lalu, dimana ayah, dan ibuku. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka, jika kau bilang kalau dia bukanlah ayahku" kataku.


Lalu wanita itu menghadapku, dan saling bertatapan. Tiba-tiba saja aku terdiam merinding melihat matanya. Mata macam apa itu, mata wanita itu terlihat sangat bersinar sekali. Matanya seperti di luar angkasa, dan bintang-bintang di matanya bergeser.


Itu terlihat seperti bukan mata, tetapi seperti sebuah planet, "Apa kau tidak mendengar apa yang ku bilang?" kata wanita itu mengerutkan dahinya.


"A-aku... a-aku me-mendengarkannya kok. Ta-tapi rasanya aneh sekali bukan, kalau aku itu berbeda dengan yang lain. Tak punya orang tua, apa karena itu hatiku ini selalu kejam, dan keji pada semua orang?.


Padahal aku sudah mendapatkan kasih sayang yang sangat besar dari orang yang ku sebut ayah waktu itu. Namun, aku... aku tak merasakan rasa kasih sayang itu. Tak pernah ada seseorang yang membuat hatiku sakit di dunia ini.


Aku juga ingin merasakan rasa sakit itu, karena itu aku terus menyakiti orang lain. Agar aku juga bisa merasakan rasa sakit yang sama, tapi aku tak bisa merasakannya sedikitpun rasa sakit itu" kataku.


"....... ku kira jika kau bisa merasakan rasa sakit itu. Kau akan menjadi orang yang lemah, tapi sepertinya kau tidak seperti apa yang ku bayangkan. Kau malah ingin merasakan sakit, yang bahkan tak di inginkan oleh orang lain" kata wanita itu.


"Apa kau telah melakukan sesuatu padaku saat menciptakan ku?" kataku.


"Aku tak menaruh perasaan sedikitpun padamu. Oleh karena itu kau tak akan pernah merasakan kasihan sedikitpun pada orang lain" kata wanita itu.


"Bisakah kau memberiku perasaan itu?" tanyaku.


"Maaf aku tak bisa, karena kau sudah ku ciptakan. Kecuali sebelum aku menciptakan, atau sedang dalam proses penciptaan. Tapi..." kata wanita itu tiba-tiba berhenti berbicara.


"Ng? tapi apa?" tanyaku.


"Tapi karena aku sudah mencabut perasaan itu pada dirimu. Bukan berarti kau selamanya akan terus seperti ini, kau masih bisa mendapatkan perasaan itu karena aku membuatkan hati pada dirimu" kata wanita itu.


"Benarkah? lalu bagaimana caranya agar aku mempunyai perasaan?" tanyaku.


"Tapi kemungkinannya sangat kecil, dan aku tak tahu siapa orangnya. Tapi cara untuk kau bisa merasakan perasaan, itu karena ulah seseorang. Seseorang itu yang akan membuatmu merasakan perasaan itu.


Seseorang yang akan memecahkan kutukan yang ku buat sendiri. Kau harus mencari orang yang dapat kau percaya. Orang yang akan membuatmu merasakan perasaan itu suatu hari nanti" kata wanita itu.


"Sepertinya itu akan sangat sulit sekali, akhirnya mulai sekarang aku mempunyai tujuan di dunia ini. Jika saja aku seorang manusia ramalan itu, pasti aku akan mempunyai 2 tujuan hidup.


Tapi sayangnya aku bukanlah orang ramalan itu. Dan tujuanku sekarang adalah mencari seseorang itu. Seseorang yang dapat membuatku merasakan perasaan itu" kataku sambil beranjak untuk berdiri.


Wanita itu yang biasanya tak menengok ke arahku. Dia menengokku dengan wajah bengong, lalu tersenyum padaku. Rasanya aneh saja saat dia tersenyum padaku seperti itu. Padahal tadi dia bersikap sangat dingin sekali padaku, sampai aku ketakutan.


"Hmm? ada apa?" tanyaku.


"Hahaha tidak kok, hahaha... padahal sebenarnya aku ingin memberitahu padamu. Ah tapi sepertinya nanti saja, sampai kau mengetahui dengan sendirinya" kata wanita itu tertawa-tawa.


Hmm jadi ini rasanya jika merahasiakan sesuatu kepada orang lain. Ini seperti saja seperti Vin, dan aku tak memberitahukan rahasiaku padanya. Kok agak kesal ya, lalu aku mendekatinya, dan menggelitik perutnya.


"Hei, hahaha... hei hentikan itu! hahaha, itu geli sekali hahaha!" aku terus saja menggelitiknya.


"Aku akan berhenti jika kau memberitahukannya padaku tentang apa yang ingin kau bicarakan tadi" kataku dengan tersenyum tanpa sadar.


"Ah... hmm... ma-maaf" kataku sambil memalingkan muka.


Semoga saja aku tidak apa-apa, lalu tiba-tiba," hahaha aku hanya bercanda kok, kau tak perlu takut seperti itu" kata wanita itu.


"Ah hmm, i-iya" kataku. Aku jadi canggung dengannya karena candaan dia.


Apanya yang bercanda sih, yang tadi itu terlihat sangat serius sekali pikirku. Sampai-sampai rasanya jantungku berhenti sejenak, dan tak bernafas. Lalu aku duduk di sampingnya, lalu dia menyenderkan kepalanya di bahuku.


Entah kenapa saat dia bersanding denganku, itu membuat jantungku berdebar dengan kencang. Ada apa dengan jantungku, apa mungkin aku sakit?.


"Hyun Go..." kata wanita itu.


"Y-ya?" tanyaku gagap.


"Aku yakin kau pasti bisa menemukan tujuan yang kau harapkan itu" kata wanita itu, yang membuat jantungku semakin cepat berdetak.


"Ah... terima kasih, hmm kalau boleh tahu kau ingin ku panggil apa. Tuan? nyonya? atau mungkin kau bisa pikirkan sendiri" kataku.


"Naozi" kata wanita itu.


"Apa?" tanyaku bingung.


"Ya... panggil aku dengan sebutan itu, itu adalah namaku" kata wanita itu.


"Hmm sepertinya kurang enak jika aku memanggilmu seperti itu. Karena kau yang sudah menciptakan ku, lebih baik aku panggil tuan atau nyonya saja bagaimana?" kataku


"Tidak... aku ingin kau memanggil namaku saja" kata wanita itu.


"...... Baiklah... Naozi" kataku.


"Apa kau ingin tahu lebih banyak lagi tentangku? Hyun Go?" tanya Naozi.


"Jika kau memaksa apa boleh buat" kataku.


Lalu dia menceritakan tentang dirinya, dari pertama dia hidup. Sampai dia bertemu denganku saat ini dia menceritakan dirinya begitu full. Tak ada sedikitpun yang tak dia ceritakan padaku tentang dirinya.


Dia bilang kalau dia adalah salah satu dari dewa. Dewa yang sangat lemah, dan di pandang remeh oleh dewa-dewa lainnya. Tak ada yang mempedulikan dirinya, termasuk orang-orang terdekatnya.


Lalu karena dia sudah tak tahan hidup di dunia tempat dimana dewa berada. Dia mengasingkan dirinya pergi menuju ke bumi menggunakan kekuatannya. Lalu Naozi tak ingin bertemu dengan makhluk hidup lain.


Karena trauma yang sangat berat terhadap keberadaan orang lain di sisinya. Oleh karena itu dia membuat ruangan ini, ruangan yang ku masuki. Dan gua ini ternyata hanya gua buatan dia, gua yang menuju ke rumah barunya yang berada di gua ini.


Dia membuat tempat tinggal di gua ini, karena pemandangan gua disini sangat bagus. Karena dia menemukan bongkahan kristal yang sangat besar, lalu dia lubangi untuk di buatkan rumah.


Rumah yang seperti menara ini adalah rumah yang dia buat menggunakan kekuatannya. Dan setiap harinya dia selalu memandangi kristal-kristal itu. Sambil berharap dia ingin menjadi kristal itu, karena semua orang menyukai kristal.


Tak ada satupun makhluk hidup yang tak menyukai kristal, termasuk iblis sekalipun. Dia ingin sekali dirinya di sukai orang lain, seperti dewa-dewa lainnya yang di sukai oleh banyak dewa lainnya. Naozi selalu termenung di pinggir menara untuk menatap kristal itu setiap harinya.


Bersambung...