Human Divination

Human Divination
Siapa Dia?



Aku menusuknya dengan pedang yang kubuat dari kekuatan listrikku. Dan dia mati terjatuh ke dalam lubang itu, lalu ku kendalikan tanah itu untuk menutup lubang itu. Murid-muridku pada terluka parah, mereka semua membutuhkan bantuanku, aku harus segera membantunya.


Lalu aku bergerak cepat untuk menghabisi sisa iblis itu, "Hei apa kau lihat itu... ketua kita sudah mati di bunuh oleh manusia itu" kata iblis itu.


"Kalau gitu dia sekuat apa sampai ketua kita di habisi begitu mudah baginya. Apa dia adalah manusia ramalan itu?" tanya iblis itu, kepada teman iblisnya.


"Ah itu tidak mungkin lah... lihat dia datang awas bersiap-siaplah!" kata iblis itu.


Aku membuat anak panah listrik dengan kekuatanku, anak panah listrik yang ku buat berada di sekelilingku. Jadi aku tinggal mengarahkannya saja lalu anak panah itu akan melesat dengan sendirinya. Lalu ku tembak para iblis itu, dengan satu anak panah setiap satu iblis. Setelah panah itu tertancap di tubuhnya, langit langsung menyambar petir ke iblis itu, walau petirnya tak sebesar petir yang ku gunakan untuk mengalahkan iblis itu.


"Uakh! bagaimana ini anak panah ini terus menyetrumku. Jika aku cabut aku akan tersetrum, dan susah di lepaskan" kata iblis itu.


Lalu aku menyuruh semua muridku untuk menjauh dari para iblis itu. Karena anak panah yang ku tancapkan, dan sudah di beri petir dari langit, akan meledak dalam 30 detik. Lalu iblis itu bersusah-payah untuk melepaskan anak panah itu, tapi tidak ada hasilnya. Ada yang sampai tangannya hancur demi melepaskan anak panah itu, lalu aku menghitung dalam hati. Lalu 3... 2... 1... Duar!!! anak panah itu mengeluarkan listrik yang sangat besar hingga meledak.


Tubuh mereka yang sudah ku tancapkan anak panah itu, terisi aliran listrik. Begitu Aliran listrik itu sudah menyebar ke seluruh tubuh mereka, maka listrik yang di dalamnya akan meledak. Iblis yang terkena ledakan itu hancur lebur tak tersisa sedikitpun tubuh dari mereka, semuanya hangus.


Lalu aku mengecek semua anggota kelompokku. Banyak yang mati diantara mereka, dan ada juga yang kaki, dan tangannya putus. Sehingga mereka tak bisa berperang untuk melawan iblis 2 hari lagi, keadaannya begitu buruk. Anggotaku tersisa 78 saja, dan yang hanya bisa ikut berperang hanya 37 saja. Karena yang lainnya terluka parah sehingga tak mungkin untuk ikut berperang.


Lalu orang-orang yang terluka ku sembuhkan dengan kekuatanku. Aku melihat keadaan mereka begitu menyedihkan, mereka semua ada yang menangis karena menyesal hidup di dunia ini. Dan ada juga yang kehilangan keluarganya, itu membuat mereka putus asa, sehingga mereka trauma oleh kejadian ini.


Lalu mereka semua bilang padaku kalau mereka semua berhenti menjadi penyihir. Karena mereka ingin hidup yang layak, "Master aku ingin berhenti menjadi penyihir, aku hanya ingin hidup damai. Bukan hidup seperti ini" kata salah satu orang mewakili yang lainnya.


"Tapi jika kau berhenti, bagaimana keadaan selanjutnya bagi umat manusia?" tanyaku.


"Apa kami akan pergi membuat ruang isolasi di bawah tanah. Biar kalian saja para penyihir yang melawan iblis itu" kata orang itu.


"Kau pikir peperangan ini hanya peperangan biasa antar manusia? Tidak... pertarungan ini lebih berbahaya dari pada manusia melawan manusia lainnya. Karena ini pertarungan antar manusia, dan iblis, pasti banyak kehancuran dimana-mana. Apa kau lihat seranganku tadi saat melawan iblis itu. Bagaimana jika para iblis menemukan kalian?" kataku.


"I-itu... ah baiklah aku akan turuti kemauanmu. Aku akan ikut denganmu... siapa lagi yang ingin ikut denganku!" teriak orang itu.


Lalu yang lainnya membatalkan keputusan yang mereka buat. Mereka kembali ke dunia sihir lagi, berkat hari ini mereka menjadi lebih semangat untuk mempelajari sihir. Mereka tak jadi istirahat malam ini, mereka sudah memutuskan untuk terus berlatih. Karena mereka tidak mau lemah seperti mereka yang sudah mati. Oleh karena itu mereka berlatih dengan giat semalaman.


Lalu ada penyihir yang menggantikanku untuk mengajarkan mereka sihir. Agar aku bisa pulang, dan istirahat sebentar, karena besoknya lagi aku harus mengajari mereka lagi. Saat aku sampai di rumah, aku teringat Rick, jadi aku pergi ke halaman belakang dulu. Untuk melihat keadaannya karena seminggu ini, aku tak ada untuknya karena terus mengajar para penyihir baru.


Lalu tiba-tiba saja Rick memanggilku, sepertinya dia juga tahu keberadaanku. Yang tadi itu siapa, "Hai Vin, ada apa kau kesini? apa kau tak mengajar lagi?" tanya Rick tiba-tiba.


Lalu aku keluar dari balik dinding, "Eh!? hmm aku... aku datang kesini untuk istirahat sejenak saja. Karena besok pagi aku harus mengajarnya lagi, oh ya tadi kau sedang berbicara dengan siapa?" tanyaku.


"Oh tadi kau melihatnya ya... aku sedang berbicara dengan arwah seseorang yang mati" kata Rick.


"Hmm? siapa dia? apa kau juga bisa melakukan seperti itu? Memang para Ent itu hebat sekali" kataku.


"Oh... iya hahaha. Memang para Ent bisa melakukan seperti itu" kata Rick.


"Hmm... sepertinya makin hari daunmu makin berkilauan ya?" tanyaku.


"Ah iya ini sudah pernah kubilang kan. Kalau aku tak tinggal di tempat asalku" kata Rick.


"Oh iya aku baru ingat... tapi kok aku merasakan ada sesuatu yang berbeda darimu ya? rasanya seperti kekuatan yang sangat besar tersimpan dalam dirimu. Tak seperti Ent lain, auramu ini sangat berbeda" kataku.


"Eh!? hmm... ini mungkin... karena para iblis akan datang, dan juga karena aku tinggal di bumi" kata Rick.


"Apa kau tak berbohong padaku? kau sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu" kataku.


"Ah tidak kok, aku tak menyembunyikan sesuatu padamu" kata Rick.


"Apa kau ada sesuatu dengan orang yang tadi itu... orang itu terlihat seperti..." Tiba-tiba saja ada iblis yang datang di belakangku.


Iblis itu menyerangku secara tiba-tiba dengan palu yang di bawanya. Aku menahan palu itu dengan tanganku, kekuatan iblis itu luar biasa, sampai aku terdorong oleh pukulannya. Dia terus memukulku dengan berkali-kali, taoi serangan dia tepat pada titik vitalku. Jika aku lengah sedikit saja untuk menahannya mungkin aku akan langsung dikalahkan.


Aku terus menahan, dan menangkis serangannya, sambil menunggu kesempatan yang pas. Aku akan langsung menyerangnya, lalu iblis itu bersiap untuk mengayunkan palunya ke bawah dengan kedua tangannya. Aku langsung menendang kepalanya, hingga dia terjatuh, dan palu yang dibawanya lepas dari tangannya.


Saat dia sedang terjatuh di tanah, aku langsung loncat, dan menghantamnya dengan pukulanku. Tapi pukulanku di tangkap oleh tangannya, sehingga aku di lempar ke rumahku. Sampai tembus, rumah yang ku sayangi, karena hanya ini peninggalan leluhurku. Aku langsung marah, dan sekejap badai besar datang karena kemarahanku, lalu petir-petir menyambar ke tanah secara tak beraturan.


Bersambung...