Human Divination

Human Divination
Sebuah Legenda



Peringatan : karakter, tokoh dan cerita ini hanya imajinasi penulis, jadi cerita ini hanya imajinasi penulis saja.


"Terima kasih setyo sudah percaya padaku, oke sekarang waktunya mendengarkan cerita yang panjang" kataku. Lalu yang lain mendengarkan cerita ku sampai selesai. Saat selesai bercerita, ada seseorang mendatangi ku.


"Vin kau di panggil oleh pak direktur sunghon, mohon segera ke ruangannya, mari saya antar kan ke ruangannya", kata orang itu, lalu aku pun ikut saja. Aku berpikir ini pasti ulah ku, gara-gara menghancurkan ruang arena.


Lalu saat sampai di depan pintu aku sangat gugup, dan orang yang mengantarkan ku pergi, "silahkan masuk vin, pak direktur sedang menunggu mu, aku pergi dulu"


Lalu aku memberanikan diri untuk masuk ke ruangannya. Lalu aku pun di sapa dan di perlakukan dengan baik di sana, "Vin silahkan duduk, saya mau berbicara dengan mu," kata pak direktur itu membuat ku gugup.


"Ngomong-ngomong, apa yang mau bapak bicarakan dengan saya?", tanya ku bingung.


"Vin tolong beritahu bapak dengan jujur, tentang identitas mu yang sebenarnya" jawab pak sunghon.


"Hmm,.... baiklah pak, kata kakekku aku adalah anak ramalan yang tertulis oleh para manusia, aku mau tanya memangnya ada yah, yang seperti itu?" kataku.


Lalu pak direktur sunghon kaget, dan berdiri dari tempat duduknya, "a, apa, tidak mungkin apa kau, berhasil menyerap buku itu?"


"iya, memangnya kenapa pak?" kataku penasaran.


"hmm mungkin kakek mu belum memberitahu mu ya?, kalau begitu biar aku saja yang memberitahu ku, sudah berabad-abad lamanya tidak ada yang bisa menyentuhnya, jika ada yang menyentuhnya, maka, orang itu akan terhisap oleh buku itu"


Cerita pak direktur membuat ku merinding, "kalau tidak ada yang bisa menyentuhnya, bagaimana bisa buku itu berada di rumah kakek ku?"


"Jadi begini vin aku perjelas lagi, Kakek mu adalah keturunan penjaga buku itu, sampai berabad-abad, jatuh di tangan dia, maka kakek mu yang akan menjaganya, dan mengenai buku itu berada di rumah kakek mu adalah, karena tidak ada yang bisa membawa buku itu, maka orang terdahulu kakek mu, membuatkannya rumah, sampai yang kau tinggali itu adalah bekas-bekas, nenek moyang mu"


"Waaw, benarkah itu?, ternyata aku punya keturunan yang hebat, aku tak percaya ini" kataku, aku sangat terkagum-kagum mendengar cerita pak direktur.


"Ya, memang legendanya tidak pernah berubah walaupun, dunia sudah sangat berubah" kata pak direktur.


"Kembali ke pertanyaan ku yang sebelumnya, aku mau tanya memangnya ada yah ramalan yang seperti itu?" kataku.


"Memang jelas kalau kau tak percaya, karena kau tidak di biarkan menjadi penyihir oleh kakek mu," tiba-tiba, aku langsung memotong pembicaraan pak sunghon.


"hah memangnya kenapa?, kenapa aku tak boleh jadi penyihir, tapi, kenapa sekarang boleh, dan sebelum aku tahu tentang dunia penyihir, kakek tak pernah memberitahu ku, kakek hanya ingin aku seperti manusia biasa, tapi aku tak mengerti apa kau bisa memberitahu kan padaku?"


"Maaf kalau soal itu...., aku tidak bisa memberitahu mu, karena itu rahasia keluarga mu vin"


"Baik, Saat itu ada satu orang penyihir, pergi ke sebuah pulau, ia tersesat di pulau itu karena di pulau itu terdapat energi yang sangat kuat yang membuat ia terjebak di dalamnya, saat ia berkeliling berhari-hari di pulau itu, ia menemukan batu, di batu itu tertulis, Kedamaian dunia ada di tangan manusia, suatu saat nanti, akan tiba hari itu, itu yang tertulis di batu, saat ia selesai membaca batu itu, sekejap batu itu menjadi buku yang sekarang ada di jiwa mu vin, lalu buku itu membawa ia kembali ke dunia manusia, dan penyihir itu memberitahu kan kepada yang lain,"


Cerita pak direktur sunghon, membuat ku sangat menghayati sekali, seolah-olah, aku yang ada di cerita itu. Lalu aku hendak pergi, "terima kasih pak sudah memberitahu kan semuanya pada ku, walaupun pertanyaan yang katamu tidak bisa di beritahu padamu, tidak di cerita kan padaku, karena aku yang akan mencari tahu tentang cerita itu"


Lalu aku keluar dari ruangan pak direktur, dan aku kaget teman-teman ku ternyata sedang menguping. "haduh kalian ini sempat sempat nya nguping pembicaraan orang"


"hehe, kita hanya penasaran saja kok, aku sangat terkagum dengan mu vin, dunia ada di tangan mu, percayalah kau bisa mengatasi semuanya vin" kata Rara.


"Terima kasih rara"


Saat aku sudah di luar pak direktur bergumam, "Anak itu sangat menarik, kau pasti akan lebih hebat dari orang tuamu, karena orang tuamu saja bisa berdamaian dengan malaikat, pasti kau bisa menyatukan dunia ini vin, dunia ini berada dalam genggaman mu"


Karena semua orang sudah melihat kekuatan ku, maka aku sudah tidak perlu mengikuti latihan lagi. Kini aku sudah naik tingkat, sebagai Penyihir epik, dan misi ini dibagi menjadi beberapa kelompok, satu kelompok 5 orang, dan aku sebagai pemimpinnya.


Tingkatkan penyihir di bagi menjadi 6, yaitu, Common, Elite, Rare, Epik, Legend , Mystical. Dan aku sudah masuk tingkat ke 4, sedangkan setyo tingkat ke 2, dan Rara, dan Riri termasuk tingkat ke 1.


"Wah-wah, ada yang langsung loncat aja nih ke epik" kata setyo, "hehe aku juga ga tau nih, kalau bakal begini tak kusangka, dan mulai besok aku harus menjalani misi lagi, sekarang nya aku harus di jelaskan lagi mengenai misi ini karena aku langsung loncat tingkatan aja hehe"


Aku melihat setyo yang termenung, mungkin dia sedih karena aku berkata seperti ini, dan juga sepertinya dia ingin naik tingkatkan, "Setyo maaf apa aku tadi salah bica..." lagi-lagi di potong pembicaraan ku.


"haah tidak kok vin, aku hanya sedang memikirkan misi selanjutnya" kata setyo, aku tahu kalau setyo berbohong, terlihat dari wajahnya yang muram itu.


"Setyo bicaralah yang jujur, aku tahu kalau kau iri dengan ku kan?" tanya ku.


"Iya, memang aku iri dengan mu, karena padahal kau masih baru disini, tapi kau bisa naik daun sejauh itu, sedangkan aku sudah 5 tahun masih elite, apa mungkin aku lemah ya" kata setyo dengan bersedih.


"Maaf aku sudah membuat mu jadi seperti ini, apa mungkin aku Keluar saja dari sini, dan melanjutkan sekolah?" aku sangat merasa bersalah dengan setyo.


"Tidak jangan vin, tetaplah bekerja di sini, aku pergi dulu" setyo meninggalkan ku sendirian, aku masih sangat merasa bersalah. " Seharusnya aku tidak usah menuruti kata suara itu, agar aku bisa menjadi orang normal saja, kalau tahu keadaannya begini" gumamku.


Akhirnya hari esok tiba, dan waktunya aku menjalani misi, dan kini misi kami pergi ke suatu tempat. Untuk membasmi beberapa iblis yah masih tersisa, dan aku pun berangkat dengan tim ku.


Bersambung...


Hallo semuanya author minta dukungan dari kalian semua, bantu like dan rate ya teman-teman, Mohon bantuannya, terima kasih.